Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mendengar kata "terlambat sepuluh menit," jantung Ganda mencelos bagai dihantam gada tak kasat mata.
Rasa ngeri seketika menjalar di seluruh aliran darahnya. Tanpa membuang waktu lebih lama, ia langsung berbalik dan menemui pihak administrasi Rumah Sakit As-Syifa. Menggunakan otoritasnya sebagai bagian dari keluarga pemilik yayasan, Ganda memerintahkan pemindahan Diaz ke kamar perawatan VVIP terbaik yang paling tenang dan terisolasi dari gangguan luar.
Beberapa saat kemudian, Diaz telah dipindahkan ke bangsal VVIP di lantai atas.
Suasana kamar itu begitu luas, sunyi, dan mewah dengan fasilitas serba lengkap.
Namun kemewahan di sekelilingnya terasa begitu kontras dan ironis dengan penampilan Diaz yang kini terbaring sangat lemah di tengah ranjang besar berseprai putih.
Kedua matanya masih terpejam rapat. Sebuah selang infus terpasang kokoh di punggung tangan kanannya, sementara jarum vitamin terus mengalirkan cairan penstabil ke dalam tubuhnya yang ringkih.
Detak alat pemantau jantung di sudut ruangan berbunyi teratur, menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan yang mencekam itu.
Ganda menarik kursi kayu ke dekat sisi ranjang. Ia duduk di sana, memandangi wajah polos istrinya yang kini bersih total dari sisa-sisa riasan pengantin.
Di bawah temaram lampu kamar, Diaz terlihat sangat rapuh, menyimpan begitu banyak luka emosional yang tak pernah ia ceritakan pada dunia.
Perlahan dan penuh kehati-hatian, seolah takut akan memecahkan kaca yang retak, Ganda mengulurkan tangannya.
Ia meraih jemari tangan Diaz yang mulai terasa hangat berkat aliran cairan infus.
Ganda menggenggamnya erat. Di dalam keheningan kamar VVIP itu, di hadapan tubuh istrinya yang tak sadarkan diri, Ganda menanam sebuah janji mati di dalam lubuk hatinya.
Ia bersumpah akan memperbaiki kesalahan fatalnya hari ini, dan tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk Umi Maryam ataupun Laura—menyakiti perempuan ini lagi.
Diaz telah menyerahkan kebebasannya di atas altar takdir, dan Ganda akan menjadi benteng pertahanannya.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Keheningan malam itu terusik ketika ponsel di dalam saku celana Ganda bergetar hebat tanpa henti.
Ganda menarik benda persegi itu keluar. Layarnya menyala terang di tengah kegelapan, menampilkan belasan panggilan tak terjawab dari Umi Maryam yang pastinya sedang meradang di pondok.
Tak berselang lama, sebuah pesan teks panjang masuk dari Laura.
Kalimatnya penuh dengan kemarahan, histeria, sekaligus ancaman bahwa ia akan langsung berkemas dan pulang ke rumah orang tuanya malam ini juga jika Ganda tidak segera kembali ke pondok untuk menepati kewajiban malam pertama mereka sebagai pengantin baru.
Laura merasa dihina dan dicampakkan di depan keluarga besarnya.
Ganda menatap rentetan pesan dan nama yang berkedip di layar ponselnya dengan pandangan yang sangat dingin, tanpa ada sedikit pun riak kepanikan seperti sore tadi.
Baginya, prioritas hidupnya telah bergeser dalam waktu sepuluh menit di ruang IGD.
Tanpa membalas satu kata pun, ibu jari Ganda bergerak tegas menekan tombol daya.
Ia memilih untuk menonaktifkan ponselnya sepenuhnya (turn off). Layar pun meredup, lalu mati total.
Suasana kamar kembali sunyi senyap. Ganda memasukkan kembali ponsel mati itu ke sakunya, lalu kembali memfokuskan seluruh atensinya pada wajah pucat Diaz.
Malam ini, sang anak kiai memilih untuk tetap tinggal, duduk terjaga di samping tempat tidur istri pertamanya, mengabaikan dengan sadar badai besar yang sedang mengamuk dan siap meruntuhkan ketenangannya di Pondok Pesantren Al ikhlas. Di titik kritis ini, Ganda telah memilih berpihak.
