Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rex Panik
Rex Carson terbangun kaget. Udara dingin dini hari menyengat kulitnya yang tidak tertutup. Ia melihat arloji di pergelangan tangannya. Pukul 03:17 pagi. Ia ketiduran.
Pertama yang ia cari adalah siluet Greenindia di balkon. Wanita itu masih duduk di kursi kayu yang sama, meringkuk seperti anak kucing yang ditinggalkan.
Rex memaksa dirinya berdiri. Kakinya menjerit kesakitan, rasa sakit akibat tusukan pisau lipat Greenindia berdenyut tak tertahankan. Ia berjalan pincang, menyeret kakinya ke ambang pintu balkon untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
Begitu ia berada dalam jangkauan cahaya remang-remang dari lampu jalan, Rex tersentak.
Wajah Greenindia basah oleh keringat, tetapi kulitnya seputih kapas. Matanya terpejam erat, dan ada kerutan menyakitkan di dahinya, seolah ia sedang bergumul dengan mimpi buruk.
“Green?” panggil Rex, menepuk bahu Greenindia pelan.
Tidak ada sahutan.
Rex mengulangi panggilannya, kali ini lebih keras, sambil menyentuh lengan wanita itu. Kulit Greenindia terasa panas, membakar. Demam tinggi.
“Sialan!” Rex mengumpat pelan. Panik. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. “Green, bangun.”
Rex berusaha membangunkan isterinya. Dia mungkin akan bisa membawanya ke kamar kalau wanita itu terbangun.
Akan tetapi, setelah dipanggil beberapa kali, Green masih memejamkan matanya. Keringat semakin deras membanjir wajahnya. Dia tampak gelisah dalam tidurnya.
Rex mencoba sedikit membungkuk, berpikir untuk menggendong Greenindia, tetapi rasa sakit tajam langsung menyambar kaki kirinya. Kaki itu belum bisa menopang beratnya sendiri, apalagi berat orang lain.
Rex tidak punya pilihan lain. Meskipun ia tahu ini akan membuat Greenindia marah besar, keselamatan wanita itu adalah yang utama. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Antonio.
“Antonio, datang sekarang. Ke apartemen Greenindia. Aku butuh hel—tidak. Bawa mobil paling cepat yang kau miliki. Sekarang!” perintah Rex, suaranya tajam dan mendesak.
“Tuan? Ada apa? Apa Tuan terluka lagi?” tanya Antonio, terdengar bingung di ujung telepon. Pria itu mungkin terbangun karena suara panggilan dari majikannya.
“Bukan aku! Istriku demam tinggi dan tidak sadarkan diri. Aku tidak bisa membawanya. Cepat, Antonio. Lima menit! Jika kau terlambat, aku akan potong gajimu sepuluh tahun!” Rex memutus panggilan dengan sangat kejam, menyisakan ancaman yang membuat Antonio mungkin akan mengutuki Green selama sepuluh tahun.
Rex kembali ke samping istrinya, berlutut dengan satu kaki. Ia meraih sebotol air mineral yang tergeletak di lantai, membasahi ujung bajunya, dan menyeka dahi Greenindia, berharap bisa sedikit menurunkan suhu tubuhnya.
Tidak lama kemudian, suara decitan ban mobil mewah memecah keheningan kompleks apartemen. Antonio datang dengan kecepatan gila, lalu berlari ke lantai tiga tanpa memedulikan etiket.
“Tuan Rex! Apa yang terjadi?” Antonio melihat Greenindia yang lunglai di kursi dan Rex yang tampak putus asa di sampingnya.
“Dia demam, Antonio. Cepat, kita bawa dia ke rumah sakit terdekat. Kita tidak bisa menunggunya sadar,” Rex menginstruksikan.
Rex sudah berusaha untuk mengangkatnya sendiri tapi dia tidak bisa melakukannya karena lukanya. Ia bahkan sudah merasakan cairan merembes di kakinya.
Antonio segera mengangkat Greenindia dengan hati-hati. Mereka bergegas turun dan menuju rumah sakit elit milik keluarga Rex.
Di IGD rumah sakit, Rex benar-benar kehilangan ketenangan. Ia duduk di kursi roda karena kakinya tidak bisa digunakan, tetapi itu tidak menghentikannya untuk berteriak ke setiap petugas medis yang melintas.
