Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan bedua dengan suami dadakan
Sore hari itu, suasana rumah keluarga Pradipta tenang,lebih tenang dari yang Cantika kira setelah drama besar kemarin. Burung-burung di taman belakang berkicau, kolam ikan beriak pelan, dan aroma teh melati menguar dari teko yang baru disiapkan Mbok Darmi
Cantika duduk sendirian di teras belakang, menatap halaman yang rapi. Rasanya aneh… tinggal di rumah besar yang bahkan langit-langitnya lebih tinggi dari rumahnya didesa , Dia masih merasa seperti tamu, bukan istri pemilik rumah.
Sementara itu, di dalam rumah, Yoga baru pulang dari mengurus administrasi rumah sakit ayahnya. Begitu dia masuk, dia melihat Cantika dari kejauhan,duduk dengan kaki yang disilangkan, wajah menunduk, dan bahu sedikit merosot.
Ia tersenyum kecil.
Kelihatan bengong lagi…
Yoga berjalan mendekat sambil membawa dua gelas es teh. “Pikirin apa? Kayaknya serius banget.”
Cantika kaget sampai hampir melompat. “Hah? A—Astaga! Mas Yoga! Nggak ada suara langkah!”
Yoga menaruh gelas di meja. “Nggak kok. Kamu aja yang terlalu fokus mikir.”
“Emang aku kelihatan mikir?”
Yoga mengangguk. “Kelihatan banget. Bibirmu sampai manyun lima centimeter.”
Cantika spontan menutup bibirnya dengan tangan. “Hah!? Serius?!”
“Enggak,” jawab Yoga sambil tertawa.
Cantika mendelik. “Mas ngeledekin terus dari tadi!”
“Lumayan buat hiburan,” jawab Yoga santai.
Cantika ingin pura-pura marah, tapi wajah Yoga yang berusaha menahan tawa itu membuatnya ikut tersenyum. Entah kenapa, ngobrol dengan Yoga… gampang.
“Gimana ayah Mas?” Cantika akhirnya bertanya pelan.
“Sudah jauh lebih stabil,” jawab Yoga. “Dokter bilang tinggal istirahat. Tapi… beliau tetap nyuruh kita tinggal di sini dulu.”
Cantika mengangguk pelan. “Aku ngerti…”
“Tapi kamu nggak perlu takut atau tertekan,” lanjut Yoga. “Kita bisa jalani pelan-pelan. Kamu nggak harus… apa ya… jadi istri sempurna gitu.”
Cantika tersenyum tipis. “Mas… aku bahkan belum tau cara buka pagar otomatis di rumah ini.”
Yoga ngakak sampai menepuk meja. “Ya jangan dibuka, nanti kamunya ikut keluar kayak sendal keseret!”
Cantika ikut tertawa, kali ini tanpa rasa canggung. “Astaga, Mas! Aku serius!”
“Ya aku juga serius,” jawab Yoga sambil masih tertawa. “Besok aku ajarin.”
Suasana menjadi hangat. Tidak terlalu formal, tidak terlalu canggung. Hanya dua orang yang sedang coba saling mengenal.
---
Tak lama, Mbok Darmi muncul membawa sepiring pisang goreng hangat.
“Neng Cantika, Mas Yoga… ini cemilan dulu biar enggak tegang.”
Yoga membuka mulut. “Siapa yang tegang?”
Mbok Darmi mengangkat alis. “Halah, Mas. Dari kemarin itu wajah Mas kayak orang habis lari maraton ngurusin keluarga.”
Yoga langsung terdiam.
Cantika berusaha menahan tawa.
Setelah Mbok Darmi pergi, Yoga menghela napas. “Aku jadi bahan roasting di rumah sendiri.”
“Gapapa, Mas,” kata Cantika sambil mengambil pisang goreng. “Tanda disayang.”
Yoga meliriknya. “Kamu ini makin berani ya sekarang.”
Cantika hanya cengengesan sambil mengunyah.
"Sejujurnya Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi ,aku tiba tiba menjadi seorang istri ,dan statusnya langsung berubah dalam sehari ." ucap Cantika sambil mengunyah pisang goreng.
"Sama aku juga tidak percaya ,aku menikah dengan mu ,padahal sebelumnya aku dipaksa menikah dengan viona ." ucap yoga dia juga mengambil pisang goreng dan segera menggigit ujungnya ."
"Tapi aku justru senang menikah denganmu ,tidak jadi dengan viona ." yoga mengunyah pisang goreng yang sudah ada didalam mulutnya .