Di tengah keheningan malam yang kian larut, suara mesin pemantau detak jantung di sudut ruangan tiba-tiba berbunyi dengan ritme yang lebih cepat.
Ganda yang sejak tadi duduk terjaga langsung menegakkan punggungnya.
Mata pria itu membelalak saat melihat dada Diaz naik turun secara tidak teratur.
Kedua kelopak mata Diaz terpejam sangat rapat, berkerut dalam seolah sedang mengalami mimpi buruk yang teramat menyiksa.
Detik berikutnya, setitik demi setitik air mata mulai lolos dari sudut matanya, mengalir membasahi pipinya yang pucat.
"Ayah... Jangan, Ayah..." Diaz mulai mengigau. Suaranya terdengar serak, parau, dan sarat akan keputusasaan yang mendalam.
"Ayah, aku ikut. Jangan tinggalkan Diaz sendirian. Ayah!"
Diaz mulai gelisah. Tubuhnya bergerak gelisah di atas ranjang, dan tangannya yang terpasang jarum infus mulai bergerak tak terkendali, menjambret udara kosong seolah sedang berusaha menggapai sesuatu yang hilang.
Melihat kondisi istrinya yang mendadak histeris dalam tidurnya, Ganda dilingkupi rasa takut yang luar biasa.
"Diaz! Diaz, sadar, Sayang. Ini aku, Ganda," bisik Ganda panik, mencoba menahan bahu Diaz agar tidak banyak bergerak.
Namun, igauan Diaz justru semakin kencang, dan tubuhnya mulai memberontak.
Tanpa pikir panjang, Ganda langsung menekan tombol darurat di atas kepala ranjang berkali-kali.
"Dokter! Suster! Tolong ke sini!" teriak Ganda ke arah pintu.
Pintu VVIP terbuka kasar. dr. Fahmi bersama dua perawat jaga langsung bergegas masuk ke dalam ruangan.
Melihat pasien yang mengigau hebat dan bergerak fluktuatif, dr. Fahmi segera memeriksa pupil mata dan denyut nadi Diaz.
"Ayah... ikut, Ayah..."
Diaz masih terus meracau, kali ini tangannya yang terikat selang infus bergerak kasar, nyaris menarik paksa jarum yang menancap di punggung tangannya hingga darah mulai naik ke selang bening tersebut.
"Bahaya, ini bisa robek pembuluh darahnya!" seru salah satu perawat panik, mencoba menahan tangan Diaz.
dr. Fahmi langsung mengambil keputusan cepat demi keselamatan pasien.
"Suster, ambil restraint (tali pengikat medis). Ikat kedua tangan pasien ke sisi ranjang sekarang!" perintah dr. Fahmi tegas.
Ganda yang melihat hal itu langsung tersentak. "Dok, apa harus diikat seperti ini?" tanya Ganda dengan nada tidak tega, hatinya mencelos melihat tangan ringkih Diaz harus dikekang.
"Harus, Ganda. Kondisinya belum stabil," jawab dr. Fahmi tanpa mengalihkan pandangan dari Diaz.
"Dia sedang mengalami syok psikosomatis yang hebat. Alam bawah sadarnya menolak realitas dan mencari perlindungan ke masa lalu, yaitu almarhum ayahnya. Kalau tangannya tidak diikat sekarang, dia bisa mencabut selang infus dan jarum vitaminnya secara paksa. Itu bisa memicu pendarahan dan memperburuk dehidrasi beratnya. Kita harus mengamankan jalur obatnya dulu."
Dua perawat dengan cekatan mengikat pergelangan tangan Diaz menggunakan kain pengikat khusus yang lembut namun kokoh ke pagar besi di sisi kanan dan kiri ranjang.
Diaz sempat meronta kecil saat kebebasan geraknya dikunci, namun perlahan, setelah dr. Fahmi menyuntikkan tambahan obat penenang dosis ringan ke dalam botol infus, gerakan tubuh Diaz mulai melemah.
Igauannya perlahan mereda menjadi gumaman lirih yang tak terdengar lagi.
