"Aku bersumpah akan membalas semua penghinaan dan rasa sakit ini."
Tivany Wismell, seorang penipu ulung dari dunia modern bertransmigrasi ke zaman peradaban China kuno. Mengalami ketidakadilan dan nasib yang tragis, Tivany menolak menyerah dan akan membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mulai bergerak
Pesta pemberian nama yang meriah diadakan di kediaman Jun. Keluarga besar Jun, Dao dan Zuzu datang untuk merayakan. Tapi sayangnya keluarga besar Jun tidak ada yang mendekat pada Zuzu, mereka sibuk berbincang dengan Jiang Nan yang sudah naik pangkat.
Zuzu menatap Ibunya yang terlihat santai, dia juga berusaha tetap santai dan menatap ke arah Dao diam-diam. Sampai detik ini Zuzu belum tau jenis kelamin anak yang Dao lahirkan, dia merasa iri karena Jun menggendong anak itu.
"Brengsek, bahkan sampai detik ini dia belum pernah menggendong Putriku." Batin Zuzu iri dengki.
Jun mengajak Dao naik ke atas panggung perayaan, dengan seorang bayi di gendongan Jun. Mereka terlihat seperti keluarga yang bahagia dan hangat, tanpa tau jika ada sosok istri lain yang kebakaran jenggot.
"Terimakasih karena sudah datang merayakan hari bahagia kami, hari ini atas kahdendak dan keberkahan dewa. Keluarga Ming telah mendapatkan pewaris, tuan muda telah lahir dari istri tercintaku Dao'er." Ucap Jun menatap Doa dengan romantis.
Para tamu bersorak bahagia, apalagi keluarga Jun yang sangat bahagia karena mengagungkan anak laki-laki. Zuzu yang melihat itu semakin iri dengki, dia mencubit kaki anaknya agar anaknya menangisi dengan keras.
Begitu bayinya menangis Zuzu langsung menenangkannya dengan panik, berusaha menunjukan aura keibuan yang polos dan masihan. Dia terus bersenandung, mengatakan jika Putrinya sangat cantik dan penuh berkah juga.
Para tamu mulai menatap kasihan pada Zuzu, mereka tidak mendapatkan kabar pemberian nama tentang anak pertama Jun. Melihat tindakan pilih kasih membuat beberapa wanita yang memiliki anak perempuan merasa trenyuh.
apa salahnya anak perempuan
suamiku tetap menyayangi putri kami
benar, putri pun tidak masalah
membenci secara terang-terangan
apa jendral muda Ming memang begini
sepertinya dia lupa diri
Bisik-bisik mulai menjelekan Jun, Zuzu yang mendengar itu diam-diam tersenyum smirk. Tapi dia tetap terlihat polos dan takut, seakan keberadaan nya akan dalam masalah karena terlibat.
"Hahahahaha putriku memang cengeng, sepertinya dia iri karena tidak naik panggung. Ini kesalahanku karena terlalu memanjakannya, bawa kesini Zuzu sepertinya Putri kita juga ingin di perkenalkan." Ucap Jun tersenyum palsu, dia hanya jaga image.
Bukannya maju Zuzu justru semakin mundur dengan takut, Selir yang melihat itu membantu sandiwara Zuzu. Dia mendekap Zuzu menenangkan, seakan Jun pasti akan memarahi Zuzu setalah acara selesai.
"Keluarga Jiang datang atas undangan, tapi ternyata putri kami di perlakukan tidak adil. Aku berharap jendral muda Ming tidak lupa, jika jabatanmu saat ini adalah kerja keras dari Zuzu untukmu." Ucap Jiang Nan, membela Zuzu.
"A-anda salah paham Ayah, kami hanya sedikit bertengkar karena perayaan ini. Seperti tradisi di kelurga Ming, memang hanya anak laki-laki yang mendapatkan perayaan nama. Kasih sayangku pada Zuzu dan putrinya tentu saja sama besar." Ucap Jun mulai panik.
"Memang siapa nama Putri anda? apa anda tau?." Selir berkata dengan sedih.
"I-itu tentu saja aku tau, menggunakan nama Zuzu dan diriku sebagai bukti cinta kami. Kami memberi dia nama Ming Juzin." Ucap Jun dengan mantap.
