Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kecepatan Buta Melawan Kilatan Mutlak
Angin laut yang berhembus menembus rimbunnya pepohonan di Desa Syrup membawa serta aroma garam dan getah pinus. Di kejauhan, dari arah pantai selatan, sayup-sayup terdengar suara dentingan logam, ledakan kecil, dan teriakan. Pertarungan antara kelompok kecil Monkey D. Luffy melawan Bajak Laut Kuroneko yang dipimpin oleh Jango si Hipnotis telah dimulai.
Di atas dahan pohon ek raksasa yang tersembunyi dalam kegelapan malam, Muzan Kibutsi duduk bersila. Jubah hitamnya menyatu dengan bayang-bayang. Melalui pandangan x-ray Byakugan milik Neji Hyuga yang berjaga di atap mansion, Muzan memantau dua medan yang berbeda sekaligus layaknya seorang jenderal perang yang mengawasi papan catur.
Di lereng pantai, Zoro sedang berhadapan dengan Nyaban Brothers—Sham dan Buchi. Luffy sedang berusaha melepaskan diri dari pengaruh hipnotis Jango yang secara konyol malah membuatnya tertidur, sementara Usopp bertarung mati-matian menahan rasa takutnya demi melindungi desa. Nami sibuk mencari celah untuk mengamankan harta bajak laut Kuroneko.
Namun, perhatian utama Muzan tidak tertuju pada komedi aksi di lereng pantai tersebut.
Pandangan Byakugan-nya terkunci pada sesosok pria berjas hitam rapi yang sedang berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutan, bergerak dari arah mansion menuju lereng pantai. Klahadore—atau lebih tepatnya, Kapten Kuro dari Bajak Laut Kuroneko.
Kuro berjalan dengan langkah yang tenang namun dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat. Ia mendorong kacamata yang melorot di hidungnya menggunakan telapak tangannya—sebuah kebiasaan lama yang terbawa untuk menghindari wajahnya tergores oleh bilah pedang Cat Claw miliknya. Wajah pria itu mengeras oleh kekesalan.
Sudah lewat dari waktu yang ditentukan, tapi para idiot itu belum juga tiba di mansion, gerutu Kuro dalam hatinya, matanya menyipit tajam di balik lensa kacamata. Jika Jango dan yang lainnya mengacaukan Plan 100 yang telah kususun selama tiga tahun, aku akan membunuh mereka semua dengan tanganku sendiri.
Muzan, yang mengamati dari kejauhan, tersenyum tipis. "Sempurna. Dia datang tepat ke arah perangkap yang telah kusiapkan."
Muzan memindahkan sebagian besar fokus komputasi mentalnya ke arah Gaara yang sudah bersiaga di tengah jalan setapak hutan, sekitar tiga ratus meter di depan Kuro. Dengan 636 Poin Kekuatan Mental, Muzan bisa merasakan setiap butiran pasir yang dibawa oleh Gaara seolah-olah itu adalah perpanjangan dari sarafnya sendiri.
Di jalan setapak yang gelap, diterangi oleh sisa cahaya bulan yang menembus celah dedaunan, langkah Kuro tiba-tiba terhenti.
Insting membunuhnya yang tajam sebagai bajak laut berpengalaman mendeteksi sesuatu yang tidak wajar. Udara di depannya terasa sangat kering, menyedot kelembapan alami dari hutan tropis tersebut. Kuro menyipitkan matanya.
Di tengah jalan setapak tanah itu, siluet seorang remaja berdiri menghalangi jalannya.
Remaja itu memiliki rambut merah berantakan, lingkaran hitam pekat di sekitar matanya yang kosong, dan sebuah kendi labu raksasa yang terikat di punggungnya. Gaara berdiri mematung, sama sekali tidak memancarkan emosi atau niat membunuh, seolah-olah ia hanyalah sebuah patung yang ditinggalkan di tengah hutan.
"Siapa kau?" desis Kuro dingin, suaranya mengandung ancaman yang mematikan. "Warga desa? Tidak, kau tidak terlihat seperti tikus-tikus pedesaan itu. Menyingkirlah dari jalanku jika kau tidak ingin mati malam ini."
Tentu saja, Gaara tidak merespons. Boneka tanpa jiwa itu hanya menunggu perintah dari sang dalang.
Melihat remaja itu bergeming, urat kesabaran Kuro yang sudah menipis akhirnya putus.
