Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Satu bulan kemudian.
Suasana rumah baru, terasa lebih hangat karena kehadiran putra sulung dan si bungsu. Semakin ke sini, hubungan Girga dan Delina pun kian membaik. Bahkan, mereka sempat memperlihatkan keromantisannya di depan kedua anaknya. Mereka sangat bersyukur karena semenjak keluar dari rumah sakit, Valeska selalu ceria.
Bahkan, dia selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah padahal dokter menyarankan untuk home schooling agar kondisinya lebih terjaga. Ya, namanya kanker otak grading 4, kita bisa berharap apa? Mereka hanya takut penyakitnya tiba-tiba kambuh. Baru satu minggu kembali ke sekolah, kondisi Valeska mengalami collapse, tapi untungnya tidak harus dirawat inap.
"Adek sekolah di rumah aja ya," suara Girga terdengar lembut, tapi penuh harap. "Kalau adek bosan, nanti Papa undang teman-teman adek ke sini."
"Kenapa? Adek nggak apa-apa kok, Pa. Adek masih kuat," jawab Valeska, dia tersenyum tipis sembari mencoba meyakinkan orang tuanya.
Delina hanya bisa memandangi putrinya, hatinya terasa ngilu. Rambut Valeska yang dulu lebat kini tinggal setengah, nyaris habis. Bagaimana bisa, dia berkata baik-baik saja. Padahal, dia selalu berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
Tangannya terangkat perlahan, menyentuh rambut yang kini terasa begitu tipis. Dia mengambil segenggam rambut yang rontok tanpa henti, memainkannya sejenak, lalu tersenyum. Senyuman tulus itu justru membuat Delina semakin pilu. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh juga. Dengan lembut, ia mendekap tubuh putrinya yang kian ringkih.
"Mama ..." Valeska berbisik pelan, "Adek nggak apa-apa. Lagian kan sebentar lagi tahun baru. Adek mau tampil beda. Tampilan baru buat tahun baru, hehe."
Delina melepaskan pelukan itu, lalu menghapus air matanya dengan tergesa.
"Adek nakal," ujarnya setengah bercanda.
"Adek nggak nakal. Yang nakal itu monster di tubuh Adek," balas Valeska sambil terkekeh ringan, mencoba menyisipkan keceriaan di antara kesedihan mereka.
Valeska memandang abangnya, yang duduk tak jauh dari mereka. "Adek nggak akan menyerah secepat itu, soalnya adek mau jadi, Kakak!" serunya penuh tekad.
Kaivandra mengernyit. "Dek, masih aja kepikiran mau punya adik? Ya ampun, buat apa sih? Kan udah cukup, kamu cantiknya abang ..."
Valeska menggeleng pelan. "Abang nanya buat apa? Ya, buat jaga-jaga. Kalau sewaktu-waktu adek udah nggak ada di sini, jadi ada yang nemenin Mama sama Papa. Lagi pula, ini kan demi kebaikan kita semua."
Kata-kata itu menghujam hati mereka. Kaivandra memalingkan wajah, matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan Delina memberikan kode kepada suaminya agar mengajak Kaivandra keluar, membiarkan mereka berdua agarber bicara lebih leluasa.
"Udah waktunya tidur siang, yuk tidur bareng Mama," ajak Delina, mencoba menenangkan.
"Tapi, adek mau tidur di sini aja. Nggak mau di kamar," ujar Valeska dengan nada memohon.
Delina tersenyum kecil dan mengangguk. "Boleh," jawab Delina. Valeska tidak pernah menolak saat mamanya mengelus bagian kepalanya yang sudah rusak habis di makan penyakit yang menyiksanya. Sementara itu, di taman belakang, Girga dan Kaivandra duduk berdampingan. Langit mulai meredup, membawa suasana yang semakin sendu.
"Papa, abang nggak mau punya adik lagi," suara Kaivandra akhirnya memecah keheningan, "Adik Abang hanya Valeska. Abang nggak butuh pengganti."
Girga menarik napas dalam, mencoba meredakan gejolak di dadanya. "Papa juga nggak pernah berharap seperti ini, bang. Tapi, ini permintaan adek. Kita nggak tahu apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita."
Girga sangat berat untuk mengatakan hal ini, tapi mau gimana lagi? Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Papa kenapa nggak coba menasehati, adek? Abang mau kita fokus sama kesehatannya, abang punya firasat buruk terkait ini, abang nggak mau kepergian adek digantikan dengan yang baru, abang nggak mau, Papa." Bantah Kaivandra.
"Papa udah berusaha, bang. Tapi akhirnya, adek mogok makan, nggak mau minum obat, bahkan nangis secara terus menerus,"
Kaivandra hanya bisa diam, menelan rasa sesak di dadanya. "Kalau memang itu yang terbaik buat a dek, abang coba terima," ujarnya lirih.
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, Girga dan Delina memutuskan tidur di kamar yang sama. Biasanya, Delina lebih memilih menemani Valeska, tapi malam ini mereka ingin berusaha mewujudkan keinginan putrinya, sekaligus memohon kekuatan dan keajaiban.
