Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30
Kini keduanya sedang berada di dalam kamar. Baik Rendra, maupun Alice keduanya saling memeluk satu sama lain.
Apalagi setelah mendengar pengakuan Rendra yang mencintainya di depan banyak orang membuat Alice benar-benar merasa beruntung.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Rendra ketika melihat Alice yang sejak tadi terus memainkan bagian dadanya, setelah percintaan panas mereka malam ini.
Mereka berdua berada di bawah selimut tanpa sehelai benang pun. Kulit mereka saling bersentuhan, menghantarkan rasa hangat yang mendalam.
"Tidak ada. Aku hanya belum percaya jika om-om yang jarang bicara ini, ternyata bisa mengatakan pernyataan cinta di depan banyak orang. Apakah aku harus bangga?" Rendra menatap malas pada wanita yang mungil di dalam pelukannya ini.
"Om-om siapa yang kau maksud?" katanya terlihat tidak senang.
"Kamu tau gak, istilah zaman sekarang duren sawit?"
"Apa itu?" tanya Rendra yang tidak paham dengan apa yang dikatakan wanita Alice padanya.
"Duren sawit itu, duda keren sarang duit. Selain ganteng, kamu itu juga kaya raya." ujarnya membuat Rendra berdecak disana.
"Kau baru sadar jika aku kaya?" jawabnya sombong membuat Alice tersenyum.
"Sudah, ayo kita mulai mencicil hutangmu lagi."
"Hah?!" pekik Alice yang terkejut.
Mereka sedang asyik bercerita dengan santai, tiba-tiba saja Rendra mengajaknya kembali berduel untuk membayar hutang. Laki-laki ini memang sangat luar biasa sekali.
"Apa tidak bisa malam ini sekali saja? aku benar-benar lelah. Aku butuh istirahat. Apalagi kata kamu besok kita akan pergi ke Amerika. Tapi, apa harus secepat ini?"
"Tidak ada kata cepat Alice. Aku bahkan sudah memikirkan pernikahan seperti apa yang kau inginkan. Jadi, katakan padaku bagaimana pernikahan impianmu?" tanya Rendra padanya.
Alice terdiam, jika ditanya pernikahan seperti apa yang dia inginkan maka dia tidak punya referensi apapun. Dia bahkan tidak pernah berpikir akan menikah dalam hidupnya. Karena sejak kepergian Rendra waktu itu, tujuan utamanya hanya merawat putranya tanpa ingin memikirkan pernikahan di dalamnya.
Alice tidak ingin menambah sosok apapun dalam hidup putranya pada saat itu. Bukan berarti dia berharap laki-laki itu kembali, hanya saja sulit untuk memulai dengan apa yang telah terjadi.
"Jika ditanya seperti apa pernikahan impian, kakakku benar-benar tidak memiliki pernikahan impian apapun. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama Neil."
"Hanya dengan Neil? Bagaimana denganku? kau tidak berpikir hanya ingin memiliki satu anak saja bukan?" pertanyaan macam apa ini.
Kenapa tiba-tiba saja Rendra bertanya hal seperti itu. Jangan bilang jika laki-laki ini menginginkan anak kedua darinya?
"Jangankan anak kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan seterusnya pun aku masih sanggup."
"Aahhhkkk..." Rendra berteriak dengan kencang saat tiba-tiba saja Alice menggigit dadanya dengan kuat.
Hal itu membuatnya berteriak, hingga terdengar keluar kamar.
"Apa yang kau lakukan hah?" tanya Rendra tidak percaya dengan apa yang dilakukan wanita itu padanya.
"Rasakan itu! aku masih bisa memaklumi jika kamu menginginkan anak kedua, atau paling tidak anak ketiga. Tapi, jika anak keempat kelima dan seterusnya, cari saja wanita lain yang bisa melakukan hal itu!" jawabnya dengan kesal membuat Rendra langsung panik.
Dia kembali menarik wanita itu yang hendak menjauhinya. Dia tidak akan membiarkan Alice menjauh darinya lagi. Tidak akan!
"Jika aku menginginkan wanita lain hanya untuk mendapatkan seorang anak, maka aku bisa memilih wanita manapun yang aku inginkan. Kau juga sudah melihat seperti apa Alana. Dia cukup cantik menurutku dan aku mengakuinya. Tapi aku tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjadikannya Nyonya Rendra yang sesungguhnya. Kau tau, ada atau tidaknya Neil sebelum ini, aku hanya memikirkanmu saja. Saat itu, aku hanya berpikir bagaimana cara menyelesaikan semua permasalahan ini. Hingga akhirnya, aku membuatnya menyerah dan memaksanya menandatangani pengalihan seluruh harta dan warisan. Jahat, mungkin orang bisa mengatakan aku jahat. Tapi aku tidak peduli sama sekali dengan hal itu. Aku hanya ingin terbebas darinya, dan kembali mencarimu. Ternyata Tuhan masih bersikap baik padaku, memberikanku jalan untuk kembali bertemu denganmu." ucapnya tanpa sadar menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Alice, membuat wanita itu hanya terdiam.
"Lalu, Bagaimana jika seandainya kamu terlambat dan aku sudah menikah dengan orang lain?" tanya Alice berusaha memberanikan diri.
"Aku akan melakukan segala cara agar kau berpisah dengannya. Bahkan jika itu harus merebutmu untuk membunuhnya maka aku akan melakukannya. Aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu, selain aku dan anak-anakku nantinya. Siang sampai sore hari kau memang milik anak-anakku, tapi jika malam hari jangan sampai mereka menggangguku. Jika malam Mereka mengganggu, maka aku akan membuat mereka menyerah! Agar aku bisa berduaan denganmu!" ujarnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Hal ini benar-benar membuat Alice tidak bisa berpikir lagi. Memang benar, karena dia pernah merasakan seperti apa cemburunya laki-laki ini ketika mereka bersama dulu, hingga Dia berakhir di atas tempat tidur dan tidak bisa bergerak setelahnya.
***