Nadeo Gibran Erlangga berniat untuk melamar Arzela Kayzel Atharva, yang selama ini dia klaim sebagai jodohnya.
Namun Nadeo terpaksa harus mengubur impiannya itu demi membalas budi pada keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini.
Nadeo harus menikah dengan Sabrina Eleazar menggantikan sang adik yang kabur di hari pernikahannya.
Arzela hancur dan patah hati, namun ia harus tetap mengikhlaskan cinta pertamanya itu menikahi Sabrina yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Akankah Nadeo bertahan dengan pernikahannya setelah tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi?
Ataukah justru takdir mempersatukan Nadeo dan Arzela kembali?
Sekuel Belenggu Cinta Pria Beristri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kikan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
"𝘒𝘢𝘬 𝘋𝘦𝘰, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘋𝘦𝘸𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘋𝘦𝘸𝘢---"
Banyak sekali yang ingin Arzela tanyakan pada Nadeo, namun situasinya saat ini, memaksanya untuk menahan segala keingin-tahuan nya.
"Ini putra saya, Nadeo Gibran Erlan-- no, Bramasta. Mulai saat ini namanya Nadeo Gibran Bramasta," ucap Dewa dengan mantap. Bahkan ia mengganti nama belakang Nadeo tanpa berbicara lebih dulu pada putranya. "Mulai sekarang Dia yang akan menggantikan saya, dan Kamu saya tugaskan untuk membantunya."
Di tengah-tengah kebingungannya, Arzela tetap menganggukkan kepalanya, sambil perlahan mencerna ucapan Bos nya itu.
Arzela menatap Nadeo yang juga tengah menatapnya. Netra keduanya saling bertemu, rasa itu masih ada, rindu itu masih menggebu. Namun keduanya hanya diam tanpa kata, tanpa bicara. Perlahan rasa sesak kembali hadir, mengingat takdir yang tak mempersatukan.
Keadaan yang membuat keduanya terpaksa menerima, atau memang karena semesta tak merestui?
Namun kini takdir seolah kembali mempermainkan. Arzela yang perlahan ingin melupakan, justru situasi membuatnya semakin dekat dengan Nadeo.
"Saya paham, Pak." Di tengah-tengah kebingungannya, Arzela tetap menganggukkan kepalanya, sambil perlahan mencerna ucapan Bos nya itu. Perlahan gadis cantik itu mengulurkan tangannya pada Nadeo. "Selamat datang, Pak Nadeo! Saya Arzela. Saya berharap kita bisa bekerja sama untuk memajukan perusahaan ini. Semoga Anda merasa nyaman dan betah di sini."
Ucapan formal Arzela itu berhasil membuat Nadeo melebarkan bola matanya. Gadis cantik itu bertingkah seolah tidak mengenalnya.
"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘬𝘶?"
Ada raut kesal di wajah Nadeo, dan itu tampak jelas di mata Dewa. Pria itu berusaha menahan tawanya supaya tidak meledak saat melihat wajah frustasi putranya. Entah sandiwara apa yang sedang Arzela coba mainkan saat ini, namun Dewa menyadari satu hal.
Arzela memiliki aura yang memikat, bukan hanya itu saja, daya tariknya bak magnet yang kuat, yang bisa membuat semua orang dengan mudah mengaguminya.
"𝘗𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘶𝘵𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢-𝘨𝘪𝘭𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘶𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘢. 𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘬𝘶," 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘦𝘸𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘬𝘦𝘩.
Sementara itu Arzela menatap tajam Nadeo karena sejak tadi tidak membalas uluran tangannya. Nadeo seolah sengaja membiarkan tangan gadis cantiknya itu menggantung begitu saja untuk menunjukkan sikap protesnya.
"𝘉𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘢𝘪𝘯𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘯𝘢𝘬𝘢𝘭!"
