Kayla seorang perempuan yang memiliki 3 Saudara, mereka telah yatim piatu sejak kecil, Adik bungsunya merupakan anak istimewa yang membutuhkan perhatian khusus. Perjuangan mereka yang penuh dengan tangis, penderitaan akankah bisa menuju kesuksesan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib Kanaya dan Keenan
Mereka semua memandang Kayla dengan sendu, mereka tidak menyangka jika dihadapan mereka nyata adanya jika kadang kehidupan itu tidak adil seperti yang dialami anak-anak dihadapan mereka.
"Bagaimana kabar kedua adikmu nak, kata suster Aisyah, adikmu ada dirumah kepala desa yah?? Tanya mereka dengan ramah.
"Iya bu, kedua adik saya ada disana, saya belum tahu kabar mereka mungkin besok baru saya minta tolong suster Aisyah menghubungi bapak desa atau tante Maya agar dapat mengetahui kabar mereka". Ucapnya dengan sopan dan sungkan.
"Kamu sekolah kelas berapa nak, dan adik-adik mu?? Tanyanya lagi.
"saya kelas 3 tante, adik saya yang dibawah saya kelas 1 dan adik ketiga saya berusia 4 tahun dan yang kecil ini usianya 2 tahun". Ucap Kayla dengan sopan.
"Kamu yang sabar yah nak, tetaplah jalani hidupmu dengan baik, dalam banyaknya cobaan dan kesusahan, percayalah Tuhan akan memberikan kita kemudahan dari segi apapun, dia memberi cobaan karena kalian mampu". Ucap Ibu-ibu dengan senyuman sendu.
"Iya tante, itu nasehat yang sering di ucapkan ibuku sebelum meninggal, itu sebabnya kami berusaha sabar dengan keadaan kami saat ini".
"Baguslah nak, kamu melaksanakan nasehat orangtua, belajarlah yang rajin, kamu adalah tulang punggung sekaligus kakak untuk ketiga adikmu, kamu harus kuat dan berusaha". Ucap mereka menyemangati sang anak yatim itu.
Setelah berbincang, Kayla keluar mengurus beberapa urusan dengan dokter untuk kelanjutan urusan sang adik dibantu dengan suster Aisyah, dia tidak lupa membawa uang yang selalu dia taroh di kantong celananya, dia memang memiliki celana panjang yang memiliki resleting didalam celananya saat dia memakai rok jadi uangnya tak akan kelihatan apalagi hilang.
"Tolong jaga adik saya sebentar, Saya harus keluar lagi untuk mengurus beberapa urusan dengan rumah sakit". Ucap Kayla dengan sopan.
"Iya nak, kami akan melihat keadaan adikmu saat kamu pergi, jangan khawatir".
"Terima kasih tante, om dan kalian semua, semoga Tuhan membalas kebagian kalian kepada kami". Ucap Kayla sebelum keluar dari kamar itu.
Setelah semuanya selesai, kini Kayla kini masuk kembali kerusakan sang adek membawa banyak berkas ditangannya entah berkas apa itu, kata pengurus diberikan dan diperlihatkan kepad dokter yang akan memeriksa sang adik.
"Sudah selesai nak?? ". Tanya bapak-bapak iru dengan ramah.
"Iya pak, syukurlah, aku dibantu dengan suster Aisyah tadi makanya cepat urusannya". Ucapnya dengan senyuman tulus.
"Syukurlah nak, dekati adikmu, seperti nya dia bangun tadi dan mencarimu, dia bingung karena melihat banyak orang dalam satu ruangannya".
"Iya pak, terima kasih". Ucap Kayla dengan sopan.
Semua orang yang ada disana tersenyum melihat bagaimana adab dan kesopanan dari Kayla, mereka tidak menyangka anak sekecil itu sudah mengerti tata krama dan sopan santun pada orang lain.
"Kakak". Tangis si bungsu itu akhirnya pecah melihat sang kakak karena sejak tadi pergi.
Walau ucapannya tidak jelas, sang kakak masih mengerti dengan baik perkataannya, karena Kayla sudah terbiasa.
Sedangkan di sekolah, Kanaya mendapatkan perundungan dari senior yang tidak menyukai kehadiran nya dan juga kakaknya, bagi mereka keduanya hanya benalu karena miskin tapi mau masuk sekolah.
