NovelToon NovelToon
Ranjang Panas Preman Kampus

Ranjang Panas Preman Kampus

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: El khiyori

#tamat
Follow Instagram jane_marry03
Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Rintik hujan yang semakin deras menghantam kaca depan mobil sport Bara, menciptakan suara gemuruh yang seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan.

Pria itu duduk membisu di balik kemudi yang terparkir tak jauh dari toko bunga Florist. Mesin mobil mati, meninggalkan kegelapan kabin yang hanya diterangi oleh kerlap-kerlip lampu jalan dan layar ponselnya yang terus menyala tanpa henti.

Puluhan panggilan tak terjawab dari Angel, ibunya Angel, hingga jajaran jurnalis dan asisten pribadinya membanjiri layar. Restoran bintang lima di pusat kota malam ini pasti sedang gempar. Berita tentang hilangnya sang calon pengantin pria di malam pertunangan megah bernilai miliaran rupiah akan menjadi skandal panas besok pagi.

Namun, Bara sama sekali tidak peduli.

Mata elangnya terkunci rapat pada pintu kaca toko bunga di seberang jalan. Melalui tirai hujan dan remang lampu gantung, ia melihat Andrea bergerak perlahan. Gadis itu melepas apron kremnya, mematikan lampu utama toko, lalu mengunci pintu depan dengan kunci manual. Setiap gerakannya begitu anggun, dan tenang. Terlalu tenang untuk seorang wanita yang baru saja berhadapan dengan iblis dari masa lalunya.

Saat Andrea melangkah keluar sambil memeluk tas kain sederhana dan membuka payung lipat berwarna biru pucat, dada Bara mendadak bergemuruh hebat. Perut buncit yang menyembul dari balik gaun longgar itu ... di dalamnya ada nyawa. Ada darah dagingnya sendiri yang tumbuh tanpa sepengetahuan, tanpa izin, dan tanpa perlindungannya.

Ego dan dominasi Bara yang terluka berubah menjadi obsesi liar yang menderu-deru.

Ketika Andrea mulai berjalan menyusuri trotoar yang sepi menuju gang sempit rumah kontrakannya, Bara menstarter mesin mobilnya. Suara raungan mesin V8 membelah kesunyian malam yang basah. Ia mengendarai mobilnya amat pelan, membuntutinya dari jarak dekat seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.

Langkah kaki Andrea terasa kian berat. Hujan deras dan hawa dingin malam menusuk hingga ke pori-pori kulitnya, membuat perutnya yang kian membesar terasa agak tegang.

Ia bisa mendengar deru mesin mobil mewah yang berjalan merayap di belakangnya. Andrea tahu betul siapa pemilik mobil itu. Suara mesin itu adalah suara yang sama dengan mobil yang dulu sering menjemputnya di kampus, mobil yang dulu ia tumpangi dengan perasaan membuncah penuh cinta, sebelum akhirnya ia disadarkan bahwa semua itu hanyalah bagian dari panggung sandiwara kejam.

Andrea tidak mempercepat langkahnya. Ia tidak berlari, tidak pula menengok ke belakang. Setiap tetes keringat dingin yang membasahi pelipisnya ia tahan dengan keteguhan hati yang luar biasa.

“Jangan lemah, Andrea. Kamu tidak boleh terlihat hancur di depannya lagi,” bisiknya pada diri sendiri dalam hati sambil meremas pegangan payungnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Namun, ketenangan itu mendadak hilang saat ia sampai di pintu gerbang kayu kontrakan kecilnya.

Suara pintu mobil yang dibanting keras terdengar membelah hujan, disusul derap langkah kaki tergesa-gesa yang menerobos genangan air. Sebelum Andrea sempat memasukkan kunci ke lubang pintu, sebuah tangan kekar dengan cepat mencengkeram pergelangan tangannya dari belakang!

Payung biru di tangan Andrea terlepas, jatuh menghantam tanah basah.

"Lepaskan!" pekik Andrea. Untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya menajam.

Bara tidak peduli. Pria itu menyudutkan tubuh ringkih Andrea ke dinding kayu kontrakan yang dingin. Tubuh tingginya yang tegap mengurung Andrea dalam kungkungan bayang-bayangnya yang intimidatif. Jas Italia mahal milik Bara kini basah kuyup disiram hujan, namun mata elangnya menyala oleh amarah dan kegilaan yang membara.

"Kamu pikir kamu bisa pulang begitu saja setelah membuatku gila, Andrea?!" geram Bara, suaranya sarat akan ancaman yang bergetar. Napasnya yang hangat dan beraroma maskulin menghantam kulit wajah Andrea yang dingin.

