Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Baru
Beberapa hari telah berlalu, pernikahan Nesa dan Devan seperti biasa tak saling menyapa satu sama lain, Devan sibuk dengan dunianya sendiri juga pekerjaannya, Nesa pun sibuk dengan bisnis yang akan ia kerjakan.
Salah satu aset ibunya adalah sebuah toko yang ada di jejeran toko di Jakarta, Nesa masih sulit untuk percaya bahwa ibunya itu menyimpan aset khusus untuknya, ia tak akan bisa memiliki ini ketika Santi mendapatkannya dan merasa bahwa ini adalah harta suaminya yang di simpan baik-baik selama ini.
Nesa ingin menjalankan usaha, agar ia tak bergantung pada suaminya, meski ia tak tahu usaha apa yang bagus dan laris di kota ini.
Ketika berjalan-jalan di toko sekitaran, Nesa merasa sangat pusing, matahari menyengat masuk ke pori-porinya, Nesa mengelus kepalanya dan ... hampir saja terjatuh, untung saja seseorang menolongnya.
Nesa menoleh dan menatap lelaki yang sudah mencegahnya agar tak terjatuh, lalu dengan cepat melepaskan genggaman tangan lelaki itu.
"Maafkan saya," kata Nesa menundukkan kepala.
"Kamu sepertinya terlihat tidak sehat," kata lelaki itu.
"Saya baik-baik saja," jawab Nesa, masih mengelus kepalanya.
"Ayo duduk di sini dulu, kamu kelihatannya pucat sekali, dan minum ini," kata lelaki itu, lelaki yang sudah menolongnya.
Nesa menoleh dan menatap lekat lelaki itu, lelaki itu sepertinya orang yang baik.
Nesa menerima botol mineral dari tangan lelaki itu dan meminumnya hampir tandas. Lelaki itu tersenyum ketika melihat Nesa meminum air sampai sedikit tertumpah.
"Maafkan saya," ucap Nesa lagi.
"Kenapa terus minta maaf?"
"Saya—"
"Nama kamu siapa?" tanya lelaki itu.
"Saya ... Nesa, biasa di panggil Eca, tapi banyak yang memanggil Nesa," ucap Nesa, membuat lelaki itu tersenyum. "Anda siapa?"
"Jangan terlalu formal," kekeh lelaki itu, dan kembali berkata, "Namaku ... Juno."
"Salam kenal, Kak Juno," ucap Nesa.
"Kak Juno?"
"Iya. Aku memang biasa memanggil lelaki dewasa dengan panggilan Kakak. Apa salah?"
"Nggak salah kok, aku hanya merasa aneh, baru kamu yang memanggilku dengan sebutan Kakak," jawab Juno.
Nesa tersenyum dan menundukkan kepala.
"Bagaimana kondisimu sekarang? Membaik?" tanya Juno.
"Iya. Mungkin karena kehausan," jawab Nesa. "Aku sedang hamil muda. Jadi, seperti ini biasa orang hamil."
"Oh iya. Mirip dengan kakakku waktu sedang hamil."
"Kakak Kak Juno hamil juga?"
"Udah lahiran dia, ponakanku usianya udah 1 tahun."
Nesa menganggukkan kepala.
"Kamu mau kemana? Biar aku antar," tanya Juno. "Kondisimu juga sedang tidak baik."
"Sebenarnya aku sedang melihat toko di sekitaran sini."
"Toko? Kamu mau kerja? Atau mau buka usaha?"
"Aku mau buka usaha, Kak, kebetulan aku ada toko di dekat sini, hanya pengen melihat usaha apa yang bagus dan mungkin akan laris," jawab Nesa, membuat Juno menganggukkan kepala.
"Di sekitaran sini sudah ada beberapa butik, toko sepatu dan restoran, ada kedai kopi juga di ujung saja, dan ...."
"Dan apa, Kak?"
"Oh iya. Kenapa kamu nggak buat usaha kedai kopi saja?" tanya Juno, membuat Nesa menautkan alis.
"Kedai kopi?"
"Maksudku cafe."
"Bukannya tadi kata Kak Juno ada kedai kopi di ujung sana?"
"Iya memang ada. Tapi kan di ujung sana. Di dekat sini juga aku bekerja, jadi di sekitaran sini memang strategis jika kamu mau buat usaha yang besar."
"Kak Juno sepertinya lebih tahu," kata Nesa.