Diaz kembali tenggelam dalam tidur dalamnya yang kelam, dengan sisa air mata yang masih basah di pipi, dan kedua tangan yang kini terikat kaku di sisi ranjang mewah itu.
Ganda hanya bisa berdiri mematung di ujung kaki ranjang, menatap pemandangan memilukan itu dengan rasa bersalah yang semakin menggunung di dalam dadanya.
Setelah dr. Fahmi dan para perawat meninggalkan ruangan, kamar VVIP itu kembali diselimuti kesunyian yang mencekam.
Ganda melangkah mendekat dengan sisa tenaga yang ia miliki, lalu kembali duduk di kursi samping ranjang.
Tatapannya tertuju lurus pada pergelangan tangan Diaz yang kini terikat kain restraint di pagar besi. Hati pria itu terasa seperti diiris sembilu melihat pemandangan tersebut.
Saat ia hendak membenarkan letak selimut Diaz, telinga Ganda menangkap suara getaran halus yang konstan.
Sumbernya bukan dari sakunya, melainkan dari jaket jins milik Diaz yang tergeletak di sofa penunggu.
Ganda bangkit, berjalan mendekati sofa, lalu merogoh kantong jaket tersebut. Ia menemukan ponsel milik Diaz yang layarnya terus berkedip terang.
Karena ponsel itu tidak terkunci akibat rentetan notifikasi yang masuk bertubi-tubi, Ganda dengan jelas bisa membaca rentetan pesan WhatsApp dari kontak yang dinamai "Mama".
Pesan-pesan itu sarat akan histeria, keputusasaan, dan tuntutan yang begitu kejam. Ganda membaca pesan tersebut dari baris paling atas:
"Diaz! Tolong buka ponselmu! Jangan matikan komunikasimu dengan Mama setelah kamu menghancurkan semuanya!"
"Keluarga Bramasta baru saja menelepon lagi. Mereka bilang bersedia memulihkan semua kontrak bisnis peninggalan Almarhum Ayahmu dan menyelamatkan rumah kita dari penyitaan bank, TAPI SYARATNYA KAMU HARUS KEMBALI!"
"Bramasta mau kamu sujud dan menyentuh kaki Bramasta minta maaf ke keluarganya dan pernikahan tetap dilanjutkan besok pagi, tidak peduli kamu sudah kabur sejauh apa! Diaz, pikirkan nasib Mama! Pikirkan jerih payah Almarhum Ayahmu yang membangun bisnis ini dari nol sampai dia meninggal! Apa kamu tega melihat semua peninggalan Ayahmu disita dan Mama jadi gelandangan?!"
"Jelaskan ke Mama, apa yang sebenarnya kamu pikirkan sampai nekat menolak menikah dengan Bramasta?! Kurang apa dia, Diaz?! Pulang sekarang, Mama mohon... demi Ayahmu..."
Rahang Ganda mengeras seketika. Urat-urat di pelipisnya menonjol menahan amarah yang mendadak membakar dadanya.
Ia tidak menyangka seorang ibu kandung tega menekan mental anaknya yang sedang sekarat demi materi dan rasa bersalah atas nama almarhum suaminya.
Ganda kemudian menyapu layar ponsel itu lebih ke atas, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum pelarian nekat Diaz subuh tadi.
Ibu jarinya berhenti pada sebuah file video yang dikirimkan oleh nomor asing beberapa hari lalu—sebuah video yang tampaknya disimpan Diaz sebagai bukti.
Ganda menekan tombol play. Di dalam video itu, terlihat rekaman amatir di sebuah restoran mewah.
Bramasta sedang berdiri, mencengkeram kasar pergelangan tangan Diaz hingga gadis itu meringis kesakitan.
Dengan wajah angkuh dan mata melotot, Bramasta berteriak tepat di depan wajah Diaz di video itu:
"Kamu itu gak punya pilihan, Diaz! Sadar diri! Perusahaan ayahmu itu sudah di ujung tanduk! Kalau bukan karena duit keluarga luar biasa dari saya, kamu dan mamamu sudah jadi gelandangan di jalanan! Jadi stop bertingkah sok suci dan turuti semua mau saya kalau kamu masih mau lihat peninggalan ayahmu aman!"