"lho kenapa ? bukanya Viona itu cantik ,elegan dan berasal dari keluarga berada ?"
"sejujurnya aku kurang suka sama dia saat pertama kali kita bertemu saat perjodohan itu ."
"kalau tidak suka ,kenapa sampai kejenjang pernikahan?"
"ya ,keluarganya yang memaksa ,kami hanya mengikuti saja."
"kenapa tidak dari awal digagalkan kalau memang kamu tidak suka dengannya ."
"Dulu ayah dan ibu yang meminta aku menikah dengannya ,sekarang setelah mengetahui sifat aslinya dan keluarganya ,barulah mereka sadar ,dan aku justru heran ,kenapa mereka justru memintaku menikah denganmu ?"
"Aku juga nggak tahu ,tiba - tiba tanganku di tarik ibumu masuk kerumah ,dan diminta menikah denganmu ."
"he ..he ..lucu memang ."
"iya lucu ,mirip cerita film FTV ,aja ."
"Jadi kita yang jadi pemeran utamanya ."
Yoga dan Cantika terkekeh ,sambil memasukan pisang goreng kemulutnya .
"menurutmu ,status kita gimana mas ?"
"Gimana maksudnya ? Status kita jelas - jelas suami istri .
"Aku tahu ,maksudku kelanjutan hubungan kita ."
"kalau masalah itu nggak usah kamu pikirkan ,yang penting kita jalani dulu ."
---
Mereka duduk dalam hening sebentar. Namun hening itu bukan hening yang aneh atau tegang. Lebih seperti… nyaman. Cantika melihat langit sore yang mulai kemerahan.
Dalam hati, ia bertanya,apa hidupnya benar-benar berubah dalam semalam? Apa dia bisa menjalani semua ini? Apa dia bisa… cocok dengan Yoga?
Suara Yoga memecah lamunannya.
“Cantik…”
“Hm?”
“Aku mau nanya sesuatu.”
Cantika menoleh. “Apa?”
“Malam ini… kamu mau makan bareng aku? Di luar. Supaya kamu nggak suntuk. Sekalian biar kita… lebih kenal.”
Cantika terdiam.
Yoga buru-buru menambahkan, “Kita makan biasa aja, jangan mikir macem-macem. Aku juga nggak akan maksa conversation berat-berat. Kamu mau pesan apa, aku ikut.”
Cantika menunduk sebentar. Rasanya… canggung. Tapi juga menyenangkan. Dan,aman.
“…Mau,” jawabnya pelan.
Yoga tersenyum kecil, tapi jelas terlihat lega. “Oke. Berangkat jam tujuh?”
Cantika mengangguk. “Iya, Mas.”
Yoga berdiri sambil menepuk lembut kepala Cantika. “Aku siap dulu ya. Kamu juga siap-siap.”
Begitu Yoga berjalan masuk ke rumah, Cantika langsung memegangi kepalanya.
“Ya Tuhan… dia nepok kepalaku…”
Pipinya panas.
Cantika menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.
Tapi semakin dia mencoba, semakin jelas bayangan Yoga muncul di kepalanya,dengan senyum kecil, nada lembut, dan mata hangat yang tadi menatapnya.
Cantika menutupi wajah dengan kedua tangan.
“Gawat… kayaknya aku mulai salah tingkah.”
---
Malamnya, saat waktunya keluar, Cantika turun ke ruang tamu. Ia memakai blouse biru sederhana dan celana jeans,pakaian yang sudah disediakan oleh ibunya yoga ,dia sendiri juga bingung kenapa baju yang ia pakai serasa pas ditubuhnya .
Yoga sedang menunggu sambil men-scroll ponselnya. Begitu melihat Cantika, langkahnya terhenti.
Tatapannya beda. Ada sekejap hening yang terasa… aneh. Hangat.
“Kamu…” Yoga menelan ludah. “Kamu cantik.”
Cantika langsung salah tingkah. “Hah? Masa sih? Ini baju biasa aja.”
“Justru itu,” jawab Yoga tenang. “Kamu kelihatan natural.”
Jantung Cantika serasa ketarik ke tenggorokan.
Yoga membuka pintu dan mempersilakannya masuk ke mobil. “Ayo.”
Cantika duduk sambil menahan degup jantung. Begitu pintu tertutup dan mobil melaju, ia sadar sesuatu.
Perjalanan hidupnya yang dulu terasa gelap…
perlahan berubah.
Dan entah bagaimana, Yoga Pradipta,suami yang datang dari kesalahan alamat,mulai menjadi cahaya kecil yang menerangi jalan itu.