NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Ruang operasi itu dingin, terang, dan sunyi ... kontras dengan kekacauan yang pernah merenggut wajah dan hidup Galuh. Ia terbaring di atas meja operasi, tubuhnya dibalut kain steril, hanya matanya yang masih terbuka menatap langit-langit putih.

Lampu-lampu besar menggantung seperti mata tanpa emosi.

Seorang dokter Korea mendekat, suaranya lembut namun tegas, diterjemahkan perlahan oleh perawat di sampingnya.

"Operasi ini akan panjang," katanya. "Kami akan membangun kembali, bukan hanya memperbaiki. Setelah ini, wajahmu ... akan berbeda."

Galuh mengangguk pelan. Di balik masker oksigen, napasnya bergetar. "Tidak apa-apa," bisiknya. "Aku memang tidak ingin terlihat seperti dulu."

Di balik kaca tebal, Shankara Birawa berdiri dengan tangan terkepal. Namun wajahnya tetap tenang dan dingin. Begitu Galuh keluar dari ruangan operasi, dunia akan kehilangan satu nama ... dan melahirkan seseorang yang baru.

Anestesi mulai bekerja. Kelopak mata Galuh terasa berat.

Di detik-detik terakhir sebelum kesadarannya menghilang, potongan kenangan berkelebat: tawa yang dulu tulus, kehidupan bersama keluarganya yang sederhana namun penuh syukur, lalu beralih pada malam mengerikan itu, pada cacian dan keadilan yang tak berpihak kepadanya, kehilangan dan rasa sakit yang hampir mematikannya. Lalu satu tekad terakhir menguat di dadanya.

"Aku harus tetap hidup untuk membalas kematian ibu dan Galih." Mata Galuh tertutup.

Jam bergerak pelan.

Satu jam ... dua jam ... tiga jam ...

Di balik pintu tertutup itu, masa lalu Galuh dikikis sedikit demi sedikit. Setiap keputusan yang diambil para dokter adalah garis baru bagi masa depannya ... garis yang akan menghapus jejak korban dan membentuk sosok yang lebih kuat, lebih dingin, dan lebih siap menghadapi dunia.

Setelah melewati waktu berjam-jam, akhirnya, pintu ruang operasi terbuka.

Shankara melangkah maju saat dokter melepas masker bedahnya. "Operasinya berhasil, Mr. Birawa," ucapnya singkat. "Namun proses pemulihan akan panjang. Saat dia bangun nanti ... dia tidak akan langsung mengenali dirinya sendiri."

Shankara mengangguk. "Terima kasih, Dokter."

Di ruang pemulihan, Galuh terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya kini tertutup perban tebal, seperti kepompong yang menyembunyikan metamorfosis.

Di luar sana, Lingga Buana masih terjebak dalam dosa dan bayang-bayangnya sendiri.

Sementara di Korea, seorang perempuan yang seharusnya sudah mati ... sedang dilahirkan kembali.

_____

Aula besar itu dipenuhi cahaya lampu kristal dan denting gelas berisi minuman mahal. Tawa menggema, musik mengalun meriah. Spanduk ucapan selamat terpampang megah. Karangan bunga pun berjejer rapi di kiri dan kanan halaman rumah besar keluarga Buana.

Lingga berdiri di tengah keramaian dengan setelan rapi, senyum percaya diri terpatri di wajahnya. Ia menerima ucapan selamat, jabat tangan, dan pujian seolah dunia benar-benar berada di pihaknya.

"Kamu memang anak kebanggaan keluarga," ujar salah satu kerabat sambil menepuk bahunya.

"Calon orang besar dan orang sukses," sahut yang lain.

Orang tua Lingga tersenyum puas. Gelas-gelas diangkat tinggi, bersulang atas masa depan gemilang yang katanya telah menanti. Tak satu pun wajah di ruangan itu menunjukkan bayangan duka, apalagi penyesalan.

Seolah-olah nama Galuh tak pernah ada. Seolah-olah satu keluarga yang dilenyapkan hanyalah debu yang pantas dilupakan.

Lingga tertawa lepas, ikut bersulang. Di balik kilau lampu dan tepuk tangan, hatinya entah kenapa terasa kosong ... namun ia menutupinya dengan kesombongan. Ia percaya gelar hukum itu akan menjadi tameng, hukum bisa dibelokkan, kebenaran bisa dibungkam.

"Untuk Lingga Buana," seru seseorang. "Masa depan cerah tanpa cela!"

Gelas-gelas kembali beradu.

Tak ada doa untuk arwah yang mati.

Tak ada hening untuk dosa yang dikubur.

Namun jauh dari pesta itu, di negeri lain, seorang perempuan terbaring dengan wajah diperban ... membayar harga dari kejahatan yang kini dirayakan sebagai kemenangan.

Pesta malam itu berlangsung meriah.

Dan di atas kegembiraan palsu itu, takdir mulai menghitung mundur.

Zainal Buana melangkah ke podium. Jas mahalnya pas, senyumnya tenang ... senyum seorang politisi yang terbiasa menyembunyikan kebenaran di balik kata-kata indah. Ruangan perlahan hening. "Hadirin yang saya hormati," ucapnya lantang, suaranya berwibawa. "Malam ini bukan hanya perayaan kelulusan anak saya, Lingga Buana yang kini telah mendapatkan gelar sarjana hukum. Ini adalah perayaan komitmen kami sekeluarga terhadap pengabdian kepada masyarakat." Ia berhenti sejenak, menatap para tamu satu per satu.

