Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hujan Darah dan Besi Jatuh
Keheningan yang mencekik di Ngarai Pemutus Jiwa akhirnya pecah oleh gemuruh keserakahan.
Ketakutan akan kematian Tetua Lu yang instan memang sempat membekukan jantung puluhan ribu kultivator di sana. Namun, di dunia kultivasi, keserakahan akan selalu mengalahkan akal sehat.
"Pedang itu...! Itu pasti pedang peninggalan dewa dari dalam Makam Surgawi!" teriak Patriark Darah Hitam dari atas benteng tengkoraknya. Matanya memerah gila, menatap Bilah Kehampaan Pemakan Bintang di punggung Lin Tian. "Bocah itu hanya meminjam kekuatan artefak dewa! Kultivasinya hanyalah Inti Emas! Habisi dia sebelum pedang itu menguras habis Qi-nya!"
Mendengar provokasi itu, Master Sekte Awan Ungu dan Jenderal Kekaisaran Bela Diri seketika tersadar. Benar, tidak ada kultivator Inti Emas yang bisa membunuh ahli Setengah Langkah Jiwa Nascent semudah membalikkan telapak tangan. Itu pasti kekuatan pedangnya!
Siapa pun yang mendapatkan pedang itu, akan menjadi penguasa mutlak Benua Timur!
"Seluruh armada Kekaisaran, tembakkan Meriam Pembelah Bintang! Jangan biarkan aliran sesat mendapatkan tubuhnya!" raung Jenderal emas Kekaisaran.
"Formasi Pedang Awan Ungu! Serang!" perintah Master Sekte Awan Ungu, tidak mau kalah.
Dalam sekejap mata, langit malam berubah menjadi lautan cahaya mematikan. Ribuan pedang terbang ber-elemen petir, api, dan es meluncur ke bawah seperti hujan meteor. Dari kapal-kapal raksasa Kekaisaran, puluhan pilar cahaya energi seukuran batang pohon beringin ditembakkan. Semuanya terpusat pada satu titik: tubuh Lin Tian di dasar ngarai.
Ledakan demi ledakan siap mengubah dasar Ngarai Pemutus Jiwa menjadi kawah tak berdasar. Serangan gabungan dari puluhan ribu kultivator ini bahkan bisa mengancam ahli tahap Jiwa Nascent Akhir.
Di bawah badai kiamat itu, Lin Tian hanya tertawa. Tawanya menggema rendah, penuh dengan ejekan.
"Kalian mengira pedang ini yang memberiku kekuatan?" bisik Lin Tian.
Ia tidak mencabut pedangnya. Sebagai gantinya, Inti Kehampaan di Dantiannya berputar ke arah sebaliknya.
ZRAAASH!
Sepasang Sayap Pengoyak Ruang keperakan terbentang lebar dari punggung Lin Tian. Ia menekuk lututnya, menghancurkan batu karang di bawah kakinya, lalu melesat lurus ke atas!
Ia tidak menghindar. Lin Tian terbang menyongsong hujan ribuan pedang dan tembakan meriam spiritual itu!
"Tubuh Penelan Kehampaan: Mode Asimilasi Penuh!"
Aura hitam pekat meledak dari tubuh Lin Tian, membentuk pusaran lubang hitam selebar lima puluh meter di sekelilingnya.
Saat ribuan pedang terbang dan pilar energi itu menghantam pusaran hitam tersebut, hal yang membuat seluruh benua putus asa terjadi. Tidak ada ledakan. Tidak ada benturan.
Semua serangan itu—baik elemen api, petir, maupun angin—terhisap ke dalam pusaran kegelapan Lin Tian tanpa sisa. Bunyi derak energi yang ditelan terdengar seperti monster purba yang sedang mengunyah tulang.
Lin Tian menerobos badai serangan itu tanpa segores luka pun. Ia melesat terus ke atas, hingga posisinya kini sejajar dengan armada kapal raksasa di langit.
"Mustahil! Formasi serangan gabungan kita... ditelan?!" Wajah Jenderal Kekaisaran memucat pias.
Lin Tian melayang di tengah-tengah tiga faksi raksasa. Sayap keperakannya mengepak pelan, mendistorsi ruang di sekitarnya.
Tangan kanannya perlahan menarik gagang pedang di punggungnya.
SRINGGG!
Bilah Kehampaan Pemakan Bintang akhirnya ditarik sepenuhnya. Pedang raksasa hitam legam dengan garis perak dan kilat Guntur Kepunahan itu menggetarkan udara. Massa pedang tersebut kini berada di luar nalar, dikendalikan sepenuhnya oleh niat Lin Tian.
