NovelToon NovelToon
Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Status: tamat
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / TKP / Tumbal / Hantu / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

HIATUS.
Mohon maaf, Author sedang berhibernasi sampai musim salju tiba.


***

Aku enggak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu. Saat terbangun, tiba-tiba saja aku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran sempit yang disusun oleh besi-besi.

Di luar sana, tampak puntung rokok di atas meja mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga tergantung asal di tembok. Sementara puluhan keris berdiri sejajar di dalam lemari kaca.

"Tutupi tubuhmu, Nduk!"

Tiba-tiba, suara serak kakek tua mengejutkanku dari arah lain sambil melemparkan selembar jarik.

Aku baru sadar, kalau dari tadi tubuhku sudah tanpa sehelai benang.

Ke mana perginya pakaianku?

Hijabku?

HP-ku?

Ya, Tuhan ...

Apa mereka benar-benar menyetubuhiku malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpesona

Tampak dedaunan kering yang sudah dirajang tipis, mirip seperti tembakau rokok. Namun, warnanya agak merah pekat.

“Hahaha, gitu dong, Pa!” dengusnya puas sambil menghirup aroma daun itu.

Ia berjalan kembali ke arahku sambil membawa kantong plastik berisi daun kering yang terbuka. “Mau coba, cantikku? Nih!”

“Aaaahhh!” pekikku ketika wajahku dipaksa masuk ke dalam kresek penuh daun itu. Ada yang aneh di kepalaku saat bernapas. Aromanya menyerupai serbuk korek api, dan kepalaku mulai pening. Tapi, rasa sakit di tubuhku rasanya menjadi tak separah sebelumnya.

Ada apa denganku?

“Nge-fly, kan? Suka?” cicit si Bos. “Habis ini, kita bersenang-senang, ya, cantik.”

“Ndaru, Nak! Simpan tumbal kita di belakang, ya. Tapi ingat, jangan sampai kebablasan mainnya,” teriak Bahlil sambil melepas topi. “Kamu bisa puas-puasin nanti setelah ritual. Atau kalau udah nggak tahan, pakai dulu stok yang ada.”

“Enggak, Pa. Stok Papa udah tua-tua semua. Ndaru suka yang ini. Lihat, kan? Kita seumuran!” balas Ndaru, melempar senyum genit ke arahku. “Udah cantik, imut, perawan pula!”

“Ya udah, atur aja sesukamu. Papa masuk dulu, mau istirahat,” pamit sang Ayah.

Begitu pintu rumah tertutup, Ndaru dan dua anak buahnya segera menggendongku. Aku dipanggul oleh pria kekar, sementara Ndaru mengikuti dari belakang, sambil menepuk dan meraba bokongku dengan jahil.

PLAKKK

“Ayo, jalan terus, cantik!”

Aku menoleh ke belakang, memasang tatapan menantang. Tapi yang kudapat hanya tawa genit darinya, seolah ia tak peduli dengan apa pun yang mungkin terjadi nanti.

“Apa? Kamu lebih cantik kalau cemberut gitu! Hahaha!”

MMPPHHH ....

Bibirnya tiba-tiba mendarat di bibirku. Aku tak sempat menghindar. Semuanya terjadi begitu cepat.

Rumahnya besar dan mewah. Ada dua gazebo setelah melewati gerbang. Kami memutar lewat gazebo kiri menuju bagian belakang rumah. Apa saja yang ada di dalam rumah sebesar ini? Sudah sepuluh menit kami berjalan, tapi belum juga sampai tujuan.

Pencahayaan mulai redup. Mereka masih memakai lampu bohlam yang jarang, tidak sebanyak yang ada di depan rumah.

Akhirnya kami tiba di sebuah rumah kayu tua. Tidak sebesar rumah utama, dan pencahayaannya seadanya, hanya satu lampu petromak yang tergantung di sebelah pintu.

Tampaknya ada tanaman bambu liar di belakang rumah ini. Tadi sempat terdengar suara reyot bambu yang tertiup angin. Kini, yang kudengar hanyalah suara air.

Bukan mengalir ... Tapi lebih seperti suara air terjun, sangat deras dan keras.

Ndaru duduk di teras, di kursi kayu tua, menyeka rambutnya sambil menghembuskan asap rokok. Sementara aku berlutut di hadapannya. Pandanganku mulai kabur. Pusing yang tadi hanya samar, kini semakin kuat.

“Gimana? Mau coba, cantik?” Ia menarik napas dari rokok kecil itu, lalu berbicara sambil menghembuskan asapnya. “Kayaknya kamu harus coba deh.”

MMPHHH ....

Bibirnya kembali menyambangi bibirku. Tapi kali ini, bibir kami sama-sama terbuka, bertukar udara. Kami bernapas bersama. Dan aku mulai merasakan ... Ringan.

“Bos, boleh coba?” ucap pria kekar.

“Iya, masa kita nggak dikasih giliran? Biasanya juga Bos ogah-ogahan nyentuh tumbal. Katanya bikin sial. Eh, sekarang malah gercep!” timpal anak buah yang menyetir tadi. “Huu, si Bos ini .…”

“Kalian boleh lakukan itu sama tumbal lain. Tapi kalau sampai macam-macam sama yang satu ini … kalian yang bakal jadi tumbal berikutnya!” bentak Ndaru sambil menunjuk mereka. “Dan kamu, Muis? Siapa yang suruh sentuh dia di mobil?! Kurang ajar!!!”

BUUUUGHHH

Satu tinju mendarat keras di pipi kanan pria kekar bernama Muis itu.

...BERSAMBUNG...

1
Bunggo Sikumbang
aku ga paham alur cerita nya..
yul yul
teh @Ai Emy Ningrum nih mau lanjut nih...
yul yul: iya tuh ada notif...
total 2 replies
yul yul
mau lanjut disini lagi kk..?
zidan albady
Jln ceritanya ya begitu jd mana bisa kabur benarkan thor 😁
zidan albady
Otw nyimak dl thor sepertiny seruuu
Erika
Lah ko udah tamat?
Miu Nuha.
aku datang untuk pertama kak 🌻 ,, penuh misteri, bikin terkepo-kepo...

dukung karya aku juga ya di alice celestia dalian, sama2 genre horror/misteri,, mohon ulasannya 🤗
Filna
psikopatt
Filna
/Sob/
Filna
ya ampun
Filna
masa km percaya bahlils
Filna
ayo nur ,km bisa
Filna
serem
Filna
ya ampun, kenapa semua cowok disini bejad semua si
Filna
lengkap sudah penderitaan mu nur, jadi tumbal, perkosaan, skrg prostitusi
Filna
duh nurr, kena sial Mulu sih
Filna
mampus
Filna
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Filna
Bahlil Bahlil jahat bgt si yg namanya bahlil
Filna
jahat bgt sii orang2 ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!