"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Malam di pesisir Jawa Barat tidak pernah sesunyi ini bagi Kirana. Setelah insiden di dermaga, suasana di kantor kontainer itu menjadi semakin canggung. Kirana sengaja menyibukkan diri dengan Reno, mengabaikan kehadiran Arka yang terus memperhatikannya dengan tatapan tajam dan dingin. Ia ingin membuktikan bahwa ia telah sepenuhnya sembuh dari pengaruh Arka, meski setiap kali mata mereka bertemu, jantungnya berkhianat dengan detak yang tak beraturan.
Reno mengundang Kirana untuk menghadiri sebuah makan malam eksklusif di sebuah resor mewah tak jauh dari lokasi proyek. "Ini untuk merayakan kerjasamamu dengan kementerian, Kirana. Kau butuh hiburan," ujar Reno dengan senyum manisnya yang tampak sempurna.
Namun, di sudut ruangan, Arka yang sedang meneliti berkas pengadaan material melihat sesuatu yang ganjil. Ia melihat Reno sedang berbisik di telepon dengan seseorang, menyebut-nyebut tentang sabotase beton dan kerugian Nirmala.
Insting Arka berteriak. Ia segera memanggil Dion, yang kini menjadi orang kepercayaannya di lapangan. "Dion, cari tahu siapa yang dihubungi Reno sepuluh menit lalu. Dan periksa gudang penyimpanan semen kita."
"Ada apa, Bos? Kau cemburu?" goda Dion.
"Ini bukan soal cemburu, Dion. Ini soal nyawa proyek ini. Reno bukan datang untuk cinta, dia datang untuk bangkai," desis Arka.
Kirana tampil mempesona dengan gaun malam berwarna merah marun. Reno mendampinginya dengan bangga. Namun, saat mereka baru saja hendak memulai makan malam, Arka muncul secara tiba-tiba. Ia tidak diundang, namun ia mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya tampak sangat dominan di ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini, Arka?" tanya Kirana dengan nada tidak suka.
"Aku hanya ingin memastikan partner kerjasamaku tidak menandatangani dokumen yang salah di tengah suasana romantis ini," ujar Arka sambil menarik kursi di meja sebelah mereka tanpa permisi.
Reno tampak tegang. "Tuan Mahendra, ini adalah acara pribadi. Tolong hargai privasi Kirana."
"Privasi?" Arka tertawa sinis. "Sejak kapan pengkhianatan menjadi bagian dari privasi? Reno, kenapa kau tidak ceritakan pada Kirana tentang pertemuanmu dengan vendor semen ilegal dua jam yang lalu?"
Wajah Reno memucat. Kirana menatap kedua pria itu bergantian. "Arka, kau sudah keterlaluan! Kau hanya iri karena Reno bisa memperlakukanku dengan baik, tidak seperti kau!"
"Kirana, dengarkan aku!" Arka berdiri dan mendekati meja mereka, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Pria ini bekerja untuk pesaing kita. Dia sengaja mendekatimu agar kau memberikan persetujuan pada material berkualitas rendah. Jembatan itu akan runtuh dalam dua tahun jika kau mengikutinya!"
"Cukup, Arka!" Kirana berdiri, air mata kemarahan menggenang di matanya. "Kau adalah orang terakhir di dunia ini yang berhak bicara soal pengkhianatan! Kau yang mengajariku cara menipu, kau yang merusak kepercayaanku! Jadi berhenti bersikap seolah kau adalah pahlawanku!"
Kirana menarik tangan Reno. "Ayo kita pergi, Reno."
Arka hanya bisa berdiri mematung saat melihat Kirana pergi bersama Reno. Ia merasa sesak. Ia ingin menarik Kirana kembali, namun ia sadar bahwa luka yang ia torehkan dulu terlalu dalam sehingga kebenaran darinya pun kini terdengar seperti kebohongan.
Di dalam mobil Reno, Kirana merasa tidak tenang. Ia melihat Reno terus-menerus melirik ke arah ponselnya.
"Reno, apakah yang dikatakan Arka itu benar?" tanya Kirana pelan.
"Tentu saja tidak, sayang. Dia hanya ingin memisahkan kita. Dia pria yang gila kontrol," jawab Reno sambil mencoba memegang tangan Kirana.
Namun, saat Reno turun sebentar untuk menerima telepon di depan hotel, Kirana melihat sebuah amplop cokelat tertinggal di dasbor mobil. Rasa penasaran mengalahkannya. Ia membukanya dan menemukan draf kontrak antara perusahaan Reno dan sebuah firma cangkang yang bertujuan untuk menyedot dana dari proyek jembatan nasional, proyek milik Kirana.
Darah Kirana seolah membeku. Air mata yang tadinya karena amarah pada Arka, kini berubah menjadi air mata kehancuran. Ternyata benar. Ia telah membiarkan dirinya ditipu lagi oleh pria lain, hanya karena ia terlalu sibuk membenci Arka.
Tiba-tiba, pintu mobil terbuka. Reno masuk kembali dengan wajah yang tidak lagi manis. Ia melihat amplop itu di tangan Kirana.
"Jadi kau sudah tahu?" suara Reno berubah menjadi dingin dan kasar.
"Kau... kau sungguh tega, Reno? Setelah semua masa lalu kita?"
Reno tertawa, tawa yang mengingatkan Kirana pada tawa Arka di masa lalu. "Masa lalu tidak membayar tagihanku, Kirana. Kau terlalu naif. Kau sangat mudah dipengaruhi jika menyangkut perasaan. Aku hanya memanfaatkan celah yang ditinggalkan Arka."
Reno mencengkeram lengan Kirana dengan keras. "Sekarang, kau akan ikut denganku dan menandatangani persetujuan vendor itu, atau reputasi Nirmala akan hancur malam ini juga!"
Di saat Kirana merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya, kaca jendela mobil di samping Reno hancur berkeping-keping. Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Reno.
Arka ada di sana. Ia tidak pernah benar-benar pergi, ia mengikuti mobil Reno sejak tadi.
"Lepaskan dia!" teriak Arka. Ia menarik Reno keluar dari mobil dan perkelahian hebat terjadi di bawah guyuran hujan. Arka melampiaskan semua amarah, rasa bersalah, dan cintanya melalui tinjunya.
Kirana keluar dari mobil, gemetar dan menangis. Ia melihat Arka yang sudah bersimbah darah namun tetap berdiri melindungi dirinya. Setelah Reno tersungkur tak berdaya, Arka berbalik ke arah Kirana.
Napas Arka tersengal-sengal. Ia mendekati Kirana yang sedang terduduk lemas di aspal. Arka melepaskan jasnya yang basah dan menyampirkannya ke bahu Kirana.
"Sudah kubilang, jangan percaya pada siapapun... termasuk aku," bisik Arka parau.
Kirana menatap Arka dengan tatapan hancur. "Kenapa kau kembali? Kenapa kau selalu muncul saat aku sudah siap untuk membencimu selamanya?"
Arka berlutut di depan Kirana, menangkup wajah wanita itu dengan tangannya yang luka. "Karena meski kau membenciku sampai mati, tugasku adalah memastikan tidak ada pria lain yang menyakitimu seperti yang pernah kulakukan."
Kirana memeluk Arka dengan sangat erat, menumpahkan segala tangisnya di dada pria itu. Di bawah hujan malam itu, kebencian dan cinta melebur menjadi satu kesakitan yang tak terlukiskan. Kirana sadar, ia terjebak dalam lingkaran setan bernama Arka Mahendra, dan ia tidak tahu apakah ia ingin keluar atau justru tenggelam lebih dalam.
...----------------...
Next Episode...