Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pakaian Tertutup
''Tolong bawa aku pulang aku ingin ketemu ayah sama ibu, aku sangat merindukan mereka,'' lirih Naura dengan tatapan sayu dan juga mata memerah.
Dia menangis seketika, menangis pilu layaknya anak kecil yang minta di bawa pulang ke rumah orang tuanya. Ibra menatap wajah Naura penuh rasa iba. Keangkuhan, kesombongan serta tatapan genit yang seolah menjadi jati diri seorang Naura pun hilang seketika tergantikan dengan tatapan penuh belas kasihan.
''Kamu serius ingin pulang?'' tanya Ibra kembali duduk di tepi ranjang.
''Iya, aku ingin pulang.''
''Lalu, bagaimana dengan urusan kamu yang belum selesai itu? gimana dengan niat kamu yang ingin mencari orang yang telah membunuh kedua orang tua kandung kamu itu? kamu menyerah untuk menemukan mereka?''
''Tidak, Aku akan meminta anak buah'ku meneruskan pencarian mereka.''
"Anak buah?" tanya Ibra tidak mengerti.
Naura terhenyak menyesali ucapannya yang salah bicara. Ibra akan sangat terkejut sekali jika dia sampai tau bahwa dirinya lebih nakal dari yang dia kira.
"Maksudnya bukan anak buah, tapi teman. Akh ... iya teman-teman, begitulah kira-kira, aku salah bicara tadi,'' jawab Naura tersenyum cengengesan.
''Oh ... begitu? saya kira anak buah apaan.''
''He ... he ... he ... Aku salah bicara adikku, sayang ...'' jawab Naura suara genitnya seketika terdengar, membuat Ibra bangkit kemudian merasa risih.
''Kalau kamu serius ingin pulang. Hari ini juga kita pulang. Kamu mandi, pake pakaian yang rapi. Ingat rapi, tertutup, jangan sampai ada satu kulit pun yang terbuka. Apalagi bagian atas tubuh kamu itu, saya ingin bagian itu di tutup rapat serapat-rapatnya, jangan sampai terlihat sedikitpun.''
''Maksudnya yang ini?''
Naura membuka selimut yang menutup bagian atas tubuhnya membuat gunungan kembar miliknya itu benar-benar terekspos sempurna memperlihatkan bulatan mengembang dengan titik kecil di atasnya. Sontak Ibra pun segera memalingkan wajahnya tidak ingin sampai tergoda. Dia pun lebih memilih membalikan tubuhnya kemudian.
''Gila kamu, Naura. Tutup sekarang juga?'' bentak Ibra membuat Naila seketika terkekeh.
''Ha ... ha ... ha ...! emangnya kamu gak pernah ngeliat yang kayak ginian?" Naura dengan suara manja.
"Sudahlah ... saya bisa stres jika ngeladenin wanita gila kaya kamu." Ibra pun pergi begitu saja keluar dari dalam kamar.
"Hey ... Adikku. Kenapa kamu gak jawab pertanyaan kakakmu ini? Apa iya di usia kamu yang sudah dewasa kayak gini, belum pernah ngeliat yang kayak ginian?" teriak Naura masih dengan suara manja.
Ceklek!
Blug!
Ibra membuka pintu kamar lalu kembali menutupnya kasar sesaat setelah dirinya benar-benar keluar dari dalam kamar tersebut.
"Ha ... ha ... ha ... Dasar cowok sok suci. Mana mungkin kamu benar-benar belum pernah melihat benda bulat dan indah ini? Kalau iya, wah ... itu artinya kamu pria langka yang harus aku masukan ke dalam museum ..." Naura terkekeh sendiri, kembali berbaring lalu menatap langit-langit kamar.
'Papa ... Ibu ... Tunggu aku, aku aman segera pulang menemui kalian hari ini,' ( Batin Naura )
*****
Ibra sudah bersiap di lantai bawah. Dia duduk dia atas kursi dengan perasaan kesal. Sudah lebih dari dua jam dirinya menunggu wanita yang bernama Naura.
''Dasar Naura, dia lagi ngapain sih? lama banget ...'' gumam Ibra menatap arloji yang melingkar pergelangan tangan kirinya.
Tuk ... Tuk ...Tuk ...
Tiba-tiba terdengar suara sepatu yang berjalan menuruni tangga. Suaranya yang terdengar nyaring dan berirama membuat Ibra seketika menoleh ke arah tangga dan menatap wajah Naura yang terlihat begitu cantik mempesona.
Rambutnya yang panjang tersapu angin dengan wajah tersenyum ceria. Make up tipis yang memoles wajahnya membuat kecantikan Naura terlihat begitu mempesona. Belum lagi, bibir sensual Naura yang di buat merah menyala senada dengan dress pendek yang dikenakannya. Seketika, Ibra pun merasa terpesona dengan kecantikan yang terpancar dari wanita nakal yang saat ini berjalan semakin mendekat dan berada di ujung anak tangga kini.