"Bocah sombong," Kuro mendengus. Ia merogoh ke balik jas hitamnya, menarik sepasang sarung tangan berbulu hitam. Di setiap ujung jari sarung tangan itu, terpasang bilah katana panjang yang sangat tajam. Cat Claw.
Kuro memakai sarung tangannya. Bunyi gesekan logam yang beradu terdengar mengerikan. "Karena kau melihat wajahku, kau tidak akan kubiarkan hidup."
Dalam sekejap mata, Kuro melesat maju. Kecepatannya jauh melampaui manusia normal. Bagi mata orang biasa, Kuro hanya menyisakan bayangan kabur. Ia melompat ke udara, menyilangkan kedua tangannya, bersiap menebas leher Gaara dengan sepuluh bilah pedangnya sekaligus.
"Mati!"
TRANGGG!
Suara benturan logam keras bergema di hutan yang sunyi. Percikan api menyala sesaat.
Mata Kuro membelalak di balik kacamatanya. Serangannya tidak mengenai leher Gaara. Tepat sepuluh sentimeter sebelum bilah pedangnya menyentuh kulit remaja itu, sebuah dinding pasir yang sangat padat telah melesat dari dalam kendi labu, membentuk perisai kokoh yang menangkis sepuluh bilah Cat Claw dengan sempurna.
Kuro terdorong mundur ke udara dan mendarat kembali di tanah dengan anggun, menatap dinding pasir itu dengan rasa tak percaya.
"P-Pasir? Dari mana datangnya pasir sepadat ini?!" Kuro mengatupkan rahangnya. Pasir itu perlahan mengalir kembali dan melayang di sekitar tubuh Gaara layaknya perisai hidup.
Di atas dahan pohon dari kejauhan, Muzan mengamati pertunjukan itu dengan tatapan menilai. Pertahanan otomatis Gaara merespons dengan kecepatan yang sangat baik. Bahkan tanpa perlu kuberikan perintah spesifik, pasir itu menahan serangan fisik dengan tingkat presisi absolut. Buah Iblis atau bukan, Gaara adalah monster pertahanan.
Muzan memfokuskan perintah mentalnya. Gaara, ikat dia.
Di jalan setapak, Gaara perlahan mengangkat satu tangannya. Matanya yang dingin menatap Kuro. Pasir di sekitarnya melesat layaknya gelombang ombak, menerjang ke arah sang Kucing Hitam.
Kuro mendecakkan lidahnya. "Pemakan Buah Iblis rupanya! Jangan meremehkanku!"
Kuro menggunakan kelincahannya untuk melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lainnya, menghindari sulur-sulur pasir yang berusaha melilit kakinya. Setiap kali pasir itu menghantam pohon, batang kayu tebal itu hancur berkeping-keping akibat tekanan pasir yang luar biasa berat.
"Kekuatan penghancurnya gila!" batin Kuro, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan bocah aneh ini. Jika Angkatan Laut atau warga desa menyadari kekacauan ini, rencanaku akan hancur!"
Kuro menyadari bahwa pertarungan biasa tidak akan bisa menembus perisai pasir tersebut. Ia harus menggunakan teknik pamungkasnya—teknik yang memungkinkannya membunuh puluhan orang dalam sekejap tanpa terlihat.
Kuro melompat mundur, mengambil jarak sekitar belasan meter dari Gaara. Ia menundukkan kepalanya, mengendurkan seluruh otot bahu dan lengannya hingga kedua tangannya yang berlengan pisau panjang itu menjuntai ke bawah layaknya hantu. Tubuhnya berayun-ayun aneh, seperti ilalang yang tertiup angin.
Muzan, yang melihat postur tersebut dari Byakugan Neji, langsung mengenali teknik itu.
"Itu dia. Shakushi (Death Hole)," gumam Muzan. "Teknik langkah sembunyi-sembunyi yang digabungkan dengan kecepatan maksimum. Kecepatannya nyaris menyamai teknik Soru (Bercukur) milik Rokushiki Angkatan Laut."
"Bersiaplah untuk mati tanpa menyadari apa yang membunuhmu," bisik Kuro. Suaranya seolah datang dari segala arah.
Dalam seperseribu detik, sosok Kuro menghilang sepenuhnya dari pandangan. Bukan sekadar bergerak cepat, ia benar-benar lenyap.
SRAATTT! KRAAKK!
Sebuah pohon besar di sebelah kanan Gaara tiba-tiba terpotong menjadi tiga bagian oleh tebasan tak terlihat.
SRAATT! TRANG!