Di dalam doa yang panjang, Delina berharap Tuhan mengabulkan keinginan Valeska. Bukan untuk menggantikan, melainkan sebagai pelengkap kebahagiaan yang pernah mereka miliki. Sebuah harapan kecil ditengah ketakutan yang besar.
***
Hari berikutnya, Valeska sudah kembali bersekolah. Jika biasanya ia pergi menggunakan sepeda motor, kini segalanya telah berubah. Ke mana pun ia pergi, selalu diantar-jemput oleh orang tuanya dengan menggunakan mobil. Sejauh ini, Valeska masih keras kepala agar datang ke sekolah secara langsung, padahal semua guru pun sudah memakluminya jika dia mau home schooling pun boleh-boleh saja.
"Lho, kenapa adek jadi murung kayak gini? Padahal, ini masih pagi," tanya Girga, saat melihat putri bungsunya termenung tanpa semangat.
Valeska hanya diam. Dia harap, papanya pasti sudah paham apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Setelah beberapa saat, Valeska mulai melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di belakang, ada sang papa yang tetap setia menemaninya.
"Nanti, waktu istirahat jangan lupa minum obat, ya. Dan bekalnya dimakan sampai habis," pesan Girga, berhenti tepat di depan pintu kelas.
"Iya, Papa. Adek tahu kok. Minum obat, makan yang banyak. Itu-itu lagi," balas Valeska, suaranya terdengar bosan.
Girga tersenyum kecil sambil mengusap lembut punggung Valeska. "Jangan nakal, ya. Kalau capek, istirahat saja. Jangan dipaksakan. Papa pamit dulu, mau ke kantor,"
"Oke, hati-hati di jalan, Pa," ucap Valeska, kali ini dengan nada lebih pelan.
Setelah papanya pergi, Valeska mulai masuk ke dalam kelas dan memilih duduk di bangku paling depan. Pandangannya yang sering kabur membuatnya tak punya pilihan lain. Namun, kehadirannya di kelas langsung menjadi topik pembicaraan beberapa teman sekelas.
"Gue nggak nyangka, ya, Valeska itu sakit kanker. Wajahnya berubah banget. Pipi tirus, kulitnya pucat," bisik salah satu siswa.
"Tapi, semangatnya nggak pernah luntur. Kalau gue sih, demam dikit aja rasanya mau bikin wasiat," sahut temannya sambil tertawa pelan.
"Iya, bahkan rambutnya udah mulai hilang sebagian, jadi harus pake topi buat nutupin kepalanya,"
"Udah, jangan ngomongin dia lagi. Mending kita doain aja, biar dia cepat sembuh," ucap yang lain, mencoba menghentikan pembicaraan.
Valeska mendengar semua itu. Namun, ia memilih untuk tidak menanggapi. Ia hanya duduk diam sambil menunggu kehadiran teman-teman dekatnya. Tak lama, suara ceria Anaya memecah suasana yang tadinya hening.
"Halo, guys! Eh, Valeska, rajin banget udah sampai duluan," sapa Anaya sambil melambai.
Di belakangnya, Laksha dan Prisha sudah ribut sendiri. Laksha mencubit Prisha, karena permen satu-satunya direbut begitu saja.
"Shh! Sakit! Kenapa sih lo cubit gue?" protes Prisha.
"Gue, nggak terima, lo ambil permen gue!" jawab Laksha sengit.
Valeska hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Kalian ribut terus. Ada apa lagi sekarang?" tanyanya heran.
"Nggak ada apa-apa," jawab Laksha cepat.
"By the way, lo mau sekolah sampai selesai atau setengah hari aja?"
"Setengah hari. Nanti juga Papa jemput," jawab Valeska dan mereka pun mengangguk paham.
Prisha, menyodorkan botol air minum tepat di hadapan Valeska. "Ini, minum dulu. Kata Ayah, lo harus banyak minum biar nggak cepat dehidrasi,"
"Makasih," jawab Valeska dibarengi senyuman tipisnya.
Bel istirahat pertama sudah berdering, begitu Valeska dan teman-temannya sudah sampai di kantin, atensi mereka pun tertuju pada gadis yang memakai sweater berwarna biru dengan topi yang warna senada.
Sebagian dari mereka ada yang menganggapnya berlebihan, dan ada juga yang malah terharu, karena ketiga temannya selalu memperhatikan Valeska. Sementara itu, pesanan merekabertiga telah tiba. Sebelumnya, mereka sudah memesan terlebih dahulu, terkecuali Valeska, dia membawa bekal dari rumah.
"Mau gue bantu bukain?" tawar Prisha, yang duduk di samping Valeska.
"Nggak usah, gue bisa sendiri," jawab Valeska.
"Bisa sendiri, tapi dianterin Papa sampai depan kelas," sindir Anaya sambil tertawa kecil.
Laksha ikut menimpali, "Iya, dianterin dan dijagain pula," mendengar hal itu, Valeska pun melotot, karena tak terima.
