The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian
Cepat!!!
Harus lebih cepat!!!
Aku menekan tumitku ke sisi tubuh Steadfeet, dan kuda hitamku itu menerjang lebih dalam ke hutan elm yang gelap. Tanah di bawah kami basah karena hujan yang turun sejak sore, berubah menjadi lumpur pekat yang mengisap sepatu kudanya setiap kali ia menapak. Air kotor menciprat ke celana, ke mantel, ke wajahku, dingin dan asin ketika bercampur dengan keringat di bibirku.
Bunyi sepatu kuda menghantam tanah becek terdengar terlalu keras di antara batang-batang elm. Duk. Duk. Duk. Duk. Cepat, liar, tidak rata. Suara itu memecah keheningan hutan, menenggelamkan nyanyian serangga malam, menakuti burung-burung kecil yang tidur di dahan rendah. Beberapa dari mereka beterbangan panik ketika kami lewat, sayap mereka mengibas basah di antara daun-daun gelap.
Dad....
Mom....
Cecil....
Nama-nama itu berputar di kepalaku seperti doa yang rusak.
Tanganku masih gemetar hebat di atas tali kekang. Bukan hanya karena dinginnya udara malam yang menembus sarung tangan dan menggigit sampai ke tulang jari, tapi karena aku masih bisa merasakan lantai marmer istana di bawah lututku. Licin. Dingin. Terlalu merah di beberapa tempat. Masih bisa kudengar benturan baja di lorong timur, jeritan yang dipotong terlalu cepat, suara pintu besar ruang keluarga dihantam dari luar.
Aku mengatupkan rahang sampai gigi belakangku sakit.
Jangan berhenti.
Jangan melihat ke belakang.
Cepat!!!
Lebih cepat!!!
Steadfeet mendengus keras, napasnya keluar dalam kepulan putih yang langsung pecah diterpa angin. Lehernya basah, surainya menempel berat, dan setiap gerakan tubuhnya terasa sampai ke pahaku. Kuda itu lelah. Aku tahu ia lelah. Tapi ia tetap berlari, menembus semak rendah, melompati akar besar yang mencuat dari tanah, menyelinap di antara batang-batang elm yang terlalu rapat untuk jalur kuda perang.
Langit hampir tidak terlihat. Rimbun daun elm menutup bagian atas hutan seperti langit kedua yang hitam dan basah. Kadang, di sela-selanya, aku melihat potongan kecil bulan yang pucat, lalu hilang lagi ketika cabang-cabang bergesekan di atas kepalaku. Air hujan yang tertahan di daun jatuh satu-satu ke mantelku, ke tengkukku, ke kulit yang sudah dingin dan kaku.
“Sedikit lagi, boy,” bisikku pada Steadfeet.
Suaraku pecah. Terlalu kecil untuk malam sebesar itu.
“Kita hampir sampai.”
Aku tidak tahu apakah aku sedang meyakinkan dia atau diriku sendiri.
Angin berembus kencang menerpa wajahku. Sebuah garis merah di pipiku masih menyisakan rasa sakit yang panas, perih setiap kali udara dingin menyentuhnya. Luka itu tidak dalam, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ujung pedang pria itu hampir menemukan leherku. Aku masih bisa melihat matanya. Bukan marah. Bukan ragu. Kosong saja. Seperti membunuhku hanya bagian lain dari pekerjaannya malam itu.
Pasukan Dann.
Nama itu naik di tenggorokanku seperti sesuatu yang pahit.
Pamanku.
Aku menarik tali kekang terlalu keras ketika Steadfeet hampir tergelincir di turunan kecil. Kaki belakangnya terpeleset, lumpur menyembur ke samping, dan untuk sesaat seluruh tubuhku condong ke depan. Jantungku seperti jatuh ke perut. Aku mencengkeram pelana, menahan napas, lalu kuda itu berhasil menemukan pijakan lagi dan terus berlari.