"Apa yang kau katakan suamiku, putri kita bernama Ming Zujun. Anda bahkan tidak pernah menggendongnya, memiliki anak perempuan juga diluar kendaliku. Aku hanya hamil dan melahirkan dengan susah payah agar kau memiliki gelar Ayah, dengan segala kerja kerasku untuk mendukungmu ternyata semua itu tidak ada artinya sama sekali. Semakin berjalannya waktu, kau justru semakin mencampakan aku. Aku tidak masalah, bisakah aku di kembalikan saja pada Keluarga ku? aku benar-benar merasa sesak disini." Ucap Zuzu, Muali melancarkan serangan pertama.
"Jaga bicaramu Zuzu, apa karena kau iri sampai berkata bohong? jangan membuat pesta menjadi kacau." Jun mulai marah.
"Aku sudah tidak tahan lagi, lakukan saja seperti yang kau inginkan. Hiduplah dengan baik bersama istri tecintamy itu, tidak perlu menanyakan kabar kami." Zuzu pergi kembali ke Paviliun nya dengan sedih.
Karena perdebatan itu, pesta berakhir dengan kacau balau. Jun dengan marah mulai membanting banyak barang di kediamannya, Dao sendiri sudah kembali ke Paviliun nya sendiri dan bertemu dengan kekasih gelapnya dengan senang.
"Sayang, apa kau hidup dengan baik disini? bagaimana kau bisa merayu jendral bodoh itu dalam waktu singkat?." Ucap pengawal Dao.
"Hahahah Kakak, aku bahkan hanya diam saja dan dia mengaku tertarik. Aku dan anak kita hidup dengan baik disini, meskipun aku merasa muak karena dia terus menempel." Ucap Dao dengan manja.
"Terkadang aku juga merasa marah saat mengawalmu, ingin sekali aku menendangnya dan merebutmu kembali dalam pelukanku." Ucapnya.
"Tenanglah kak, tinggal sedikit lagi sampai anak kita mendapatkan semua warisan Jun. Dengan begitu rencana kita berjalan dengan lancar, apalagi si wanita gila itu mulai gencar menarik perhatian Jun. Saat Jun sibuk dengan wanita itu, kita jadi semakin punya banyak waktu untuk berduaan." Ucap Dao tersenyum bahagia.
"Aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba, sayang." Pengawal itu mencium Dao dengan mesra.
jleb
daggh
Saat sedang berciuman panas, tiba-tiba ada panah melesat ke tembok samping mereka. Dao dan pengawalnya terkejut, mereka langsung waspada melihat ke sekitar.
Pengawal itu pergi memeriksa dengan berani, dia terlihat terlatih dan misterius. Setelah merasa tidak ada siapapun dia kembali, menarik anak panah yang membawa surat misterius.
"Bantu aku maka aku akan membantu kalian."
Hanya berisi satu kalimat ambigu, Dao mulai merasa waspada karena perselingkuhannya sudah di ketahui orang misterius.
"Tenanglah, ada alamat dan tanggal yang tertulis disini. Sepertinya ini dari musuh Jun, dia sedang mengajak kita bersekutu." Ucap Pengawal itu menenangkan.
"Bagaimana jika jebakan?." Dao was-was.
"Tidak, panah mahal dan ukiran aneh ini tidak pernah aku temui di mana pun. Aku yakin ini milik orang kuat, jika kita bersekutu dengan mereka maka rencana kita semakin brjalan mulus." Ucap Pengawal itu tersenyum smirk.
"Apa Kakak yakin?." Dao masih khawatir.
"Jangan khawatir sayang, tidurlah dengan nyenyak dan jaga putra kita dengan baik. Aku akan segera mencari tau tentang alamat ini, aku harus segera pergi sebelum bajingan itu datang ke kamarmu." Ucap Pengawal itu bersiap menyelinap.
"Lain kali datanglah lebih awal Kak, aku sudah merindukan milikmu." Ucap Dao menggoda.
"Astaga Sayang, apa kau sudah tidak sabar memiliki anak kedua? kau baru saja melahirkan, jadi pulihkan saja dirimu dan tunggu aku dengan patuh." Ucapnya.
"Baiklah, jaga dirimu." Dao mengangguk.
Pengawal itu menyelinap pergi lewat jendela, Dao langsung mengambil kembali anaknya yang di titipkan pada pelayan. Dia tertidur di ranjang sambil memeluk anaknya, dia harus terlihat seperti istri normal yang tidak macam-macam. Jangan sampai Jun waspada atau curiga padanya.
"Teruslah menjadi pria bodoh, agar aku bisa menguras semua hartamu itu." Batin Dao.
apa jadi lupa akan meylin dan lin....
q harap tidak ya thorrr 💪😘