"Apa kamu tidak keberatan berbagi suami denganku?"
Anyelir menipiskan bibir. "Pertama, pelajari lagi tata bahasa. Pertanyaanmu bikin salah paham. Kedua, hanya saya Istri satu-satunya. Ketiga, saya tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya."
"Oh, My Darling love you too. Thanks untuk pujian manisnya," balas Axton dengan nada mencibir.
Axton dan Anyelir adalah korban perjodohan dari ketamakan orang tua masing-masing. Keduanya tidak saling mencintai, tidak saling menginginkan, tidak juga ingin terikat terlalu lama. Akan tetapi, suatu hari, baik Axton maupun Anyelir justru sepakat menjalani 'open marriage'.
Di mana, masing-masing dari mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu. Terkecuali di depan media dan keluarga, Axton dan Anyelir akan tetap menunjukan hubungan yang manis, berlagak sebagai pasangan ideal dan serasi.
Benar, seharusnya mereka hanya perlu berpura-pura tanpa harus saling menyakiti akan perasaan terlarang itu.
Cover by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilwa Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesakit Itu?
Anyelir membuka mata lemah. Belum sampai terbuka sempurna, memejam lagi. Kepalanya terasa dirajam ribuan belati, sakit tertusuk.
Sembari memegangi bagian samping kepala, Anyelir memaksa terbangun. Setelah berhasil duduk dan bersandar di headboard ranjang, matanya terbuka lemah. Mengerjap-ngerjap, menyesuaikan dengan pencahayaan terang yang berasal dari celah sempit gorden balkon yang belum disibak.
"Ke mana dia?" gumam Anyelir baru menyadari Axton sudah tidak ada di sisinya. Padahal, hampir tidak pernah Axton bangun lebih dulu dari Anyelir. Kadang-kadang malah begitu susah dibangunkan.
Anyelir yang tengah termangu menebak-nebak kepergian Axton, sukses terkaget mendengar bunyi nyaring dari luar kamar. Tak hanya satu kali, tapi berulang kali.
PRANG!!!
"Axton."
Menggeram, Anyelir cepat turun dari ranjang. Berlalu tergesa-gesa keluar kamar. Sampai-sampai melupakan alas kakinya. Juga melewatkan keadaan kamar yang sepagi itu sudah bersih dan rapi. Bahkan, sprei yang semalam berantakan setelah digunakan bercinta habis-habisan, sudah diganti dengan yang baru. Begitupun dengan baju-baju keduanya, sudah tidak terdapat berserakan lagi di lantai. Mendadak lenyap entah ke mana.
"Kamu ngapain?" tanya Anyelir menahan kekesalannya begitu mendapati Axton tengah jongkok memunguti peralatan dapur yang terjatuh. Suara bising tadi, berasal dari Axton yang entah habis melakukan pertunjukan apa sepagi itu.
Mendengar suara penuh emosional yang ditahan Anyelir, Axton kontan mendongak. Kemudian, menyengir lebar. Geleng-geleng kepala, menunduk lagi untuk membereskan kekacauan yang baru saja diperbuatnya.
Menghela napas, Anyelir mendekati Axton. Membantu memunguti milkpan, saucepan, frypan, sampai spatula di mana kedapatan habis dibuat memasak. Kelihatan dari noda-noda membandel yang ada. Dan juga bukti kuat, spaghetti korban keganasan Axton. Yang entah bagaimana gaya akrobatiknya, sampai bisa membuat spaghetti itu berakhir malang seperti peralatan masak.
"Tadi tuh aku mau ngangkat spaghetti. Eh, tapi, gagang pasang-lepasnya lupa aku kunci waktu mau mengangkat frypan-nya. Jadinya, nyenggol alat masak yang lain yang belum sempat aku bereskan dari atas kompor. Berjatuhan semua deh akhirnya."
"Kamu gapapa?"
Axton menoleh cepat pada Anyelir. Mengulum bibir, menahan seutas senyuman lebar.
"Barusan kamu perhatian, ya sama aku? Takut aku kenapa-kenapa? Cie, yang perhatian sama suaminya," goda Axton mencolek-colek lengan Anyelir. Terkekeh renyah kala Anyelir balas dengan dengkusan.
Tak lagi menggoda, Axton bersama Anyelir melanjutkan beres-beresnya. Membawa semua kekacauan ke bak cuci piring. Sewaktu Anyelir mau langsung menyambut dengan mencucinya, Axton melarang keras. Menarik Anyelir mundur, geleng-geleng kepala tidak mengizinkan.
"Kamu mandi aja. Biar aku yang beres-beres. Anggap aja sebagai bentuk kemajuan aku yang mau serius jalani rumah tangga sama kamu."
"Memangnya selama ini, kamu hanya main-main?"
"Di mata kamu, begitu bukan."
Axton menyunggingkan senyum tipis, mengusap-usap rambut berantakan Anyelir. Berlalu mendekati bak cuci piring, mengambil spon dan mulai mencuci peralatan masaknya.
"Semalam aku serius. Bentuk keseriusanku yang lain, dengan aku nggak lagi pakai pengaman. Perkataanku yang kapan lalu pengen punya anak dari kamu, itu juga nggak main-main. Secepatnya aku mau kamu hamil anakku."
"Aku belum menyetujuinya, belum tentu mau juga."
Gerakan Axton yang tengah menyabuni milkpan, terhenti. Tak lama kemudian, bergerak lagi. Stabil, tak menggebu-gebu seperti biasanya setelah habis kena serangan tepat sasaran Anyelir.