"Terima kasih, Nona Arzela." Nadeo sengaja menekankan kata-katanya. "Kita akan menjadi partner yang solid. Dan saya yakin, saya akan betah dan nyaman di sini, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪."
Nadeo cukup lama menggenggam tangan Arzela, tangan halus yang selama ini selalu mengusap bahunya saat ia terpuruk. Tangan yang selalu menghapus air mata kesedihannya.
Tidak ada yang tahu, selama ini Nadeo begitu rapuh. Nadeo selalu diam-diam menangis, saat Harleya memperlakukannya tidak adil. Bukan karena Nadeo pria lemah, tapi ucapan Harleya yang setiap harinya selalu menyakitkan.
"𝘋𝘦𝘰, 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘔𝘢𝘴 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪."
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢-𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘨𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘴 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯."
"𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘎𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘔𝘢𝘴 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘦𝘬𝘵𝘶𝘳 𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢."
"𝘎𝘦𝘯𝘵𝘢𝘭𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘔𝘢𝘴 𝘌𝘭𝘢𝘯𝘨."
Kalimat-kalimat menyakitkan itu hampir setiap hari Harleya lontarkan pada Nadeo, tanpa sepengetahuan Elang. Harleya seperti sengaja melakukannya untuk mengusir Nadeo secara halus dari keluarganya, terutama dari hidup Elang. Harleya sangat muak melihat Elang yang selalu membanggakan Nadeo di depannya.
Dan Arzela satu-satunya orang yang tahu betapa hancurnya perasaan Nadeo. Dan hanya di depan Arzela lah Nadeo menitikkan air matanya.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢. 𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢."
Kalimat menenangkan itu selalu membuat Nadeo tenang. Sederhana tapi membuatnya merasa ada seseorang yang menginginkan kehadirannya.
Alasan itu juga lah yang membuat Arzela ikhlas melepaskan Nadeo. Arzela ingin Nadeo terbebas dari Harleya yang selalu menyakitinya.
"Ehemmmm." Deheman Dewa berhasil membuat Nadeo melepaskan tangan Arzela. "Apa sebelumnya kalian saling mengenal?" Tanya Dewa penuh selidik.
"Tidak, Pak. Saya baru mengenal Kak-- maksud saya Pak Nadeo hari ini."
Arzela terlihat memukul pelan bibirnya sendiri karena nyaris keceplosan.
"𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢, 𝘣𝘪𝘴𝘢-𝘣𝘪𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘦𝘱𝘭𝘰𝘴𝘢𝘯."
Sementara Nadeo dan Dewa sama-sama menahan tawanya melihat Arzela yang terlihat menggemaskan.
"𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘢𝘳𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶, 𝘡𝘦𝘭? 𝘚𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢."
Sejak Arzela lahir, Nadeo sudah mengklaim jika gadis cantik itu adalah jodohnya. Namun entah apa yang akan terjadi kedepannya, tidak ada yang tahu. Namun satu hal, Arzela adalah dunia Nadeo. Tidak ada yang bisa merubah itu.
"𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢?" 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘦𝘸𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘱𝘰𝘭𝘰𝘴𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘻𝘦𝘭𝘢.
...----------------...
"Dad!"
Sabrina menghampiri Rako yang tengah duduk di ruang tamu bersama istrinya. Orang tua Sabrina itu tersenyum pada putri semata wayangnya yang baru saja pulang dari kampus.
Raut lelah terlihat sangat jelas di wajah putrinya, namun tidak menghalangi kebahagiaan yang terpancar dari binar matanya. Sabrina duduk di tengah-tengah Daddy dan Mommy nya, kepalanya ia sandarkan pada pundak Daddy nya, sementara satu tangannya menggenggam tangan mommy nya.
"Apa malam pertama mu berjalan lancar?" Tanya Rako disertai kekehan.
Sabrina mencebikkan bibirnya, Daddy nya itu seperti sengaja mengejeknya.
