Judul : Paman Yoo
Author : Mamak_A
Sinopsis :
"Mika itu anak kecil, dan gue bukan pedofil. Jujur, gue memang sayang Mika, karena dia anak asuh gue" - Yohan Erlangga.
Mika (10thn) anak malang yang sering bantu-bantu di yayasan Panti sosial itu, saat ini hanya tinggal berdua dengan ibunya yang bekerja sebagai penjual kue keliling. Suatu hari, ibunya mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan tulang pergelangan kakinya bergeser. Hal itu mengakibatkan ibunya tidak dapat lagi berkeliling untuk menjajakan kue dagangannya. Mika pun terancam tidak bisa melanjutkan pendidikannya.
Pimpinan yayasan sosial tempat Mika bekerja pun, mendaftarkan Mika untuk mencari orang tua asuh, yang dapat membiayai pendidikan anak itu hingga lulus SMA.
***
Yohan Erlangga (25 tahun), seorang pengusaha muda, sukses dan dermawan. Suatu hari mendapatkan sebuah surat elektronik, yang memintanya untuk menjadi orang tua asuh, seorang anak yang berusia 10 tahun.
Yohan pun mendatangi yayasan sosial itu, dan mendaftarkan diri untuk menjadi orang tua asuh Mika. Di sanalah pertama kali mereka bertemu.
© 2020, Maya Asviana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps.08-Gue Bukan Pedofil
Mikayla shock, saat mengetahui harga peralatan baking yang akan dibelikan oleh Yohan untuknya.
"Paman, kan nanti Mika di sekolah peralatannya sudah lengkap, jadi sepertinya tidak perlu membeli peralatan ini deh. Apalagi oven ini, sepertinya terlalu mahal deh, Paman," ucap Mika khawatir.
"Adek Mika yang cantik alami, tidak perlu khawatir masalah dana, paman kita ini duitnya tidak berseri. Banyak banget. Bukan begitu, Paman Yoo," goda Chicko sambil bermanja di lengan Yohan.
"Apaan sih lu! sana deh lu pulang saja! Jangan ngintilin gue terus!" ucap Yohan kesal. Mikayla terkejut ketika melihat Yohan menghardik Chicko. Pasalnya, selama ini Yohan selalu terlihat lembut di depannya.
"Paman aslinya galak ya Kak?" tanya Mikayla kepada Chicko.
"Wah bukan galak lagi, tapi dingin seperti es. Sepertinya cuma sama kamu saja dia bisa mencair, hehe...," kata Chicko sembari menggoda Yohan.
"Brengsek lu, sudah gue bilang jangan bicara yang aneh-aneh ke anak kecil!" ucap Yohan sambil menarik kerah baju Chicko.
"Ampun ... ampun Boss!" jawab Chicko sembari berpura-pura gemetar.
"Paman, aku sebentar lagi SMA, sudah bukan anak kecil lagi!" jawab Mikayla ketus, sambil berdecak pinggang.
Mendengar Mikayla yang sedang kesal, Yohan pun langsung melepaskan tangannya dari kerah baju Chicko, lalu mengacak kecil rambut Mikayla sambil tersenyum dan berkata, "iyaa, Mika sudah bukan anak kecil lagi kok," ucap Yohan lembut. Chicko hanya bisa menahan senyumnya melihat tingkah lembut Yohan kepada Mikayla.
"Yasudah, kita lihat-lihat lagi peralatannya. Tidak perlu mendengarkan dia!" ucap Yohan sambil menatap tajam ke arah Chicko.
Chicko yang melihat perubahan sikap Yohan pun, tersenyum penuh arti.
"Akhirnya tu orang bisa berubah juga, hihihi...," gumam Chicko dalam hati.
Setelah mendapatkan semua peralatan baking terbaik, Yohan pun membayar semuanya dan menuliskan alamat rumah Mikayla untuk pengantaran. Dan barang harus diantar sekarang juga.
Sementara itu, Mikayla, Yohan dan Chicko membeli bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat cake dan peralatan dekorasinya.
Mereka berbelanja hingga malam hari. Sebelum mengantarkan Mikayla kembali ke rumahnya, Yohan pun memutuskan untuk makan malam terlebih dulu.
Pada saat makan malam, Yohan mendapatkan panggilan telepon dari kurir yang melakukan pengantaran peralatan baking milik Mikayla, tadi.
"Pak Yohan, ini barang-barangnya sudah sampai di alamat yang dituju, sudah saya instalasi dan diatur peletakkannya, tinggal dipakai saja," ucap kurir tersebut.
"Oh gitu, sudah coba dinyalakan atau belum?" tanya Yohan.
"Sudah Pak, tapi daya listrik di rumah ini tidak bisa kalau harus dinyalakan semuanya. Terlebih oven. Kalau ingin menyalakan oven, semua elektronik di rumah termasuk lampu harus dimatikan semua, sepertinya harus urus penambahan daya Pak," jelas kurir tersebut.
