elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Empat Puluh Lima Juta untuk Dua Belas Tahun
“Apakah keputusan itu sudah final?” tanya Nan Shin.
Di meja makan, Cheng An dan Ibu Kho berhenti berdebat tentang uang les. Suara HRD terdengar jelas dari ponsel yang menempel di telinganya.
“Hasil evaluasi sudah disetujui tim manajemen,” jawab supervisor itu. “Kami mengundang Ibu besok pukul sepuluh untuk menerima penjelasan dan dokumen resmi.”
“Apakah kontrak saya dihentikan?”
“Rinciannya disampaikan besok.”
“Saya perlu tahu apakah harus masuk shift setelah pertemuan.”
Ada bunyi kertas dibalik.
“Untuk jadwal besok, Ibu tetap masuk seperti biasa sampai ada penyerahan dokumen.”
“Boleh saya didampingi kepala unit?”
“Pertemuan bersifat individual. Ibu dapat berkonsultasi setelah menerima dokumen.”
“Dokumen apa yang perlu saya bawa?”
“Kartu identitas pegawai dan berkas pendukung bila Ibu ingin menyampaikan tanggapan.”
“Saya juga meminta salinan semua dokumen yang dijelaskan besok.”
“Permintaan itu dapat disampaikan saat pertemuan.”
“Baik. Saya akan membawa daftar pertanyaan dan memeriksa setiap halaman sebelum menandatangani.”
Sambungan berakhir dengan ucapan formal yang tidak menjawab pertanyaan pertama.
Ibu Kho langsung bertanya, “Bagaimana?”
“Besok dijelaskan.”
“Soal pesangon juga?”
Nan Shin memandangnya. “Yang Mama pikirkan cuma itu?”
“Mama mau tahu supaya keluarga bisa merencanakan.”
“Itu uang dari kehilangan pekerjaanku, bukan uang tambahan keluarga.”
Cheng An mengangkat tangan sebelum ibunya membalas. “Tunggu hasil besok. Jangan bertengkar sekarang.”
Sekali lagi, menunggu menjadi jawaban untuk hidup Nan Shin.
Malam itu ia menyiapkan satu map khusus. Salinan dua belas kontrak. Rekap kehadiran. Penilaian tahunan. Sertifikat pelatihan. Laporan kesalahan dokumentasi beserta keterangan tidak ada dampak klinis. Foto jadwal sebelum dan sesudah dikurangi. Catatan pertemuan pertama dengan HRD.
Ia juga menuliskan pertanyaan pada selembar kertas.
Dasar keputusan.
Tanggal kerja terakhir.
Perhitungan kompensasi.
Status BPJS setelah kontrak berakhir.
Sisa cuti dan pembayaran shift.
Hak menerima salinan sebelum menandatangani.
Saat Cheng An masuk kamar, Nan Shin sedang memasukkan pulpen ke map.
“Besok aku dipanggil untuk hasil akhir.”
“Aku ada presentasi pagi.”
“Aku nggak minta kamu ikut. Aku memberi tahu.”
Cheng An berhenti membuka kancing manset. “Kirim pesan setelah selesai.”
“Kalau mereka memberi dokumen, aku tidak akan langsung tanda tangan.”
“Baca dulu. Itu benar.”
“Kamu mau melihat kontrak dan daftar pertanyaanku sekarang?”
Cheng An melirik map itu. “Aku belum selesai menyiapkan presentasi.”
“Sepuluh menit.”
“Aku takut malah memberi pendapat yang salah. Ini urusan HRD.”
“Kamu juga pegawai rumah sakit. Setidaknya lihat apakah pertanyaannya jelas.”
Cheng An menarik satu lembar paling atas. “Dasar keputusan, tanggal terakhir, kompensasi, BPJS. Sudah cukup lengkap.”
“Ada yang menurutmu harus ditambah?”
“Tanyakan sisa shift dan surat pengalaman kerja.”
Nan Shin menambah dua baris. “Besok setelah pertemuan, angkat telepon saya.”
“Kalau tidak sedang presentasi, aku angkat.”
“Kalau tidak bisa, kirim pesan kapan kamu bisa bicara.”
Nan Shin menunggu tambahan kalimat, mungkin tawaran untuk melihat bersama atau sekadar bertanya apakah ia takut.
Tidak ada.
Keesokan paginya, Bu Ratna sudah menunggu di dekat pintu IGD ketika Nan Shin datang.
“HRD menelepon saya,” katanya. “Mereka minta rekap kinerja terakhir.”
“Saya tahu hasilnya sudah disetujui.”
Bu Ratna menyerahkan amplop cokelat. “Ini salinan rekomendasi saya. Saya tulis bahwa jumlah tenaga IGD belum ideal dan kompetensimu masih dibutuhkan.”
Nan Shin memegang amplop itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Bu.”
“Jangan tanda tangan dokumen yang belum kamu pahami.”
“Saya sudah siapkan pertanyaan.”
