NovelToon NovelToon
CEO Posesif Untuk Putri Agresif

CEO Posesif Untuk Putri Agresif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Obsesi / Chicklit
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Riri__awrite

MAAF KARYA INI di REVISI. BARU SAMPAI BAB 6

Mauren adalah seorang putri dari keluarga kaya yang sedang tergila-gila menyukai adik dari seorang CEO berhati dingin dan tampan.

Suatu hari dia sengaja mengikuti adik sang CEO ke suatu night club. Maureen bertemu dengan Sean, sang CEO.
Mereka berdua beradu mulut, karena sang CEO tidak menyukai sikap Maureen kepada adiknya.

"Berhenti!" Maureen menghentikan seorang pelayan yang membawa dua gelas wine. "Kalo kamu bisa menghabiskan segelas wine ini, aku akan pergi dari sini tanpa mengganggu adikmu," tantang Maureen.

"Tapi, Nona. Wine ini milik-"

"Nanti saya ganti!"

Sang pelayan meneguk saliva-nya kasar. Tugasnya mengantarkan minuman yang berisi obat perangsang untuk seseorang gagal total.

Mau tau kelanjutan ceritanya? Yuk mampir dulu di cerita aku. Ini hasil karya original.
"CEO Posesif untuk Putri Agresif"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri__awrite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setuju

Maureen menatap sebal sebuah pintu apartemen yang berada di depannya. Ini sudah dua puluh menit dia berdiri bersama Key, menunggu Sean pulang.

"Kenapa dia lama sekali?" tanya Key. Dia sudah tidak tahan berdiri seperti tukang paket yang menunggu penerimanya membukakan pintu.

"Ayo, kita kembali ke mobil saja," ucap Maureen. Dia dengan sebal memencet bel apartemen sekali lagi. "Dasar pria brengs*k," umpatnya kesal.

Mereka berdua membalikkan badan menuju lift. Pintu pun terbuka menampilkan sosok pria berwajah datar menatap mereka.

"Pulang juga kamu," gumam Key.

Sean menatap kedua wanita itu secara bergantian dan kemudian tatapannya jatuh kepada Key. Dia mengunci tatapannya kepada wanita itu.

Maureen berdeham. "Aku ingin berbicara denganmu."

Sean hanya diam, tubuhnya yang masih berada di dalam liftnya akhirnya keluar. Melihat wajah wanita yang dia hamili membuat suasana hatinya bertambah semakin buruk setelah datang dari makan malam bersama keluarganya.

"Aku ingin kamu bertanggung jawab, dan segera menikahi aku," ucap Maureen. Dia menatap kedua manik mata Sean, rasa cemas di hatinya segera dia tepis.

Namun, pria itu hanya terdiam tanpa menjawab perkataan Maureen. Wanita itu kesal hingga memajukan langkahnya lantas menarik dasi hitam Sean dengan perlahan.

"Ni.ka.hi a.ku," ucapnya dengan penuh penekanan.

"Aku akan menikahimu, tapi dengan satu syarat," final Sean. Otaknya berputar memikirkan satu hal. Kedua tangannya masih berada di dalam saku celana. Santai, namun dominan mengintimidasi.

"OK. Asal kamu mau bertanggung jawab." Maureen menyetujui ucapan Sean. Dia tidak mau merepotkan ayah dan mamanya yang sedang marah sekaligus khawatir padanya. Tapi ini sungguh menyebalkan. Mengapa susah sekali meminta hal ini. Harusnya pria itu tidak usah banyak maunya, karena ini juga kesalahannya.

"Setelah menikah, jangan pernah ikut campur dengan kehidupan pribadiku, termasuk hubungan antara aku dan tunanganku," bisik Sean. Matanya terus menatap lurus Key yang berada di belakang mereka.

Wanita itu menaikkan sebelah alisnya, dia berjinjit, kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Sean. "Jika begitu, kamu pun tidak berhak mencampuri segala urusan pribadi ku."