“Good boy,” bisikku cepat. “Good boy.”
Tanganku meraba sisi dalam mantelku, memastikan koin perak itu masih di sana. Koin dengan lambang elang yang terukir di salah satu sisinya, koin yang diberikan Raja Jerrod Valdyr, ayahku, dengan tangan berdarah dan suara yang hampir habis. Aku tidak mau mengingat wajahnya saat itu. Tidak sekarang. Kalau aku mengingatnya terlalu jelas, aku akan jatuh dari pelana dan membiarkan hutan menelan tubuhku begitu saja.
Cari Marlow Renad.
Itu yang ia katakan.
Bukan pergi ke utara. Bukan cari pasukan setia. Bukan selamatkan diri sejauh mungkin.
Cari Marlow Renad.
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku, tapi bagi Dad, nama itu cukup penting untuk menjadi pesan terakhirnya. Cukup penting untuk ia paksa keluar dari mulutnya sementara seluruh istana runtuh di sekitar kami.
Steadfeet mendadak mengangkat kepala. Telinganya bergerak ke belakang.
Aku ikut menegang.
Di belakang kami, jauh di antara pohon-pohon, ada suara lain.
Tidak jelas. Hampir tertelan hujan yang masih menetes dari daun. Tapi aku mendengarnya.
Derak ranting.
Ringkik pendek.
Logam yang beradu pelan.
Mereka masih mengejar.
Darahku terasa berubah dingin.
Aku menunduk lebih rendah di atas leher Steadfeet, merapatkan tubuhku ke pelana. Bau kuda basah, kulit pelana, lumpur, dan darah kering di lengan bajuku memenuhi hidung. Aku menekan tumitku lagi, lebih dalam, lebih putus asa.
“Run,” bisikku.
Steadfeet melesat.
Hutan elm berubah menjadi garis-garis hitam di kiri dan kananku. Cabang-cabang rendah menyambar bahuku, menggores mantelku, satu ranting menghantam pelipisku cukup keras sampai cahaya putih meledak sebentar di mataku. Aku tidak berhenti. Tidak boleh. Kalau aku berhenti, semua yang Dad lakukan akan sia-sia. Semua yang Mom tahan dengan tubuhnya di depan pintu itu akan sia-sia. Semua yang Cecil....
Napasku patah.
Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa darah.
Jangan.
Jangan pikirkan Cecil.
Tidak sekarang.
Di depan, hutan mulai sedikit terbuka. Bukan jalan besar, hanya celah sempit di antara pohon-pohon tua, tempat tanah menurun menuju lembah kecil yang pernah kutandai dari peta perburuan Dad. Kalau ingatanku benar, ada sungai di bawah sana. Sungai sempit dengan batu-batu licin dan jembatan kayu tua yang jarang dipakai.
Kalau kami bisa menyeberang....
Aku menoleh sekilas ke belakang.
Tidak banyak yang bisa kulihat, hanya gelap, batang-batang pohon, kabut tipis, dan jauh di antara semuanya, kilatan kecil obor yang bergerak.
Terlalu dekat.
Aku kembali menghadap depan.
“Sedikit lagi,” kataku, kali ini hampir tanpa suara.
Steadfeet berlari menuruni lereng.
Tanah basah membuat setiap langkah terasa seperti taruhan. Kuda itu menahan tubuhnya dengan kaki depan, otot-ototnya bekerja keras, napasnya pecah kasar. Aku mencengkeram tali kekang dan pelana sekaligus, membiarkan lututku menekan sisi tubuhnya agar aku tidak terlempar. Di bawah, suara sungai mulai terdengar, gemericik deras di antara batu, dingin dan gelap.
Lalu jembatan itu muncul.
Kayunya hitam oleh hujan. Tali sampingnya kendur. Beberapa papan terlihat patah di bagian tepi.
Aku tidak punya pilihan.
“Go!”
Steadfeet melompat ke atas jembatan.
