Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Selepas subuh memang waktu yang pas untuk berbelanja, Annisa bisa dengan mudahnya memperoleh sayur-sayuran dan daging yang masih segar. Dengan penuh cekatan Annisa memasukan belanjaan yang di perlukan untuk warungnya pada keranjang belanjaan yang telah ia bawa.
Cara Annisa memilih bahan-bahan makanan, menawar harga hingga berinteraksi dengan penjual membuat Bian semakin terkagum-kagum pada sosok Annisa, ia hampir tak berkedip memperhatikan Annisa. "Biar aku saja yang bawakan," Bian meraih keranjang belajaan dari tangan Annisa, Annisa sempat menolaknya karena tak enak terus merepotkan Bian. "Enggak usah mas, biar Nissa saja yang bawa."
"Enggak apa-apa,lagian tanganku kosong enggak bawa apa-apa. Cepat kamu pilih saja apa lagi yang mau kamu beli, nanti pelangganmu keburu datang ke warung. Bagaimana kalo mereka kelamaan menunggu? Bisa kabur nanti mereka."
"Pelangganku sudah ada satu yang menunggu," Nissa menunjuk ke arah Bian. Bian tertawa melihat jari lentik Annisa yang menunjuk ke arahnya, keduanya pun tertawa bersama.
"Udah semua kok, tinggal beli ayam sama daging saja. Di sana." Annisa menunjuk ke arah tempat para penjual daging dan ikan, mereka berdua menerobos keramaian pasar. Bian yang tak tahu arah berjalan mengikuti Annisa dari belakang, sesekali Bian nampak melindungi Annisa saat Annisa berdesak-desakan dengan pembeli lainnya.
Bian amat terkagum-kagum pada kehebatan Annisa yang menggunakan hijab sebegitu panjang tapi tak merasa kegerahan, padahal dirinya beberapa kali napak mengipas-ngipaskan selembar kertas ke wajahnya.
"Diminum dulu mas jahe hangatnya," Annisa mengulurkan wedang jahe dalam gelas plastik kemasan pada Bian yang tengah duduk di pinggir pasar sembari mengipas wajahnya dengan kertas.
Bian mendongak, menatap Annisa kemudian pandangannya turun ke wedang jahe yang di berikan padanya. "Terima kasih," ucapnya sembari menerima wedang jahe yang di berikan Annisa. Bian langsung meminum wedang jahe tersebut hingga habis separuhnya.
Annisa tak hanya membelikan wedang jahe untuk Bian, namun ia juga membelikan Bian kue jajanan pasar seperti lupis bercampur cenil, arem-arem, yangko, gethuk dan lain sebagainya.
Tanpa rasa malu Bian pun memakannya. "Katanya mau makan soto? Kok malah di habiskan semuanya? nanti kalau kekenyangan malah enggak jadi makan soto buatanku," ucap Annisa dengan nada sedikit protes melihat plastik bungkus makanan hampir habis di lahap Bian.
"Untuk soto paling enak yang pernah aku makan, tentu punya tempat tersendiri di perutku." Bian menghabiskan suapan terakhir kue yang belum pernah ia makan.
Annisa menunduk tersipu malu, mendengar kalimat pujian yang di lontarkan oleh Bian, setelah wajah meronanya hilang barulah ia mengajak Bian ke bengkel untuk mengambil motornya.
Banyaknya barang yang di muat di motornya, membuat Bian enggan turun dari motor, ia hanya memperhatikan Annisa menjajal motornya dari luar bengkel. Annisa yang telihat lemah lembut seketika berubah menjadi wanita tangguh ketika ia duduk di motor antiknya. "Wanita itu sungguh menakjubkan," gumam Bian, ia hampir tak pernah melihat wanita seanggun Annisa mengendarai motor gede. Kebanyakan dari teman-teman wanitanya terlihat sangat manja, terlebih mantan kekasihnya Caroline, yang hampir tak pernah menemaninya naik motor.
"Mas Imam terima kasih sudah membelikan sparepart dan membayarkan ongkos bengkelnya," ucap Annisa ketika ia melajukan motornya mendekat ke arah Bian.
Bian tersenyum sembari menganggukan kepala. "Sama-sama, ayo jalan," Bian meminta Annisa jalan terlebih dahulu, barulah Bian mengikutinya dari belakang, namun saat jalanan lengang, Bian menyelinap ke samping Annisa. "Nis, sejak kapan kau suka motor gede?" tanya Bian.
"Sejak kecil," jawab Annisa. "Dulu almarhum bapak sering mengajakku dan mas Fahri jalan-jalan, sejak saat itu aku dan mas Fahri suka motor gede. Tapi sayangnya punya mas Fahri sudah di jual tiga minggu yang lalu untuk biaya pengobatan ibu, jadi motor yang tersisa di rumah hanya ini dan motor bebek yang biasa mas Fahri pakai."