Di akhir video, Bramasta tampak menyentak tubuh Diaz kasar hingga gadis itu hampir tersungkur, sebelum rekaman itu mati.
Ganda menurunkan ponsel itu dengan tangan yang gemetar hebat karena murka.
Matanya yang tajam menatap kosong ke arah dinding kamar rumah sakit. Kini, potongan-potongan teka-teki itu terjawab sudah.
Ganda akhirnya mengerti mengapa Diaz mengira Gunung Kawi adalah tempat murni untuk hiking menenangkan pikiran—gadis itu hanya ingin lari sejauh mungkin dari monster bernama Bramasta dan tekanan gila dari ibunya.
Diaz tidak sedang mencari pesugihan; ia sedang melarikan diri dari neraka dunia yang diciptakan oleh orang-orang terdekatnya demi mempertahankan harga diri almarhum ayahnya.
Ganda berjalan perlahan kembali ke sisi ranjang Diaz.
Ia menatap wajah polos istrinya yang masih terlelap di bawah pengaruh obat penenang, dengan kedua tangan yang masih terikat kaku.
Ganda menggenggam kembali jemari Diaz yang bebas dari infus.
Rasa bersalahnya kini berganti menjadi tekad yang teramat dingin dan mematikan.
"Sujud di kaki pria bajingan itu?" bisik Ganda, suaranya berat dan bergetar oleh kemarahan yang tertahan.
"Besok pagi tidak akan ada pernikahan apa pun dengan Bramasta. Demi Allah, Diaz, kamu sudah sah menjadi istriku. Biar aku yang akan menghadapi ibumu, Bramasta, dan seluruh utang-utang perusahaan peninggalan ayahmu. Tidak akan aku biarkan satu orang pun menyentuhmu lagi."
Sementara itu, di lantai atas ndalem Pondok Pesantren Al Ikhlas, suasana kamar bernuansa emas dan putih yang seharusnya menjadi tempat malam pertama yang indah kini berubah menjadi saksi bisu kemarahan yang membakar.
Laura duduk terisak di tepi ranjang berseprai satin, masih mengenakan gaun resepsi keduanya yang mewah namun kini tampak kusut.
Air matanya mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang mahal.
Sesekali ia memukul bantal di sampingnya dengan benci, meluapkan segala rasa frustrasi yang menyumbat dadanya.
"Dasar wanita sialan!! Perempuan pembawa sial!!" makis Laura di sela tangisnya, suaranya melengking tertahan di dalam kamar yang sunyi.
Napasnya memburu kasar saat matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan larut malam.
Ponselnya yang tergeletak di kasur tetap gelap—tidak ada satu pun balasan dari Ganda, bahkan ancamannya untuk pulang ke rumah orang tua sama sekali tidak dihiraukan suaminya.
Ganda benar-benar memilih mematikan ponsel dan bertahan di rumah sakit demi perempuan asing itu.
"Aku menunggu momen ini sudah sangat lama... bertahun-tahun aku menjaga hati untuk Mas Ganda, dan, kamu datang tiba-tiba menggagalkannya dalam satu hari!" jerit Laura dalam hati, giginya mengatup rapat dengan rahang yang mengeras.
Bagi Laura, Diaz telah merenggut segalanya hari ini.
Kehormatan di pelaminan, perhatian mertuanya, dan yang paling menyakitkan: malam pertama bersama pria yang sangat dicintainya.
Rasa cinta yang mendalam kepada Ganda kini perlahan bercampur dengan dendam yang teramat pekat terhadap Diaz.
Sambil menghapus air matanya dengan kasar, Laura bangkit dan berdiri di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kilat mata yang penuh ambisi jahat.
"Lihat saja nanti," desis Laura tajam, menatap gaun pengantinnya yang kini terasa seperti ejekan.
"Kamu mungkin bisa merebut Mas Ganda malam ini dengan akting pingsanmu itu, Diaz. Tapi aku bersumpah, aku tidak akan membiarkan kamu hidup tenang sepeser pun di pondok ini. Aku yang akan menendangmu keluar dengan tanganku sendiri!"
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