NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adam kembali ke Indonesia

Sydney, Australia.

“KAKAK!!!”

Teriakan Harun menggema di lorong rumah sakit yang dingin. Matanya terbelalak saat melihat sosok Adam terbaring lemah di atas ranjang putih, wajahnya pucat, napasnya tersengal, seolah hidup hanya tersisa di ujung benang.

“Kakak… apa yang terjadi denganmu?” suara Harun bergetar, dadanya sesak menahan pilu. Ia mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh lengan Adam yang dingin.

Adam membuka mata dengan susah payah. Bibirnya kering, suaranya hampir tak terdengar.

“Aku mau pulang… aku tidak ingin di sini…”

Ucapan itu membuat jantung Harun terasa diremas. Pikiran-pikiran buruk mulai menyeruak, menghantam kesadarannya tanpa ampun. Apa dia benar-benar ingin mati? Harun sampai menelan ludah. Ia belum siap kehilangan Adam.

ia baru saja kakek, lalu ayah. Kini, kakak satu-satunya yang menjadi tumpuan hidupnya terbaring tak berdaya. Lebih dari itu, Adam adalah jantung perusahaan keluarga, pionir yang menopang segalanya.

“Kenapa baru sekarang kau bilang kalau Adam dalam kondisi seperti ini?!” bentak Harun penuh amarah sambil meraih kerah Felix.

Felix menghela napas panjang. “Aku sudah berkali-kali ingin memberitahumu, tapi Adam selalu menolak. Dia tidak mau kamu tahu. Dan sekarang… ini bukan waktunya saling menyalahkan.”

Felix melirik Adam yang kembali mengigau, wajahnya berkeringat dingin.

“Kita harus segera membawa Adam pulang. Dokter di sini benar-benar tidak paham apa yang ia alami. Secara fisik dia sehat, tapi kondisi mentalnya hancur. Dia terus mengigau satu kalimat…”

Felix terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara rendah, “Ampun, Kakek…”

“Ampun, Kakek?” Harun membeku. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya.

Apa ini ada hubungannya dengan wasiat kakek? Tapi kakek sudah meninggal…

Dokter akhirnya menyimpulkan bahwa Adam tidak memiliki penyakit fisik serius. Namun tekanan psikologis yang berat memicu asam lambung tinggi, hilang nafsu makan, demam, dan halusinasi. Setelah diskusi panjang, dokter mengizinkan Adam rawat jalan.

Tanpa membuang waktu, pukul tiga dini hari Harun membawa Adam kembali ke tanah air. Sepanjang penerbangan, Adam lebih banyak terlelap gelisah, sesekali menggigil dan bergumam tak jelas.

Sebelum berangkat, Harun sudah menghubungi Hawa, memintanya bersiap karena Adam akan dirawat di rumah.

Pukul tujuh pagi mereka tiba.

Langit masih pucat ketika Harun memapah tubuh Adam yang meringkuk lemah memasuki rumah.

“Hawa!” panggil Harun cemas.

“Iya, Mas!” sahut Hawa sigap. Sebagai seorang perawat, instingnya langsung bekerja cepat. Tanpa banyak tanya, ia membantu Harun memapah Adam menuju kamar Adam.

Tubuh Adam akhirnya dibaringkan di ranjang.

“Push,” gumam Harun pelan saat mereka menurunkannya dengan hati-hati.

Hawa segera menyiapkan infus dan peralatan medis sederhana yang selalu tersedia di rumah. Tangannya cekatan, gerakannya tenang, menenangkan. Harun beranjak ke ruang pakaian untuk mengambil baju ganti Adam.

Kepala dan setengah wajah Adam masih tertutup hoodie tebal. Saat Hawa perlahan membuka penutup kepala itu, pandangan keduanya bertemu untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dimana Hawa masih menjadi gadis kecil.

keduanya sama-sama terkejut kecil.

Tatapan lemah itu memberikan sugesti ketenangan yang merambat perlahan ke dalam jiwa Adam. Wajah Hawa yang lembut, auranya yang hangat, seperti cahaya yang menyingkirkan bayangan gelap yang selama ini menyiksanya tanpa ampun.

Harun kembali membawa pakaian ganti. Saat menyadari tatapan Adam tertuju pada Hawa, gadis itu refleks menunduk lalu bergegas keluar dari kamar. Dengan cekatan, Harun mengganti pakaian Adam dengan celana pendek dan kaos, pakaian paling nyaman bagi Adam.

“Tubuhnya panas,” ucap Hawa cepat. “Aku harus masukkan obat penurun demam lewat infus.”

“Jangan beri obat tidur,” pesan Harun tegas.

“Nanti dia marah.”

“Baik,” jawab Hawa singkat.

Namun tiba-tiba tubuh Adam kembali menggigil hebat. Matanya menajam, seolah melihat sesuatu yang tak kasatmata datang menghampirinya. Dalam refleks penuh ketakutan, Adam menarik tangan Hawa yang berdiri di sampingnya, memeluknya erat, bersembunyi di tubuh gadis itu.

Hawa tersentak. “Eh—!”

“Tolong… tetap di sini,” bisik Adam lirih. “Lindungi aku…”

Di dekat Hawa, Adam merasa aman.

Ajaibnya, bayangan hitam yang selalu menghantuinya seakan sirna.

Tak lama kemudian, napasnya melambat, tubuhnya mengendur. Ia tertidur, masih menggenggam lengan Hawa dengan erat

Namun situasi itu membuat Hawa gelisah. Ia merasa tak pantas.

“Mas,” ucap Hawa pelan pada Harun. “Kamu saja yang menemani Mas Adam.”