"Bagaimana rasanya gembel, kalian ini kalau tidak punya uang tidak usaha sekolah, sana pagi pungut sampah". Hardiknya dengan mendorong Kanaya dengan kasar.
"Jangan lukai kakakku, kalian ini beraninya keroyokan". Keenan berkacak pinggang kepada mereka karena tidak terima sang kakak di Bully.
"Diam anak kecil, jangan sok, kau dan ketiga saudaramu tidak punya malu, bikin malu sekolah saja". Ucap salah satu berusha memukul Keenan tapi terhalang tangan Kanaya.
Kanaya menatap tajam orang itu karena berusaha memukul sang adik, dan dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, adiknya harus dia jaga dan dia lindungi.
"Jangan pernah memukul adikku, kalau tidak kulaporkan kau kepada ibu sang kepala sekolah". Ucap Kanaya dengan lantang.
"Dia i uku kau lupa, tidak mungkin dia mau menghukum ku". Sombongnya lagi.
"Aku akan meminta bantuan kepala desa untuk melaporkan ibumu ke dinas pendidikan jika dia tidak menghukum anak perundungan sekalipun itu anaknya". Ucap Kanaya dengan tegak.
Dia tidak akan membiarkan orang lain menghina dan merendahkan keluarganya apalagi dengan sang kakak.
"Kau mengancam ku?? Tanyanya dengan berang.
"Aku tidak mengancam siapapun, tapi jika kalian berani menyentuh adik-adik ku, maka tak akan ada toleransi, bahkan jika ibumu membela dirimu mungkin, dia sudah siap kehilangan jabatannya sebagai kepala sekolah". Kanaya menatap tajam sang perundungan yang kini mulai gelisah.
Dia membawa sang adik untuk pergi ke tempat ibu kantin karena ini sudah akan masuk jam istirahat meninggalkan mereka semua terpaku karena keberanian Kanaya pada mereka.
Kanaya sudah berjanji pada sang kakak untuk melindungi sang adik dan menjaganya dengan baik, jadi dia harus berani membela diri mereka sendiri dan belajar dari sang kakak.
"Kalian darimana nak, kok telat keluarnya?? Tanya ibu Hasni dengan heran.
"Kami ada masalah sedikit tadi bu, ada teman-teman yang berusaha mem-bully kami berdua karena kami anak yatim piatu dan miskin". Ucap Kanaya dengan sendu.
"Ibu Hasni tersentak kaget mendengar perkataan Kanaya tentang perundungan, baginya itu sudah tindakan kelewat batas jika melakukannya.
"Siapa yang melakukannya nak, ibu akan laporkan anak itu kepada guru atau wali kelasnya". Geram Bu Hasni mendengar cerita Kanaya.
"Dia anak kepala sekolah bu, biarkan saja dulu, seandainya dia main fisik maka aku akan meminta bantuan kepada kepala desa untuk memproses kelakuan mereka". Ucap Kanaya dengan tenang.
"Terus bagaimana keadaan kakak dan adikmu dirumah sakit??
"Kami belum tahu bu, kami belum dapat kabarnya, mungkin jika kakak pulang atau adik sembuh beliau menelpon karena katanya dia mendapatkan nomor handphone dari beberapa warga dan menulisnya ditempat aman".
"Ya sudah kalau begitu nak, kita kerja lagi, nanti sambil tunggu kakakmu dari rumahan sakit, kamu yang sabar yah nak". Ucap Bu Hasni dengan sendu.
Sedangkan Kanaya menundukkan kepalanya karena teringat keadaan sang kakak dan adiknya dirumah sakit, dia ingin kesana tapi bagaimana caranya.
"Nak, bagaimana kabar kakak dan adikmu dirumah sakit?? Tanya sang guru begitu mereka telah pulang sekolah.
"Saya belum tahu bu, nanti saya tanya kepala desa dulu, karena saya beserta adik saya ini tinggal disana sementara". Ucap Kanaya dengan sopan.
"Ya sudah nanti ibu dan guru-guru lain akan kesana sekaligus menjenguk Kayla dan adikmu di ruang sakit kota. Dan ini terima lah nak, untuk biaya kamu sendiri karena kamu ditinggal oleh kakakmu". Ucap guru itu memberikan sebuah amplop yang tidak telaku besar.
"Apa ini bu?? Tanyanya dengan kebingungan.