NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM 8

Beberapa hari setelah mengirim lamaran ke banyak perusahaan, sebuah email akhirnya masuk.

 “Saudari Mia, kami mengundang Anda untuk interview…” Mia membacanya berulang kali, seakan takut salah baca.

Malamnya, kabar itu ia sampaikan pada Johan.

“Aku dapat panggilan interview,” katanya.

Johan menoleh. Ada jeda singkat sebelum ia menjawab.

“Oh ya?, bagus dong kalau gitu kapan?. ”

“Kamis depan,” tambah Mia, mencoba membuka ruang.

“.Semoga lancar.”Sahut Johan sambil tersenyum tipis. kemudian beranjak menuju kamar.

Mia menatap punggung Johan yang berjalan ke kamar. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang mengganjal.

Keesokan harinya Menjelang makan siang, ponsel Johan bergetar di atas meja kerjanya. Ia melirik layar sekilas. Nama ibunya muncul.

"Jo, makan siang di rumah saja. Mama masak kesukaan kamu."

Johan menatap layar ponsel cukup lama. Jemarinya menggantung di atas keyboard. Ia tahu undangan itu tidak sesederhana makan siang. Sudah lama ibunya tidak menghubunginya.

"Jo, makan siang di rumah saja. Mama masak kesukaan kamu."

Johan menatap layar ponsel cukup lama. Jemarinya menggantung di atas keyboard. Ia tahu undangan itu tidak sesederhana makan siang. Sudah lama ibunya tidak menghubunginya.

.Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Johan mengetik balasan.

"Iya, Ma. Nanti Jo ke rumah."

Setelah pesan itu terkirim, Johan meletakkan ponselnya. Ia kembali menatap layar komputer, meski pikirannya sudah tidak sepenuhnya di sana.

Mereka duduk berhadapan di meja makan. Hidangan tersaji rapi, aroma masakan memenuhi ruangan, seperti hari-hari lama sebelum banyak hal berubah.

Belum lama Johan mulai makan, ibunya membuka suara.

“Gimana, Jo? Belum juga ada tanda-tanda istrimu mengandung?” tanyanya datar.

“Atau jangan-jangan Mia tidak pernah minum ramuan yang Mama kasih?.”Ujar Mamanya nyaris tanpa jeda.

Johan berhenti mengunyah. Sendoknya diletakkan perlahan di atas piring.

“Ma, sampai kapan Mama akan bertanya hal yang sama?,” ujarnya tertahan. “

"Banyak pasangan tidak punya anak tapi tetap bahagia.”Potong Johan.

Ibunya menatapnya tajam.

“Bukan begitu maksudnya. Tapi kalau tidak ada keturunan, buat apa menikah?.”

Johan meneguk air dan mengusap mulutnya. Ia mendorong kursinya, lalu berdiri.

“Aku kembali ke kantor,” katanya singkat. Sebelum melangkah pergi, ia menatap ibunya. “Tolong, Ma kami capek tolong jangan terus mencampuri urusan kami.”Ujar Johan setengah Memohon.

Johan pulang menjelang magrib. Wajahnya terlihat kuyu, langkahnya lebih lambat dari biasanya. Mia yang sedang di dapur langsung menoleh begitu mendengar pintu terbuka.

“Kamu kenapa, Jo? Sakit?” tanyanya, nada suaranya spontan dipenuhi khawatir.

Johan menggeleng tanpa menjawab. Ia langsung melangkah ke ruang makan, mengambil gelas, lalu meneguk air putih.

“Aku nggak kenapa-kenapa,” ujarnya akhirnya. “Cuma lelah.

" Mama lagi-lagi nanya soal anak, Mi.”

Mia mengernyitkan kening. Ia mendekat.

“Mama nelepon kamu?."

“Enggak,” jawab Johan.

“Tadi aku makan siang ke rumah Mama.”

“Oh…” Mia hanya mengangguk singkat.

Tidak ada nada marah dalam suaranya, tapi ada sesuatu yang tertahan. Johan menoleh sekilas, seperti ingin memastikan reaksi istrinya.

“Kamu marah?” tanyanya.

“Tidak, aku cuma capek "jawab Mia cepat.

Johan terdiam. Ia tahu, kata capek kali ini bukan soal fisik. Ia duduk, menyandarkan punggung, dan menatap meja makan tanpa berkata apa-apa lagi.

