Follow ig aku yah buat liat visualnya @author_alin
Seorang wanita yang rela menikah dan mengandung buah hati sang majikan demi untuk membuat hidup orang tua beserta saudaranya lebih baik. Namun baru empat bulan kehamilan, Azizah memilih pergi menjauh dari kehidupan Arga karena ia takut sang anak akan di bawa oleh pria yang berselisih umur 12 tahun dengannya itu.
Dan empat tahun kemudian, saat sang anak sudah besar, Arga kembali menemuinya di saat yang tak sengaja. Lalu Arga ingin kembali bersamanya, namun Azizah tidak sudi kembali lagi berumah tangga dengan pria itu. Kebencian Azizah semakin menjadi pada Arga, setelah ia tahu bahwa Arga adalah penyeban meninggalnya kedua adiknya.
"Aku mohon, kembalilah padaku. Ayo buka lembaran baru kembali. Kita mulai dari awal lagi semua ini."
"Pergilah, aku sudah tidak ingin ada urusan lagi dengan mu. Kamu sudah menghancurkan hidupku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alin Aprilian04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kecewa
Azizah di larikan ke rumah sakit karena pendarahan. Seorang pria membawa wanita yang di cintainya dengan penuh perasaan khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, pria yang bernama Ashraf itu segera membaringkan tubuh Azizah yang kini sudah tak sadarkan diri di atas brangkar. Dokter dan beberapa perawat langsung memberi tindakan dengan sigap. Lalu membawa Azizah ke dalam ICU.
Ashraf kini setia menunggu dengan perasaan cemas yang luar biasa. Tubuhnya bergetar. Hingga ia tak bisa tenang sampai mendengar Azizah baik-baik saja. Ia kini duduk bersama Bi Atin yang sama sejak tadi tampak terlihat panik dan sesekali menitikan air mata karena khawatir.
"Ya Allah, tolong selamatkan Non Zizah," gumam Bi Atin seraya mengadahkan kedua tangannya tak henti berdoa.
"Tenang, Bi. Kita berdoa saja semoga Azizah tidak kenapa-napa." Arga mencoba menenangkan. Meski dirinya pun sama paniknya.
"Maaf, Mas. Kalau Mas siapanya Non Azizah, yaa?"
"Oh iya perkenalkan nama saya Ashraf, Bi. Saya temannya Zizah."
"Oh iya, Mas. Terimakasih sudah membantu. Kalau gak ada Mas saya tidak tahu nasib Non Zizah."
"Iya Bi sama-sama." ucap Ashraf seraya tersenyum pada wanita paruh baya itu.
Ashraf tak henti berdzikir, berdoa pada Allah untuk keselamatan Azizah. Pria yang mencintai Azizah dari sejak Azizah duduk di bangku SMA itu kini tampak terlihat hancur. Bagaimana tidak, kepulangannya dari Mesir ingin segera menemui Azizah. Berharap bertemu dengan wanita yang di cintainya itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun malah sebaliknya, kenyataan buruk kini malah terjadi pada kekasih hatinya itu.
Keduanya memang saling mencintai. Hanya saja di dalam islam tidak memperbolehkan adanya pacaran. Jadi Ashraf sabar untuk menunggu Azizah. Dan berencana untuk mengkhitbahnya, agar Azizah tidak di miliki pria lain setelah kepulangannya dari Mesir menyelesaikan kuliahnya disana.
Namun kenyataan yang di dapat bagaikan mimpi. Azizah ternyata sudah menikah dan bahkan tengah mengandung anak pria lain. Hancur sudah hatinya saat ini. Dan ini merupakan patah hati terbesarnya selama ia hidup. Azizah adalah cinta pertamanya. Sejak pertama kali melihat wanita cantik bermata bening itu, Ashraf langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ashraf kini mengerti, mengapa Azizah tidak bisa di hubungi setelah satu bulan lebih lamanya. Dan ternyata inilah alasannya. Azizah menikah dengan pria lain.
Ashraf mengetahui ini semua dari saudara dekatnya. Yang ternyata rumahnya satu komplek dengan rumah yang Azizah tempati saat ini. Bara yang merupakan saudara sekaligus sahabat tempat Ashraf bercerita selama ini tentang kisah cintanya dengan Azizah memberitahu semuanya pada dirinya. Tentu saja ia langsung mendatangi rumah itu, tak peduli bahkan jika harus berhadapan dengan suami Azizah sekali pun. Rindu, kecewa, hancur menjadi satu pada saat itu. Ia hanya ingin bertemu dengan Azizah dan meminta penjelasannya dari semua ini.
Cintanya pada Azizah begitu menggebu. Baru kali ini ia mencintai seorang wanita sebesar ini. Bagaimana tidak, Azizah sosok wanita yang sangat cantik, cerdas, ceria serta sederhana. Bahkan ia menjulukinya sebagai wanita paling sempurna di muka bumi ini. Bahkan Ashraf rela menunggu jika Azizah belum siap menikah cepat.
Namun kenyataannya ia malah mendapati pujaan hatinya itu menikah dengan pria lain.
