NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / CEO
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Rahasia di Balik Pria Biasa

Marko keluar dari butik sambil membawa beberapa paper bag, lalu melajukan mobilnya menuju sebuah toko jam tangan. Tak lama kemudian, ia kembali keluar dengan sebuah tas kecil di tangannya sebelum melanjutkan perjalanan menuju kantor.

"Sebenarnya Bos nyuruh aku beli semua barang ini buat apa, sih?" gumamnya sambil mengemudi. "Apa mau kasih hadiah ke salah satu staf?"

Ia menggeleng pelan. "Tapi... kenapa juga harus nyewa mobil biasa?"

Ia menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah.

"Selama ini Bos gak pernah kayak gini." Marko mengembuskan napas panjang. "Bos memang susah ditebak. Lebih susah daripada ngisi teka-teki silang."

Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa jam sebelumnya saat dipanggil ke ruang CEO.

 

"Ada apa, Bos?" tanya Marko sambil menatap Enzo yang sedang menandatangani beberapa berkas.

Tanpa mengangkat wajahnya, Enzo berkata singkat, "Belikan aku kemeja, celana panjang, parfum, dan jam tangan yang biasa dipakai staf kantor."

Dahi Marko langsung berkerut. "Buat apa, Bos?"

"Beli saja. Jangan banyak tanya."

"Baik, Bos."

Marko pun berbalik hendak keluar. Namun baru beberapa langkah, suara Enzo kembali menghentikannya.

"Oh ya."

Marko menoleh.

"Sewakan juga mobil yang biasa dipakai staf."

Kali ini Marko benar-benar kebingungan. Tetapi sebelum sempat ia bertanya, Enzo akhirnya mengangkat wajahnya dari berkas.

Tatapan pria itu lurus menembus kedua mata Marko.

"Dan..." Suara Enzo terdengar rendah. "Jangan banyak tanya kalau masih sayang nyawa."

Bulu kuduk Marko seketika berdiri. Entah kenapa, tatapan Bosnya saat itu terasa begitu mengintimidasi. Dingin. Tajam. Seolah-olah mampu membungkam seseorang hanya dengan sekali pandang.

"B-Baik, Bos."

Tanpa berani bertanya lagi, Marko buru-buru keluar dari ruangan.

 

Ingatan itu menghilang saat bunyi klakson dari belakang menyadarkannya. Lampu lalu lintas telah berubah hijau. Marko segera menginjak pedal gas.

"Bos memang CEO yang dingin. Itu masih wajar. Memimpin perusahaan sebesar itu pasti penuh tekanan."

Ia menghela napas pelan.

"Tapi kadang... aku merasa tatapan Bos bukan sekadar tatapan seorang CEO."

Marko mengusap tengkuknya sendiri.

"Rasanya seperti..." Ia mencari kata yang tepat. "Seperti orang yang sudah terbiasa menghadapi hidup dan mati."

Ia tertawa kecil, berusaha mengusir pikirannya sendiri.

"Ah, aku kebanyakan nonton film mafia."

Tanpa ia sadari, dugaannya itu justru lebih dekat dengan kenyataan daripada yang pernah ia bayangkan.

***

Malam itu, Chantika yang biasanya tak terlalu peduli dengan penampilannya tampak berbeda. Gadis yang sehari-hari tampil sederhana itu sibuk memilih dan mencoba beberapa pakaian yang tergantung di dalam lemarinya.

"Pakai yang mana, ya?"

Tatapannya beralih ke arah ranjang. Sudah ada beberapa potong pakaian yang menumpuk di sana.

"Hah... kenapa aku sampai segininya?" gumamnya pelan.

Ia tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Dan pria itu... kenapa aku bisa secepat ini merasa akrab dan nyaman dengannya?"

Chantika mengembuskan napas panjang.

"Sudahlah. Pakai yang mana aja. Yang penting nyaman dan sopan."

Setelah memilih pakaian, ia duduk di depan meja rias.

Sebagai seorang polwan, Chantika hampir selalu memakai riasan tipis dan sederhana. Namun, malam ini ia menambahkan sedikit sentuhan pada wajahnya. Tidak berlebihan, hanya cukup untuk membuat wajahnya terlihat lebih segar, anggun, dan tetap natural.

Tepat saat ia selesai merapikan rambutnya, terdengar suara ketukan di pintu.

Tok! Tok!

"Nona Chantika," panggil seorang pelayan dari luar. "Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan."

"Iya, Bi."

Chantika berdiri, lalu sekali lagi ia menatap pantulan dirinya di depan cermin. Setelah merasa tak ada yang perlu diperbaiki, ia pun keluar dari kamar.

Begitu memasuki ruang makan, semua mata langsung tertuju kepadanya. Penampilannya malam itu benar-benar berbeda dari biasanya.

"Kamu mau pergi?" tanya Rahardja.

Ranti dan Saras saling berpandangan sebelum kembali menatap Chantika.

Sorot iri sesaat melintas di mata Saras. Malam itu Chantika tampak jauh lebih anggun. Bahkan tanpa perhiasan mencolok, kecantikannya tetap menonjol.

"Aku..."

Belum sempat Chantika melanjutkan kalimatnya, suara mesin mobil terdengar berhenti di halaman depan rumah.

Semua orang spontan menoleh ke arah pintu. Rahardja, Ranti, dan Saras saling bertukar pandang.

Tak lama kemudian...

Ting tong...

Bel rumah berbunyi. Ruangan mendadak hening. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang menghampiri.

"Tuan... Nyonya... ada seorang pemuda yang ingin bertemu."

"Siapa?" tanya Rahardja.

"Beliau mengatakan ingin meminta izin mengajak Nona Chantika makan malam."