"Maaf ya aku jadi...." Bian sedikit menyesal karena sudah mengingatkan, Nissa pada hal yang mungkin saja membuatnya bersedih karena di tinggal oleh orang yang tercinta.
"Enggak apa-apa kok mas. Bapak meninggal sejak aku kelas dua SMP, jadi Insyaallah aku sudah sangat ikhlas meski terkadang aku rindu sekali dengan beliau."
Bian menoleh ke arah kaca sepionnya, memastikan tak ada kendaraan yang melintas sebab ia masih ingin di samping motor Annisa. "Kalau boleh aku tahu, ibu sakit apa Nis?"
Raut wajah Annisa berubah menjadi sedih. "Jantung mas, ibu baru saja menjalani operasi pemasangan ring di jantungnya, untuk itulah mas Fahri pulang ke Jogja. Dan mas Fahri meminjam uang komunitas mas Imam untuk biaya operasi ibu, tapi Insyaallah hari ini akan di ganti. Mas Fahri sedang ke Solo untuk menjual tanah peninggalan bapak, mas Imam tidak buru-buru kan mau pakai uangnya?"
Bian terdiam, ia menurunkan kecepatan motornya dan membiarkan Annisa di depan. Ia tak bisa membayangkan jika Annisa tahu bahwa uang itu akan ia pakai untuk membeli senjata api ilegal.
Annisa pun ikut menurunkan kecepatan kendaraannya sehingga ia bisa bersebelahan lagi dengan Bian. "Aku atas nama mas Fahri ingin minta maaf pada mas Imam, aku bisa jamin hal ini tidak akan terulang lagi."
Bian tersenyum sembari menganggukan kepala. "Aku mengerti, Nis."
Sesampainya di warung, dengan penuh cekatan Annisa membongkar belanjaannnya, ia langsung meracik bumbu-bumbu serta bahan-bahan yang di perlukan untuk membuat soto.
Semntara Bian tak begitu saja tinggal diam, ia mengecek sendok, garpu, lada, tisu, hingga garam di masing-masing meja makan pelanggan. Setelah bagian depan di rasa sudah beres, Bian beralih ke belakang membantu Annisa. "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Bian.
"Mas Imam tunggu saja di depan, sebentar lagi sotonya siap kok," ucap Annisa.
"Siap?" Bian melirik ke arah perkedel dan baceman tempe, tahu yang belum di goreng. Tanpa meminta persetujuan Annisa, ia menggulung lengan bajunya kemudian ia mengambil penggorengan. "Kau urus saja sotonya, biar aku yang menggoreng ini."
"Mas Imam bisa menggoreng?" tanya Annisa setengah tidak percaya.
"Aku tinggal sendiri di rumah, tentu aku bisa masak." ia memperluhatkan kebolehannya dalam memasak. Tak hanya menggoreng baceman yang sudah jadi, Bian pun memperlihatkan kebolehannya membuat tempe mendoan.
"Kau cobain mendoan buatanku," Bian memasukan mendoan buatannya ke mulut Annisa. Annisa yang terkejut dengan refleknya membuka mulutnya dan tangannya memegang mendoan tersebut, sebab Bian langsung berlalu menghampiri pelanggan sembari membawa gorengan buatannya.
Dengan gesit, Bian mencatat pesanan pelanggan, kemudian ia kembali lagi ke dapur membawa catatan pesanan. Hari itu mereka berdua bekerjasama melayani pelanggan yang datang ke warung soto Annisa.
Di sela-sela kesibukan mereka, Annisa masih menyempatkan diri untuk melakukan shalat sunah dhuha. Bian nampak mengintip dari balik dapur, ia kembali berpura-pura mengambil soto untuk pelanggan ketika Annisa menghampirinya.
"Tadi kamu shalat apa?" tanya Bian dengan polosnya, yang ia tahu shalat hanyalah yang 5 waktu saja.
"Shalat sunah dhuha," jawab Annisa. "Sebagai rasa syukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadaku dan keluarga. Aku berharap Allah meridhoi semua jalan yang kami tempuh untuk mengobati ibu."
Entah untuk keberapa kalinya Bian di buat terdiam oleh perkataan dan sikap Annisa. Bian merasa selama ini ia hampir tidak pernah bersyukur atas apa yang telah ia peroleh, padahal Allah sudah memberikannya hidup yang berkecukupan.
"Aku ke depan dulu ya mas, mas makan saja, nanti sotonya keburu habis." Annisa berlalu meninggalkan Bian.
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...