NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Keesokan harinya...

Seperti biasanya, dapur rumah Ibra sudah ramai sejak pukul lima pagi. Aroma roti yang dipanggang bercampur dengan wangi mentega memenuhi ruangan.

Ibra berdiri di depan meja dapur dengan celemek hitam sederhana. Jemarinya bergerak cekatan menyusun sandwich berisi telur, selada, tomat, dan irisan daging asap. Di sampingnya sudah tersedia dua kotak bekal berwarna biru tua dan warna putih.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki kecil mendekat. "Ayah..."

Ibra menoleh. Arjun masih mengucek matanya, rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun tidur.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Udah bangun?"

Arjun mengangguk. "Iya. Bekal Arjun apa hari ini, Yah?"

Ibra menutup salah satu kotak bekal lalu menunjukkannya. "Sandwich sama buah anggur. Terus ada susu."

Mata Arjun langsung berbinar. "Waaah... Enak-enak."

Bocah itu lalu memperhatikan meja dapur lebih teliti. Keningnya berkerut. "Lho? Kok ada dua kotak bekal?"

Deg!

Jantung Ibra berdetak sedikit lebih cepat. Ia memang sengaja menyiapkan satu kotak lagi. Bukan untuk dirinya. Melainkan untuk Azel.

Entah sejak kapan keinginan itu muncul. Mungkin sebagai ucapan terima kasih. Mungkin juga karena ia merasa gadis itu telah membawa banyak perubahan pada Arjun. Namun ia sendiri belum bisa menjelaskan alasannya.

Ibra tetap memasang wajah tenang. "Yang satu buat Ayah."

"Oh..." Arjun mengangguk polos tanpa sedikit pun curiga. "Iya ya. Ayah juga harus makan."

"Betul." Ibra menghela napas lega dalam hati. Untung saja Arjun tidak bertanya lebih jauh.

Setelah semua bekal selesai dimasukkan ke dalam tas, Ibra memandang sekilas kotak bekal yang satunya.

Masih hangat. Ia sempat ragu. "Apa ini berlebihan?" batinnya.

"Bagaimana kalau dia menolak? Atau malah salah paham?"

Ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikirannya sendiri. "Ini hanya ucapan terima kasih. Tidak lebih."

Bukankah Azel sudah berkali-kali meluangkan waktu untuk bermain dengan Arjun, bahkan di luar jam daycare? Berkat kehadiran gadis itu, Arjun jauh lebih sering tertawa, lebih ceria, dan tidak lagi mudah murung seperti dulu.

Sebagai seorang ayah, Ibra merasa sangat bersyukur. Tak ada pemberian yang benar-benar bisa membalas perhatian tulus itu. Karena itulah, pagi ini ia hanya ingin memberikan bekal sederhana hasil masakannya sendiri.

Semoga... Azel mau menerimanya.

***

Ibra mengajar mata kuliah Statistika Bisnis pagi itu seperti biasa.bRaut wajahnya tetap datar.bNada bicaranya tenang. Namun pikirannya sama sekali tidak setenang penampilannya.

Sejak berangkat dari rumah, dua kotak bekal yang ia siapkan masih tersimpan rapi di dalam tas.

Satu untuk Arjun. Satu lagi... Entah kenapa ia buat untuk Azel.

Padahal semalaman ia sudah berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu tidak perlu.

"Apa yang akan saya katakan?"

"Ini untuk kamu?"

"Sebagai ucapan terima kasih?"

"Karena Arjun menyukai kamu?"

Semua alasan itu terdengar aneh. Bahkan bagi dirinya sendiri. Lamunannya buyar ketika melihat mahasiswa-mahasiswanya mulai selesai mengerjakan latihan.

"Baik. Silakan kumpulkan tugasnya."

Ruangan langsung dipenuhi suara kursi yang bergeser.

"Kalian boleh pulang setelah mengumpulkan."

Beberapa mahasiswa maju bergantian. Setelah hampir semua selesai, Ibra kembali membuka daftar absennya.

"Azel."

"I-iya, Pak."

"Nanti seluruh tugas kelas ini tolong antarkan ke ruang saya."

Azel yang sedang merapikan bukunya sedikit terkejut. "Iya, Pak."

Mahasiswa lain mulai keluar satu per satu.

Bella melirik Azel. "Semangat."

Sekar menepuk bahunya. "Semoga gak diajak debat lagi."

Azel hanya mendesah. "Aamiin."

Lima belas menit kemudian, Azel berdiri di depan ruang dosen sambil membawa setumpuk lembar jawaban.

Tok. Tok.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam. Masuk."

Azel membuka pintu. Ibra sedang duduk di belakang meja sambil membaca beberapa dokumen.

"Pak, ini tugas teman-teman."

"Letakkan di sini."

"Iya." Azel meletakkan tumpukan tugas di atas meja.

"Nah, kalau begitu saya pamit—"

"Tunggu."