"Waktunya membersihkan langit," ucap Lin Tian datar.
Ia memutar pinggangnya dan mengayunkan pedang raksasa itu secara horizontal satu putaran penuh ke arah armada kapal Kekaisaran Bela Diri.
"Seni Pedang Penelan Langit, Tebasan Pertama: Pembelah Bayangan!"
Sebuah busur pedang berbentuk sabit hitam legam melesat keluar. Sabit itu berukuran seratus meter, diiringi kilatan petir hitam keemasan. Ia bergerak dengan kecepatan membelah ruang.
SREEEEK—BOOOOOOM!
Tiga kapal perang spiritual raksasa milik Kekaisaran—masing-masing seukuran gunung kecil dan dilapisi perisai tingkat bumi—terbelah dua di udara sehalus memotong mentega. Sabit hitam itu memakan energi perisai mereka, melumerkan baja kapal, dan merobek tubuh ratusan prajurit di dalamnya tanpa halangan.
Bangkai ketiga kapal raksasa itu meledak di udara, menciptakan hujan besi cair, serpihan kayu terbakar, dan potongan tubuh manusia yang berjatuhan ke dasar ngarai layaknya hujan darah.
Jeritan histeris memenuhi udara. Dalam satu tebasan, ribuan pasukan elit Kekaisaran musnah!
"K-Kapal Utama kita hancur! Mundur! Mundur!" sisa pasukan Kekaisaran menjerit panik, formasi mereka hancur total.
Master Sekte Awan Ungu yang melihat itu dari keretanya merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu bukan kekuatan artefak dewa semata. Niat Pedang dan fluktuasi Qi yang memandu serangan itu... itu adalah kekuatan murni Lin Tian!
"Dia... dia sudah mencapai tahap Penyempurnaan Inti Emas! Tapi bagaimana Qi-nya bisa sepadat ini?!" batin Master Sekte dengan teror yang menjalar di sekujur punggungnya.
"Jangan diam saja, Bodoh!" raung Patriark Darah Hitam dari kejauhan. Monster tua itu akhirnya menyadari bahwa pemuda ini bukan mangsa, melainkan predator kosmis.
Patriark Darah Hitam merapal segel terlarang. Lautan darah mendidih meledak dari benteng tengkoraknya, membentuk sesosok Raksasa Darah setinggi dua ratus meter berlengan empat. Ini adalah manifestasi kekuatan penuh tahap Jiwa Nascent Akhir!
Raksasa darah itu meraung, mengayunkan keempat lengannya yang memegang kapak darah untuk membelah Lin Tian. Tekanannya membuat ruang di Ngarai Pemutus Jiwa retak-retak.
Di saat yang sama, Master Sekte Awan Ungu menggigit ujung lidahnya, menyemburkan esensi darah ke pedang ungunya. "Tapak Ilahi Awan Ungu, Pengunci Jiwa!"
Sebuah telapak awan raksasa melesat dari belakang Lin Tian, bermaksud menjepitnya bersamaan dengan serangan Patriark Darah Hitam.
Dua ahli Jiwa Nascent terkuat di benua itu akhirnya turun tangan secara langsung!
Lin Tian terjepit di tengah. Sayap spasialnya ditekan oleh kunci ruang dari Master Sekte Awan Ungu.
Namun, senyum di wajah Lin Tian justru semakin lebar dan gila.
"Bagus. Inilah yang kucari!"
Darah Esensi Kaisar Kuno di nadinya mendidih. Esensi Sumsum Naga Bumi membuat tulang-tulangnya memancarkan pendaran keemasan.
Lin Tian menyimpan pedangnya ke punggung. Ya, dalam menghadapi jepitan dua serangan maut tahap Jiwa Nascent, ia justru menyingkirkan senjatanya!
Ia mengepalkan kedua tinjunya. Tangan kirinya memancarkan kegelapan mutlak dari Inti Kehampaan, sementara tangan kanannya memercikkan petir hitam keemasan dari Guntur Kepunahan.
"Hancurlah!"
Lin Tian meninju ke arah berlawanan secara bersamaan. Tinju kirinya menyongsong telapak awan raksasa Master Sekte Awan Ungu, dan tinju kanannya menghantam kapak raksasa milik avatar Patriark Darah Hitam!
BOOOOOOOOOOOOOOOM!!!
