NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Kini perhatian semua orang tertuju pada Arina, menunggu jawabannya.

"Tentu saya tidak akan mengajukan diri tanpa alasan," ujar Arina dengan tenang. "Pertama, ini adalah tanggung jawab saya sebagai istri Jenderal Orion. Kedua, mengirim Mahaguru Archibald ke Asterra merupakan risiko yang terlalu besar. Asterra memang penting, tetapi keberadaan Mahaguru di istana juga tidak kalah penting."

Ruangan kembali hening. Semua orang mendengarkan dengan saksama, meskipun Darius tampak sedikit mengernyit.

"Asterra sedang dilanda wabah misterius. Kita membutuhkan seseorang yang memahami ilmu pengobatan untuk turun langsung ke sana. Kebetulan saya memiliki pengetahuan di bidang itu. Jika kita hanya mengirim seorang panglima beserta ratusan prajurit tanpa didampingi seseorang yang mengerti cara menangani wabah, bukankah itu akan sia-sia? Apa gunanya memperkuat pengamanan jika akar permasalahannya tidak diselesaikan?"

"Apakah kau sedang meremehkanku?" tanya Darius dengan nada tersinggung.

Arina menggeleng pelan.

"Panglima salah paham. Saya sama sekali tidak meragukan kemampuan Anda. Justru karena Panglima adalah ahli dalam bidang keamanan, kehadiran Anda akan sangat dibutuhkan apabila situasi di Asterra memburuk. Namun, seorang panglima tetap memerlukan seseorang yang memahami ilmu pengobatan untuk menangani sumber masalahnya."

"Semua itu terdengar bagus. Namun, apakah kau benar-benar memiliki kemampuan, atau hanya pandai merangkai kata-kata?" Lady Mireya mendengus pelan.

"Itu bukan sekadar kata-kata, Lady Mireya." Arina mengalihkan pandangannya kepada Mahaguru Tabib Archibald Arcton.

"Mahaguru dapat menilai sendiri apakah saya hanya pandai berbicara, atau memang memiliki kemampuan yang saya katakan."

Seketika, seluruh tatapan di Ruang Strategi beralih kepada Mahaguru Archibald, menunggu penilaian tabib tertinggi Kerajaan Elarion itu.

Mahaguru Tabib Archibald Arcton mengelus janggut putihnya perlahan. Tatapan tuanya yang tajam tertuju pada Arina beberapa saat, seolah berusaha membaca isi pikirannya.

"Aku tidak menilai seseorang dari ucapan," katanya tenang. "Buktikan kemampuanmu."

Beliau mengangkat tangan memberi isyarat.

Tak lama kemudian, seorang pelayan istana masuk sambil membawa sebuah kotak kayu berukuran sedang. Kotak itu diletakkan di atas meja.

Saat tutupnya dibuka, aroma berbagai tanaman obat langsung memenuhi Ruang Strategi.

Di dalamnya tersusun rapi aneka akar, daun, bunga, jamur, dan kulit kayu yang telah dikeringkan.

Archibald menunjuk isi kotak itu satu per satu.

"Lavender Perak, Daun Embun, Akar Vareth, Lumut Kristal, Kelopak Lunaris, Buah Merian, Daun Veros, Jamur Aster, Kembang Senja dan Serbuk Kulit Pohon Astris."

Setelah memastikan semua bahan tersedia, Archibald menatap Arina.

"Bayangkan seorang pasien datang dengan demam tinggi selama beberapa hari, napasnya mulai sesak, batuknya bercampur darah, dan ruam merah mulai menyebar di seluruh tubuhnya."

Semua orang fokus mendengarkan kata-kata Archibald.

"Gunakan bahan-bahan yang ada di hadapanmu. Racik obat pertama yang akan kau berikan. Kau bebas memilih bahan apa pun, tetapi ingat..." Archibald mengetukkan ujung tongkat kayunya ke lantai. "...ada beberapa tanaman yang justru akan mempercepat kematian pasien bila dipadukan dengan bahan yang salah."

Tatapan seluruh pejabat kerajaan serempak beralih kepada Arina.

Lady Mireya melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu dengan raut penuh keraguan.

Darius mengamati setiap gerakan Arina tanpa berkedip, seolah ingin menemukan kesalahan sekecil apa pun.

Caelan tetap berdiri diam di sudut ruangan, tetapi sorot matanya tidak pernah lepas dari tangan Arina.