Jarak mereka teramat dekat. Begitu dekat hingga Andrea bisa merasakan detak jantung Bara yang memburu hebat di balik dada bidangnya. Tatapan mata pria itu masih sama seperti dulu. Tajam, dominan, dan tak tersentuh, tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada kegelisahan liar dan rasa tak terima yang teramat sangat dalam benak Bara.

Andrea mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata Bara tanpa berkedip. Air hujan mulai menetes dari ujung rambutnya, membasahi pipinya yang tirus.

"Siapa yang membuat kamu gila, Bara?" desis Andrea dengan nada sinis yang mengiris. "Kamu sendiri yang memilih datang ke tempat kumuh ini. Kamu sendiri yang memilih meninggalkan pesta kemewahanmu. Aku tidak pernah memanggilmu. Aku tidak pernah memintamu ada di sini!"

"Karena kamu menyembunyikan anakku!" bentak Bara, cengkeramannya pada jemari Andrea mengencang, namun secara refleks melonggar seketika saat matanya tak sengaja melirik ke arah perut membuncit yang kini terhimpit perlahan di antara tubuh mereka. Bara menegang, buru-buru menarik pinggulnya sedikit ke belakang agar tidak menekan perut gadis itu.

Refleks perlindungan yang spontan itu tak luput dari pengamatan Andrea, namun gadis itu sengaja mengabaikannya.

"Anak ini bukan milikmu," bisik Andrea, suaranya kini begitu dalam dan bergetar oleh kepedihan yang ditahannya bertahun-tahun. "Darah yang ada di dalamnya mungkin berasal darimu, tapi dia lahir dari kebohongan. Dia hadir karena manipulasi kotor yang kamu ciptakan untuk menghancurkan keluarga kita!"

Kata-kata Andrea menghantam dada Bara.

"Kamu memanfaatkan tubuhku demi dendammu," lanjut Andrea, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya menetes, menyatu dengan bulir-bulir air hujan di pipinya. "Kamu menggunakan perasaan tulusku sebagai senjata untuk membunuh Ayahmu dan membuat Ibuku gila! Lalu sekarang ... setelah kamu berhasil meratakan hidup kami, kamu datang dan menagih anak ini sebagai milikmu?! Di mana hati nuranimu, Bara?!"

Suara histeris dan keputusasaan yang tertahan dari Andrea akhirnya pecah, membuat malam yang dingin itu terasa semakin pekat.

Bara membeku. Lidahnya mendadak terasa kelu. Kalimat-kalimat dingin dan kejam yang biasanya begitu mudah keluar dari bibirnya mendadak tersangkut di tenggorokan. Melihat air mata Andrea yang jatuh, air mata yang bukan lagi karena cinta, melainkan karena rasa muak dan benci yang teramat dalam, membuat sesuatu di dalam dada Bara pecah berkeping-keping.

Ia yang merencanakan segalanya. Ia yang merasa memegang kendali atas kehidupan ini. Namun mengapa, melihat Andrea menangis dalam kungkungannya malam ini, Bara justru merasa dirinya adalah pihak yang kalah.

"Aku..." Bara bersuara, parau dan terbata. "Aku tidak pernah berniat..."

"Cukup!" potong Andrea lirih. Gadis itu menyapu air matanya dengan kasar, menatap Bara dengan tatapan mati yang amat dingin. "Pergi dari sini, Bara. Pergi ke wanita yang pantas untukmu. Pergi ke acara pertunanganmu. Biarkan aku dan anak ini hidup dalam ketenangan di tempat ini."

Andrea mendorong dada Bara dengan sisa tenaga yang ia miliki. Pria tegap itu terdorong mundur satu langkah. B.ukan karena dorongan fisik Andrea yang lemah, melainkan karena jiwanya yang mendadak hilang arah.

Dengan jemari gemetar, Andrea dengan cepat membuka pintu rumah kontrakannya, melangkah masuk, dan menyambar kunci dari dalam.

BRAKK ....

Pintu kayu tua itu terhempas rapat, menyisakan suara penguncian slot dari dalam yang berbunyi nyaring.

Bara berdiri mematung di bawah guyuran hujan deras yang kian lebat. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, meresap hingga ke dalam setelan jas mewahnya. Ia menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat di hadapannya.

Ponsel di sakunya bergetar lagi. Nama Angel kembali muncul di layar yang retak karena tak sengaja terbentur tadi. Tapi Bara tak lagi mempedulikannya. Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja menyentuh kulit dingin Andrea dan mencium aroma tubuh gadis itu yang masih tertinggal.

Malam ini, di depan rumah kontrakan kumuh di pinggiran kota, seorang Bara Adikara sadar, pertunangannya telah hancur, kekuasaannya tak berarti, dan pertempuran terbesarnya untuk merebut kembali wanita serta anak dalam kandungannya baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!