NovelToon NovelToon
Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Di Sini Ada Arwah, Di Sana Ada Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Mata Batin
Popularitas:33.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.

Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.

Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.

Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara Dari Dunia Lain

Nino mengedarkan pandangannya ke sekitar. Di depannya tampak seorang pria mengenakan topeng Rahwana tengah menyeret tubuh Nilan. Terdengar suara Nilan memohon untuk hidupnya sambil menangis.

Namun telinga pria itu seperti tuli. Dia terus menyeret Nilan hingga ke lokasi jasad wanita itu ditemukan.

Pria itu menghantamkan palunya berkali-kali ke tubuh Nilan. Darah menciprat ke segala arah. Mengenai daun pohon jagung, rerumputan di sekitar sana dan pohon pisang.

Nilan tak lagi bergerak setelah palu itu menghantam kepalanya untuk terakhir kali.

Seketika penglihatan Nino terputus. Pria itu kembali ke keadaan semula. Asep yang penasaran langsung bertanya padanya. “Dapat sesuatu, nggak?”

“Nggak,” jawab Nino sambil menggelengkan kepala.

“Mukanya nggak kelihatan sedikit pun?” tanya Asep lagi saking penasarannya.

“Nggak ada. Dia pakai topeng Rahwana dan wajahnya tertutup semuanya. Nggak ada celah sedikit pun.”

“Nggak ada yang kamu ingat, aroma parfum atau bau ketek mungkin?” Asep melihat pada Nilan.

“Orang lagi ketakutan mana sempat mikirin bau ketek atau bau jigong,” sahut Nino mematahkan opini sahabatnya sendiri.

“Ya kali aja dia ingat sesuatu.”

“Aku nggak ingat apa-apa. Hanya bau tanah yang terkena air karena hari hujan. Suasana gelap, jadi aku tidak bisa melihat apa pun.”

Suasana seketika menjadi hening. Wajah Nilan tampak sendu. Arwahnya masih tertahan di dunia karena wanita itu masih belum bisa menerima kematiannya. Apalagi dia dibunuh dengan sadis tanpa tahu apa kesalahanny.

“Tadi saat di TKP, apa kalian sempat berkeliling?” Nino melihat pada Ahqam dan Eris.

“Aku sempat menanyai penghuni di sana, tapi mereka juga tidak melihat wajah si pembunuh,” jawab Eris.

“Kalau kamu?” Nino melihat pada Ahqam.

Jin itu hanya mengangkat bahu. Saat ini dia sedang tidak bersemangat melakukan investigasi. Hal tersebut tentu saja membuat Asep jengkel.

“Maneh mun embung ngabantuan, jug balik ka kebon jengkol! (Lo kalau nggak mau bantu, sana balik ke kebon jengkol!),” kesal Asep.

“Males banget. Kalau gue balik, nanti yayang gue dijadiin sapi perah sama kalian,” jawab Ahqam santai.

“Sumpah, urang gedeg pisan ka maneh!”

“Udah … udah,” lerai Nino. Jika tidak dilerai, perdebatan Asep dan Ahqam akan berlangsung lama karena masing-masing tidak ada yang mau mengalah. “Qam, masa kamu nggak kasihan sama Nilan.”

“Udah tahu daerah itu sepi, malah pulang jalan kaki. Itu menjemput maut namanya.”

Mata Asep langsung melotot mendengar ucapan Ahqam. Jawaban Ahqam sukses membuat Nilan menangis. Wanita itu tak kuasa menahan air matanya.

“Kamu kok ngomong gitu sih?” protes Eris. “Emang kamu nggak kasihan sama dia? Kalau aku ngalamin kayak dia gimana?”

“Aku bakal buat dia hidup segan, mati tak mau kalau dia berani sentuh kamu!” jawab Ahqam berapi-api.

“Dasar bucin,” ledek Asep.

“Kalian kembali ke TKP. Tanyai lagi para penunggu di sana, siapa tahu ada informasi tambahan yang bisa didapat.”

“Ayo,” ajak Eris pada Ahqam.

Karena Eris yang mengajaknya, Ahqam pun tak kuasa menolak. Jin tersebut langsung menghilang bersama kekasihnya.

Setelah Eris dan Ahqam menghilang, Nino melanjutkan interogasi pada Nilan. Siapa tahu mereka bisa mendapatkan informasi lain.

“Bu Nilan, apa selama hidup kamu punya musuh?”

“Tidak ada.”

“Mantan pacar yang tersakti mungkin,” sahut Asep.

“Nggak juga. Aku dan suamiku berpacaran selama empat tahun dan langsung menikah. Suamiku itu pacar pertama dan terakhirku.”

“Atau mungkin suamimu yang punya musuh?”

“Setahuku tidak ada. Kang Dadan selalu bersikap baik pada semua orang. Dia juga punya banyak teman yang menyukainya.”

