NovelToon NovelToon
Titisan Darah Biru

Titisan Darah Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dendam Kesumat / Ilmu Kanuragan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.


Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.


Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.


Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasar Besar Pakuwon Ganter

"Setelah surat ini sampai ke tangan Bhre Keling, kalian berdua bersama Pusparini juga kakak seperguruan kalian Arya Langkir dan Mahesa Panggung ku wajibkan untuk memburu orang itu. Kejar kemanapun tujuannya, sampai dapat!

Ia pasti sudah merebut Kitab Ajian Waringin Sungsang dari tangan Resi Manikmaya dan kita harus mendapatkan nya kembali, dengan cara apapun..", ucap Maharesi Jaladara berapi-api.

Kuda Sembrani dan Banyak Cemeng langsung menghormat begitu juga Pusparini pada Maharesi Jaladara. Di temani dengan Arya Langkir dan Mahesa Panggung, mereka berkuda meninggalkan padepokan yang ada di kaki timur Gunung Lawu.

Tujuan nya adalah menuju ke Ibukota Kerajaan Keling, salah satu negeri bawahan Majapahit yang terletak di kaki barat Gunung Kampud. Menemui Arya Danaloka, Bhre Keling, penguasa kerajaan kecil itu.

Sementara kelompok pemburu nya sudah mulai bergerak, Mahesa Sura malah sedang asyik memilih baju di pasar besar Pakuwon Ganter, salah satu wilayah Kerajaan Keling yang ada di tepi sungai Kapulungan. Di temani oleh Parwati dan juga Tunggak serta beberapa murid Pertapaan Gunung Pegat.

"Memangnya kau suka warna apa, Kakang Sura? ", tanya Parwati sambil membolak-balikan beberapa potongan baju pria di depannya.

" Apa saja asal bisa untuk ganti baju lama ku ini", jawab Mahesa Sura singkat padat dan jelas. Dia memang tidak suka basa-basi. Parwati mencelos hatinya mendengar jawaban itu.

'Huh, dasar lelaki batu. Bisa tidak sedikit manis pada perempuan? Masak aku yang secantik ini masih juga belum bisa menarik perhatian nya? Hati mu terbuat dari batu ya? '

"Kalau saya suka baju berwarna coklat, Ni.. ", Tunggak yang berdiri di samping Mahesa Sura ikut bicara.

" Aku tidak tanya pada mu! ", Tunggak langsung mengkeret mendengar jawaban ketus Parwati.

Setelah itu Parwati mengedarkan pandangan nya. Baju lengan panjang berwarna biru gelap menarik perhatian nya. Juga celana selutut warna serupa yang merupakan pasangan nya. Senyum Parwati merekah lebar sambil menunjuk baju itu.

"Itu Nini, yang biru gelap.. "

"Pandangan mata Ni Parwati sungguh bagus. Ini bahan terbaik dari wilayah kulonan, di jahit oleh penjahit terkenal. Ukurannya juga pas dengan tubuh kekasih mu itu", ujar perempuan tua penjual baju itu sambil tersenyum ramah mengulurkan baju yang diinginkan oleh Parwati. Wajah Parwati langsung memerah mendengar kata kekasih.

"D-dia bukan kekasih ku. Di-dia tamu ayah ku", tukas Parwati segera.

" Ohh maaf jika aku salah, Nimas. Karena kau adalah putri Danghyang Resi Siwamurti, cukup bayar 2 kepeng perak satu pasang. Jika Nimas Parwati ambil dua pasang, cukup bayar 3 kepeng perak dan 5 kepeng tembaga saja. "

Parwati mengangguk setuju dan menyerahkan baju itu pada Mahesa Sura. Melihat itu, Tunggak yang belum mendapatkan baju baru langsung angkat bicara.

"Lha untuk saya mana Nimas? "

"Pilih saja sendiri.. Aku bukan babu mu", sahut Parwati ketus. Mendengar jawaban itu, Tunggak bersungut-sungut sembari memilih baju-baju yang digantung pada lapak pedagang pakaian ini.

" Huhh, dasar pilih kasih. Giliran yang ganteng saja dipilihkan. Pas aku yang mukanya pas-pasan begini malah di semprot habis-habisan. Perempuan dimana-mana sama saja.. ", gerutu Tunggak lirih tapi masih terdengar di telinga Parwati.

" Kau bilang apa hah?!! ", bentak Parwati keras. Tunggak kaget setengah mati mendengar nya.