"Kebetulan aku lulusan agro bisnis," jawab Juno. "Tokomu ada dibagian mana?"
"Ada di sana," tunjuk Nesa ke arah kanan.
"Nah cocok, cafe dekat sini ada di ujung kiri sana, dekat lampu merah, kamu bisa buat usaha cafe di ujung kanan, kebetulan di sana lebih ramai, kantorku ada di sana," tunjuk Juno, membuat Nesa menganggukkan kepala.
"Wah. Aku beruntung bertemu dengan Kak Juno, seorang lulusan agro bisnis," puji Nesa.
"Ha ha. Biasa saja."
"Kak Juno mau lihat toko milikku?" tanya Nesa.
Juno lalu melihat jam tangan yang melilit dipergelangannya, sudah hampir dua jam ia beristirahat, Devan pasti akan sangat marah. Namun, ia tidak bisa menolak tawaran Nesa.
"Kak Juno."
"Iya. Boleh," jawab Juno.
"Ayo, Kak," panggil Nesa. "Aku sebenarnya baru seminggu di Jakarta, jadi nggak tahu sekitaran sini, jika Kak Juno mau membantu, aku sangat menghargai."
"Kalau kamu memintaku membantumu, aku mau saja," kekeh Juno, membuat Nesa tersenyum. "Tapi kamu baik-baik saja, 'kan?"
"Aku baik-baik saja, Kak, sudah mendingan, tadi mungkin karena haus saja," jawab Nesa.
Juno dan Nesa berdampingan melewati jejeran toko bersama, sesekali tertawa bersama, dan tersenyum bersama, mereka juga mengobrol.
"Nah ini, Kak, toko milikku," tunjuk Nesa, membuat Juno melihat sekeliling.
"Wah. Ini toko milikmu luas sekali, kamu bisa membuka usaha cafe di sini, tempatnya juga strategis," kata Juno menganggukkan kepala. "Ini toko terbesar di jejeran sini."
Nesa menganggukkan kepala. "Aku berpikir daripada harus membiarkan ini kosong, mending aku buat usaha, tanpa harus bergantung pada suamiku."
"Memangnya kenapa kalau kamu bergantung pada suamimu? Itu kan nggak ada salahnya."
"Memang nggak ada salahnya, Kak, tapi—"
"Nggak usah cerita kalau nggak siap," jawab Juno, membuat Nesa menganggukkan kepala, tidak benar saja jika ia cerita pada Juno yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Meski Juno baik.
"Ayo, Kak, masuk," ajak Nesa, membuka kedai kopi dengan kunci yang ada digenggamannya.
"Jadi, kamu sudah memutuskan akan membuat usaha apa?"
"Sudah, Kak, seperti yang Kak Juno katakan, aku buat usaha cafe aja," seru Nesa. " Sebenarnya aku sempat berpikir akan membuat usaha butik pakaian, namun di sini sudah banyak butik, jadi usaha cafe aja."
"Bagus. Kamu bisa mendapatkan profit yang besar jika membuka usaha cafe di sini."
"Tapi, aku bingung mau memulainya darimana." Nesa menggaruk tengkuknya.
Juno berdiri ditengah bangunan, dengan dua tangan ia masukkan kesaku celananya, seraya melihat sekeliling, ini masih kotor mungkin karena tidak pernah dibersihkan.
"Kotor ya, Kak? Ini nggak pernah di rawat sih," kekrh Nesa, membuat Juno menganggukkan kepala.
"Pertama-tama kamu harus—"
"Kak, kita, bukan aku doank," sergah Nesa, membuat Juno tersenyum. "Bukannya Kak Juno mau membantu?"
"Baiklah," jawab Juno. "Pertama-tama kita harus membersihkan tempat ini dan mengecatnya ulang, juga bagian ini harus di robohkan agar bisa leluasa terlihat dari luar. Setelah dibersihkan dan sudah bersih, kita baru pikirkan apa yang akan kita lakukan."
"Benarkah?"
"Hem. Kamu meminta bantuanku jadi aku akan membantumu sampai selesai."
"Baik, Kak, aku ikut Kak Juno saja," jawab Nesa.
Juno tersenyum.
"Kakak kapan ada waktu?"
"Besok kan hari sabtu, kuta bisa memulai pembersihannya, aku juga akan menyewa orang yang akan membantu," kata Juno.
.
.
***Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ya***.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