"Ya, nggak apa-apa. Itu tandanya, Papa sayang gue. Daripada kalian, sekolah nggak pernah dianterin. Apalagi Anaya, ke mana-mana pasti sama sopir!" balasnya tajam.
Kali ini Prisha menekan suara mereka. "Udah, hari ini kalian cerewet banget. Jangan ganggu Valeska makan."
Tidak ingin membuang kesempatan, dia pun kembali mengadu seperti anak kecil. "Sha, mereka jahat. Masa ngomongin gue gitu. Kan gue kayak gini karena sakit kanker,"
"Eh ..." lanjut Anaya dan Laksha secara kompak. Jujur, niat mereka hanya bercanda.
"Hayoo lho, Valeska ngambek," sahut Prisha, ikut membuat kedua temannya panik.
"Gue memang penyakitan, gue gak sehat kayak dulu. Gue jadi lemah tidak berdaya,"
"Val, gue sama Anaya cuman bercanda," ujar Laksha tak enah hati.
"Badan gue udah ringkih, banyak yang hilang dari kehidupan gue setelah divonis penyakit ini. Benar apa kata kalian berdua, gue manja, karena sakit, gue jadi lemah lunglai seperti ayam sayur." Lanjutnya Tidak kalah dramatis.
Prisha tersenyum, mengusap punggung Valeska. "Udah, jangan dengerin mereka. Fokus makan aja, habis itu minum obat, ya."
"Gue penyakitan Sha, gue seperti ayam sayur yang lemah tak berdaya," jawab Valeska sambil mendengus kecil.
"Val, sorry. Beribu-ribu sorry, kita berdua gak bermaksud ..."
"PRANK!" Jawab Valeska diakhiri dengan kekehan ringan.
"Hush! Gue kaget, dan sekali lagi sorry, perkataan tadi kayak isi hati lo,"
Tanpa menjawab, Valeska pun merangkul Anaya.
"Santai aja kali, gue gak selemah itu."
***
Kegiatan hari ini terasa lebih hidup karena Laksha, Anaya, dan Prisha mengikuti perlombaan voli antar kelas yang diadakan oleh OSIS. Sementara itu, Valeska tetap setia menyemangati teman-temannya dari pinggir lapangan.
Setelah pertandingan selesai, sebagian murid SMA Mandala Kencana, langsung berbondong-bondong masuk ke dalam kelas, mencari kenyamanan di bawah hembusan AC. Di tengah keramaian itu, Valeska memilih duduk sendiri, menunggu teman-temannya datang. Dia menikmati momen tenang dengan scrolling media sosial. Fokus matanya tertuju pada video seorang idol asal Korea Selatan kesukaannya, seolah dunia sekitarnya berhenti, memberinya waktu untuk bahagia dengan caranya sendiri.
Sementara itu, Laksha, Anaya, dan Prisha, masih asyik bermain bola voli meski pertandingan telah usai. Dengan penuh semangat, mereka saling mengoper bola, melompat ke sana kemari, menikmati sisa energi setelah bertanding. Dalam keheningan lapangan yang mulai sepi, suara Anaya tiba-tiba terdengar meski jaraknya sekitar tujuh meter dari tempat Valeska duduk.
"Jadi, kelas sebelah kalah lagi?" tanyanya santai.
Laksha, yang sedang mengambil bola, menjawab sambil tertawa kecil. "Iya lah, siapa dulu dong ketuanya?"
"Prisha, gitu lho. Anak dokter Rijal yang cantik tapi sedikit centil," kata Anaya, yang langsung disambut dengan gelak tawa.
Setelah tawa reda, mereka bertiga menghampiri Valeska. Melihat teman-temannya datang, Valeska segera mengalihkan perhatian dari layar ponselnya.
"Selamat ya, gue denger, hari ini kalian menang lagi," ujar Valeska sambil tersenyum.
"Sebagai hadiah, kalian mau apa dari gue?"
Laksha dengan cepat menjawab penuh percaya diri, "Traktir kita makan pizza, dong,"
"Traktir kalian doang? Yang lain juga pasti mau, kan?" balas Valeska.
"Udah ah, gue pesenin buat satu kela saja." Lanjutnya tanpa meminta persetujuan ketiga temannya.
"Itu kebanyakan," sela Prisha.
"Nggak apa-apa," jawab Valeska sambil tersenyum.
"Asal dimakan aja. Kalau kalian bahagia, gue juga ikut bahagia."
Tanpa menunggu lama, Valeska memesan pizza berukuran 1 meter. "Udah gue pesenin," katanya santai.
Ketiganya spontan memeluk Valeska dengan hangat sambil berkata kompak, "Makasih, lo memang yang terbaik."
Di dalam pelukan, Valeska tertawa kecil kemudian berkata. "Gue kuat, gue berani, itu semua karena ada kalian dan berkat keluarga yang selalu ada buat gue. Terima kasih ya, semoga suatu hari nanti, kalian tetap inget bahwa gue pernah ada, pernah tertawa bareng kalian, dan pernah merasakan hidup seutuhnya bersama kalian." Valeska berkata pelan, membuat teman-temannya terharu.