Dinding pasir Gaara meledak menahan tebasan tak kasat mata dari arah belakang. Lalu dari kiri. Lalu dari atas.
Kuro telah memasuki mode Shakushi. Kelemahannya adalah, Kuro sendiri tidak bisa melihat apa yang ia serang karena kecepatannya terlalu tinggi. Ia hanya bergerak membabi buta, menebas segala sesuatu di jalurnya—pohon, batu, tanah, atau manusia.
Di dalam hutan, badai tebasan tak terlihat mengamuk. Pasir Gaara bergerak dengan kecepatan gila, membentuk kubah pertahanan (Suna no Tate) untuk menutupi seluruh tubuhnya. Suara benturan antara pisau Kuro dan kubah pasir bergema seperti rentetan senapan mesin.
Trang-trang-trang-trang-trang!
"Kecepatan yang mengesankan," analisis Muzan, mengukur ritme serangan Kuro. "Kubah pasir Gaara tidak akan tertembus. Tapi, Gaara juga tidak bisa menangkap Kuro yang bergerak secara acak dengan kecepatan seperti itu. Pasir Gaara terlalu berat untuk mengejar target yang berteleportasi secara membabi buta di area seluas ini."
Muzan tidak ingin pertarungan ini berlarut-larut. Ia tidak ingin menghancurkan seluruh hutan dan menarik perhatian warga desa. Sudah saatnya ia menghentikan Kucing Hitam yang sedang berlari kegirangan ini.
"Kecepatan tanpa arah adalah sebuah kebodohan yang akan mengantarmu pada kematian, Kuro," bisik Muzan dingin. "Mari kita lihat, apa jadinya kecepatan butamu jika dihadapkan pada kecepatan mutlak yang memiliki satu target pasti."
Muzan menahan pergerakan Gaara agar tetap dalam mode pertahanan pasif. Kemudian, ia memindahkan tiga puluh persen kesadarannya ke boneka yang sejak tadi bersembunyi di dahan pohon di atas jalan setapak, tepat di tengah area amukan Kuro.
Zenitsu Agatsuma.
Pemuda berambut kuning itu masih dalam posisi memejamkan mata, memeluk sarung pedangnya.
Muzan mengatur pernapasannya melalui Zenitsu. Oksigen ditarik masuk ke dalam paru-paru dengan kapasitas maksimal, dialirkan ke setiap pembuluh darah di otot kaki.
Udara malam di hutan itu tiba-tiba berubah mencekam. Suara tebasan Shakushi Kuro yang mengamuk perlahan ditenggelamkan oleh suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat aneh.
Zzzzzzztttt....
Percikan listrik berwarna kuning keemasan mulai menari-nari di sekitar tubuh Zenitsu, membakar dedaunan di tempatnya berpijak.
Kuro, yang sedang melesat dalam kecepatan tak terlihat, menyadari adanya anomali energi tersebut, namun ia tidak bisa menghentikan Shakushi-nya secara instan. Ia terus melesat, memantul dari satu pohon ke pohon lain bagaikan peluru yang memantul di dalam ruangan sempit.
Zenitsu menurunkan tubuhnya, merendahkan kuda-kudanya hingga posisinya nyaris sejajar dengan dahan pohon. Tangan kirinya mencengkeram erat sarung pedang, sementara tangan kanannya memegang gagang Nichirin.
"Fokus pada satu titik," batin Muzan, menyatukan pendengaran Zenitsu yang di luar nalar dengan observasi x-ray Byakugan Neji.
Bagi mata Byakugan, gerakan Shakushi Kuro tidaklah menghilang. Itu hanyalah pergerakan fisik berkecepatan tinggi. Muzan bisa melihat alur otot kaki Kuro saat bersiap memantul dari pohon ek raksasa di sebelah kiri untuk menyerang kubah pasir Gaara dari atas.
Dia akan berada di udara dalam 0.3 detik. Posisi terbuka.
"Sekarang."
"Pernapasan Petir, Bentuk Pertama: Petir Kilat dan Kilatan (Hekireki Issen)!"
Sebuah ledakan guntur yang luar biasa keras—suara sonic boom murni—meledak di tengah hutan Desa Syrup, menggetarkan tanah hingga radius ratusan meter.
Dalam kegelapan malam, sebuah garis cahaya kuning keemasan membelah hutan. Kilatan itu begitu terang hingga menerangi setiap bayangan pepohonan, seolah-olah fajar tiba-tiba turun ke bumi selama setengah detik.