Tanpa sadar, sudut bibir Chantika terangkat tipis.

Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Ranti maupun Saras.

"Kamu memang sedang menunggu seseorang?" tanya Rahardja.

"Iya, Pa."

"Pacarmu?"

Pipi Chantika langsung bersemu merah. Ia hanya tersenyum kecil tanpa menjawab.

Sudut bibir Rahardja ikut terangkat. Sudah lama ia tidak melihat putri sulungnya menunjukkan ekspresi seperti itu.

"Ayo." Rahardja berdiri. "Papa ingin melihat pria yang berhasil membuat putri Papa tersenyum."

Keempatnya berjalan menuju ruang tamu. Sesampainya di sana, mereka melihat seorang pria muda berdiri dari sofa.

Kemeja putih polos yang dipadukan dengan celana panjang hitam membuat penampilannya terlihat sederhana. Tak ada jam tangan mewah, tak ada jas mahal, apalagi mobil mewah yang biasa mengiringinya.

Malam itu, Enzo benar-benar tampak seperti pria kantoran biasa.

Begitu melihat Rahardja datang, Enzo langsung menghampirinya.

"Selamat malam, Tuan." Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Nama saya Enzo."

Rahardja menyambut uluran tangan itu. "Rahardja."

Saat kedua tangan mereka bersentuhan, Rahardja sedikit terdiam. Genggaman pria muda itu mantap, tetapi tidak berlebihan.

Yang membuatnya heran justru sorot mata Enzo. Tenang, dingin, dan... sulit ditebak.

Untuk sesaat Rahardja merasa seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang terbiasa memimpin. Perasaan itu datang begitu saja tanpa alasan yang jelas.

"Silakan duduk."

"Terima kasih, Tuan."

Enzo duduk kembali dengan sikap tenang. Tatapannya sesekali beralih kepada Chantika, lalu kembali menghormati kedua orang tua di hadapannya.

Ranti diam-diam mengamati penampilan Enzo dari ujung kepala hingga kaki.

"Pakaiannya biasa saja," batinnya. "Bukan dari keluarga konglomerat." Entah mengapa, penilaian itu justru membuatnya sedikit lega.

Di sisi lain, Saras ikut memerhatikan pria itu. Wajahnya memang tampan. Sikapnya juga tenang. Namun, ada sesuatu yang membuatnya sulit menatap mata Enzo terlalu lama. Tatapan pria itu seolah mampu membaca isi pikiran seseorang.

Saras buru-buru mengalihkan pandangan.

Rahardja membuka percakapan. "Kamu ke sini untuk Chantika?"

"Iya, Tuan."

"Kerja di mana?"

Enzo melirik sekilas ke arah Chantika.

Wanita itu membalas dengan tatapan yang seolah mengingatkan pesan mereka di telepon tadi.

"Jangan bilang CEO."

Enzo mengangguk tipis sebelum kembali menatap Rahardja. "Saya bekerja di perusahaan ekspor-impor, Tuan."

"Bagian apa?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua kebenaran harus diungkap hari ini. Ada rahasia yang justru menjaga orang-orang yang kita sayangi tetap selamat."...

..."Orang yang benar-benar kuat tidak selalu menunjukkan siapa dirinya. Terkadang, ia memilih menyembunyikan cahaya demi melindungi orang yang dicintainya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Saking Nyaman-nya di Kelonin Enzo, membuat Chantika ke siangan lagi... 😁😁😁
Ass Yfa
Enzo udah manggil istriku..kayak stlah kejadian mlm itu..Enzo udah melegalkan perniahannya deh..nyuruh asistennya daftarin secara negara
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lankutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... Ini maksudnya gimana ya Kak Nana? Kalimat Chsntika ysng mengatakan "Dia hak pernah memintaku berhenti dari Pekerjaan" Aku bingung di bagian "Hak" itu loh Kak Nana... 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Ssmangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Betul Sekali Chsntika... Karena Map itulah, kau di jebak oleh adikmu sendiri tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Gampang Enzo... Tarok aja harga dirimi di bokongmu sendiri... 😂😂😂 Gampang kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kalau ada kalimat begini, pasti afa hal buruk yang akan terjadi nih... Perasaanku mulai nggk enak nih Kak... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Aku sudah ketimggalan kauh mih Kak Nana... 😁😁😁 Jadi belum bisa lomen sampai puluhan komen... 😁😁😁 Ketinggalan jauh banget nih Kak... 😁😁😁🙏

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Tuan Rahardja nggk bisa Kamj tipu Saras... 😂😂😂 Dia bukan orang baru, di dunia bisnis... 😂😂😂 Sekaramg Apalagi alasan ysng akan kamu berikan? ha? 😂😂😂

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Maaf Kak Nana... kalimat ini Maksudnya gimana ya Kak 'Darinya berkerut samar' atau 'Dahinya berkerut samar' Kak Nana? 😁😁😁 Aku bingung nih Kak Nana... 😁😁😁
Sugiharti Rusli
apalagi dia sebentar lagi juga jadi calon menantu yang sangat bucin sama putri kamu itu🤩🤩🤩
Sugiharti Rusli
tenang saja tuan Rahardja, setelah tahu kecurangan dari calon investor yang diajukan si Saras, ada calon investor lain yang lebih kompeten sih nanti😅😅😅
Sugiharti Rusli
mana bikin perintah dadakan dan juga dengan waktu yang mepet pulak, sepertinya kamu memang sudah teruji Marco😂👏👏
Sugiharti Rusli
namanya juga bos besar yah, tapi tenang saja dan berharap sama calon nyonya bis yang lebih manusiawi😄😄😄
Sugiharti Rusli
sabar yah Marco dengan sifat bos kamu yang terkadang suka seenaknya sendiri😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!