"Perlahan-lahan. Aku bantu."
"Lebih baik kamu nggak terlalu banyak berharap." Anyelir mendekat, mengambil tempat di sebelah Axton. Mengamati pergerakan tangan suaminya yang masih bergelut dengan busa sabun. "Aku lebih nyaman hubungan kita seperti ini. Nggak perlu memakai hati. Nggak bikin stres juga andai ... kamu diam-diam masih menjalin hubungan dengan perempuan lagi. Aku juga nggak bakal ninggalin kamu kok. Jadi, tenang aja. Kita jalani seperti biasanya, nggak perlu ada yang diubah," tegas Anyelir seolah-olah bisa mengendalikan diri, menaklukkan takdir yang siapa yang tahu selain Tuhan.
Axton tak menyahut, menuntaskan dulu membasuh peralatan masak yang semuanya sudah sabuni. Setelah selesai sekalian membersikan sink supaya tidak berakhir berkarat, Axton baru menanggapi. Bergerak menyerong menghadap Anyelir yang masih mengarah pada kitchen set.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu. Dan aku mohon, jawab sejujur-jujurnya. Bisa, 'kan."
Anyelir mengangguk, melirik sekilas Axton sebelum mengalihkan fokus kembali pada sticker dino yang ditempel di dinding.
"Sekali aja, apa kamu nggak pernah mikirin tujuan hidup kamu? Kebahagiaan kamu, mimpi-mimpi sederhana kamu seperti misalnya; memiliki keluarga kecil bersama seorang pria yang kamu cintai. Sebaliknya ... juga mencintai kamu. Membangun lembaran baru yang mungkin-mungkin aja, nggak kamu dapatkan di masa kecil sampai kamu tumbuh sedewasa ini. Apa nggak pernah?"
"Nggak pernah," sahut Anyelir terlampaui cepat. Juga tegas. Ikutan menyerong, spontan melakukan kontak mata dengan Axton. Saling menyelami kedalaman mata masih-masih.
"Semua mimpi-mimpiku udah terkabul. Pendidikan setinggi-tingginya, bisa mandiri, membanggakan orang tua sekaligus membahagiakannya. Menikah dengan pria yang sepadan, tampan, dan paling penting diterima baik keluargaku. Membangun perusahaan bersama yang sukses, dan masih banyak lagi yang kamu sendiri pasti tahu. Semuanya udah terkabul, aku bahagia, aku nggak kekurangan apa-apa. Apalagi yang mau dicari? Bukankah lebih baik terus melanjutkan hidup, menjalaninya dengan suka cita dan ikhlas sampai ajal menjemput."
Sewaktu mengatakannya, wajah Anyelir tampak berseri-seri. Apalagi binar di matanya, menyiratkan kebahagiaan. Dipertegas dengan bibirnya yang menampilkan senyuman tulus. Semuanya tampak baik-baik saja, sesuai yang dikatakan Anyelir.
Akan tetapi, kenapa Axton tetap tidak bisa mempercayainya. Anyelir terlalu handal dalam berakting, juga terlalu rumit. Kadang-kadang Axton sampai kebingungan apa yang sebenarnya istirnya itu inginkan. Kenapa bisa sesantai itu menjalani semuanya. Padahal, saat pertama kali Axton terjerat skandal, akalnya hampir hilang. Rasa-rasanya ingin mati saja karena skandal itu semuanya kena imbas. Tapi, tidak sama halnya dengan Anyelir yang menganggap masalah itu tak lebih sederhana dari saos yang tak sengaja mengotori tangan. Bisa dibersihkan saat itu juga tanpa banyak drama, apalagi koar-koar.
Menyadari tatapan Axton meragu, Anyelir kembali meyakinkan. Satu tangannya terangkat dan hinggap di pundak Axton. Mengusap-usap kerasa di sana.
"Nggak usah mikirin kebahagiaan aku. Pikirkan saja kebahagiaan kamu. Kamu senang, aku pun senang. Sebaliknya begitu. Simpel, nggak perlu banyak menuntut dan saling melempar kesalahan."
"Sesakit itu?"
Anyelir mengangkat satu alisnya, tak terlalu paham pembahasan apa yang Axton maksud.
"Sakit banget, ya?"
"Maksudnya—"
Perkataan Anyelir terputus lantaran Axton yang tiba-tiba merengkuh tubuhnya masuk pelukan. Melingkari pundak dan pinggang Anyelir erat.
"Aku nggak akan biarin siapapun nyakitin kamu lagi. Termasuk diri aku sendiri. Maaf, ya. Aku akan berubah, aku mau berubah demi kamu," lirih Axton di depan telinga Anyelir. Setelahnya, menelungkupkan wajah di perpotong leher Anyelir, bergelung manja di sana.
Anyelir masih membisu. Mau membalas sederet perkataan aneh Axton, lidahnya terasa kelu. Entah kenapa, perkataan Axton kali ini, terdengar agak ... menyedihkan. Hinggap sanggup membuat Anyelir terjebak dalam kebisuan lumayan lama. Juga rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan secara gamblang.
Perlahan, kedua tangan Anyelir membalas melingkupi punggung Axton. Memeluk pas. Menjatuhkan dahi di pundak suaminya, memejamkan mata seiring rasa kantuk yang mulai menyergap. Anyelir menahan lengkungan senyum kala merasakan perasaan itu lagi.
Jika boleh jujur, ada kalanya Anyelir merasa nyaman berada dalam dekapan hangat Axton.