Kecepatan Zenitsu melampaui Shakushi Kuro seolah membandingkan jet tempur dengan kereta kuda. Zenitsu tidak bergerak secara acak. Ia melesat dalam satu garis lurus yang mutlak, menembus ruang antara dahan dan tanah, memotong tepat di jalur lintasan Kapten Kuro yang sedang melayang di udara.
TRANGGG! KRAAAAK!
Suara logam tebal yang patah terdengar menyayat telinga, diikuti oleh bunyi tebasan daging.
Kuro, yang sedang berada di puncak kecepatan butanya, tiba-tiba merasakan seluruh momentumnya berhenti seketika. Dunia yang tadinya berupa kilatan-kilatan kabur mendadak membeku.
Rasa sakit yang sangat luar biasa dan panas meledak di dada dan kedua lengannya.
"U-Ugaaah...!" darah menyembur dari mulut Kuro.
Sosok Kuro terlempar keras ke belakang, menghantam sebuah batang pohon dengan kekuatan yang cukup untuk meretakkan kayu padat tersebut. Tubuhnya melorot jatuh ke tanah yang dipenuhi dedaunan kering.
Kuro terengah-engah, matanya yang terbelalak ngeri menatap ke bawah. Kesepuluh bilah pedang Cat Claw yang terpasang di sarung tangannya telah terpotong rapi menjadi dua bagian. Dan di dadanya, terdapat sebuah luka tebasan diagonal yang sangat dalam, membakar ujung kulitnya akibat panas gesekan listrik yang ditinggalkan oleh pedang Nichirin.
Muzan sengaja mengatur kedalaman tebasan itu. Ia tidak membelah jantung Kuro, melainkan memotong jaringan otot penggerak utama di dadanya, memastikan pria itu lumpuh total tanpa langsung tewas. Nilai buronan 16 Juta Belly terlalu berharga untuk dibiarkan mati membusuk di hutan.
Kuro mengangkat kepalanya yang bergetar. Kacamata tebalnya telah retak. Di depannya, berjarak sekitar lima meter, pemuda berambut kuning itu mendarat dengan mulus, perlahan menyarungkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dengan bunyi klik yang mematikan.
Di samping pemuda petir itu, kubah pasir perlahan turun, memperlihatkan kembali Gaara yang menatapnya dengan tatapan kosong.
"K-Kalian... monster apa kalian ini...?" rintih Kuro, harga diri dan rencana briliannya selama tiga tahun hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Ia, sang Kucing Hitam yang tak pernah tertangkap, dikalahkan oleh musuh yang bahkan tidak ia mengerti.
Zenitsu tetap diam dalam tidurnya. Gaara berdiri mematung.
Di dahan pohon di atas mereka, Muzan menyibakkan kerudung jubah hitamnya sedikit, menatap Kuro yang meronta di tanah.
"Rencanamu bagus, Kuro. Sangat brilian untuk ukuran bajak laut kroco di East Blue," gumam Muzan, suaranya serak namun terdengar sangat dominan. "Tapi kau membuat satu kesalahan fatal. Kau mencoba menjadi dalang, sementara kau sendiri hanyalah pion."
Kuro menatap siluet Muzan di atas pohon, matanya dipenuhi teror sebelum kesadarannya perlahan meredup akibat kehabisan darah. "S-Siapa kau...?"
Muzan tidak menjawab. Ia memberikan perintah pada Gaara.
Pasir meluncur maju, membungkus tubuh Kuro yang sudah tak berdaya itu dengan erat, menghentikan pendarahannya sekaligus menahannya dalam kepompong pasir yang kokoh.
"Sistem. Simpan buronan ini ke dalam Inventory."
Cahaya keemasan menyelimuti kepompong pasir tersebut. Dalam sekejap, tubuh Kapten Kuro menghilang, berpindah ke ruang stasis sistem milik Muzan.
Di saat yang sama, layar holografik biru terang meledak di depan pandangan Muzan, diiringi suara dentingan kemenangan yang memuaskan.
«"DING!"»
«"MISI SELESAI: PEMBONGKARAN KUCING HITAM."»
«"Evaluasi: Sempurna. Host berhasil menghentikan rencana utama, melumpuhkan sang kapten tanpa memicu kerusakan masif pada desa."»
«"Hadiah didistribusikan: 50.000 Belly, 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)."»
«"PENGUMUMAN PENTING: Fitur [Shop: Black Market Tier 1] berhasil dibuka!"»