Mereka berdua sama-sama tersenyum miring. Maureen tidak akan membiarkan pria ini dengan seenaknya merusak hidupnya dengan membuat peraturan aneh. Begitupun dengan Sean. Pria itu tidak akan membiarkan Maureen memasuki hatinya dengan merebut posisi Alice di hatinya.

"Key, urusan kita dengannya hari ini cukup di sini," ucap Maureen seraya membalikkan badan membelakangi Sean.

Key menghampiri mereka berdua. "Kau harus menikahi Maureen, atau aku akan menghancurkan citra keluarga dan perusahaan yang kau junjung tinggi itu!" ancamnya.

Sean tersenyum miring. "Manusia biasa, tanpa kuasa, dan lemah seperti kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa. Satu lagi. Derajatmu tidak sebanding dengan adikku," ucapnya sombong, lalu melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

"Dia memang brengs*k. Jika kamu tidak menyukainya ceraikan saja dia setelah kamu melahirkan, Maureen. Aku ragu, dia bukan manusia yang bisa baik kepada wanita," ucap Key yang masih menatap punggung tegap Sean yang pergi menjauhi mereka.

...****************...

Maureen merebahkan tubuhnya di atas kasur berwarna biru muda. Matanya menengadah menatap langit-langit kamar. Dia saat ini bimbang. Usia kandungannya ternyata sudah satu bulan. Sepulang dari apartemen Sean tadi, dia langsung menuju dokter kandungan bersama Key untuk memeriksa kehamilannya.

"Apakah aku harus memberi tahu mama dulu?" gumamnya. Maureen menghela napas berat. Pikirannya berpencar kemana-mana.

Lamunan Maureen tiba-tiba buyar, dia terperanjat ketika mendengar suara pintu digedor berulang kali. Sangat keras.

"Ck, siapa, si? Tidak sopan sekali,," gerutunya. Dia bangkit dari posisinya, dan melangkahkan kakinya dengan lesu untuk membukakan pintu.

ceklek

Baru saja membuka kunci, pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dari luar, menampilkan sosok Estian yang masih mengenakan jasnya. Dia pasti baru pulang dari hotel.

"Kemari." Estian menarik Maureen masuk ke dalam kamar wanita itu sendiri, lantas menutup pintu kamar dan menguncinya.

"Sedang apa kamu ke dokter kandungan?" tanya Estian tiba-tiba.

Maureen terkejut mendengar itu, namun dia dengan cepat mengubah air wajahnya menjadi biasa saja.

"Tahu dari mana, Abang?"

"Jawab pertanyaan Abang! Kamu sedang apa ke dokter kandungan, hah?" Kal ini Estian menaikkan intonasinya. Tangannya yang masih menggenggam erat telapak tangan Maureen mengepal kuat. Hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.

"Bang, sakit!" sentak Maureen.

Estian langsung melepaskan genggamannya. "Maaf."

Maureen menghela napas panjang. Dia menatap mata Estian dengan mata sayunya. "Maafkan aku, Bang. Kamu pasti tahu sendiri jawabannya."

Estian mengusap wajahnya kasar. Kecewa, kasihan, dan khawatir. Perasannya tercampur rata. "Dia harus segera menikahimu, Abang akan membicarakan ini ke ayah." Estian menarik Maureen ke dalam pelukannya. Dia merasa bersalah karena merasa gagal menjaga adik perempuan satu-satunya.

"Abang, Maureen takut," cicitnya.

"Tidak usah takut. Kamu harus kuat. Abang akan selalu ada untukmu," ucap Estian seraya mengusap lembut surai rambut Maureen.

Maureen tersentuh mendengarnya. Kemana Estian yang selalu membuat dia kesal? Dan kemana Estian yang selalu menjahilinya?

