Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Dini kemana Mar?" Tanya Aksa ketika tiba di gubuk mengedarkan pandanganya, tapi tidak menemukan muridnya.
"Pulang Pak, sepertinya terburu-buru" jawab Marini sembari membuka rantang. Ia tidak mau jujur kepada Aksa jika sebenarnya Dini dia suruh pulang
"Pulang?" Aksa kaget, kenapa Dini tidak memberi tahu dirinya. Ia menatap jalanan yang mereka lalui tadi, Dini sangat kesulitan melangkah. Aksa khawatir jika muridnya itu jatuh ke parit. Dia merasa bersalah, karena meninggalkan Dini terlalu lama.
Aksa tidak tahu jika wajah paniknya itu Marini perhatian. "Sepertinya Mas Aksa memikirkan Dini, jangan-jangan mereka ada hubungan" Batinya curiga.
"Sebaiknya makan dulu Mas..." Marini menyadarkan Aksa dari lamunan.
"Kamu kenapa repot-repot mengantar makanan kesini, Mar" Aksa sebenarnya ingin pulang lalu makan di rumah saja.
"Tadinya Ibu yang mau mengantar kesini Mas, tapi kan kasihan, terus aku ambil alih" papar Marini.
"Lain kali tidak usah ya..." Aksa duduk bersila lalu makan, menghargai Marini yang sudah capek-capek mengantar masakan ibunya.
.
Di tempat yang berbeda, Dini tiba di rumah mbah Ambar dengan wajah suntuk.
"Kamu dari mana?" Tanya mbah Ambar yang sudah menunggu cucunya hendak diajak makan siang.
"Main ke sawah Mbah" jawabnya, ia ambil gelas mengisi dengan air kendi jaman dahulu untuk menyegarkan tenggorokan.
"Tapi kenapa muka kamu ditekuk begitu?" Mbah Ambar khawatir jika cucunya ada masalah. Sejak kepergian ayahnya, Dini tidak lagi merasakan bahagia.
"Mbah Putri waktu masih muda pacaran sama kakek tidak?" Tanya Dini terdengar tidak pas karena hal itu ia tanyakan kepada mbah yang lahir di masa yang berbeda, tapi Dini bingung ingin curhat kepada siapa.
"Hahaha..." mbah tertawa geli.
"Mbah kok malah tertawa" Dini tidak mengerti maksud tawa neneknya.
"Kamu ini, jaman Mbah mana ada pacaran" Mbah menceritakan jika ia dengan kakek dulu dijodohkan. Kecuali Ratna dan adik-adiknya mencari jodoh masing-masing. "Ada apa ini? Apa cucu Mbah sedang jatuh cinta?" Mbah rupanya peka juga.
"Nggak tahu Mbah" Dini tidak mengerti dengan perasaannya. Selalu ingin dekat dengan Aksa tapi ada saja kendalanya.
"Dini... jadi wanita itu kalau jatuh cinta jangan ditunjukkan kepada laki-laki. Jual mahal, biasanya laki-laki seperti itu semakin penasaran sama kamu" nasehat mbah Ambar sesui pengalaman yang ia alami tahun 80han.
"Tapi itu kan kuno Mbah" Dini tidak sependapat.
"Dini, di sini itu beda dengan di kota loh" mbah mengatakan jika wanita di desa biasanya memilih menunggu daripada jujur dengan perasaannya.
"Lah, keburu diambil orang Mbah" Dini tetap tidak sependapat walau yang dikatakan neneknya benar.
"Dini, wanita itu ditakdirkan untuk menunggu jodoh, pasrahkan saja kapada Allah, jika ingin harapan kamu terkabul berdoa lah."
"Aku mengerti Mbah."
.
"Kamu kenapa kemarin pulang duluan Dini?" Tanya Aksa ketika Dini dan gurunya itu sama-sama parkir motor.
"Nggak enak Pak, soalnya kan tunangan Bapak mengirim makanan. Khawatir mengganggu," jawab Dini, salim tangan Aksa lalu bergegas masuk kelas.
"Tunangan..." batin Aksa menatap Dini hingga masuk kelas.
"Hai Dini..." ucap Lestari yang sudah berada di dalam kelas.
"Hai juga, kita ikut upacara dulu..." Dini mengait tangan Lestari lalu sama-sama ke lapangan. Ketika melihat depan kelas Ipa 2, Dini dan Lestari mendengar Marini dan dua temannya sedang membicarakan dirinya.
"Jadi... anak baru itu berani mendekati tunangan kamu..."
"Iya, aku sebel tahu, anak baru itu kecentilan datang ke gubuk" tampak gurat khawatir jika Aksa jatuh cinta kepada Dini.
"Memang tunangan kamu itu siapa sih, Mar? Kok murid baru itu bisa kenal?" Tanya teman akrab Marini, ia pun rupanya tidak tahu siapa yang Marini maksud tunangan walaupun sering cerita.
"Ada deh, rahasia pokoknya."
"Jangan khawatir Mar, kita-kita akan membantumu jika tunangan kamu berpaling."
Lestari hendak mendekati Marini dan kawan-kawan, karena tahu jika yang mereka maksud anak baru adalah Dini. Namun, Dini menahan tangannya. "Sudah... biarkan saja" Dini melanjutkan perjalanan.
"Memang kamu kemarin kemana Ni, yang Marini maksud tunangan tadi siapa?" Lestari justru tidak tahu kabar apapun.
Belum Dini jawab mereka sudah tiba di lapangan. Seperti biasanya, upacara bendera hari senin akan dilangsungkan. Acara demi acara berjalan lancar dan saat ini giliran kepala sekolah memberi sambutan.