Ledakan energi yang terjadi tidak bisa lagi digambarkan dengan kata-kata. Langit serasa hancur berantakan. Gelombang kejutnya meratakan gunung-gunung di pinggiran Ngarai Pemutus Jiwa hingga menjadi debu dataran rendah. Ratusan kultivator yang melayang terlalu dekat langsung meledak menjadi kabut darah akibat riak suara benturan tersebut.
Di tengah badai kiamat itu...
KRAAAK!
Tapak awan ungu milik Master Sekte hancur berkeping-keping ditelan kehampaan. Sang Master Sekte memuntahkan darah hitam, terlempar mundur hingga keretanya hancur berkeping-keping.
Di sisi lain, Guntur Kepunahan di tinju kanan Lin Tian menjalar ke kapak raksasa avatar darah itu. Petir dewa itu adalah musuh alami dari ilmu iblis!
BZZZZZZT!
"AAAAAAARRRGGHH!"
Patriark Darah Hitam menjerit histeris. Avatar darah setinggi dua ratus meter miliknya hancur layaknya kaca yang dipukul godam. Petir hitam keemasan itu menyambar tubuh asli sang Patriark, menghanguskan setengah jubah dan kulit wajahnya. Ia terhempas menghantam benteng tengkoraknya sendiri hingga benteng itu retak membelah dua.
Satu benturan fisik murni melawan dua Jiwa Nascent terkuat... dan Lin Tian memenangkan keduanya secara telak!
Lin Tian berdiri di udara, mengibas-ngibaskan kedua tangannya yang mengeluarkan asap. Meskipun telapak tangannya sedikit retak berdarah akibat benturan itu, luka tersebut sembuh secara instan di depan mata semua orang.
"Fisikku memang telah menyentuh batas dewa fana," gumam Lin Tian puas.
Ia menatap Master Sekte Awan Ungu yang sedang berlutut di udara, memegangi dadanya yang hancur, menatap Lin Tian dengan keputusasaan mutlak.
Lin Tian melangkah santai melintasi udara, mendekati mantan pemimpin sektenya tersebut. Setiap langkahnya membuat tekanan spasial semakin berat.
"M-Monster..." bibir Master Sekte Awan Ungu bergetar, wajahnya pucat pasi tanpa setetes pun darah. "Lin Tian... kau tidak bisa membunuhku. Jika kau membunuhku... Sekte Awan Ungu akan—"
"Akan apa?" potong Lin Tian dingin. Ia tiba tepat di hadapan Master Sekte, menatap merendahkan dari atas. "Akan hancur? Biarkan saja hancur. Dunia ini terlalu kecil untuk mempedulikan sekte pinggiran seperti kalian."
Tangan Lin Tian melesat secepat kilat, mencengkeram tenggorokan Master Sekte Awan Ungu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Pemimpin tertinggi salah satu dari Lima Sekte Besar kini meronta-ronta tanpa daya layaknya anjing liar di tangan Lin Tian.
Lin Tian tidak memberi belas kasihan.
CRAT!
Tangan kanan Lin Tian menembus Dantian Master Sekte, menarik keluar sebuah bayi energi berwarna ungu yang sedang menjerit menangis. Itu adalah Jiwa Nascent milik sang Master Sekte! Intisari kehidupan dan kultivasi ratusan tahun.
"P-Pusaka... tolong, kembalikan..." Master Sekte merintih seiring dengan pudarnya nyawa dari matanya.
"Terima kasih atas hidangannya," bisik Lin Tian, sebelum meremukkan leher pria tua itu dan membuang mayatnya ke bawah.
Melihat Master Sekte Awan Ungu terbunuh dengan begitu mudah, dan Jiwa Nascent-nya dirampas hidup-hidup, sisa-sisa pasukan Kekaisaran dan para Tetua Lurus kehilangan seluruh kewarasan mereka.
"LARI! DIA BUKAN MANUSIA! LARI!"
Armada kapal dan kultivator yang tersisa berbalik arah, berhamburan ke segala penjuru langit bagaikan sekumpulan burung puyuh yang ketakutan.
Lin Tian tidak mengejar para semut itu. Ia perlahan menoleh ke arah benteng tengkorak yang setengah hancur, tempat Patriark Darah Hitam sedang mencoba merangkak kabur dengan menggunakan sihir darah.
Sepasang mata hitam Lin Tian memancarkan kilatan ungu yang mematikan.
"Pertunjukannya belum selesai, Iblis Tua," suara Lin Tian bergema, membekukan darah sang Patriark. "Giliranmu."
perjlalnan aang mc tuk menuju kuat
sama sama sinting...!!
inti emas awal melawan inti emas ahir....
mantaaaab