Seina, adalah seorang gadis kampung yang hidupnya penuh dengan kesederhanaan, dia dari keluarga baik-baik, dia juga mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya, namun dia harus kehilangan anggota keluarganya karena sebuah bencana.
Seina pun satu-satunya yang selamat dan dibawa ke tempat pengungsian oleh para relawan, gadis itu cukup terpuruk dengan nasibnya, namun dia tetap harus menjalani hidupnya.
Karena yang bernasib sama dengannya itu juga cukup banyak.
Hal itu membuatnya bangkit dan merangkul anak-anak yang bernasib sama dengannya.
Suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik jelita, dari atas kepala sampai bawah kakinya, terlihat bernilai mahal, bahkan kibasan rambutnya pun berbau dollar.
"Jadi kamu ya Seina?" tanya wanita itu dengan angkuh.
"Ya, ada apa Nyonya?" tanya balik Seina.
Wanita itu segera membuka koper besar, dan di sana terlihat sangat banyak tumpukkan uang.
"Aku sewa rahimmu!" Tegas wanita itu.
Yuk kepoin baca lanjutannya 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie Alfredo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Psikopat semua
Gladys pun segera mengikuti mereka, karena melihat mertuanya juga mengkhawatirkan Seina, Gladys pun tidak jadi masuk ke kamar Seina.
Sialan wanita tua Bangka itu.
Gladys sangat marah karena sikapnya sangat baik sekali dengan Seina.
Tapi memang sejak menikah dan hamil ibu mertuanya sangat baik padanya.
" Tunggu, sebenarnya apa yang dikatakan Martin itu benar sekali, pasti dia tahu sesuatu dia berubah begitu saja sejak kapan ya ?" Gladys mencoba mengingat-ingat lagi.
Ah, sialan aku baru menyadarinya, dia pasti mendengar percakapanku dengan Miranda saat itu, iya itu setelah Miranda pulang dia langsung tampak garang dan kasar padaku.
Sial tapi aku juga tidak tahu ini hanya kebetulan atau dia sungguh mengetahuinya, tapi kalau dia tahu kenapa diam saja, bukankah kesalahanku sangat fatal.
Dalam hati Gladys berpikir keras.
" Sayang, apa yang kau pikirkan?' Martin yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
" Ah, aku merasa bersalah sayang, aku sangat kasar pada Seina." Gladys langsung berakting di depan suaminya.
" Aku tahu kau pasti tidak sengaja, tapi perbuatanmu itu salah Sayang." ujar Mattew dengan lembut.
" Iya, aku salah aku akan meminta maaf pada Seina nanti." Jawab Gladys tampak sangat menyesal.
Jika bukan harus terlihat baik di depan Matthew, aku tidak sudi meminta maaf.
Dalam hati Gladys.
" Bagaimana pun dia rela mengandung anak kita." ujar Matthew.
" Iya, iya sayang, nanti aku akan belikan dia baju-baju bagus dan perhiasan untuk minta maaf." Gladys tidak mau tahu bagaimana perasaan Seina, intinya uang yang akan berbicara.
Di kamar Seina.
" Dasar wanita gila itu, beraninya dia menyakiti anak yang akan mengandung anaknya." ujar Olive sangat kesal.
" Apa kau takut Cin?" tanya Martin.
" Aku hanya kaget saja, dan bingung Martin, sebenarnya salahku apa?" ujar Seina yang masih terkejut, karena itu tiba-tiba sekali.
" Seina, aku sudah membuatkan sup ayam kaldu untukmu, ayo makan dulu biar hangat." ujar Olive membawakan sup buatannya penuh dengan kebanggaan.
" Huuuue, ...ugh ..." tiba-tiba saja Seina mual dan pusing.
" Hah?, kenapa?, apa sup buatanku tidak enak?" Olive sampai menghirup-hurup aroma sup buatannya.
" Tidak enak pasti Bu, singkirkan saja aku panggil dokter dulu." ujar Martin.
Dokter segera memeriksa keadaan Seina, ya memang tampak kurang sehat karena keterkejutannya.
" Hari ini anda sebaiknya tes mandiri dengan tespek dulu Nona muda, kondisi tubuh anda masih agak terkejut." ujar Dokter.
" Tespek?, aku ada, aku ada, aku akan segera ambilkan." Gladys yang mau minta maaf itu segera berlari mengambil tespek lalu kembali.
Gladys dengan tidak punya perasaannya meminta Seina yang masih lemas itu untuk segera buang air kecil ke dalam wadah urin yang dia bawa.
" Tidak harus sekarang!" tegas Martin.
" Apa urusannya, aku ingin melihat hasilnya sekarang!" tegas Gladys tidak mau tahu.
Martin dan Gladys pun malah berdebat tak jelas.
" Ah, tidak kalian keluar!" teriak Seina yang sudah tidak tahan lagi, apalagi tubuhnya sangat sakit, mendengar keributan membuatnya sangat kesal dan hilang kendali.
