Sebuah cerita cinta di kota Paris, antara dua orang yang berbeda latar belakang. Lucy yang seorang wanita yang di jual oleh ayahnya ke bos sebuah bar untuk melunasi hutang judinya dan di selamatkan oleh Andre, seorang laki-laki kaya yang sedang patah hati karena di tolak oleh cinta pertamanya. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dan janji di bawah menara Eiffel. Walaupun Lucy tau bahwa Andre masih belum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Dapatkah Lucy membuat Andre benar-benar jatuh hati kepadanya dan melupakan cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea El Kyra Riiyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
"Lucy... Lucy...." teriak seorang paruh baya memanggil cucunya.
Gadis yang bernama Lucy itupun melihat kearah sumber suara yang tak lain adalah neneknya dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Ada apa nek? Aku akan segera kesana setelah memetik kubis-kubis ini." ucap Lucy setengah berteriak.
Sang nenek hanya melihat dari kejauhan tanpa dapat mendengar dengan jelas apa yang di katakan oleh cucunya itu. Karena di usianya yang sudah cukup senja pendengaran lansia itupun mulai berkurang.
"Aku tidak tau apa yang kau ucapkan, ah aku akan beristirahat sendiri di gubuk sambil menyiapkan makan siang." oceh wanita tua itu berlalu.
Dengan semangat Lucy memetik kubis-kubis dan memasukannya ke dalam keranjang agar lebih mudah di bawa nantinya. Dengan senandung kecil ia memetik kubis itu, namun tiba-tiba tangannya berhenti dan meletakkannya ke perutnya yang ramping.
"Ahh aku lapar, sepertinya perutku sudah memberontak dan ini segera di isi." ucap Lucy memandang ke arah tempat neneknya berada.
Ia tidak melihat neneknya di tempat tadi saat nenek itu memanggilnya, Lucy melihat kesana kemari mencari-cari di mana keberadaan wanita tua itu namun tidak menemukannya.
"Baiklah, orang tua itu sudah meninggalkan ku sendiri di sini. Aku yakin dia tidak mendengar apa yang ku katakan tadi." gumam Lucy.
Lucy mengangkat keranjang berisi kubis dan meletakkannya ke sebuah gerobak dorong. Dengan langkah kecil namun pasti ia mendorong gerobak itu berjalan menuju sebuah pondok kecil di pinggir kebun dan meletakkannya di sana.
Setelah meletakan kubis-kubis itu di tempat yang aman Lucy menjulurkan lehernya ke dalam gubuk yang ternyata benar neneknya berada di dalam sedang memasak sebuah sup dan membakar roti di atas bara api.
"Kenapa nenek tidak menunggu ku untuk makan siang?' tanya Lucy dari luar.
"Aku tidak mendengar apa yang kau ucapkan tadi, ku pikir kau sudah kenyang dengan hanya memetik kubis-kubis itu." ucap nenek.
"Nenek bercanda, perutku sampai memberontak ingin segera di isi." ucap Lucy cemberut.
"Ha ha ha, baiklah-baiklah. bersihkan dirimu dan kita akan makan bersama, aku sudah menyiapkan sup dan roti untuk mu." ucap nenek sambil tertawa mendengar perkataan cucunya itu.
Lucy segera mengerjakan apa yang neneknya katakan, ia segera membasuh tangan dan kakinya di sebuah pancuran yang tidak terlalu jauh dari pondok itu. Seelah selesai ia masuk ke pondok dan duduk dengan manis bak kucing menunggu makanandi berikan oleh majikannya.
"Ini makanlah, beberapa bulan lagi akan masuk musim dingin. Aku akan menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membelikan mu baju hangat yang baru." ucap nenek sambil menyuap rotinya.
"Tidak perlu membeli baju hangat yang baru, yang kemarin-kemarin saja masih bagus dan masih hangat saat di pakai. Itu hanya membuang-buang uang, lebih baik nenek menyimpannya." ucap Lucy.
"Baju hangat mu sudah kekecilan semua, aku sudah memeriksa semuanya. Lagi pula kau membutuhkannya untuk keluar bertemu dengan teman-teman mu nantinya." ucap nenek.
Lucy hanya diam dan memakan makanannya tanpa memperdulikan ucapan neneknya. Ia hanya hidup berdua dengan neneknya setelah satu tahun yang lalu ibunya meninggal.
"Nenek, bagaimana jika aku mencari pekerjaan? Uangnya dari gaji ku itu bisa kita gunakan untuk membeli apapun nantinya." usul Lucy.
"Jangan bercanda, kau baru saja lulus sekolah. Lagian pekerjaan apa yang akan kau dapat jika hanya tamat SMA?" tanya nenek.
"Aku bisa menjadi pelayan toko atau restoran, itu semua gajinya lumayan dan cocok dengan tamatan ku." ucap Lucy meyakinkan.
"Aku tidak setuju, apa kau tau kejahatan di kota kita sangat mengerikan. Mereka bisa saja mencelakai pegawai toko yang pulang larut malam. Aku tidak bisa mengizinkan mu bekerja seperti itu." ucap nenek marah.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri nek. Dan juga aku akan mencari toko yang hanya buka pada siang hari." ucap Lucy membujuk.
"Aku tidak mengizinkan mu. Sudah, cepat kau habiskan makanan mu dan jangan bicarakan ini lagi." ucap nenek kesal.
Tolong tetap lanjutkan ya sisi
sekali kali cowok kek yg berkorban agama, perasaan Andre ga pernah berjuang apa apa deh untuk lucy, cuma karena andre kaya Trus bisa kasi lucy pekerjaan dan uang, selebihnyaa yg berkorban Lucy terus
Sehingga pembaca storymu tetap stay menanti