NovelToon NovelToon
I'M Not Gay

I'M Not Gay

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.

Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.

Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.

Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.

Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?


"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman atau Musuh??..

Varren menghentikan makannya. Menatap Alvaro dengan tak paham. "Mereka anak Phoenix?? Musuh kita??? kok bisa? kok gue baru tau." jelasnya berbisik pelan.

"Ya karena loe baru menjabat sebagai ketua kan? Sedangkan anggota kita udah ribut dari nenek moyang dulu. Katanya empat tahun lalu bahkan ada lima belas anggota kita meninggal karena mereka. Karena itu dari ketua kita sebelumnya buat misi untuk kita habisin mereka dan balas anak-anak kita yang udah meninggal." jelasnya kepada Varren serius.

"Kok gue nggak tau?" tanya Varren serius.

Alvaro menggeleng. "Mungkin anggota yang lain belum ngasih tau aja sih. Gue tau soalnya abang gue kan anggota inti pada masanya. Jadi dia udah cerita." jelasnya.

Varren terdiam di tempatnya.

Usai dari makan siang bersama Alvaro, Varren sedikit tidak fokus latihan membuatnya harus latihan hingga sampai jam 10 malam. Ketat sekali rasanya dan Varren hampir muntah melihat buku. Varren menghela napas pelan membuka pintu kamar asrama. Di sana rupanya sudah ada Sylas dan kedua temannya bermain game.

Varren menghela napas pelan. Ini orang-orang yang ia pikirkan sejak tadi.

"Pulangnya semakin malam yah Ren." ujar Reja nyeletuk.

Varren mengangguk pelan. "Iya nih. Mana belum makan." ujar Varren pelan.

Mereka mendengarnya menatap Varren kaget. "Kalian nggak dikasih makan?" tanyanya kaget.

Varren mencebikan bibirnya. "Dikasih nasi sayur nggak ada rasanya. Katanya biar bergizi dan nggak batuk pas debat. Dipikirnya kita sakit apa." ujarnya kesal. Mereka semua terkekeh mendengar Varren yang menggerutu.

"Mau makan apa emang?" tanya Sylas tiba-tiba dari sebelahnya.

Varren menatap Sylas yang menatap Varren penuh tanda tanya. "Loe mau pesenin?" tanya Varren di sana agak senang.

Sylas berdehem. "Tapi besok masakin kita lagi yah." jelas Sylas.

Varren mendengarnya mendesis pelan. "Nggak lah. Buat pesen sendiri aja." jelas Varren mengibaskan tangannya.

"Tapi udah gue pesen makanannya. Dan gue nggak mau penolakan." jelas Sylas.

Varren meliriknya dan tersenyum miring. "Menurut loe gue bakal mau gitu aja sama keinginan loe?" tanya Varren terkekeh.

Sylas diam menatap Varren dingin. Reja dan Tavian saling senggol melihatnya.

"Yah gas lah. Soalnya gue laper." teriak Varren semangat.

Sylas di sana menatap Varren tambah datar. Reja dan Tavian pun menatap Varren kesal.

"Kirain bakal ada war gitu. Eh nggak taunya mau aja nih anak. Siyalan ketipu gue." gumam Reja pada Tavian.

Tavian mengangguk pelan. "Asli deh. Ketipu banget. Mana jantung udah disko." ujar Tavian kepada temannya.

Varren melihat mereka terkekeh pelan menatap Sylas di sebelahnya. "Besok gue nggak ada bahannya sih. Kalo mau loe harus belanja dulu besok buat bahannya gitu." jelas Varren pelan.

Sylas mengangguk. "Aman. Nanti biar kurir aja. Kita pesen online." jelasnya.

Varren mengangguk-ngangguk di sana setuju. Karena lelah Varren memilih menarik bantal sofa di dekat Reja. Segera menelungkupkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

"Tidur di kamar oy." ujar Tavian.

Varren menggeliat pelan. "Gue cuma merem. Kalo makanannya udah sampai panggil gue." ujar Varren pelan pada keduanya.

"Nih anak. Nyemil aja dulu, di kulkas ada pizza semalem kalo nggak salah kalo loe beneran laper." jelas Tavian.

Varren mendengarnya mengerjap pelan, segera ke kulkas untuk makan pizza. Mereka menggeleng melihat Varren yang kelelahan dan kelaparan.

Ting..

Suara bel dari luar segera membuat Sylas bangkit. Reja dan Tavian tertegun melihatnya sebab Sylas sangat jarang mau membuka pintu untuk tamu.

Reja melirik Sylas. "Pak Bos, loe pesenin buat Varren?" tanyanya.

Sylas berdehem datar. "Dia belum makan."

Reja menaikkan alis. "Peduli amat?"

Sylas menatap Reja tajam. "Berisik."

Reja dan Tavian saling lirik dengan tatapan penuh arti, tapi tidak ada yang berani berkata lebih lanjut.

Tak lama usainya Sylas membawa banyak sayuran dan juga makanan.

"Wih makan besar nih kita." jelas Reja kepada Sylas semangat.

Sylas berdehem menaruh makanan di atas meja dan bahan makanan di atas meja. Di barengi oleh Varren yang datang membawa pizza di tangannya sembari makan.

"Ini makanannya udah sampai Ren. Skuy makan." ujar Reja berseru heboh.

Plak.