“Dokter! Apa yang kalian lakukan?! Berikan dia penurun panas terbaik! Jangan hanya diam dan lihat infusnya menetes perlahan!” teriak Rex, matanya memancarkan kepanikan murni.
Seorang perawat mencoba menenangkannya. “Tuan, harap tenang. Nona Greenindia sudah ditangani. Suhu tubuhnya sudah mulai turun.”
“Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Cepat panggil kepala dokter dan katakan padanya bahwa jika istriku tidak membaik dalam sepuluh menit, aku akan memecat semua orang yang! Panggil dokter spesialis! Sekarang!” Rex mendesis, memaksa perawat itu berbalik dan berlari.
Antonio berdiri di sampingnya, melihat sikap majikannya. Ia terkejut. Sepuluh tahun melayani Rex Carson, Antonio belum pernah melihat Tuan Mudanya menunjukkan emosi selain arogan, dingin, atau marah. Kepanikan ini? Ini adalah sesuatu yang baru.
Apakah dia benar-benar menyukai gadis yang dinikahinya secara gila-gilaan ini? Antonio berpikir, khawatir. Bagaimana dengan Nenek Carson?
Antonio mengabaikan pertanyaan itu dan segera mengambil alih kendali. Ia berbisik kepada manajer IGD, "Dengarkan baik-baik. Ini Nyonya Rex Carson. Prioritaskan perawatannya. Semua hasil tes dan diagnosis harus langsung diantar kepadaku. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun.”
Semua orang ingin menangis, semalaman mereka tidak tidur karena harus berjaga tapi saat bisa sedikit beristirahat tiba-tiba pemilik rumah sakit datang dan mengamuk. Padahal, wanita yang datang bersamanya hanya demam.
Setelah memberi instruksi, Antonio menghampiri majikannya. “Tuan, kaki Anda harus diperiksa,” ucap Antonio, tatapannya terarah pada celana training hitam yang tampak semakin gelap oleh darah.
Rex yang mendengar hal itu langsung menyadari. Dia melihat ke arah luka dan kini kembali rasa sakitnya terasa berdenyut kembali.
“Baiklah.”
Antonio mendorong kursi roda dan memanggil dokter untuk menangani kaki Rex. Pria itu tidak ingin berlama-lama jauh dari istrinya. Setelah selesai dibersihkan dan dibalut kembali, Rex bergegas menghampiri Green.
Saat Rex keluar dari ruang tindakan, Greenindia dipindahkan ke ruang perawatan pribadi yang mewah. Demamnya akhirnya turun drastis.
Rex memandang wajah Greenindia yang kini tertidur dengan tenang. Ia menghela napas lega, rasa lelah dan kepanikan yang ia tahan akhirnya mereda. Ia melihat infus yang terpasang di tangan Greenindia.
“Dasar wanita bodoh,” gerutu Rex pelan, suaranya kembali ke nada meremehkan yang biasa. Ia melihat Antonio yang berdiri di pintu. “Untuk apa dia minum sebanyak itu? Dia gagal bunuh diri di tebing, lalu dia mencoba membunuh dirinya sendiri dengan alkohol. Apa dia benar-benar tidak punya akal sehat?”
Antonio tidak berani menjawab. Ia hanya mencatat kata-kata majikannya.
“Pastikan dia mendapatkan istirahat total. Dan Antonio,” panggil Rex.
“Ya, Tuan?”
“Ambil semua minuman beralkohol dari apartemen itu dan buang. Aku tidak mau melihat ada setetes pun alkohol di dekatnya lagi.”
Rex menatap Greenindia sekali lagi, lalu memalingkan wajahnya. Meskipun ia menggerutu dan meremehkan, ia tahu kepanikan yang ia rasakan tadi malam adalah nyata. Greenindia tidak akan mati, setidaknya tidak selama ia berada dalam jangkauan pengawasannya.
Sejujurnya, Antonio sedikit ragu dengan perintah terakhir tuannya jika mengingat sikap Green terakhir kali tapi dia juga tidak mungkin membantah.
“Baik, Tuan.” Akhirnya, dia hanya patuh dan menunggu eksekusi dari istri tuannya jika wanita itu sudah kembali ke apartemen.
semangat up