"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Terhina
Pagi ini Nadia sedang sibuk membantu mama mertuanya memasak untuk sarapan. Sedangkan Rehan sedang mandi di kamar.
Suara lantang Rehan membuat Eva berdecak pinggang.
"Nad, kamu tahu dasi ku yang berwarna biru tidak?" Rehan menuruni tangga sambil menata kancing kemejanya.
"Bisa gak sih, Rey? Kamu gak usah teriak-teriak." Eva menghampiri putranya yang sedang duduk di meja makan.
"Hari ini aku ada rapat, Ma." Rehan meneguk segelas air putih sampai tandas.
"Aku tidak tahu, lagipula kenapa kamu tanya aku? Aku kan baru datang kesini kemarin, kamu juga belum memberi tahu ku dimana letak barang-barang mu." Nadia menghampiri suaminya. Dia menata rambut Rehan yang berantakan.
"Apa kamu tidak sisiran tadi?" Nadia berjinjit, dia menyisir rambut basah Rehan menggunakan jemarinya.
"Kamu mengejek ku? Jelas aku sisiran. Oh ya sayang, nanti siang kamu ke kantor ku ya?" Rehan menatap Nadia penuh harap. Dia berharap Nadia tidak menolaknya.
"Kantor? Maksut kamu hotel yang dekat dengan Restoran Aditama?" Tanya Nadia. Dia hanya memastikan tebakannya tidak salah.
"Nah, itu kamu tahu. Nanti kita makan siang bersama." Nadia tersenyum, dia menganggukkan kepalanya.
"Yaudah, nanti aku kesana. Kamu duduk dulu, biar aku siapkan sarapan." Nadia kembali ke dapur.
"Ma, mama panggil papa saja. Biar aku yang meletakkan semua ini ke meja makan." Suruh Nadia, sopan.
"Gak apa-apa mama tinggal manggil papa? Nanti kamu repot lagi." Eva bertanya ragu kepada menantunya.
"Tentu saja tidak, Ma." Eva mengangguk, lalu dia melangkah pergi meninggalkan dapur.
"Tadi malam aku membereskan berkas-berkas kerja mu, sepertinya kamu kelelahan hingga tidak sempat membereskan berkas-berkas kerjamu sendiri." Nadia meletakkan berbagai makanan di meja makan secara bergantian sambil mengobrol dengan suaminya.
"Maaf merepotkan mu. Tapi tadi malam aku benar-benar capek dan ingin segera istirahat." Rehan benar-benar merasa tidak enak sudah merepotkan Nadia.
"Gak apa-apa. Kamu pagi ini mau sarapan nasi atau roti?" Nadia duduk di samping Rehan yang sedang sibuk dengan heandponenya.
"Roti aja sayang." Rehan memasukkan heandponenya kedalam kantong kemejanya.
Nadia mengoleskan selai coklat ke roti gandum yang dia pegang. Lalu dia berikan kepada Rehan.
"Rey, bagaimana kabar perusahaan kita? Obsetnya naik atau turun?" Bram duduk di depan putranya. Kali ini dia lebih memilih memakan nasi yang banyak karbohidratnya.
"Naik, tapi tidak drastis. Karena virus Corona, kebanyakan orang jadi membatalkan untuk menginap di hotel." Jawab Rehan, jujur. Faktanya memang begitu. Pandemik Virus Corona merebak. Banyak orang yang memilih berdiam diri di rumah atau yang biasa disebut lock down.
"Pusing kepala papa gara-gara virus itu." Bram terlihat frustasi.
***
Dilain tempat, Meli sedang ngerumpi bersama ibu-ibu kompleks yang sedang belanja sayuran. Mereka membicarakan tentang mantu dan juga putri mereka.
"Yang jelas anak saya Nadia sekarang sudah hidup enak. Dia menikah dengan anak kolongmerat, Apalagi sekarang perusahaan suami saya sudah seperti dulu, maju." Meli tersenyum senang. Sekarang dia bisa hidup seperti dulu, tidak ada kata kekurangan di rumah tangganya lagi.