Langkah Azel terhenti. "Iya, Pak?"

Ibra tampak berdeham pelan. Entah kenapa kalimat yang biasanya mudah keluar saat mengajar. Kini justru terasa sulit diucapkan.

Ia membuka tas kerjanya. Mengambil sebuah kotak bekal berwarna putih. Lalu meletakkannya di atas meja.

"Ini..."

Azel mengernyit. "Pak?"

Ibra sendiri tampak canggung. "Untuk kamu."

"Hah?" Azel sampai melongo. "Buat... saya?"

"Iya."

"Lho? Kenapa, Pak?"

Ibra mengalihkan pandangan sesaat. "Kemarin Arjun yang meminta. Katanya kamu belum pernah mencicipi masakan saya. Jadi tadi pagi saya sekalian membuat lebih."

Seketika Azel teringat ucapan polos Arjun saat video call. "Nanti Kak Azel cobain masakan Ayah ya."

Wajahnya langsung memerah.

"Ya Allah... Itu bocah beneran diomongin ke ayahnya."

Ibra berdeham kecil. "Kalau tidak mau juga tidak apa-apa."

"Bukan begitu, Pak." Azel buru-buru menggeleng. "Saya cuma kaget. Kirain Bapak lagi ngasih tugas tambahan."

Ibra menatapnya datar. "Kamu pikir saya seperti itu?"

"Iya."

"Kok iya?"

"Soalnya Bapak memang begitu."

"Saya?"

"Iya. Setiap ketemu saya pasti ditanya terus."

"Itu karena saya ingin memastikan mahasiswa saya memahami materi."

"Nah kan itu lagi. Bahkan ngasih bekal aja masih sambil kuliah."

Sudut bibir Ibra nyaris terangkat. "Kamu selalu punya jawaban."

"Soalnya Bapak selalu punya pertanyaan. Kita impas."

Beberapa detik... Ruangan mendadak hening. Lalu Ibra mendorong perlahan kotak bekal itu ke arah Azel.

"Terima saja. Nanti Arjun akan bertanya. 'Ayah, Kak Azel jadi makan masakan Ayah nggak?'"

Azel tak kuasa menahan tawa kecil. "Yaudah deh kalau demi Arjun."

Ia mengambil kotak bekal itu dengan kedua tangan.n"Terima kasih ya, Pak."

Ibra mengangguk singkat. "Sama-sama."

Saat Azel hendak keluar, ia kembali menoleh. "Pak."

"Hm?"

"Kalau ternyata enak saya puji."

"Kalau nggak enak?"

Ibra balik bertanya dengan wajah datarnya.

Azel tersenyum jahil. "Saya kasih kritik. Supaya Bapak belajar lagi."

Ibra menatapnya beberapa detik. "Lumayan berani."

"Kan Bapak yang ngajarin."

Azel lalu cepat-cepat membuka pintu. "Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam."

Begitu pintu tertutup, Ibra tanpa sadar mengembuskan napas panjang. "Kenapa memberikan satu kotak bekal saja terasa lebih sulit daripada mengajar satu kelas penuh?"

***

Bella langsung menyenggol pelan lengan Azel. "Eh, Zel..."

Azel masih sibuk menutup kotak bekal itu. "Hm?"

Bella menatap bekal di tangan Azel dengan tatapan penuh selidik. "Itu bekel dari mana?"

Azel menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Dari... Arjun."

"Hah?"

Sekar dan Bella kompak membelalakkan mata. "Arjun?"

"Iya."

Bella langsung menatap Azel tidak percaya. "Eh bentar... Arjun yang anaknya Pak Ibra? Yang anak di daycare itu?"

"Iya."

Sekar menepuk meja pelan. "Lah, kok bisa?"

Azel mengembuskan napas panjang. "Kan Pak Ibra nyuruh gue nganter tugas ke ruanganny. Pas gue masuk beliau malah nyodorin bekal."

Bella langsung menutup mulutnya. "Ya Allah..."

Sekar ikut membungkuk mendekat. "Terus bilang apa?"

"Katanya..." Azel menirukan suara datar Ibra. "'Arjun titip ini buat kamu.'"

Bella memekik pelan. "Lucuuu!"

"Cih." Azel mendengus. "Lucu dari mana."

"Itu pasti bukan murni dari Arjun. Orang Arjun juga nggak tau juga kan cara masaknya. Mana mungkin anak sekecil itu bisa masak."

Bella menaik-turunkan alisnya. "Nah yang bikin siapa? Pasti Pak Ibra kan."

Azel terdiam beberapa detik. Benar juga.

Bella langsung menepuk bahu Sekar. "Tuh kan!"

Sekar ikut terkekeh. "Jangan-jangan lo ada hubungan ya sama Pak Ibra."

Azel spontan mendelik. "Gak ada! Beneran."

Bella masih belum puas. "Tapi kemarin beliau akrab banget sama Abi sama Uma lo."