Papan pertama mengerang keras di bawah berat kami. Suaranya seperti tulang tua yang dipaksa bangun. Air sungai berdesir di bawah, gelap dan cepat, menghantam batu-batu besar dengan suara basah yang tajam. Aku merasakan jembatan bergoyang, merasakan Steadfeet ragu setengah detik, lalu aku menepuk lehernya dengan tangan gemetar.
“Terus. Terus, boy.”
Kami menyeberang.
Setiap langkah terdengar terlalu keras.
Duk.
Krek.
Duk.
Krek.
Di belakang, suara pengejar semakin jelas. Teriakan pendek. Perintah. Sepatu kuda mendekati turunan.
Steadfeet mencapai ujung jembatan dengan hentakan berat, lalu kembali ke tanah padat. Aku hampir menangis karena lega, tapi tubuhku tidak punya cukup ruang untuk itu.
Aku menarik napas tajam, lalu menoleh.
Obor pertama muncul di sisi seberang sungai.
Seorang prajurit berhenti di awal jembatan, wajahnya tersembunyi di balik helm basah. Di belakangnya, dua orang lagi menyusul. Salah satu dari mereka mengangkat tangan, menunjuk ke arahku.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti.
Aku melihat mereka.
Mereka melihatku.
Lalu aku melihat tali jembatan di sisiku, tua, basah, tertarik tegang oleh berat kayu.
Pisau kecil di pinggangku terasa menekan tulang pinggul.
Tanganku bergerak sebelum pikiranku sempat menyusul.
Aku turun dari pelana hampir jatuh, kakiku menghantam lumpur sampai betisku terbenam. Lututku gemetar. Seluruh tubuhku menolak bergerak lagi, tapi aku memaksa. Aku mencabut pisau itu, menggenggamnya dengan tangan yang licin oleh hujan dan keringat.
Prajurit pertama mulai menyeberang.
Papan jembatan berderak di bawah langkah kudanya.
Aku menyayat tali pertama.
Tidak langsung putus.
Seratnya terlalu basah, terlalu tebal. Aku menggeram, menekan lebih keras, menggerakkan pisau dengan panik. Serpihan tali menggigit telapak tanganku. Dari seberang, seseorang berteriak.
Aku menyayat lagi.
Tali itu putus dengan suara cambukan basah.
Jembatan miring.
Kuda di atasnya menjerit.
Aku hampir jatuh ketika seluruh struktur kayu berguncang. Tanpa menunggu, aku menyerang tali kedua. Napasku keluar kasar, dadaku sakit, luka di pipiku terbakar. Pengejar di tengah jembatan berusaha mundur, tapi papan di bawahnya sudah miring, kukunya tergelincir, suara kayu pecah bercampur dengan teriakan manusia.
Tali kedua putus.
Jembatan runtuh ke sungai.
Suara kayu, logam, kuda, dan air menghantam malam sekaligus. Aku mundur tersandung, jatuh duduk di lumpur, pisau masih tergenggam di tangan. Di bawah, arus sungai menelan papan-papan patah dan obor yang padam satu per satu.
Aku duduk di sana beberapa detik, gemetar, napas terputus-putus, telingaku berdenging.
Steadfeet mendekat dan menyentuh bahuku dengan moncongnya yang basah.
Aku menoleh padanya.
Di seberang sungai, masih ada obor. Masih ada suara. Mereka belum selesai. Tapi untuk sekarang, sungai berada di antara kami.
Untuk sekarang, aku masih hidup.
Aku memaksa tubuhku berdiri. Kakiku lemah, tapi bergerak. Aku memasukkan pisau kembali ke pinggang, menggenggam pelana, lalu menarik diriku naik ke punggung Steadfeet dengan sisa tenaga yang terasa seperti bukan milikku lagi.
Di belakangku, istana sudah tidak terlihat.
Tapi aku masih bisa mencium asapnya.