Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.
Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.
Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.
"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.
Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.
Kemana perginya pakaianku?
Hijabku?
HP ku?
Ya, tuhan.
Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
Tampak dedaunan kering yang sudah dirajang tipis, hampir sama seperti tembakau rokok, tapi ini sedikit berwarna merah pekat.
"Hahaha, gitu dong Pa!" dengusnya puas sambil menikmati aroma daun itu.
Ia kembali jalan ke arahku dengan kantong daun yang terbuka, "Mau coba cantikku? Nihh!!"
"Aaarrrgggghhh!" pekikku begitu wajahku dipaksa masuk kedalam kresek penuh daun kering itu. Ada yang aneh di kepalaku ketika bernapas di dalamnya. Aromanya seperti serbuk korek, dan kepalaku sedikit pening. Namun rasa sakit di sekujur tubuhku rasanya tak sesakit tadi.
Ada apa denganku?
"Ngefly kan? Suka? Haha." cicit si Bos. "Habis ini kita bersenang-senang cantik."
"Ndaru, Nak! Simpan tumbal kita di belakang, ya! Ingat jangan sampai kebablasan bermainnya." teriak Bahlil melepas topinya. "Kamu bisa puas-puasin entar setelah ritual, atau bisa pakai stok yang ada dulu kalau udah gak tahan."
"Enggak, Pa. Stok Papa udah tua-tua semua. Ndaru suka yang ini, lihat, kan! Kita seumuran!" tangkis si Bos yang di panggil Ndaru itu sambil melempar senyum genit ke arahku. "Udah, cantik, imut, perawan pula!"
"Ya udah atur aja sesukamu! Papa masuk dulu, mau istirahat." pamit sang Ayah.
Begitu pintu depan rumahnya tertutup, Ndaru beserta dua anak buahnya mengendongku. Aku menaiki anak buahnya yang kekar itu dan si bos Ndaru membuntuti kami dari belakang sambil menepuk dan meraba jahil bokongku.
...Plakkkk...
"Ayoo jalan terus, cantik!" Aku segera menoleh ke belakang memasang tatapan menantang. Tapi hanya berbalas tawa genit darinya seakan dia tak takut apa yang akan terjadi padanya nanti. "Apa? kamu lebih cantik kalau merengut gitu! Haha."
...Mmmmppp Mmmmpppuaahhh...
Bibirnya mendarat di bibir manyunku seketika. Aku tak sempat menghindari kecelakaan ini karena begitu tiba-tibanya dia.
Rumahnya besar mewah, ada dua gazebo setelah masuk melewati gerbang, dan sekarang kami memutar dari gazebo kiri menuju belakang rumah.
Aku sempat berpikir, entah apa yang ada di dalam rumah sebesar itu, karena sudah 2 menit kami berjalan belum juga sampai pada tempat tujuan.
Jalannya mulai remang karena pencahayaan di sini masih menggunakan lampu bohlam dan jumlahnya lebih jarang dari pada yang ada di depan rumah.
Akhirnya kami sampai di sebuah rumah kayu tua. Tidak sebesar rumah yang di depan. Pencahayaannya juga sekedarnya saja. Satu Lampu Petromak yang menggantung di sebelah pintu.
Tampaknya, ada tanaman bambu liar di belakang rumah ini, karena sempat tertiup angin daun-daun keringnya saat kami ke sini. Dan sekarang yang kudengar hanyalah suara air yang mengalir.
Engak.
Bukan mengalir, suara ini lebih seperti air terjun, sangat deras dan keras.
Ndaru duduk di teras, di kursi tua, menyeka rambutnya sambil menghembuskan asap rokok. Sedang aku berlutut di hadapannya. Mataku mulai berputar, pening yang tadi hanya sedikit kini mulai terasa banyak.
"Gimana, kamu mau coba cantik?" Dia tarik hisapan rokok mini itu kemudian bicara sambil mengeluarkan asapnya, "Kayaknya kamu harus coba deh!"
...Mmmmmmpphhhh...
Bibirnya kembali bersilahturahmi ke bibirku, bedanya kini bibir kita sama-sama terbuka bertukar udara. Kita bernapas bersama. Dan aku mulai merasakan.
"Bos, boleh coba?" ucap si pria kekar.
"Iya, masak kita gak di kasih giliran, biasanya juga bos ogah-ogahan nyentuh tumbal. Katanya bikin sial. Eh sekarang malah, Gercep!" timpal anak buah yang menyopiri perjalanan kami tadi. "Huu, si Bos ini."
"Kalian boleh lakukan itu sama tumbal yang lain, tapi kalau sampai kalian macam-macam sama yang satu ini... Kalian yang bakal jadi tumbal berikutnya!" tegas Ndaru sambil menunjuk mereka. "Dan kamu, Muis? Siapa yang suruh sentuh dia di mobil? Kurang hajaaaarrrggg!"
...BUUUUGHHH...
Satu tinjuan mendarat di pipi kanan pria kekar yang dipanggil Muis itu.