" Eh oh eh tidak ada kok Nimas. Hanya belum menemukan baju yang cocok saja kok"

"Baju apapun mana ada yang cocok untuk mu, Nggak! Dilihat darimana pun tak ada pantasnya kau memakai pakaian bagus. Ambil saja apa yang ada, jangan banyak memilih.. "

"B-baik baik Nimas", Tunggak segera mengambil sebuah baju saking gugupnya. Saat di serahkan ke perempuan tua penjual pakaian, ia langsung menggelengkan kepalanya.

" Ini baju untuk perempuan, Den... Memang mau pakai baju ini? ", ujar perempuan tua itu sambil tersenyum.

Semua orang langsung tertawa terpingkal-pingkal melihat kekonyolan Tunggak. Bahkan Mahesa Sura yang biasanya sedingin es pun sampai tersenyum simpul. Hal ini dilihat oleh Parwati yang meliriknya dari samping kanan.

'Ternyata kalau senyum ganteng juga. Coba saja sering sering senyum, pasti lebih baik. Daripada pasang muka dingin begitu', batin Parwati dalam hati.

"Nini Marni, ada tidak tempat untuk ganti baju. Tamu ayah ku ini ingin mengganti baju lamanya sekarang juga", celetuk Parwati yang membuat Mbok Marni, perempuan tua penjual baju langsung berpikir sejenak.

" Di belakang lapak ini ada tempat kosong yang bisa digunakan untuk mengganti pakaian, Nimas. Teman mu bisa ke sana "

Mendengar penuturan Mbok Marni, Parwati segera mendorong Mahesa Sura untuk berganti pakaian di tempat yang ditunjukkan oleh penjual baju itu. Meskipun sedikit ogah-ogahan karena merasa malu beli baju langsung dipakai, Mahesa Sura akhirnya menurut juga.

Di belakang lapak baju ini, di bawah pohon besar, Mahesa Sura melepaskan pakaian lamanya yang sudah ia pakai hampir 10 tahun lamanya. Ada rasa sayang melepaskan sesuatu yang sudah lama ada meskipun itu sudah sangat tidak layak dipakai lagi.

Setelah itu ia mengenakan pakaian yang baru dibeli nya. Ukuran nya pas dengan tubuhnya. Tak lupa ia mengikat rambut gondrong nya dengan pita berwarna serupa. Hanya sebuah sabuk kulit lembu yang memiliki beberapa gantungan kantong kecil juga sebuah pedang pendek yang tetap ia pakai dari dandanan lamanya.

Mahesa Sura tidak tahu bahwa pakaian inilah yang kelak menjadi ciri khasnya sebagai pendekar dunia persilatan. Dengan pakaian ini kelak akan menjadi sosok pendekar yang merajai dunia persilatan meskipun dengan nama buruk.

Usai mengenakan pakaian nya, Mahesa Sura mematut diri di air gentong yang ada disitu. Saat itulah tiba-tiba terdengar suara keras seperti orang sedang bertarung dari depan. Dengan cepat Mahesa Sura melesat ke arah depan.

Parwati yang terhuyung-huyung mundur, langsung di tahan oleh Mahesa Sura yang baru saja datang.

"Ada apa ini, Parwati?", tanya Mahesa Sura segera. Keadaan pasar besar ini begitu kacau. Para pedagang berhamburan menyelamatkan diri agar tidak kena imbas kerusuhan ini.

"Mereka ini prajurit Pakuwon Ganter, Kakang. Sepertinya mereka sengaja membuat masalah dengan kita", jawab Parwati sambil mengusap darah di sudut mulutnya.

" Kurang ajar! Berani sekali mengacau hari baik ku. Aku tidak akan membiarkan mereka begitu saja", geram Mahesa Sura sambil menerjang ke arah para prajurit Pakuwon Ganter.

"Jangan membunuh mereka, Kakang! Hajar saja, jangan sampai mati! ", peringat Parwati yang membuat Mahesa Sura mendengus dingin.

Pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. Mahesa Sura dengan kemampuan beladiri nya yang memang jauh diatas rata-rata, dengan mudah menjatuhkan prajurit Pakuwon Ganter itu satu persatu tanpa kesulitan.