Muzan tersenyum lebar. 16 Juta Belly dari Kuro telah diamankan (meski bentuknya masih berupa tubuh yang harus ditukar nanti). Sekarang, saatnya melihat apa yang disembunyikan oleh sistem di dalam Pasar Gelap.
Ia segera menarik Gaara dan Zenitsu kembali ke Puppet Storage. Lalu, sambil duduk di dahan pohon, ia membuka menu baru yang berkedip dengan warna ungu gelap di ujung panel sistemnya.
[ENTER BLACK MARKET - TIER 1]
Muzan menekan opsi itu melalui pikirannya. Layar berubah menjadi warna hitam dengan tulisan merah darah. Item-item yang dijual di sini bukanlah item konsumsi biasa atau upgrade slot, melainkan barang-barang anomali yang bisa mematahkan keseimbangan dunia.
Muzan membaca daftar tiga barang teratas yang tersedia minggu ini, dan napasnya seketika terhenti. Matanya membelalak tak percaya.
«"BARANG TERSEDIA (Stok Terbatas):"»
[Batu Kebangkitan Jiwa (Minor)] - Harga: 25.000.000 Belly.
Efek: Memasukkan fragmen kesadaran buatan tingkat rendah ke dalam satu Boneka. Boneka tersebut akan memiliki kemampuan untuk berpikir otonom, berbicara, dan bertindak secara mandiri berdasarkan kepribadian asli mereka di dunianya, TANPA perlu dikendalikan terus-menerus oleh Host. Kesetiaan mutlak kepada Host tetap dipertahankan sebesar 100%.
[Kartu Izin Pengecualian Hukum Laut (Buah Iblis)] - Harga: 10.000.000 Belly.
Efek: Menghapus efek kutukan laut dari pengguna Buah Iblis. Karakter yang menggunakan ini akan bisa berenang dan tidak melemah terhadap Batu Laut (Seastone).
[Tiket Invasi Dunia Lain (1 Jam)] - Harga: 50.000.000 Belly.
Efek: Membuka portal dimensi. Host dapat kembali ke dunia asal (Bumi) atau dunia anime lain selama 1 jam untuk mengambil item fisik (non-hidup) untuk dibawa ke dunia One Piece.
Muzan mencengkeram batang pohon tempatnya duduk hingga kuku-kukunya berdarah ringan. Jantungnya bergemuruh.
Batu Kebangkitan Jiwa.
Inilah kepingan puzzle terakhir yang ia butuhkan. Jika ia membeli batu itu, ia tidak perlu lagi melakukan micro-management atau sinkronisasi mental setiap kali bonekanya harus berinteraksi atau berbicara. Ia bisa menciptakan komandan nyata. Ia bisa menghidupkan kembali Roy Mustang atau Giyu Tomioka sebagai entitas yang bisa berpikir sendiri, memimpin armada, sementara mereka tetap menjadi anjing yang sangat setia padanya!
"Dua puluh lima juta Belly..." Muzan melirik saldo akhirnya yang berada di angka 25.369.850 Belly. Ia memiliki cukup uang untuk membelinya sekarang juga.
Namun, sebelum Muzan bisa menekan tombol beli, Byakugan Neji yang masih mengawasi dari jauh tiba-tiba mengirimkan sinyal visual darurat ke otak Muzan.
Di lereng pantai selatan, pertarungan Luffy dan yang lainnya melawan kru Jango tiba-tiba terhenti. Semua orang di sana membeku, menatap ke arah laut lepas.
Muzan memfokuskan Byakugan-nya. Menembus kegelapan lautan di luar teluk Desa Syrup, sebuah kapal raksasa sedang melaju perlahan mendekati pantai. Kapal itu bukanlah kapal Angkatan Laut, bukan pula kapal komersial.
Kapal itu adalah kapal restoran terapung raksasa berbentuk ikan.
Baratie.
Muzan mengerutkan keningnya. "Baratie? Mereka seharusnya berada di tengah lautan, kenapa kapal restoran Zeff Si Kaki Merah itu menyimpang masuk ke perairan Desa Syrup?"
Perubahan garis takdir. Intervensi Muzan di Kota Shells dan Orange Town tampaknya telah menciptakan efek kupu-kupu (butterfly effect) yang mulai menggeser jadwal peristiwa-peristiwa besar di East Blue.
"Menarik," senyum Muzan kembali, matanya dipenuhi ambisi yang membara. "Papan catur ini semakin liar. Mari kita sambut tamu tak diundang ini."