Bahkan Perdana Menteri Cassor Wezen menghentikan kegiatannya mempelajari peta dan mengalihkan perhatian pada ujian itu. Raja Theodric pun tidak berkata sepatah kata pun. Beliau hanya mengamati.

Arina melangkah mendekati meja. Ia tidak langsung menyentuh satu pun tanaman.

Sepasang mata birunya menyapu seluruh isi kotak dengan tenang, mengenali setiap bahan hanya dari bentuk, warna, dan aromanya.

Beberapa saat kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Saya mengerti."

Tanpa sedikit pun keraguan, Arina mulai memilih satu demi satu tanaman obat dari dalam kotak, sementara seluruh penghuni Ruang Strategi menunggu apakah wanita yang selama ini hanya dikenal sebagai istri Jenderal Orion Wezen benar-benar memiliki kemampuan yang ia klaim.

Arina mengambil sebuah lesung batu yang telah disiapkan di atas meja.

Tanpa ragu, ia memilih Daun Embun, Lavender Perak, Akar Vareth, Lumut Kristal, dan sedikit Serbuk Kulit Pohon Astris.

Sebaliknya, ia sengaja menyisihkan Kembang Senja dan Jamur Aster.

Archibald sedikit mengangkat alisnya, tetapi tidak mengatakan apa pun.

Arina mencuci setiap bahan dengan air bersih sebelum mulai meraciknya. Daun Embun dan Lavender Perak ia tumbuk lebih dahulu hingga mengeluarkan sari berwarna hijau kebiruan. Setelah itu, ia menambahkan Akar Vareth yang telah diiris tipis, lalu Lumut Kristal yang dihancurkan perlahan hingga berubah menjadi serbuk putih berkilau.

Terakhir, ia menaburkan sedikit Serbuk Kulit Pohon Astris.

Ia mengaduk seluruh bahan dengan gerakan perlahan dan teratur.

Tak lama kemudian, ramuan itu berubah menjadi bubuk halus berwarna biru kehijauan dengan kilau keperakan yang samar. Aroma herbal yang segar segera memenuhi Ruang Strategi, menggantikan bau tajam dari berbagai tanaman obat di atas meja.

Arina mengangkat lesung batu itu dan mendorongnya ke hadapan Mahaguru Archibald.

"Sudah selesai."

Archibald melangkah mendekat. Dengan jemarinya yang renta, ia mengambil sedikit bubuk itu, mengamatinya, lalu menghirup aromanya perlahan.

Semua orang menunggu penilaiannya. Beberapa saat kemudian, Archibald mengangguk pelan.

"Kau tidak menggunakan Kembang Senja."

"Karena bunga itu hanya akan memperburuk kondisi paru-paru pasien apabila dicampurkan dengan Lumut Kristal," jawab Arina tenang. "Sementara Jamur Aster lebih tepat digunakan untuk infeksi jamur pada kulit, bukan untuk gejala yang Mahaguru sebutkan."

Archibald kembali mengangguk.

"Lalu, mengapa kau menambahkan Serbuk Kulit Pohon Astris?"

"Tanpa bahan penyeimbang, Akar Vareth akan bekerja terlalu keras meningkatkan daya tahan tubuh. Pada pasien yang sedang demam tinggi, reaksi itu justru dapat memperparah peradangan."

Mahaguru Archibald menatap Arina cukup lama. Kemudian, tanpa diduga, pria tua itu tersenyum tipis.

"Ramuanmu benar."

Ucapan singkat itu membuat suasana di dalam Ruang Strategi berubah seketika.

Lady Mireya tampak terkejut.

Darius yang semula menyilangkan tangan perlahan meluruskannya.

Caelan hanya tersenyum samar, seolah memang telah menduga hasilnya.

Sementara Cassor Wezen memandang Arina sedikit lebih lama dari sebelumnya. Tatapannya tidak lagi dipenuhi keraguan, melainkan penilaian baru terhadap menantu yang selama ini hampir tidak pernah ia kenal.

Raja Theodric mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja.

"Mahaguru Archibald."

"Ya, Yang Mulia?"

"Apakah Lady Wezen memiliki kemampuan yang cukup untuk membantu menangani wabah di Asterra?"

Archibald mengangguk mantap.

"Jika hanya menilai dari pengetahuan dan cara meraciknya, saya tidak memiliki alasan untuk meragukannya. Lady Wezen layak dikirim ke Asterra. Bahkan, saya yakin ia dapat membantu menemukan penyebab wabah itu lebih cepat daripada jika kita hanya mengirim pasukan.”

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!