Harun menggeleng.

“Aku tidak enak… aku ini istrimu.”

Harun tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Kamu saja. Dia lebih tenang sama kamu.”

“Kamu pasti capek. Aku mau buatkan sarapan untuk mu, Mas.”

“Tidak perlu,” potong Harun. “Fokuslah merawat Mas Adam sampai sembuh total. Jangan pikirkan aku. Dia sangat penting bagi kami. Kalau dia tidak ada… aku belum siap menjalankan perusahaan sendirian.”

“Takutnya orang-orang bisa berprasangka jelek Mas. Bisa jadi fitnah,” ucap Hawa lirih, menjaga kehormatannya sebagai istri dan ipar.

Harun terkekeh kecil. “Di sini tidak ada tetangga kepo. Kamu tidak perlu khawatir.”

Tangannya terangkat, mengusap lembut ubun-ubun Hawa dengan wajah penuh pesona.

“Aku janji, setelah kamu berhasil menyembuhkan Mas Adam, kita akan membangun rumah tangga yang lebih indah dan romantis”

Hati polos Hawa langsung berbunga-bunga. Senyum merekah di wajahnya, rayuan Harun selalu berhasil meluluhkan pertahanannya.

“Kita sebaiknya pindah rumah saja, Mas,” pinta Hawa lembut. “Ngontrak pun tidak apa-apa. Karen Ini kan rumah Mas Adam.”

“Baik,” angguk Harun tanpa ragu.

“Dan… berapa pun gaji yang kamu dapatkan, aku akan terima dengan senang hati. Aku ingin kamu sendiri yang mentransfernya,” lanjut Hawa.

“Iya, sayang,” jawab Harun sambil mengelus pipi Hawa. Satu kata sayang membuat Hawa serasa melayang-layang.

“Oh iya, aku harus ke kantor. Sudah hampir jam delapan,” kata Harun sambil meraih tasnya. "Apa aku perlu mengirimkan bubur untuk Mas Adam?"

"Jangan, nanti biar aku saja yang memasaknya, pasien tidak boleh makan bubur sembarangan dari luar, lambungnya tidak stabil!"

"Ok, baiklah, kalau begitu aku pergi!"

“Hati-hati ya, Mas.”

“Kalau ada apa-apa, langsung telepon.”

“Baik,” angguk patuh Hawa, menatap kepergian suaminya, sementara di belakangnya Adam tertidur pulas.

Melihat Adam telah terlelap, Hawa perlahan berusaha menarik tangannya. Namun, Adam justru menggenggam lengan Hawa lebih kuat, menarik tubuhnya hingga semakin merapat.

“Jangan pergi… tolong. Aku takut sekali,” ucap Adam lirih, meski tubuhnya tak lagi bergetar.

"Ia aku tetap di sini!" jawab Hawa tak pernah tega melihat sosok pasien yang tengah kesakitan ataupun seseorang yang membutuhkan pertolongannya.

Hawa memperhatikan luka-luka baret di sepanjang leher, tangan dan kaki Adam, memar dan memerah.

"kenapa bisa seperti ini? Seperti luka tertusuk-tusuk kayu dan duri, dimana mas Adam terjatuh!" gumam Hawa merasa aneh dan tidak percaya dengan apa yang sedang dialami Adam.

1 jam Adam berhasil tertidur. Jiwanya mulai membaik dan tersadar dengan keberadaan Hawa, calon istri pilihan sang kakek.

1
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
pasrahkan saja jalan yang akan di lalui pada yang memberi hidup.
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dalam hati Adam berharap juga kan bisa menikah dengan Hawa setelah badai itu pergi
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
klo jodohnya kamu Adam mau lari kemanapun pasti ketemu Hawa
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
janda tapi perawan dong
𝐙⃝🦜🅰🆈🅰𒈒⃟ʟʙᴄ
kalo suka bilang suka jangan pura2 ga ada rasa malah bilang belum mau menikah udah jelas dulu kamu yang maksa hawa untuk menggantikan malam pertama bersama Harun karna cemburu,jangn jadi laki2 muna deh🙄
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
jangan sampai Hawa semakin ilfil sama kamu dam,,kalau memang suka jangan menyangkalnya
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻
betul hawa
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
kira² yang akan jatuh cinta duluan siapa ya.. Adam atau Hawa 😳
¢ᖱ'D⃤ ̐𝖆𝖓𝖎𝖊ՇɧeeՐՏ🍻: kurasa Adam kak 🤭
total 1 replies
υɐnſɐnH🎐ᵇᵃˢᵉ𝐙⃝🦜
sebentar lagi Adam mau belah duren 🤣🤣🤣
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
sebenernya kasihan Hawa dam Adam. karena perjanjian kedua kakek mereka.mereka yang jadi korban dan menanggung akibatnya
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
jadi sekarang yang kena teror gantian bapaknya Hawa
Paradina
seru kak, lanjut 😍
Qothrun Nada
setelah nikah jangan harap ada jatah,stok rasa sabar mu seluas samudra Adam 😀
Qothrun Nada
hooh orang pintarnya pak penghulu 😀
Qothrun Nada
andai bapaknya Hawa bisa seperti pak Joko, pasti ibunya Adam bisa menyeret Adam untuk tetap menikahi Hawa dulu
Qothrun Nada
😅😅😅
Qothrun Nada
jangan nyalahin Hawa dong, kasihan dia
Qothrun Nada
marah seperti kakek Sulaiman
Qothrun Nada
kapok, makanya jadi bapak itu yg tegas, kalau dulu dia menolak tentu Hawa gk nikah sama Harun karena gk ada walinya
Qothrun Nada
heem jadi adam 2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!