Bu Ratna meremas bahunya singkat. “Apa pun hasilnya, dua belas tahunmu bukan angka kosong.”
Kalimat itu hampir membuat pertahanan Nan Shin runtuh. Ia mengangguk dan berjalan menuju gedung administrasi sebelum matanya terlalu panas.
Di ruang HRD, supervisor yang sama duduk bersama seorang staf pencatat. Di atas meja sudah tersedia botol air, kotak tisu, dan dua set dokumen.
Kehadiran tisu membuat Nan Shin tahu kabar itu buruk sebelum satu kata pun diucapkan.
“Silakan duduk, Ibu Nan Shin.”
Ia meletakkan mapnya di kursi sebelah.
Supervisor HRD membuka pertemuan dengan membaca nomor keputusan. “Berdasarkan hasil penataan kebutuhan tenaga, evaluasi kinerja, status hubungan kerja, dan ketersediaan anggaran, rumah sakit memutuskan tidak melanjutkan hubungan kerja Ibu setelah masa penyerahan tugas selesai.”
Suara pendingin ruangan terdengar seperti angin yang melewati ruang kosong.
“Tanggal terakhir?”
“Empat belas hari dari sekarang.”
“Kontrak saya sebenarnya masih sampai akhir tahun.”
“Dokumen ini menggunakan mekanisme penyelesaian lebih awal dengan kompensasi sesuai perhitungan tim legal dan kebijakan rumah sakit.”
Nan Shin membuka pulpen. “Dasar kinerja apa yang membuat saya dipilih?”
“Keputusan tidak hanya berdasarkan kinerja. Ada status kontrak, komposisi usia tenaga, kebutuhan regenerasi, efisiensi biaya, dan penyesuaian jumlah pegawai.”
“Apakah penilaian kinerja saya buruk?”
“Secara umum baik.”
“Apakah unit saya kelebihan tenaga?”
Supervisor melihat staf pencatat. “Beban tenaga dinilai pada tingkat organisasi, bukan hanya satu shift atau satu unit.”
“Apakah ada posisi lain yang ditawarkan?”
“Saat ini tidak ada.”
“Apakah rumah sakit sudah memeriksa seluruh unit sebelum menyatakan tidak ada?”
“Daftar kekosongan ditinjau dalam proses penataan.”
“Saya punya pengalaman triase, rawat darurat, edukasi keluarga, dan dokumentasi. Unit mana yang dinilai?”
Supervisor membuka halaman lain. “Saya tidak dapat membagikan daftar internal penempatan.”
“Berarti saya diminta percaya tidak ada tempat tanpa mengetahui tempat mana yang diperiksa.”
“Keputusan dibuat pada tingkat organisasi.”
“Saya ingin kalimat tidak ada posisi yang tersedia dicantumkan dalam berita acara.”
Staf pencatat mulai mengetik. “Kami catat sebagai pertanyaan dan jawaban pertemuan.”
Nan Shin mencatat setiap jawaban.
Supervisor itu menggeser dokumen kedua. “Berikut paket penyelesaian hubungan kerja yang ditawarkan.”
Di halaman pertama ada tabel tiga baris.
Kompensasi penyelesaian kontrak berjalan: dua puluh empat juta rupiah.
Penggantian sisa cuti dan komponen shift: enam juta rupiah.
Penghargaan masa pengabdian internal: lima belas juta rupiah.
Total: Rp 45.000.000.
Nan Shin membaca angka itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Empat puluh lima juta.
Jumlah yang cukup besar bila dilihat sebagai uang tunai yang datang sekaligus. Namun bila dibagi dua belas tahun, setiap tahun pengabdiannya dihargai kurang dari empat juta. Tidak sampai satu bulan dari pendapatan gabungan yang biasa dipakai rumah mereka untuk hidup.
Nan Shin membuka kontrak-kontrak lama satu per satu. Nomor pegawainya sama. Nama unitnya sama. Deskripsi tugasnya hanya berubah susunan kata. Pada tahun ketiga ia masih menandatangani setelah pulang dari shift malam. Pada tahun keenam, kertasnya memiliki bekas lipatan karena dibawa ke ruang menyusui. Pada kontrak tahun kesepuluh, tanda tangannya sedikit miring akibat pergelangan tangan yang nyeri setelah berjam-jam melakukan kompresi dan memindahkan pasien.
Semua periode itu disebut terpisah sekarang, tetapi tubuh yang menjalaninya tidak pernah berganti.
Ia menghitung cepat di tepi kertas. Delapan juta lima ratus ribu untuk tagihan les yang baru saja ditolak. Belasan juta untuk kebutuhan rumah, sekolah, transportasi, dan cicilan dalam satu bulan. Bila seluruh Rp 45 juta dipakai untuk bertahan tanpa pemasukan, uang itu mungkin habis dalam beberapa bulan, bahkan sebelum ia mendapat pekerjaan baru.