Maureen mengeratkan pelukannya kepada Estian. Dia masih sulit menerima kenyataan ini, kenyataan dia hamil di luar nikah. Maureen pun menangis. Dia menangis dalam diam.

"Ck, ingusnya jangan di lap-in ke jas Abang," Estian mendorong kepala Maureen menggunakan telunjuknya, hingga membuat wanita itu mundur beberapa langkah.

"Abang!" teriaknya.

"Apa?!" Estian malah melototkan matanya.

"Tuh, sifat buriknya balik lagi. Kamu direktur hotel apa gimana, si, Bang. Bisa-bisanya ayah milih kamu. Harusnya bang Samuel saja," ucap Maureen.

"Adik laknat kamu, ya!" Estian melemparkan bantal ke muka Maureen. Membuat wanita itu tertawa dan alhasil mengejarnya. Mereka berdua malah bermain kucing-kucingan di dalam kamar Maureen, tak lupa barang-barang berserakan di mana-mana.

"Abang, kamu itu sudah tua. Jangan seperti ini terus," ucap Maureen. Dia kesal karena dari tadi tidak berhasil menangkap tubuh Estian.

"Iya, makanya kamu jangan nyusahin Abang terus." Estian menghampiri adiknya yang sudah ngos-ngosan, dia mendekap tubuh kecil itu. "Ini, pukul tubuh Abang sepuasnya."

"BAGIMANA MAU MUKUL! ABANG SAJA MENGAPIT KEPALAKU DI KETEK BAUMU INI!" Maureen berteriak kesal. Napasnya naik turun, ingin segera membunuh kakak jahatnya ini.

"Maureen! Kenapa teriak-teriak?!" Mereka berdua seketika terdiam, dan saling melirik.

"Lihat ini jam berapa!" Tessa dengan tangan yang berkacak pinggang menggedor pintu kamar Maureen yang terkunci. Ibu dengan tiga anak itu terkejut saat melewati kamar anaknya, namun malah mendengar suara teriakan Maureen dari dalam.

"Abang Esti, Ma! Turunkan jabatannya jadi cleaning service saja!" teriak Maureen dari dalam kamar, posisi kepalanya masih berada di ketek Estian.

"Estian, tidur! Kamu sudah tua masih saja kayak anak kecil! Cepat keluar!" Tessa menggelengkan kepalanya, dia sudah terbiasa dengan kelakuan anak pertamanya itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terima kasih sudah mampir di cerita ini...

Mohon dukungannya ya kakkk

1
YouTube: hofi adawiyah
aku mampir thor 🥰 mampir juga yuk ke novelku judulnya Sahabatku Berkhianat
Cokies🐇
jangan galak" bang
Cokies🐇
kelakuan
El
loh kok berhenti mendadak
padahal aku udah sayang sama Sean 😭
El: wkwkwk
maaf yaa baru bisa mampir 🤗🤗🤗
total 2 replies
El
aku udah tegang padahal😭
El
si kampret
El
nah kan rasain
El
nanti nyesel
El
akan aku tunggu kebucinanmu Sean 🤨
El
gak Sean, gak Devan kelakuannya bikin pengen nonjok 😤
El
aku senang saat Sean menderitaaaa 🤣
El
hajar aja
hajarr aku dukung 😤
meilin
seru bgt ka..... semangat up nya
raazhr_
ada loh Van, kmu aja yg blum rasain😔
raazhr_
aku mampir kak, aku baca pelan-pelan ya ceritanya bgus auto ku save 😉🌷
raazhr_
waduh, Maureen are you gwenchana?🥺
raazhr_
to the point bgt ya Maureen🤣
〈⎳ FT. Zira
setangkai 🌹mendarat untukmu thor.. buruan update yaa
〈⎳ FT. Zira
mau ketawa takut dosa.. tpi aku gak tahan🤣🤣🤣
Silvi Aulia
ceritanya makin seru 🤗

aku mampir lagi nih bawa like and subscribe 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!