"Sebagai wakil rakyat, saya percaya bahwa kekuasaan bukan untuk disalahgunakan, melainkan untuk melindungi. Hukum harus menjadi payung bagi yang lemah, dan pedang bagi keadilan," lanjutnya mantap. "Dan malam ini, saya bangga karena putra saya memilih jalan hukum ... jalan pengabdian."

Tepuk tangan membahana.

Zainal mengangkat gelas. "Untuk masa depan yang bersih, adil, dan bermartabat."

Gelas-gelas beradu. Tak satu pun tahu tentang dosa yang dikubur rapi oleh keluarga Buana di bawah karpet kekuasaan.

Lingga kemudian maju. Ia menerima mikrofon dengan percaya diri, sorot matanya menyapu ruangan. Inilah panggungnya. "Terima kasih atas kedatangan para hadirin semua. Atas ucapan selamat dan doa-doa," katanya. "Menjadi sarjana hukum bukan sekadar soal gelar. Ini adalah tanggung jawab moral."

Ia tersenyum tipis, senyum yang terlihat tulus di mata orang-orang yang memercayainya. "Hukum adalah fondasi keadilan. Tanpa hukum, kebenaran bisa dipermainkan. Tanpa keadilan, masyarakat akan runtuh," ucap Lingga fasih. "Saya berjanji akan berdiri di sisi yang benar. Membela kebenaran, apa pun risikonya."

Tepuk tangan kembali bergema ... lebih keras, lebih panjang.

Lingga menunduk hormat. Tak seorang pun tahu, di balik pidato tentang keadilan itu, ada satu nama yang terus berdenyut di kepalanya. Nama yang tak pernah ia sebut, namun menghantui setiap jeda napasnya.

Galuh.

Di malam yang sama, kata keadilan dipuja setinggi langit ... sementara faktanya, kebenaran dibiarkan terkubur.

"Dasar keluarga menjijikan," gumam seorang lelaki berkacamata sambil menurunkan ponselnya, mematikan rekaman yang ia ambil barusan.

______

Kesadaran Galuh kembali perlahan, seperti muncul dari dasar laut yang gelap dan paling dalam. Suara mesin medis berdetak pelan, bau antiseptik menusuk hidungnya. Kelopak matanya terasa berat, namun akhirnya terbuka.

Hal pertama yang ia rasakan adalah wajahnya terasa kaku, nyeri, dibalut perban tebal. Ia menggerakkan jari-jarinya perlahan, memastikan dirinya masih hidup.

Shankara Birawa berdiri di sisi ranjang. Wajahnya terlihat lebih lega saat melihat mata Galuh terbuka. "Kamu sudah bangun," ucapnya pelan.

Galuh mencoba bicara, tapi suaranya hanya keluar serupa desahan lemah. Matanya bergerak, mencari sesuatu. Shankara memahami tanpa perlu kata. Ia meraih sebuah cermin kecil dari meja dan mendekatkannya dengan hati-hati.

Pantulan itu muncul perlahan.

Wajah asing menatap balik ... masih bengkak, sebagian tertutup perban, garis-garis jahitan samar terlihat di sela balutan. Namun di balik semua itu, Galuh melihatnya: bentuk baru, struktur yang berbeda, jejak lama yang nyaris lenyap.

Napasnya tercekat. Matanya berkaca-kaca. "Ini wajahku yang baru, Tuan?" bisiknya hampir tak terdengar.

Shankara mengangguk. "Untuk sementara. Ini belum mencapai akhir. Bengkaknya akan surut. Perban akan dilepas. Tapi wajah lamamu ... jelas tak akan kembali."

Galuh menatap cermin lebih lama. Ada duka di sana ... untuk dirinya yang dulu. Namun perlahan, duka itu berubah menjadi sesuatu yang lebih keras.

Tekad.

Shankara menurunkan suara, serius.

"Setelah wajahmu benar-benar sempurna seperti sediakala ... atau bahkan lebih baik, kita akan memulai rencana untuk menjatuhkan keluarga Buana."

Galuh memejamkan mata sejenak, menarik napas yang masih terasa sakit. Nama itu menggema di dadanya, tapi kali ini tanpa gemetar.

"Namun sebelum itu," lanjut Shankara, "Ada banyak hal yang harus kamu pelajari."

Galuh kembali menatap cermin. Pantulan perempuan asing itu menatapnya balik ... lebih dingin, lebih tajam. "Apa pun yang harus aku pelajari," ucapnya lirih namun mantap. "Aku siap, Tuan."

Shankara tersenyum tipis. "Bagus. Karena mulai hari ini, kamu bukan lagi korban. Kamu adalah saksi hidup dan senjata."

Di luar jendela rumah sakit Korea itu, salju turun pelan. Dan bersama serpihan putih yang jatuh, masa lalu Galuh perlahan terkubur, memberi ruang bagi seseorang yang baru, yang kelak akan membuat keluarga Buana gemetar.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!