"Beruntung banget emang Nadia, bukannya suaminya itu anak pengusaha perhotelan yang perusahaannya memiliki cabang sampai ke asia?" Ibu-ibu bertubuh gempal itu menyikut lengan temannya. Dia sempat melihat Rehan dan kedua orang tuanya di layar televisinya saat di wawancarai oleh wartawan mengenai bisnisnya.
"Iya, Anak siapa dulu dong?" Meli terlihat sangat sombong.
"Ibu Dina dan Pak Aldi." Meli langsung melotot mendengar jawaban mereka.
"Kan saya sudah nikah dengan Mas Aldi, Jadi dia juga anak saya dong." Meli tidak terima dengan perkataan ibu-ibu itu. Bagaimana pun dia juga ibunya Nadia.
"Iya, Anak tiri." Meli menatap ibu-ibu itu kesal.
"Nih pak uangnya, dasar ibu-ibu kompleks yang bisanya komentar doang." Meli berjalan cepat masuk kedalam rumahnya.
"Lah kok malah dia yang marah?"
"Iya, dasar aneh emang Bu Meli itu."
"Udah ibu-ibu, dilanjut belanjanya." Lerai si penjual sayur. Untung yang menjual sayur laki-laki, coba saja kalau perempuan, pasti sudah ikut nimbrung ngegosip.
***
Nadia sedang bersantai di kursi panjang yang terletak di sisi rumah, dekat kolam renang. Nadia sedang berjemur sambil membaca majalah tentang fesen 2020.
"Nak, mama mau arisan dulu. Kamu mau ikut atau di rumah?" Eva menghampiri Nadia dengan baju yang sudah rapi.
"Di rumah aja, Ma." Sepertinya ikut arisan dan berkumpul bersama ibu-ibu tidaklah pilihan yang baik. Apalagi ibu-ibu arisan, selain membicarakan uang dan berlian, tidak ada lagi topik yang mereka bicarakan selain itu.
"Kalau begitu mama berangkat dulu. Hati-hati di rumah sayang." Eva melenggang pergi. Wanita paruh baya itu masih terlihat cantik di usianya yang sudah tua.
Nadia kembali membaca buku majalahnya, Menjadi desainer ternama masih menjadi impiannya sampai sekarang.
***
Mobil putih melaju menembus ramainya jalan ibu kota. Siang ini tiba-tiba hujan, hingga membuat jalanan semakin mancet. Nadia duduk di dalam mobil dengan resah. Ini sudah lewat jam 13.00 Wib. Menandakan bahwa jam makan siang sudah selesai.
Nadia merasa bersalah, dia lupa jika ada janji makan siang bersama Rehan di kantor.
Tit..., tit..
Nadia menekan klakson mobilnya. Matanya terus melirik arloji yang melingkar indah di pergelangan tangan sebelah kanannya.
"Kenapa mobil itu gak maju-maju sih?!" Kesal Nadia.
Mobil di depannya sudah berjalan walau pelan. Perlahan kemancetan mulai reda.
Satu masalah selesai, satu masalah datang lagi. Tiba-tiba mobilnya berjalan dengan tidak enak. Nadia menepikan mobilnya. Dia turun dari mobil, dan Ah...
"Kenapa bisa kempes sih ban nya?!" Nadia menyibakkan rambutnya kebelakang. Hujan semakin deras. Nadia mengambil tasnya di dalam mobil. Setelah mengunci mobilnya dari luar, Nadia berlari menuju kantor suaminya. Dia tidak perduli dengan mobilnya sekarang ini.
"Gak apa-apa aku lari, Hitung-hitungan buat olahraga. Lagi pula kantor Rehan sudah dekat." Nadia meletakkan tasnya ke atas kepalanya untuk melindunginya dari air hujan. Tapi nyatanya itu tidak berpengaruh. Banyak pejalan kaki dan pengendara motor yang berhenti untuk berteduh di rumah-rumah orang.
Nadia terus berlari menyusuri jalan. Hujan dan petir tidak menjadi penghalang untuk dia sampai ke kantor suaminya.