"Seperti tahun sebelumnya, SMA negeri 1 akan mengikuti lomba sains. Tetapi kali ini sudah sampai tingkat provinsi. Lawan kalian tentu lebih berat, yang akan menjadi perwakilan sekolah nanti harus rajin belajar" nasehat pak Kepsek.
"Yes, aku tampil lagi, pasti akan mendapat hadiah uang 20 juta" Marini senang sekali, ia yakin akan menang dan uang tersebut akan ia belikan motor.
"Karena acara kali ini yang akan kita hadapi tingkat provinsi, kami akan melatih 4 peserta, supaya dibimbing oleh Pak Aksa."
"Ya, kenapa memilih banyak peserta sih..." batin Marini. Padahal biasanya hanya dirinya dengan Handoko.
Upacara selesai, semuanya kembali ke kelas masing-masing.
"Dini, kamu dipanggil ke kantor" titah bu Lusi ketika jam pelajaran akan segera dimulai.
"Baik Bu" tanpa ingin tahu untuk apa ia dipanggil, Dini membungkuk melewati bu Lusi meninggalkan kelas.
"Mau kemana Ni?" Tanya Marini ketika bertemu Dini sama-sama keluar dari kelas masing-masing.
"Di panggil ke kantor Mar," Dini tersenyum.
Marini hanya diam membiarkan Dini berjalan lebih dulu. "Jangan-jangan Dini yang akan menjadi sainganku, ini tidak boleh didiamkan" monolog Marini. Dengan wajah kesal ia melanjutkan perjalanan ke kantor.
Tiba di pintu kantor, Marini mendengarkan pak Aksa yang sedang menyampaikan tentang lomba sains kepada Handoko dan satu siswa lagi.
"Kamu juga kami calonkan menjadi peserta lomba Dini, belajarlah yang rajin. Kami akan saring lagi di antara kalian yang berani bersaing" Aksa akan memilih dua orang peserta yang berkualitas.
"Tapi apa saya mampu Pak..." Dini kaget, ia tidak menyangka jika ia akan dicalonkan juga.
"Kami yakin, kamu bisa Dini."
"Dini kan murid baru Pak, jika Dia tidak bisa bersaing dan akhirnya kalah, sekolah juga yang akan malu. Lagian kenapa pula harus banyak orang? Biasanya kan hanya saya bersama Handoko" protes Marini yang baru saja tiba.
"Kami belum memutuskan Mar, belum tentu juga Dini yang naik, bisa kamu dengan Handoko, atau Dini bersama Cahyono" Aksa menjelaskan kepada Marini yang kelihatan tidak mau bersaing dengan Dini.
"Tapi kan saya sudah sering lomba Pak, terus biasanya kan hanya dua peserta."
"Sudah saya katakan, kompetisi ini bukan hanya tingkat kecamatan dan kabupaten seperti biasa, makanya kami para guru akan memilih di antara kalian" ulang Aksa.
Marini pun akhirnya diam, mulai saat itu empat calon peserta menyiapkan diri masing-masing. Dini belajar dengan serius, begitu juga dengan Marini dan dua orang pria lainnya.
Hingga pada akhirnya Aksa memberi soal tertulis dan Dini yang paling unggul. Maka hasil rapat guru, Dini bersama Handoko yang akan ikut kompetisi.
Marini tidak mau menerima kenyataan, maka ia terus protes. "Saya ini orang lama Pak, lagi pula selisih nilai saya dengan Dini hanya nol koma, kenapa Dini yang harus maju."
"Keputusan sudah final Mar, Dini yang terpilih" Aksa memilih Dini bukan karena ada maksud lain, tapi karena memang mampu.
Marini meninggalkan Aksa dengan perasaan kecewa, selama ini sudah mengharumkan nama sekolah, tapi mengapa tidak dihargai. Marini pun menemui kepala sekolah ke kantor.
"Sekolah ini sekarang tidak fair, kenapa siswi yang baru masuk sekolah sebulan justru dipilih. Terus, bagaimana dengan prestasi saya yang sudah tiga kali menang lomba, Pak" protes Marini tidak takut demi cita-citanya untuk mendapat uang 20 juta.
"Baiklah Mar, kami akan pertimbangan lagi" jawab kepala sekolah melegakan Marini.
Pagi harinya rapat sekolah begitu alot, Aksa, dan sebagian guru memilih Dini, tapi sebagian lagi memilih Marini.
"Pak Aksa kok memilih Dini, sebenarnya ada apa ini?" Lusi sering kali melihat kedekatan Aksa dengan Dini, hingga masalah pribadi ia bawa-bawa.
"Astagfirullah... memang ada apa Bu Lusi" Aksa mengatakan selalu dekat dengan murid tidak ada maksud apa-apa. Bukan hanya dengan Dini saja, tapi juga Bejo apa lagi Lusi. "Saya ini wali kelas Dini jadi tahu kemampuan anak-anak Bu."
Begitulah, bila di luar sekolah, Aksa dan Lusi juga Marini memanggil Mas atau nama, tapi jika di sekolah begitu formil.
"Saya juga wali kelas Marini, jadi sudah tidak meragukan kemampuannya, pokoknya saya ingin Marini yang maju, Pak" usul Lusi kepada kepala sekolah.
"Sudah-sudah, saya yang akan memutuskan. Selama ini Marini tidak pernah gagal memenangkan kompetisi bukan? Demi sekolah ini saya memilih Marini," kepala sekolah tidak bisa diganggu gugat.
Dengan rasa kecewa, Aksa menemui Dini. "Dini, maafkan kami jika akhirnya Marini yang akan ikut kompetisi."
...~Bersambung~...