“Suamimu nggak selingkuh, kan?” tanya Asep tiba-tiba.

“Suami saya orangnya setia, nggak mungkin dia selingkuh. Lagipula yang menyerangku itu laki-laki, bukan perempuan.”

“Atau ada rekan kerja yang tidak menyukaimu?”

“Semua rekan kerjaku baik. Kami tidak pernah ada masalah.”

“Dari caranya memukulmu seperti seolah melampiaskan dendamnya. Sebaiknya kamu mengingat-ingat apa ada orang yang membencimu atau pernah bermasalah denganmu.”

“Baiklah. Tapi … saya boleh pergi sekarang, kan? Saya mau melihat suami dan anak saya.”

“Tentu saja. Tapi kamu harus siap kalau kami butuh bertanya padamu lagi.”

“Iya.”

Setelah mendapat ijin, Nilan langsung menghilang. Asep dan Nino juga keluar dari ruang interogasi. Mereka harus menghadap Miko, melaporkan hasil penyelidikan.

“Apa yang kalian temukan?” tanya Miko begitu Nino dan Asep menghadap.

“Tidak banyak. Pelaku memakai topeng Rahwana dan wajahnya tidak bisa terlihat sedikit pun. Aku juga tidak menemukan yang lain. Waktu kejadian malam dan suasana sangat gelap di sana.”

“Selain itu?”

“Pelaku menghantam korban berkali-kali seolah memendam kebencian atau dendam.”

“Sudah selidiki suaminya?”

“Sudah. Dia sedang bekerja saat kejadian. Kami akan memeriksa alibinya.”

“Datangi tempat kerja korban dan tanyai semua rekan kerjanya. Melihat cara pelaku membunuh korban, dia punya motif yang jelas, kebencian. Selidiki orang-orang di sekitar korban.”

“Baik.”

Keduanya segera berpamitan setelah mendapat instruksi dari Miko. Terlebih dahulu mereka akan mendatangi hotel tempat Dadan bekerja untuk memastikan alibi pria itu. Setelah itu baru menuju kantor Nilan.

***

Ahqam dan Eris sudah berada di TKP pembunuhan Nilan. Suasana di sekitar tampak sepi.

Di depan jalan masuk menuju kebun jagung, dua orang petugas berjaga untuk mencegah ada orang datang dan merusak TKP. Garis polisi terpasang di area jasad Nilan ditemukan.

Pandangan Ahqam mengedar, mencari makhluk astral di sekitar lokasi. Jin itu kemudian mendekati sesosok pocong yang sedang duduk santai di atas batang pohon.

“Heh poci!” panggil Ahqam.

“Apa?” jawab sang pocong malas. Ini kali kedua dia bertemu Ahqam.

“Kamu tahu pembunuhan yang terjadi di sini semalam.”

“Kamu udah nanya tadi dan jawabanku tetap sama. Aku memang lihat orang itu bunuh korban, dia pakai topeng Rahwana warna merah. Dia juga bawa palu buat mukul korban. Itu aja.”

“Kamu nggak lihat apa-apa lagi?”

“Nggak!”

Kesal karena Ahqam terus menanyakan hal sama, pocong itu memilih pergi.

Ahqam mendecak kesal saat pocong itu pergi begitu saja. Dia langsung mengejar pocong itu lalu menariknya. Sang pocong terpaksa berhenti melayang.

“Lepas! Sakit tahu, kamu jadi cowok kasar banget sih,” rengek sang pocong.

“Dih lebay banget,” kesal Ahqam seraya melepas tarikannya.

“Bisa lembut dikit nggak sih?”

“Bawel! Ada makhluk lain yang lihat kejadian itu selain kamu?”

“Mana aku tahu,” jawab sang pocong dengan nada manja.

“Biasa aja ngomongnya. Geli banget dengarnya,” protes Eris yang sedari tadi melihat perdebatan dua makhluk astral di depannya.

“Elo cong ya?” tanya Ahqam sekenanya.

“Cang cong cang cong. Emangnya kenapa kalau aku cong?”

“Baru sekarang nemu pocong cong.”

Pocong itu langsung cemberut. Wajahnya yang memang sudah jelek kini semakin kusut.

“Ada makhluk lain yang lihat kejadian itu, nggak?” tanya Ahqam lagi.

Pocong itu terdiam, berusaha mengingat kejadian mengerikan itu semalam. Dia adalah saksi langsung pembunuhan yang terjadi pada Nilan.

Pocong itu sampai merinding sendiri melihat kekejaman pelaku saat membunuh Nilan.

“Oh iya, ada si kunti yang lihat kejadian itu,” seru si pocong setelah berhasil mengingat.

“Sekarang mana kuntinya?”