Permasalahan awal sebenarnya sepele saja. Pimpinan prajurit Pakuwon Ganter yang bernama Sima Ranu, tertarik pada kecantikan Parwati hingga ia nekat menggoda nya. Tetapi Parwati yang acuh tak acuh mengabaikannya hingga membuat Sima Ranu marah dan memerintahkan para prajuritnya untuk menangkap mereka. Akibatnya, antara para prajurit Pakuwon Ganter dan anggota Pertapaan Gunung Pegat berkelahi.

Dhhaaaasssshhh dhhaaaasssshhh!!

Dua prajurit terakhir Pakuwon Ganter tersungkur mencium tanah setelah dua tendangan keras Mahesa Sura menghajar tubuh mereka. Melihat itu, Sima Ranu langsung menghunus pedangnya dan menerjang ke arah pemuda berbaju biru gelap ini.

Shhhrreeeeeeeeettttt....

Mahesa Sura sama sekali tidak menghindar dari tebasan pedang Sima Ranu. Tetapi pada saat pedang nya hampir mengenai kulit sang pendekar, pedang ini langsung melenceng seolah enggan untuk menyentuh nya. Ini adalah daya Ajian Lembu Sekilan yang diturunkan oleh Kebo Kenanga.

Tanpa kembangan silat apapun, Mahesa Sura langsung mengayunkan kepalan tangannya ke arah perut Sima Ranu.

Bhhhuuuuugggghhhh...

Ooouuuuuuuggggghhhh!!!

Seperti di hantam balok kayu besar, perut Sima Ranu sakit bukan main. Belum selesai sampai disitu, Mahesa Sura membuat gerakan tendangan memutar yang langsung menyepak kepala pimpinan prajurit Pakuwon Ganter ini dengan keras.

Dhhaaaasssshhh!!!

Tubuh Sima Ranu langsung oleng dan jatuh ke tanah. Kepala nya langsung pusing tujuh keliling. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berusaha untuk bangkit kembali.

Saat itulah serombongan pasukan bersama seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian layaknya seorang bangsawan datang dari arah timur. Tanpa berhenti melangkah, ia berteriak lantang,

"Hentikan pertikaian kalian!! "

1
Idrus Salam
Masih menunggu kelanjutan ceritanya

Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Kurniawan Sudrajat
mantap kang ebez
Windy Veriyanti
keberhasilan menumpas pemberontak 👊👊👊
Tarun Tarun
up
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri...maaf lahir dan batin
Batsa Pamungkas Surya
menang menang menaaaa@ng
saniscara patriawuha.
gasssssd polllllll maningggg manggg eebbEEzzzzzz....
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Nah gitu baru pejantan namanya Singhakerta klo berani duel satu lawan satu 👍
𝒯ℳ: kalo sultan pejantann apa nih
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama tawaran Larasati
Ali Khadafy
sekali-kai bikin cerita yg MC nya kocak to kang ebez biar ga tegang trs
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ
Kapayunan ka Kang Ebez sareng para wargi sobat penggemar karya-karya Kang Ebez, abdi ngahaturan wilujeung boboran Iedul Fitri 1446H.
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ: Sami-sami Kang Ebez. 🙏
Ebez: aamiin ya rabbal alamin Kang Wangky 🙏🙏
Nuhun nya 😁😁
total 2 replies
Windy Veriyanti
tinggal dua racun lagi yang ditumpas...
Ebez: hehehe assiiiaaaappp kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri Thor dan semua pembaca
Ebez: hehehe terimakasih bang Pendekar 😁😁🙏🙏
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Yang jelas bukan Dewi Sambi yang ngajarin Ajian Tapak Wisa 😁
Ebez: hehehe itu jelas bang Joe 🙏🙏😁😁
total 1 replies
saniscara patriawuha.
dengannnn tulisan yangg samaaa manggg eeBbezzzzz,,,
Ebez: apa itu kang Saniscara? 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Tarun Tarun
slmt idul Fitri jg kg ebez minal aidin wal fa idzin jg.
SMG upnya jgn di tunda trs
Ebez: hehehe iya bang Tarun 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
rasakan pendeitaamu sisa murid dewi upas
Ebez: hehehe assiiiaaaappp bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Windy Veriyanti
Dipati Kalang...kabut...musnah dari peredaran
Ebez: hehehe iya tuh kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
makasi kang
Ebez: sama-sama kang Pendekar 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama gunung pegat,,,apa bener gunung pegat tu nama aslinya sejak dulu..ato nama baru karena di belah di jadikan jalan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!