"Okey, besok saya akan mengurus kenaikan daya. Setelah itu Bapak bisa datang lagi kan, untuk mengajari Mika tentang cara penggunaan peralatannya? Nanti ada uang tip dari saya," ucap Yohan.
"Baik Pak. Bapak bisa menghubungi saya di nomor ini ya Pak, kalau begitu kami sudah bisa balik ke toko ya Pak," ucap kurir tersebut.
"Oke terima kasih," balas Yohan singkat kemudian memutuskan panggilan telepon itu.
"Mika, nanti kamu di rumah fotoin KTP milik ibu, rekening listrik terakhir, trus kirim ke aku ya. Biar aku urus kenaikan daya listrik di rumah kamu. Kalau tidak dinaikkan dayanya, saat kamu mau baking jadi susah, harus mematikan semua elektronik di rumah," jelas Yohan.
"Iya—”
Belum selesai Mika menjawab, Chicko langsung menyambar, "kamu tidak minta foto aku, Mas," ucap Chicko menggoda Yohan dengan gaya bicara yang gemulai.
"Apa sih lo!" ucap Yohan dengan suara meninggi dan mata melotot ke arah Chicko.
"Sudah ... Sudah Paman. Kak Chicko juga, kenapa sih godain Paman Yoo terus?!" ucap Mikayla.
"Jadi kamu cemburu nih, mau aku godain juga?" ucap Chicko sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Mikayla. Mata Yohan membulat seketika.
"Mau lo apa sih Ko!" ucap Yohan kesal, ketika melihat Chicko menggoda Mika.
"Ya ampun Yoo ... Gue becanda kali! Amit-amit dah lu, maaf ya Mikaaa, hehe...," ujar Chicko sambil cengengesan.
Mikayla pun terheran melihat sikap Yohan yang ternyata mudah tersulut emosi itu. Padahal, selama ini, Mikayla tidak pernah sama sekali melihat Yohan marah.
Setelah makan malam yang penuh ketegangan itu selesai, Yohan langsung mengantar Mikayla pulang.
"Jangan lupa ya, foto KTP ibu dan rekening listrik terakhir," ucap Yohan sambil tersenyum sebelum Mikayla turun dari mobil.
"Iya Paman. Terima kasih banyak ya Paman, sudah membelikan Mika perlengkapan baking," ucap Mika.
Setelah Mikayla turun, Chicko memanggil, "Mika, ini bahan cakenya belum dibawa, gue ambilkan ya," ujar Chicko yang hendak turun dari mobil.
"Diam saja lo di situ! Mika tidak perlu bantuan lo. Biar gue saja!" ucap Yohan kesal.
"Okee deh," balas Chicko sambil cengengesan.
Yohan pun turun dari mobil, dan bersama Mikayla menurunkan bahan-bahan cake tersebut.
"Jangan lupa ya kirim fotonya ke aku," ucap Yohan sebelum pamit pulang.
"Foto Mika, Paman?" canda Mika.
"Foto KTP ibu dan pembayaran rekening listrik bulan ini. Foto kamu sudah banyak di ponsel aku," jawab Yohan tersenyum.
"Aku pulang ya, salam buat ibu," ucap Yohan sembari mengacak kecil rambut Mika.
"Iya, hati-hati ya Paman!" ucap Mikayla sambil melambaikan tangan kepada Yohan.
***
"Gue menginap di apart lu malam ini ya, Yoo," ucap Chicko.
"Terserah!" jawab Yohan.
"Yoo, lu jujur deh sama gue. Lu punya perasaan khusus kan sama Mika?" tanya Chicko.
"Jangan gila lo, Mika masih sekolah!" ucap Yohan kesal.
"Apa hubungannya sama sekolah, inikan tentang perasaan lo," ucap Chicko.
"Mika itu anak kecil, dan gue bukan pedofil! Jujur gue memang sayang Mika. Karena dia anak asuh gue. Gue mengurus dia dari SD," jelas Yohan.
"Sama Angel juga lo kenal dari kecil, main bareng, sekolah bareng, lo juga jagain dia mulu kalau di sekolah atau di rumah. Tapi gak pernah gue liat lo secair ini sama cewek," cecar Chicko.
"Sudah gue bilang kan, dia anak asuh gue! dan dia masih kecil!" jawab Yohan dengan nada yang agak meninggi.
"Sebentar lagi dia dewasa Bro, cantik lagi. Nanti diserobot orang mam*pus lo! Sebagai sahabat yang baik hatinya, gue cuma mengingatkan lo aja. Jangan sampai menyesal," ujar Chicko.
Dan Yohan cuma bisa terdiam mendengar ocehan chicko.
Terimakasih sudah membaca
Jangan lupa Like, coment dan vote yaaaa 😘