"Ya iya... Soalnya baru ketahuan kalau Pak Ibra itu murid Abi sama almarhum Jaddun gue. Terus mama beliau ternyata dulu guru TK kakak-kakak kembar gue."

Sekar sampai memegang kepalanya sendiri. "Astaghfirullah... Plot twist banget."

Bella ikut mengangguk berkali-kali. "Serius. Awalnya anaknya. Terus bapaknya. Terus ternyata keluarga kalian udah saling kenal dari dulu."

Azel menopang dagunya di atas meja. "Hah... Gue juga bingung. Kayak... kenapa sih hidup gue muter-muter terus ketemu Pak Ibra?"

Sekar menahan tawa. "Ya mungkin emang udah jalannya."

Bella menyeringai jahil. "Atau... jodoh kali, Zel."

"SEKAR! BELLA!" Azel langsung mengangkat kotak bekalnya seolah hendak melempar.

Kedua sahabatnya sontak tertawa terbahak-bahak.

"Eh jangan! Itu sandwich sayang! Kalau dilempar mubazir!"

Azel akhirnya ikut tertawa sambil menggelengkan kepala. "Kalian berdua emang paling hobi bikin tekanan darah gue naik."

Sekar masih terkikik. "Ya gimana... Kalau bukan jodoh, masa iya kebetulannya sebanyak itu?"

Azel langsung menyumpal mulut Sekar dengan sepotong roti dari bekalnya. "Nih makan. Daripada ngomong aneh-aneh."

Bella kembali tertawa melihat tingkah mereka. Namun di balik tawanya, Bella sempat melirik kotak bekal yang sudah terbuka.

Dalam hati ia bergumam pelan, "Kalau cuma titipan Arjun... kenapa yang masak justru Pak Ibra?

***

Semua mata kuliah hari itu akhirnya selesai. Mahasiswa mulai berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis kembali ramai oleh suara obrolan dan tawa.

Azel berjalan berdampingan dengan Sekar dan Bella. "Ayo ke kantin."

"Laper banget gue," keluh Bella sambil mengusap perutnya.

"Sama. Dari tadi otak dipakai mikir terus," sahut Sekar.

Azel hanya mengangguk. "Gue juga. Abis ini gue mau beli bakso. Sandwich gue gak ngaruh di perut soalnya Sekar ikut makan."

"Yeee siapa suruh lo sumpel gue pake tuh sandwich."

"Karna lo berisik."

Ketiganya berjalan melewati koridor yang mengarah ke ruang dosen.

Namun baru beberapa langkah...

Brak!

Pintu ruang dosen terbuka cukup keras. Ibrahim Rabbani Mahendra keluar dengan langkah cepat. Tidak seperti biasanya.

Kemeja yang biasanya selalu rapi kini lengan bajunya sudah tergulung. Wajahnya tampak tegang, bahkan ponsel di tangannya masih menempel di telinga.

"Iya... Saya berangkat sekarang. Tolong tenangkan dulu dia. Saya akan sampai secepatnya."

Telepon itu ditutup. Tanpa menoleh ke kanan ataupun kiri, Ibra langsung berjalan cepat menuju parkiran. Bahkan map yang biasa selalu dibawanya pun tertinggal di atas meja ruang dosen.

Sekar mengernyit. "Lah itu Pak Ibra kenapa?"

Bella ikut memperhatikan hingga sosok dosen itu menghilang di ujung koridor. "Iya wajahnya panik banget. Biasanya beliau tenang terus. Ada apa ya, Zel?"

Azel langsung menoleh. "Ya Allah, Bel! Mana gue tau. Kan dari tadi gue sama kalian."

"Iya juga sih."

Sekar masih memandang ke arah parkiran. "Tapi serius deh baru kali ini gue lihat Pak Ibra sekacau itu. Biasanya beliau kalau jalan aja kayak robot."

Bella mengangguk setuju. "Iya, ini mah kayak ada sesuatu yang darurat."

Azel ikut menoleh ke arah luar gedung. Mobil BMW hitam milik Ibra melaju keluar kampus dengan cukup cepat.

Entah kenapa... Pemandangan itu membuat hatinya ikut tidak tenang.

"Kenapa, ya?" batinnya.

"Apa Arjun kenapa-kenapa?"

Pikiran itu muncul begitu saja. Azel segera menggeleng pelan. "Astaghfirullah... Jangan mikir yang aneh-aneh. Mungkin memang ada urusan mendadak."

Namun, meski berusaha mengabaikannya. Bayangan wajah panik Ibra barusan terus terlintas di kepalanya.

Raut wajah itu sangat berbeda dari dosen dingin yang selama ini ia kenal.

Azel mengembuskan napas pelan. Ia bahkan tidak sadar sejak tadi terus memandangi gerbang kampus, berharap semua yang dipikirkannya hanyalah kekhawatiran yang tidak perlu.

1
Aidil Kenzie Zie
hm hm si Kutub Utara mulai mencair 🤣🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!