***
Azizah kini sudah di pindahkan ke ruang rawat. Karena kondisinya sudah mulai membaik. Dan Ashraf kini berada di ruangan dokter. Yang mengira dirinya sebagai suami dari Azizah.
"Bagaimana keadaannya, Dok?"
"Istri anda mengalami pendarahan yang cukup hebat. Hamil muda memang bisa di katakan fase rentan keguguran. Maka dari itu harus benar-benar di jaga. Sepertinya sudah beberapa hari tidak ada asupan makanan masuk ke dalam tubuhnya. Mungkin karena morning sicknes. Dan juga banyak pikiran pun mempengaruhi janin, Pak. Jadi sekarang istri anda harus di rawat dulu disini sampai keadaannya pulih karena Bu Azizah benar-benar kekurangan cairan. Agar janinnya kembali kuat dan sehat."
"Baik, Dokter. Saya akan berusaha untuk memperhatikannya. Terimakasih banyak, Dok."
"Sama-sama, Pak."
Ashraf keluar dari ruangan itu. Andai saja dia memang benar menjadi suami Azizah, betapa bahagianya ia akan memiliki seorang anak. Namun semua ini hanyalah khayalan semata yang tak mungkin jadi kenyataan.
Ashraf kini mendatangi ruang rawat Azizah. Di lihatnya kini wanita yang di cintainya itu tengah berbaring dengan wajah pucatnya.
Hati Ashraf berdebar tak menentu. Begitupun juga dengan Azizah. Keduanya kini saling menatap penuh cinta dan rasa tidak percaya karena kembali bertemu.
Apalahi Azizah, ia merasa semua ini bagaikan mimpi. Seseorang yang di cintainya kini berada di hadapannya. Seketika matanya mengembun. Ia tak sanggup melihat wajah sedih Ashraf yang pastinya sudah mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dengan pria lain.
Ashraf mencoba untuk tersenyum. Ia duduk di kursi sebelah Azizah bersama Bi Atin. Menatap wajah cantik itu penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Gimana, sudah baikan?" tanya Ashraf lembut. Pria berumur 27 tahun itu memang terkenal sebagai seorang pria shaleh dan pintar. Juga keturunan dari keluarga yang baik. Tak heran jika Ashraf yang berilmu, pandai memperlakukan seorang wanita dengan mulia.
Azizah mengangguk seraya tersenyum. Meski dengan air mata yang akhirnya meluncur membasahi pipinya. Bagaimana tidak, ia sangat mencintai Ashraf. Dan kini ia tidak bisa lagi bersama karena sudah menikah.
"Alhamdulilah, Kak. Bagaimana dengan kabar Kakak?" tanya Azizah dengan debaran jantung yang tak karuan.
"Alhamdulilah baik." Ashraf mengulum senyum. Rasanya ia ingin menggenggam tangan wanita yang di cintainya itu lalu memeluknya. Namun ia tak bisa. Azizah bukan mukhrimnya juga sudah menjadi istri orang lain.
"Sudah jangan menangis. Kasian anak mu. Kalau ibunya nangis, janin yang ada di kandungan mu pun akan ikut sedih."
Mendengar perkataan Ashraf membuat Azizah semakin bersedih dan menyesal. Air matanya meluncur deras. Bahkan Azizah sampai memalingkan wajahnya karena malu.
Ashraf pun kini tampak menundukan kepalanya. Hatinya hancur bagai butiran debu. Tanpa ia sadari matanya pun mengembun saking hatinya tak mampu lagi menampung kesedihan ini.
"Ka Ashraf, maafin Zizah!"
"Jika boleh tahu. Kakak mau penjelasan dari mu mengapa kamu memutuskan untuk menikah. Padahal Kakak sudah berjanji padamu, akan mengkhitbah mu setelah selesai kuliah dari mesir." ucap Ashraf. Ia hanya ingin penjelasan dari Azizah atas semua ini.
"Ayah yang menyuruh Zizah untuk menikah, Kak. Saat itu kami kesulitan ekonomi dan Ayah mengidap penyakit kanker. Beliau menyuruhku agar menikah dengan anak majikannya yang dia percaya bisa membuatku bahagia. Kami di fasilitasi rumah, mobil, dan juga biaya sekolah adik-adikku hingga selesai. Awalnya aku tidak mau, Kak. Tapi Ayah memaksaku. Beliau ingin anak-anaknya terjamin dalam soal harta setelah ia tiada. Demi baktiku padanya, aku rela menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai, Kak. Maafkan aku baru memberitahumu sekarang. Aku tak ingin membuat Kakak kepikiran hingga mempengaruhi Kakak dalam belajar."
"Kenapa tidak memberitahu Kakak tentang itu, Zizah. Kakak mungkin bisa membantumu bicara pada Ayah mu. Aku pun masih mampu jika hanya menyekolahkan adik-adikmu. Aku pun punya rumah yang tidak di tempati. Dan kamu bisa menempatinya. Kenapa kamu malah menikah dengannya, Zizah." ucap Ashraf dengan perasaan hati yang hancur.
lo elsa
jangan lupa like sama comment nya yaa biar author makin semangat nih nulisnya🥰