Sedangkan dilain tempat, Rehan benar-benar kecewa dengan Nadia.
"Aku menunggu mu seperti orang bodoh disini. Tapi rupanya kamu tidak datang. Apa sesulit itu untuk mencintai ku?" Rehan melihat hujan lewat jendela ruang kerjanya.
"Harusnya aku sadar, bahwa kamu tidak akan pernah perduli pada ku." Rehan menonjok dinding kantornya.
Berbeda dengan Rehan yang kecewa dengan Nadia, sekarang Nadia sedang mati-matian berlari agar cepat sampai ke kantor Rehan.
Jeder...
"Aaa..." Teriak Nadia. Dia kaget, hingga tanpa sengaja kakinya tersandung batu.
"Au..." Ringis Nadia. Rasa perih di kakinya membuat dia ingin menangis.
"Aku gak boleh nyerah, sedikit lagi." Nadia berjalan terseok-seok menuju kantor Rehan. Tulisan HOTEL REY M menandakan bahwa dia sudah sampai di hotel/kantor suaminya.
Namun...
"Mau ngapain mbak?" Tanya salah satu satpam yang bekerja di hotel milik Rehan.
"Mau masuk, saya sudah ada janji dengan suami saya." Nadia ingin masuk kedalam, dia sudah sangat kedinginan. Kakinya juga harus segera di obati, rasanya sangat nyeri.
"Siapa nama suami mbak?" Tanya salah satu satpam yang memakai seragam berwarna hitam.
"Rehan Mahendra." Mereka berdua terkejut. Lalu setelahnya mereka tertawa. Mereka melihat penampilan Nadia dari atas sampai bawah.
"Mbak gak ngarang cerita kan? Mana mau bos kita nikah sama perempuan lusuh seperti mbak." Nadia benar-benar marah atas penghinaan yang kedua satpam itu lontarkan kepadanya.
Nadia sadar, sekarang ini dia sangat lusuh. Celana putihnya kotor terkena cipratan genangan air, bajunya juga sudah acak-acakan. Apalagi dia tidak mengenakan sepatu berhag tinggi seperti perempuan-perempuan pada umumnya.
"Mendingan mbak pergi. Jangan masuk ke hotel ini, nanti lantai hotel ini jadi kotor gara-gara pijakan kaki mbak. Palingan juga mbak gak sanggup untuk menyewa satu kamar di hotel ini. Hotel ini milik kalangan berkelas, harganya sangat mahal." Kedua satpam itu mendorong bahu Nadia sampai tersungkur.
"Rehan...., Rey, Rehan...." Teriak Nadia. Rehan yang sedang mengecek dokumennya merasa ada yang memanggil namanya.
"Aku seperti mendengar nama Nadia, tapi itu tidak mungkin. Dia tidak mungkin kesini." Rehan acuh tidak perduli.
"Rehan..., Hiks, Hiks, Tolong aku Rey." Hampir semua penginap menatap Nadia dengan tatapan kasihan.
"Jangan menipu kami dengan mengaku-ngaku sebagai istri Bos kami. Silahkan pergi, Atau kami seret mbak dari sini." Nadia berdiri, dia berbalik dan berjalan dengan kaki terseok-seok. Rehan benar-benar tidak menolongnya.
"Hiks.., Hiks..." Nadia mengusap air matanya kasar.
"Dasar mereka tidak punya hati." Nadia sakit hati, dia malu, dia merasa terhina.
Nadia memegang dadanya, rasanya sakit saat kita di usir dari kantor suami kita sendiri. Nadia ingin berlari, tapi kakinya sakit. Nadia terus berjalan tanpa menghiraukan sekitar.
Tit..., Tit...
"Aaa......"
Brak...
Tangan Nadia di tarik oleh seseorang hingga dia terjatuh.
"Maaf, Maafkan aku yang tidak percaya bahwa kamu yang memanggil nama ku." Rehan memeluk Nadia, mengusap air mata istrinya, lembut.
"Mereka jahat." Adu Nadia sambil menangis.