Lanjutan dari novel Dijodohkan.
Cinta Zia dan Raka harus diuji. Dokter memvonis Zia terkena jantung bawaan yang mengharuskan Raka memilih Zia atau bayinya akankah Raka sanggup hidup tanpa Zia?
Semua telah berbeda saat Zia tersadar dari koma. Anak yang seharusnya menyayanginya justru berbanding balik mengaggap orang lain sebagai ibunya dan mengakui Zia adalah orang lain.
Akankah Raka menentukan pilihan? Kebahagiaan Zia atau kebahagiaan dari anaknya?
Selamat membaca semua...
Jangan lupa follow Ig @SamarJenny1
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 Episode 8
Raka tiba di rumah sakit di negara di mana Zia sedang dirawat. Selepas kedatangannya ia langsung menuju ruangan istrinya. Kondisinya masih sama, Zia menutup mata rapat. Ia mendekat duduk di kursi samping Zia.
“Sayang, apa kamu masih mau tidur? Apa kamu tidak mau bangun untuk melihat anak kita? Dia sangat lucu Zia, matanya bening bibirnya indah. Dia mirip sekali dengan kamu sayang.” Raka sedikit mengangkat tubuhnya untuk mengecupnya kening Zia lalu kembali menatap wajahnya.
“Sayang, apa kau tau. Dia sekarang sudah mulai makan makanan pendamping, aku menyuapinya tadi pagi. Dia makan begitu lahap di pangkuanku, dan anehnya kalau Mama yang menyuap justru dia menolak, menutup mulutnya lucu sekali,” ucapnya lirih bibirnya bergetar antara menahan tangis dan ingin tersenyum saat mengingat tingkah Zika.
Sebelum air matanya menetes ia segera menyekanya. Raka menatap wajah Zia dalam-dalam. Wajah polos yang selalu menghiasi hidupnya, wajah polos yang selalu mengganggu hasratnya.
Raka mengangsurkan jarinya di wajah Zia seraya berkata, “Aku sangat merindukanmu sayang. Aku rindu senyum dari bibir ini.” Menyentuh bibir dengan satu jari. “Aku rindu mata ini di saat menangis manja, saat aku menyakitimu memaksakan kehendakku. Aku rindu segalanya sayang, semua hidung, pipi, semua yang ada pada dirimu aku merindukannya.”
Air mata Zia tidak terasa mengalir. Raka yang menyadari seketika menghentikan kata-katanya karena takut Zia bersedih.
“Sampai kapan pun kamu mau bersikukuh tidak mau membuka mata aku akan menunggumu. Aku akan tetap merawatmu sampai kamu sadar. Bahkan hingga saat kau sadar nanti, aku akan melakukannya kalau kau menginginkannya. Aku tidak akan membiarkan kau kesulitan."
Ia kembali menciumi kening Zia dengan lembut, ia yakin Zia pasti merasakan sentuhan setiap sentuhan yang dia berikan.
Ceklek... (Pintu ruangan terbuka)
Dokter laki-laki memasuki ruangan diikuti dua orang perawat membawa kertas untuk mencatat perkembangan Zia.
“Halo Mr. Raka?” sapa dokter itu saat memasuki ruangan. ( Dalam bahasa Inggris)
“Halo dok.” Raka memalingkan pandangannya dari sang istri untuk memandang dokter. Mengerti dokter datang untuk melakukan pemeriksaan Raka pun mundur dari posisinya, memberi ruang laki-laki memakai jas putih itu untuk memeriksa istrinya.
Dokter yang bernama Carles itu pun memulai memeriksa mata, dan memeriksa monitor yang mengontrol tubuh Zia.
Semua ia cek memastikan keadaan Zia tetap stabil.
Setelah selesai Dokter Carles menghela napas, menggeleng kepala samar.
Sungguh pasiennya itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar sama sekali.
Raka yang melihat penasaran apa ada perubahan? Apa ada kemajuan? Benaknya bertanya-tanya tentang perkembangan dari sang istri.
“Bagaimana keadaannya, dok? Apa menunjukkan perkembangan?” tanyanya.
Dokter itu menunduk lesu. “Tidak ada perkembangan apa-apa, Tuan Raka. Pasien tetap pada di posisi awal,” balasnya.
Rasa kecewa bercampur aduk bersama rasa sedih. Harapan ingin melihat istrinya kembali seperti .semula kini pupus. Yang tersisa harapan tinggal harapan sebagai manusia hanya wajib berdoa soal nasib biar Allah yang menentukan.
“Apa kemungkinan dia sembuh masih lama, dok?” imbuh Raka.
“Harapannya sangat tipis, dia bahkan semakin melemah. Berdoa saja semoga ada keajaiban.” Setelah beres memeriksa Zia dokter itu mendekat ke arah Raka.
“Hanya keajaiban dan semangat darimu yang membuatnya bertahan hidup hingga saat ini. Semoga dia bisa melewati ini semua dan kembali berkumpul dengan kalian seperti
sedia kala.” Dokter memegang pundak Raka memberi semangat lalu pergi dari ruangan itu.
“Sayang, kamu dengar, kan? Dokter itu mengatakan kalau aku lah yang membuat kamu cepat sembuh. Putri kita pasti senang jika melihatmu datang dan memeluknya. Maka dari itu cepat bangunlah, sayang.” Raka mengecup kening Zia merapikan rambut, walau rambut itu tampak rapi ia ingin melakukannya.
Akan tetapi Zia masih dalam keadaan yang sama. Hingga membuat Raka meneteskan air mata. Setelah membersihkan tubuh istrinya Raka memilih tinggal di hotel yang hanya berjarak dua bangunan saja dari rumah sakit.
Entah sampai kapan penantian akan berakhir. Tapi ia yakin dibalik semua ini pasti ada hikmah, kebahagiaan pasti akan datang dikemudian dari.
Jangan Lupa Vote pakai Koin atau poin ya kakak secantik dan sebaik se Novelton biar buat author terus berkarya di aplikasi ini🙏
lanjut lg thor, jngn lama lama biar gk lupa lg ceritanya, klo bisa tiap hari 😁😁