“Dia pergi ngintilin pelaku. Emang ganjen tuh kunti, cowok gila juga diikuti sama dia.”

“Ciri-ciri si kunti gimana?” tanya Eris.

“Serius nanya itu? Yang namanya kuntilanak ya pasti bajunya putih panjang, rambutnya juga panjang. Gitu aja pakai nanya.”

“Ya kali aja dia pakai jas,” celetuk Eris yang semakin membuat Ahqam pusing.

“Mana ada kunti pake jas hujan. Kalau ada namanya bukan kuntilanak tapi CEO,” balas si pocong tak kalah kesal.

“Aah … informasi nggak guna,” kesal Ahqam. Dia langsung menendang bokong sang pocong hingga makhluk astral yang penampilannya akhir-akhir ini sering ditiru oleh sekumpulan pelaku kriminal untuk merampok tengah malam langsung mental.

“Terus sekarang gimana?” tanya Eris. Baru kali ini mereka bertugas dan sulit mendapatkan informasi.

“Biarin aja,” jawab Ahqam seraya memeluk bahu Eris. “Mending kita pacaran aja. Biar Asep sama Nino yang kerja. Kan mereka yang digaji dari pajak negara, kenapa harus kita yang repot.”

Ahqam melepas pelukannya, lalu menggendong Eris ala bridal style. Jin itu langsung menghilang bersama kekasihnya.

***

Setelah mendatangi hotel tempat Dadan bekerja dan memastikan alibi Dadan, kedua petugas polisi itu segera menuju kantor Nilan. Keduanya segera menuju ruangan di mana Nilan bekerja, di divisi HRD.

Kedatangan mereka disambut manajer HRD. Nino langsung memperkenalkan dirinya sambil menunjukkan kartu identitas.

“Apa benar saudari Nilan Sari bekerja di sini?”

“Iya benar. Tapi hari ini dia tidak masuk. Kami juga tidak bisa menghubunginya,” jawab sang manajer.

“Saudari ditemukan tidak bernyawa di kebun jagung yang berada di daerah rumahnya.”

Asep dan Nino langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar suara benda terjatuh ke lantai. Tangan Rama tampak bergetar ketika memunguti pecahan gelas yang dijatuhkannya tadi.

***

Segala cong dan CEO dibahas sama si poci🤣

1
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tersepona ga tuh
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
hehhhh kau tuh hantuuuuu
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
pria siapa
nayla tsaqif
Q mikirnya visual aqham itu kayak jin nya aladin thor,, tinggi besar, botak warna biru,, 🤭
Munas Tuti
ada2 ajhaa Achqom, pake ganti wajah....jurig mah jurigg wee 😄😄
Cucun Sukmawati
bisa bisanya si ahqam berubah jadi Tom Cruise,,🤣🤣🤣
yula
💪💪💪💪💪thor
Nawang Kasturi
sa AE si ahqam🤣🤣
Sari Hastuti
apartemen pelaku smaa pradipta smaa y,,
Erchapram
🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Effort juga si ahqam🤣🤣🤣
sakura hanae @ mimie liyana❤️
😫AMNESIAAAA... streess lue pRisa😭🤣🤣🤣🤣
♋Ichageul💞
Lihat di cover🤣
Teti Usmayanti
pelakuny pintar, sangat profesional dan totalitas ya.. sprt belut. tp namany bangkai tertutup rapat akan tercium bauny. tenang asep dan nino pst akan ada temu titik terang mencari pelaku pembunuhan. by the way, jung kok itu di jadiin sandera sm pembunuh bertopeng. karena sdh lihat muka pembunuh bertopeng itu. apa2 jgn pembunuh bertopeng itu melakukan pembunuhan buat ritual dia ato buat hobi aja. ehm.. msh bnyk misteri yg blm terpecahkan.
Teti Usmayanti
🤣🤣 kykny cuma nino doank yg bisa menistakhan aqham 😄🤭. tuh eris, aqham berubah wujud jd tom cruise tambah ganteng.
tehNci
Tuuh di dalam tas ada drone sama laptop. Tergerak gak, hati Nino melihat kedua benda itu di tas si pembunuh? mungkinkah itu bukti awal yg bisa membongkar identitas si topeng Rahwana?
tehNci
Mission impossible nya Eris udah Dateng...tapi sekarang udah gak impossible lagi. Udah sangat possible kalo Eris makin cinta sama ahqam😅😅😅
tehNci
Lha....sebelum Asep dan Nino dibuang ke gunung Kawi, elu duluan yg dibuang ke kebun jengkol sama Abah Ade, trus gak bisa keluar dari sana karena kekuatan Abah Ade. Sampe mati kamu terpenjara di kebun jengkol Abah ade🤣🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
cehhh ......
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
ahahahahhaha..ada yg nepsong eungg di ghibahin..... Ahqam ooo Ahqam /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!