" Beraninya kau anak setan, berteriak padaku!" Gladys semakin marah, padahal tadi niatnya dia ingin sekedar cari muka pada suaminya meminta maaf, tapi malah kini dia merasa Seina sangat ngelunjak.
" Apa yang kau katakan?, anak setan kepalamu, kepala tidak ada isinya, cantik saja itu tidak berguna, keluar kau!" teriak Olive memarahi Gladys.
Gladys langsung pergi mengadu pada suaminya, jika mertuanya bersekongkol dengan Seina untuk menyudutkannya.
" Martin kau keluar, dokter terimakasih atas bantuannya." ujar Olive pada dokter itu.
Dokter itu segera pamit.
" Tidak apa-apa Nak, kau tidak usah takut dengan perempuan egois itu, aku akan menjagamu agar dia tidak menindas dirimu ke depannya." ujar Olive merasa kasihan pada Seina.
" Terimakasih Nyonya." jawab Seina menunduk menahan air matanya.
Sebenarnya apa yang terjadi, bukankah Gladys itu sangat membutuhkan dirinya, kenapa sangat kasar pada orang yang sudah membantunya.
Seina masih berpikir keras.
" Andai saja aku punya menantu sepertimu, tidak masalah masih muda, lagian meskipun umurmu dan Matthew sangat jauh, anakku itu juga tetap berkarisma kan?, banyak loe anak-anak yang masih sekolah mencoba menggoda Matthew, apa kau tidak terpikat dengan ketampanan anakku itu?" ujar Olive dengan bangganya.
" Hah?" Seina sampai bengong mendengar perkataan Olive yang sangat percaya diri itu.
" Ya, heran juga dia malah jatuh cinta dengan wanita seperti itu, dulu aku juga menyayanginya, tapi dia, ah sudahlah kau tidak usah tahu, hehehe." Olive terus membicarakan hal yang membuat Seina tak mengerti.
" Pelan-pelan saja, semoga berhasil ya, tolong lahirkan anak dari Matthew dengan baik, maka aku akan berhutang budi padamu seumur hidupku." ujar Olive tampak dengan harapan yang sangat tinggi.
" Saya akan berusaha nyonya." jawab Seina lirih.
Olive tampak sangat puas.
" Ibu, kenapa sih Ibu masih membenci Gladys?, dia bahkan rela menyewa rahim untuk mewujudkan keinginanmu." Tiba-tiba saja Matthew datang dan protes pada ibunya.
Olive menarik nafas panjang dan berdiri.
" Istrimu memaksa Seina untuk tespek, lihat anak itu masih syok!" tegas Olive.
" Seina, aku akan membantumu ke kamar mandi, maafkan istriku ya, karena dia sangat berharap besar padamu." ujar Matthew bersikap lembut pada Seina.
Seina juga tidak bisa menolak Matthew yang memintanya dengan baik.
" Saya bisa ke kamar mandi sendiri Tuan." Jawab Seina lemah.
Olive benar - benar sangat kesal dengan putranya yang sangat cinta buta pada istrinya.
Tapi Olive juga tidak mau bertengkar dengan Matthew.
Tak lama Seina keluar dengan membawa urinnya yang sudah di tampung di wadah dan memberikan pada Matthew.
" Terimakasih Seina, kau bisa beristirahat." ujar Matthew sangat puas dan segera keluar dari kamar Seina dengan membawa apa yang dia inginkan.
" Maaf ya Seina, kau harus memaklumi sikap putraku itu yang sangat menurut pada istrinya, tapi kalau kau ingin merebutnya, aku akan mendukungmu." ujar Olive tersenyum.
Apalagi ini, ternyata seisi rumah tidak ada yang waras, mana mungkin aku jadi pelakor, kalau putramu itu lajang atau duda, bisa ku pertimbangkan, aneh sekali, semoga saja aku hamil, aku hanya butuh bertahan sampai anak itu lahir dan pergi jauh dari keluarga ini.
Dalam hati Seina.
" Maaf Nyonya, saya tidak memiliki keberanian menjadi pelakor." ujar Seina meringis.
" Aduh, aduh, kau ini memang anak yang baik, kalau kau yakin aku juga bisa membuat anakku segera menduda." ujar Olive lalu berjalan mendekati Seina.
" Bagaimana kalau kita sewa pembunuh bayaran?" bisik Olivia.
Sungguh di luar nalar sepertinya seisi rumah psikopat semua.
" Nyonya saya mohon, saya hanya ingin melahirkan anak untuk Tuan Matthew setelah itu pergi." ujar Seina sedikit takut.
" Baiklah, hehehe sepertinya aku menakutimu, anak baik kalau begitu istirahat." Olive pun. segera keluar.
Seina baru bisa bernafas lega setelah Olivia keluar.
" Gila, tidak ada yang waras seisi rumah ini." Gumam Seina bergidik ngeri.
semangat seina, semoga author cepat membuat bahagia 🤣