Tiga tahun menikah, Aize akhirnya dinyatakan hamil di saat suaminya, Cakra, divonis memiliki masalah kesuburan. Aize tak pernah berselingkuh, dia selalu setia dengan pernikahannya dan tak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, sehingga dia yakin anak dalam kandungannya adalah anak sang suami.
Namun, saat Aize tengah berbahagia menantikan kelahiran anaknya, pria yang mengaku telah menghamili muncul. Dia adalah, Biru saudara kembar Cakra yang selama ini tak pernah Aize dan Cakra kenal. Tiba-tiba saja dia datang membawa dendam untuk Cakra atas kesalahan orang tua mereka di masa lalu.
Akankah Aize bersikap jujur pada Cakra tentang Biru yang menghamilinya? Apakah Carkra akan menerima anak dari orang lain yang telah menikmati tubuh istrinya?
follow ig aku ya @ittaharuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DKS ^ Bab 8
Setelah mengetahui cerita dari Cakra mengenai kembarannya yang telah meninggal, Aize tak berani bercerita apa-apa mengenai Birru yang muncul dan mengaku telah membuatnya hamil. Wanita itu pikir, dia harus menghadapi Birru sendiri dan mencari tahu apa tujuan Birru menghancurkan hidupnya dan Cakra.
Aize masih tetap bungkam dan bersikap seolah tidak apa-apa di hadapan Cakra. Ia masih melayani suaminya dengan baik meski pikiran dan hatinya terus mengarah pada siapa ayah kandung dari bayi dalam kandungannya.
Seperti biasa, Aize mengantarkan suaminya ke pintu depan. “Hati-hati, Mas. Jangan pulang terlambat!” pesan Aize pada sang suami yang hendak berangkat kerja.
“Iya, Sayang! Nanti kalau pengen apa-apa bilang, ya! Papa nggak mau anak Papa ini nanti ileran!” balas Cakra sembari mendaratkan kecupan di perut buncit Aize.
“Ih, mana mungkin anak kita ileran!”
Cakra terkekeh dan memeluk Aize dengan perasaan sayang yang luar biasa. “Kehamilan kamu udah makin besar, kalau ada apa-apa langsung telfon aku ya, Sayang.”
Sangat wajar jika Cakra mencemaskan keadaan Aize yang tengah hamil besar dan sendirian di rumah. Sebenarnya, Cakra sudah mengusulkam agar ibunya bisa datang, tapi Aize bersikeras menolak. Wanita itu memang tak pernah cocok dengan ibu Cakra dan Aize tak ingin bertambah stres jika harus ditemani ibu mertuanya itu.
“Pasti, Mas. Aku akan selalu bawa HP ke mana pun,” kata Aize saat pelukan Cakra terlepas. Wanita terus tersenyum sambil melambaikan tangan hingga mobil Cakra menghilang dari pandangannya.
Beberapa waktu setelah kepergian Cakra, Aize pikir dia harus menemui Birru dan menyelidiki apa yang menjadi masalah utamanya. Namun, sepertinya tanpa perlu Aize mencari, Birru yang berinisiatif mendatanginya.
Suara ketukan pintu membuat perhatian Aize teralihkan. Wanita itu segera membuka pintu, dan benar saja Birru sudah muncul dengan pakaian yang sama persis dengan milik Cakra.
Aize menatap pria yang berdiri di hadapannya itu. Dia sudah mulai bisa membedakan antara Cakra dan Birru.
“Mau apa kamu ke sini?” sentak Aize yang tak bisa mengontrol emosi saat berhadapan dengan Birru. Padahal, sebelumnya dia sendiri yang berniat ingin menemui kembaran suaminya itu.
Laki-laki itu hanya tersenyum sinis. Lalu, memasuki rumah Cakra dan Aize seolah itu adalah rumahnya sendiri. Ia kemudian duduk di sofa dengan meletakkan kaki di atas meja. Benar-benar membuat Aize kehilangan kesabaran.
“Heh! Kamu tahu sopan santun nggak? Kamu bukan Mas Cakra!” teriak Aize.
Wanita itu hendak memukul kaki Birru dengan bantal sofa, tapi dengan sigap Birru menurunkan kakinya.
“Aku datang untuk mengunjungi anakku dan memastikannya sehat,” balas Birru dengan seringai licik.
Aize sudah tak tahan lagi. Dia tidak suka mendengar Birru menyebut bahwa bayi itu adalah anaknya. “Sebenarnya apa yang udah kami lakukan sampai kamu sejahat ini ingin menghancurkan kami?”
“Kamu benar-benar mau tahu kenapa aku membenci Cakra dan ingin menghancurkannya?” tanya Birru dengan sorot mata meremehkan.
Aize mengatur napasnya yang tersengal dan menatap Cakra dengan muak. “Katakan!”
Birru menegakkan duduknya dan melirik Aize yang berdiri di dekat pintu. “Bayangkan kalau kamu adalah anak kembar yang dijual oleh orang tuamu demi kehidupan layak untuk saudaramu!”
Aize memicingkan mata mendengar pengakuan Birru yang cukup mengejutkan. “Maksud kamu apa?”
“Saat aku dan Cakra lahir. Orang tua kami sangat miskin. Suami kamu itu sakit-sakitan sejak lahir. Demi membayar rumah sakit dan membuat kehidupannya lebih baik, orang tua kami menjualku pada orang kaya dan membawaku ke Jepang,” jelas Birru dengan gurat marah yang terlihat jelas di wajahnya. “Aku hidup bersama orang asing di negara yang asing. Jika kamu pikir kehidupanku sangat baik, kamu salah. Setelah orang tua angkatku meninggal. Aku disiksa dan bahkan dijadikan giigolo. Aku bertarung dengan nasibku sendiri sementara suamimu hidup tenang bersama orang tua menjijikkan itu. Harusnya suami kamu yang merasakan penderitaanku ini, Aize!”
***
Kira-kira Aize bisa luluh nggak sama cerita Birru?