Tidak ada dana pelatihan ulang. Tidak ada perlindungan khusus untuk usia tiga puluh tujuh. Tidak ada jaminan bahwa rumah sakit lain akan melihat pengalamannya sebagai nilai, bukan biaya.
Angka itu bukan awal hidup baru.
Itu harga yang ditawarkan agar dua belas tahun bisa ditutup secepat mungkin.
Dua belas tahun penuh.
“Di mana perhitungan dua belas tahun hubungan kerja saya?”
Supervisor menunjuk baris ketiga. “Penghargaan masa pengabdian internal.”
“Lima belas juta untuk dua belas tahun?”
“Itu komponen tambahan di luar penyelesaian kontrak berjalan.”
Nan Shin membuka kontrak pertama dan meletakkannya di meja. “Saya bekerja terus sejak tahun pertama. Unit sama, tugas sama, pemberi kerja sama. Tidak ada jeda.”
“Kontrak Ibu diperbarui per periode.”
“Karena rumah sakit yang membuatnya begitu.”
“Setiap periode sebelumnya sudah dinyatakan selesai dan diperpanjang dengan perjanjian baru.”
“Apakah kompensasi akhir setiap periode pernah dibayarkan?”
Supervisor membuka data di komputer. “Saya perlu memeriksa arsip penggajian lama.”
“Berarti perhitungan ini belum memeriksa semuanya.”
“Perhitungan telah disusun berdasarkan data yang tersedia dan ditinjau tim legal.”
Nan Shin mengambil lembar pertanyaannya. “Saya menghitung berdasarkan masa kerja terus-menerus, sisa kontrak, komponen shift, dan hak yang belum pernah dibayar terpisah. Perkiraan paling rendah saya lebih dari dua kali angka ini.”
“Perhitungan pribadi belum tentu menggunakan dasar yang sama.”
“Karena itu saya meminta dasar tertulisnya.”
Supervisor mendorong halaman lampiran. Isinya penuh istilah dan nomor kebijakan internal, tetapi tidak ada rincian pembayaran dari sebelas kontrak sebelumnya.
“Saya juga minta riwayat pembayaran kompensasi setiap perpanjangan,” kata Nan Shin.
“Permintaan itu bisa diajukan tertulis.”
“Saya ajukan sekarang.”
Staf pencatat mulai mengetik.
Supervisor HRD menarik napas pelan. “Ibu Nan Shin, kami memahami ini tidak mudah. Paket ini mempertimbangkan kondisi rumah sakit dan masa pengabdian Ibu.”
Nan Shin menatap botol air yang belum dibuka. “Kalau masa pengabdian benar-benar dipertimbangkan, saya tidak perlu bertanya di mana dua belas tahun saya dihitung.”
“Paket serupa juga diberikan kepada pegawai terdampak lain sesuai kategorinya.”
“Ketidakadilan yang dibagi rata tetap bukan penjelasan.”
Staf pencatat berhenti mengetik sesaat.
Supervisor merapatkan dokumen. “Ibu tidak harus menandatangani hari ini. Kami memberi waktu tiga hari kerja untuk mempelajari dan memberikan tanggapan.”
“Saya akan membawa salinannya.”
“Silakan. Dokumen ini bersifat pribadi.”
Nan Shin membaca halaman tanda terima. Ia hanya menandatangani bahwa dua set dokumen telah diterima, bukan menyetujui jumlahnya. Ia meminta stempel pada salinan dan memotret nomor berkas.
“Bagaimana BPJS setelah hari terakhir?”
“Kepesertaan melalui rumah sakit akan dinonaktifkan sesuai periode administrasi. HRD akan memberikan petunjuk pengalihan ke peserta mandiri atau tanggungan keluarga.”
“Sisa gaji dan shift?”
“Dibayar pada siklus penggajian terakhir.”
“Apakah saya tetap bekerja empat belas hari?”
“Ibu menyelesaikan serah terima sesuai jadwal yang ditetapkan unit.”
Nan Shin mencatat semuanya.
Ketika pertanyaan habis, tidak ada alasan lagi untuk duduk. Ia memasukkan dokumen ke map. Kertas itu jauh lebih tipis daripada dua belas kontrak yang dibawanya, tetapi terasa lebih berat.
Di luar ruang HRD, beberapa orang menunggu giliran. Kak Sri duduk di kursi paling ujung. Mata mereka bertemu.
Kak Sri tidak bertanya. Nan Shin hanya mengangguk sekali.
Wajah perempuan itu langsung pucat.
Nan Shin berjalan ke jendela ujung koridor. Langit yang sejak pagi kelabu akhirnya pecah. Tetes hujan menghantam kaca, mula-mula jarang, lalu rapat sampai gedung di seberang tampak kabur.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Cheng An.
Presentasi selesai. Nanti kabari hasilmu.
Nan Shin menatap angka pada halaman pertama sekali lagi.
Rp 45.000.000.
Tangannya mulai gemetar ketika hujan di luar semakin deras.