Di antara mereka, kembali ada jeda. Bukan karena tidak saling peduli, tapi karena terlalu banyak hal yang belum selesai dibicarakan.

Malam itu, setelah rumah benar-benar sunyi, Mia dan Johan sudah berada di kamar. Lampu m menyala temaram . Johan duduk bersandar di kepala ranjang, sementara Mia menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

“Mia,” ucap Johan pelan,

“kamu capek tidak sih dengan pertanyaan Mama?.”

Mia diam sejenak sebelum menjawab.

“Kalau ditanya capek atau tidak… aku capek, Jo. Capek sekali.” Suaranya terdengar lirih.

“Tapi mau gimana? Semua sudah kita coba. Allah belum kasih kepercayaan. Aku juga nggak tahu harus bagaimana lagi.”

Johan mengecup keningnya perlahan. Ia bisa merasakan tubuh istrinya yang menegang, menahan sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.

“Iya, sayang,” ujarnya.

 “Aku ngerti, Mi. Sabar ya. Bukan kamu saja yang capek. Aku juga.”

Mia tidak menjawab. Ia hanya merapatkan tubuhnya sedikit lebih dekat, mencari rasa aman yang ia butuhkan malam itu.

Johan kembali mengecup kening istrinya, lalu mengusap punggungnya pelan. Tidak ada solusi malam itu. Tidak ada keputusan besar. Hanya dua orang yang saling berusaha bertahan di tengah beban yang belum juga terangkat.

Tak lama kemudian, mereka terlelap. Namun beban itu tetap ada.

Keesokan paginya, suasana rumah terasa lebih ringan dari biasanya. Matahari sudah cukup hangat ketika Mia dan Johan duduk berhadapan di meja makan. Tidak ada masakan rumahan pagi itu, hanya roti dan dua gelas kopi hangat.

“Jo, hari ini aku ada interview,” ucap Mia sambil mengoles selai di rotinya.

 “Jadi aku nggak sempat masak.”

Johan menoleh, sedikit terkejut namun senyumnya segera muncul.

“Oh ya? nggak apa-apa. Aku bisa makan di kantor.”

Mia mengangguk lega. Tidak ada nada keberatan dari suaminya, dan itu membuat dadanya terasa lebih lapang.

Tak lama kemudian, mereka berangkat bersama. Johan mengantar Mia ke gedung tempat ia akan menjalani wawancara. Sepanjang perjalanan, obrolan mereka ringan tentang jalanan yang mulai macet, tentang cuaca, tentang hal-hal kecil yang biasanya tak mereka perbincangkan saat pikiran sedang penuh.

Sore harinya, ponsel Johan bergetar. Nama Mia muncul di layar.

“Jo,” suara Mia terdengar bergetar tapi penuh semangat,

 “aku diterima.”

Johan spontan tersenyum lebar.

“Serius? Selamat ya, sayang.”

Ia terkekeh kecil.

 “Nanti sepulang kerja kita rayakan. Ke kafe tempat kita pertama kali kencan, gimana?.”

Mata Mia berbinar. Senyum yang sejak lama jarang muncul kini mengembang tanpa ia sadari.

“Iya,” jawabnya lirih, penuh kebahagiaan.

Mereka bertemu selepas jam kantor dan melanjutkan perjalanan menuju kafe yang dimaksud. Di tengah jalan, ponsel Johan kembali berdering. Nama Mamanya tertera di layar.

“Nanti ya, Ma,aku telepon lagi di jalan,” ujar Johan cepat.

Namun suara di seberang terdengar lebih tajam dari biasanya.

“Di jalan? baru pulang kamu?. "

“Bukan, Ma kami mau rayakan kecil-kecilan Mia diterima kerja.”

Sejenak hening, lalu suara Mamanya terdengar dingin.

“Cuma diterima kerja kok dirayakan rayakan itu kalau positif hamil.”

Ucapan itu terdengar jelas terlalu jelas. Mia yang duduk di samping Johan terpaku. Senyumnya luruh seketika, digantikan rasa perih yang menusuk tanpa aba-aba. Tangannya mengepal di pangkuan, napasnya tertahan.

Johan menoleh dan langsung menangkap perubahan di wajah istrinya. Tanpa menunggu ibunya menyelesaikan kalimat berikutnya, ia menutup panggilan itu.

Mobil melaju dalam keheningan yang berat.

“Gak usah, sayang… kita pulang saja,” ucap Mia akhirnya. Bibirnya bergetar, suaranya nyaris tak terdengar.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!