Tangan Reja ditepis kuat oleh Sylas. Sylas menatap Reja tajam dan Reja meringis memegang tangannya perih. "Ini gue pesen cuma dua kotak dan untuk Varren. Kalian udah makan tadi." tegasnya.

Reja dan Tavian menatap Sylas tersakiti. "Jadi loe nggak pesen yang buat kita juga Sel? Kok loe tega banget sih?" tanyanya nanar lagi kepada Sylas.

Sylas memutar bola mata malas mendengar suara dramatis milik Reja. "Najis. Perut karung kalian. Semua makanan masuk mau dihabisin." Ia melirik Varren. "Varren makan. Ini semua buat loe." jelasnya.

Varren di sana menaik turun alisnya menatap kedua temannya. Seakan mengecek, ia menatap Sylas dan tersenyum manis. "Makasih Sylas. Loe emang temen terbaik buat gue. Makin sayang gue." ujar Varren terkekeh.

Reja dan Tavian diam menatap keduanya malas. Sedangkan Sylas berdehem memainkan HPnya lagi membiarkan Varren makan.

Varren makan tidak terlalu banyak. Tapi karena dirinya sangat lapar, dua ayam, dua nasi, kentang dan juga kebab masuk semua sehingga ia kekenyangan. Varren bersendawa pelan memegang perutnya.

"Wah bisa-bisa meledak perut gue. Enak banget." gumamnya begah.

Reja dan Tavian meliriknya malas. "Dah lah Ren. Nggak kawan kita, loe nggak nawatin kita makan soalnya." jelas Tavian.

Varren mendengarnya mencibir. "Yaudah besok gue masak kalian juga nggak gue kasih soalnya kan kita nggak kawan." jelas Varren melirik mereka main-main.

"Ih Varren nggak bisa diajak berjanda deh." ujar Tavian dan Reja serentak.

Varren terkekeh mendengar mereka yang begitu kompak. Varren melihat Sylas di sebelahnya. "Thanks yah makanannya. Enak banget. Besok gue mau masak yang kayak gini juga tapi pake bumbu racikan sendiri. Pokoknya lebih enak dibanding ini." jelas Varren semangat.

"Gue tunggu." ujar Sylas tersenyum menepuk kepala Varren pelan.

Varren mengerjap menatap Sylas yang tersenyum tipis. Bahkan saat dia tersenyum tipis saja mampu membobolkan hati seseorang. Luar biasa aura lelaki tampan yah.

"Ren.." teriak Tavian kepada Varren yang menatap Sylas menjauh. Tavian duduk di sebelah Varren dan menatap Varren dengan main-main. "Besok jadi kan kasih gue makan?" tanyanya dengan nanar.

Varren menggeleng. "Nggak sih. Males soalnya kita kan nggak kawan." jelas Varren pura-pura merajuk.

"Maksud kita itu kita nggak kawan tapi saudara dan sahabat gitu. Ih Varren mah nggak nganggep hubungan kita special." ujar Reja menyahut menggait tubuh Varren.

Tavian dan Reja lebih seperti memperebutkan boneka mainan. Varren yang pusing menatap keduanya tajam. "Kalian ini." gumamnya geram.

Tavian dan Reja tidak terlihat ketakutan atau berhenti, malah makin menjadi-jadi membujuk Varren agar mau membagi makanan pagi besok.

Varren yang sudah tak tahan hanya pasrah mengangguk kepada keduanya.

Varren sangat capek.

---

Setelah semua selesai, Varren berjalan menuju kamarnya. Tapi sebelum masuk, HP-nya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari anggota Kings of Asphalt.

Varren mengangkatnya. "Ya?"

"Bos... Phoenix keliatan di wilayah kita." suara di seberang terdengar tegang.

Varren menatap ke arah kamar Sylas yang sudah tertutup rapat. Dari balik pintu itu, terdengar suara samar—mungkin Sylas sedang berbicara dengan seseorang.

"Bos?" suara di telepon kembali memanggil.

Varren menghela napas. "Besok gue urus."

Ia menutup telepon, lalu menatap lebih lama ke arah kamar Sylas.

Sylas dari Phoenix. Teman sekamarku.

Varren menggelengkan kepala pelan.

Dunia ini memang kecil.

Ia masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasur. Tubuhnya lelah, pikirannya penuh.

Besok harus kuputuskan. batinnya.

Sylas teman atau musuh?

Bersambung...

1
Anime aikō-kā
p
Alia Chans: 🤔🤔🤔🤔🤔🤔.
total 3 replies
ẜᮦ࿆ᷗhimboy
semangat
Alia Chans: Thank you kk/Smile//Smile/
total 1 replies
Nelson Sihombing
berarti dia gk cewek? atau gk cowok?
Alia Chans: Gak tau lupa gw🤭🤭
total 1 replies
Kak Umi
Jangan lupa baca cerita aku juga ya 🙏🙏😍😍
Kak Umi
Cerita asyik dan enak untuk dibaca
Kak Umi
Ikut baca ya😍😍
Alia Chans: makasih kk dah mampir. semoga suka ya😉
total 1 replies
𝑊𝑎𝑤𝑎ᵃᵈʳⁱᵃⁿ
menurut ku diam bukan cara penyelesaian trbaik
_r: kak baca novel ku juga dong, judul nya tower of souls
total 2 replies
Nemicca˃ 𖥦 ˂
seru banget sukak
Nemicca˃ 𖥦 ˂: hehe pasti lah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!