"Boro-boro malam pertama, dia aja tidur di sofa," ucap Sabrina. Wanita itu mendengus kesal mengingat malam pertama yang harusnya menjadi momen berbagi peluh, berbagi nikmat dan kebahagiaan bagi setiap pengantin. Namun dirinya justru harus di hadapkan pada sikap Nadeo yang selalu dingin.
Ditambah lagi ucapan Nadeo yang mengultimatum nya jika suaminya itu tidak akan pernah menyentuhnya sampai kapanpun.
Rako tergelak melihat wajah cemberut putrinya. Itu salahnya sendiri, pikirnya. Rako tidak habis pikir kenapa putrinya itu begitu tergila-gila pada Nadeo. Sampai-sampai putrinya itu mau dijodohkan dengan Gentala hanya untuk bisa mendekati Nadeo.
"Sayang, sebenarnya apa yang Kamu lihat dari anak haram itu?"
"Dad, jangan mengatai nya begitu!" Sabrina tidak terima saat Daddy nya mengatai Nadeo anak haram. "Hanya Dia yang tidak tergoda oleh pesonaku, Dad. Padahal, Gentala saja sangat ketagihan oleh sentuhan ku," ucapnya bangga.
Sabrina terlihat santai membicarakan gaya pacarannya pada orang tuanya. Dan lebih parahnya lagi, orang tuanya tidak mempermasalahkan itu. Asal tidak mempermalukan keluarga, tidak masalah.
"Apa Kamu sudah pernah melakukannya dengan Gentala?" Tanya Rako.
Pertanyaan tidak pantas itu keluar begitu saja dari mulut Rako. Terlalu tenang dan tidak ada beban dalam setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
Sabrina mengangguk tidak tahu malu. Wajahnya merona mengingat malam hangatnya bersama Gentala.
"Gentala orang pertama yang menyentuhku, Dad."
Tidak ada raut sedih atau hancur di wajah Sabrina. Wanita itu seolah melakukan hal yang biasa. Terlebih Daddy dan juga mommy nya yang tidak pernah menegurnya, membuat Sabrina berpikir santai.
"Bagaimana kalau Nadeo tahu?" Rako menyeringai, ia sengaja ingin membuat Sabrina panik.
"Tidak akan. Aku akan melakukan sesuatu supaya dia tidak menyadarinya."
Diam-diam Sabrina sedang menyusun rencana untuk membuat Nadeo mau menyentuhnya.
"𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘬𝘶𝘬 𝘭𝘶𝘵𝘶𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢."
"Apa Kamu tahu kenapa Gentala pergi? Bukan kah dia sangat mencintaimu?" Tanya Mommy nya penasaran.
Sabrina menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu alasan Gentala pergi. Namun satu hal, dengan kepergian Gentala, Sabrina akhirnya bisa mendapatkan Nadeo.
"Aku tidak tahu, Mom. Sudahlah jangan memikirkan si pengecut itu. Yang pasti aku bersyukur, karena dengan kepergiannya akhirnya aku bisa merebut Nadeo dari Arzela."
Tanpa mereka sadari seseorang berdiri di balik pintu yang tidak terlalu rapat itu sambil mengepalkan tangannya.
𝘛𝘰 𝘣𝘦 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘪𝘯𝘶𝘦𝘥
gtu jwbnya kl kthuan sm istrinya....🤮🤮🤮.....
jgn cm omong doang y deo...km msti bnrn ngsih pljrn sm tu nnek shir....
thoooorrrr....lo bs yg rekan klakuan duo iblis mnjijikkan viralkan videox biar seruuuuu
krna jalang spertix tu su g py malu jd klakuan" bejadx hrs d viralkan, biar d hujat byk nitizen
bc d bab ni z lgsg muntah 🤮🤮🤮
sngat....sngaaàaatttt mnjijikkan
bner" jalaaaaangggg😠😠😠
ga sbr nunggu emaknya tau,abs tu kuruk aja anknya jd kodok....🤣🤣🤣