''Ck ... CK ... CK ...! Kamu mau kondangan, Non?'' tanya Ibra menggelengkan kepalanya.
Naura menghentikan langkah kakinya lalu mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.
''Kondangan? Enak aja. Aku udah dandan kayak gini dibilang mau kondangan? Dasar kurang ajar.'' Naura tegas dan penuh penekanan.
''Baju kamu juga terlalu nyentrik, Naura. Papa bakalan terkejut ngeliat kamu kayak gini.''
''Emangnya kenapa? ini baju paling tertutup yang aku punya.''
''Ini? kayak gini kamu bilang tertutup?''
Naura mengangguk seraya tersenyum.
''Nggak-nggak ... Ganti pakaian sekarang juga, titik.''
''Tapi Ibra--''
''Gak ada rapi-tapian. Kamu ganti sekarang, atau kita gak jadi pulang?''
''Bukan begitu, aku gak punya lagi pakaian yang lebih tertutup dari ini, kalau yang terbuka bahkan hampir tela*jang aku ada, banyak. Sungguh ... Aku gak bohong,'' Naura dengan nada serius.
''Astaga kamu, Naura!'' Ibra mengusap wajahnya kasar.
''Ya udah gini aja. Kamu antar aku ke mal dulu, temani aku belanja pakaian seperti yang kamu inginkan tadi, gimana?''
''Hmm ... Oke. Tapi gak pake lama.''
''Iya-iya bentaran doang ko. Lagian aku gak tau pakaian tertutup yang kamu inginkan itu seperti apa.''
''Ya udah kita berangkat sekarang.'' Ibra berjalan di depan Naura. Namun, seketika dia menghentikan langkah kakinya membuka jaket jeans yang dikenakannya lalu melingkarkan di bahu putih Naura.
****
Di dalam mal.
Naura nampak berjalan dengan menggandeng pergelangan tangan Ibra. Namun, berkali-kali Ibra pun mencoba menurunkan tangan lentik wanita itu merasa tidak nyaman. gadis itu pun tidak menyerah meskipun tangannya terus saja di turunkan bahkan dengan sedikit hentakan. Dia kembali melingkarkan tanganya itu sampai akhirnya, Ibra menyerah dan membiarkan wanita itu bergelayutan manja di sampingnya kini.
''Jangan terlalu deket-deket, jaga jarak sedikit, Naura,'' pinta Ibra sedikit mengurai jarak.
Naura yang memang pada dasarnya nakal dan manja masih tetap saja tidak menyerah, bahkan semakin menghimpit tubuh kekar Ibra bahkan semakin mempererat lingkaran tangannya. Tentu saja hal itu membuat Ibra benar-benar menyerah juga akhirnya.
''Nah di sana,'' tunjuk Naura dengan tatapan mata mengarah ke tempat dimana pakaian wanita berada dan menarik tangan Ibra.
Di tempat yang khusus menyediakan pakaian wanita dari berbagai merk terkenal dengan harga jutaan tersusun rapi di sepanjang ruangan luas itu. Naura nampak memilih pakaian dan melepaskan lingkaran tangannya. Dengan tersenyum dia pun meraih satu buah pakaian lalu memperlihatkannya kepada Ibra.
''Nah, coba lihat yang ini. Kayaknya bagus.'' Naura melebarkan pakaian berwarna hitam panjang menjuntai.
Ibra menggelangkan kepalanya.
Naura pun menyimpan pakaian itu kembali di tempat semula, lalu meraih satu buah lagi.
''Kalau yang ini? semuanya tertutup lho?''
Ibra kembali menggelangkan kepalanya.
''Ya udah kamu aja yang pilih kalau gitu, kamu maunya yang kayak gimana sih?'' tanya Naura melemparkan begitu saja pakaian yang tadi di genggamnya.
''Tunggu di situ, saya carikan pakaian yang cocok buat kamu.''
Ibra menunjuk kursi tunggu dan meminta Naura untuk duduk di tempat itu dan hanya di jawab dengan anggukan dengan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa oleh Naura. Dia pun berjalan dengan langkah kaki yang dihentakan layaknya anak kecil yang sedang merasa kesal. Setelah itu Naura duduk dengan bersilang kaki kemudian.
Sementar itu, Ibra nampak menatap sekeliling mencari pakaian yang dia inginkan. Sampai akhirnya, dia pun menemukan satu stel pakaian yang dirasanya cukup tertutup dan cocok untuk dikenakan oleh Naura. Dia pun meraih pakaian tersebut lalu memperlihatkannya kepada Naura.
''Coba pakai ini.''
Pinta Ibra menyerahkan dress tertutup di bawah lutut, bermotif bunga cerah.
*****