Sebuah kecelakaan yang membuat Sultan diharuskan menikahi janda adik kandungnya.Perjalanan cinta yang rumit membuat Hanum berada di persimpangan jalan, kebingungan melanda ... memilih antara tetap bertahan, atau menyerah. Sampai suatu hari, dia menemukan sebuah rahasia besar tentang masa lalu Sultan yang sekarang resmi menjadi suaminya.Akankah Hanum menemukan cinta sejatinya, yang ternyata sepertinya memang sudah disiapkan oleh Tuhan dengan dibungkus sekelumit masalah?
Season 2.
Seorang gadis bernama Cinta berada di ambang dilema saat William, atasannya di kantor mendadak mengajaknya menikah. Memendam cinta kepada kakak kelas sedari dulu membuat Cinta akhirnya menerima pinangan William. Namun, sebuah fakta terkuak usai pernikahan itu terjadi, membuat Cinta begitu menyesali keputusannya.
Cinta hancur saat dia tahu dirinya ada di tengah-tengah antara William dan Raisa. William sangat mencintai Raisa, tapi Raisa mencintai Willmar yang tak lain adalah saudara kembarnya. William hanya menjadikan Cinta sebagai pelarian.
Apakah yang akan Cinta lakukan setelah mengetahui perasaan William padanya? Akankah Cinta berusaha mendapatkan hati William, atau lebih memilih mundur setelah sakit yang tak berkesudahan William berikan padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butik
Hanum baru saja turun dari taksi yang ditumpanginya tepat di depan sebuah gedung. Dia melihat ponselnya, memastikan alamat yang dikirim temannya dan ternyata benar. Kakinya melangkah mantap memasuki bangunan gedung yang menjulang tinggi.
Sampai di lobby kemudian dia menelpon Ajeng, memberitahukan kedatangannya. Tak butuh waktu lama Ajeng datang menjemput Hanum, keduanya berjalan beriringan menuju butik yang ada di dalam gedung itu.
"Jadi kamu bekerja di butik ini?" tanya Hanum.
"Iya, sebenarnya ada kantor khusus wedding organizer nya tapi aku lebih suka bekerja disini. Di kantor terlalu membosankan. Disini kita juga bisa mengerjakan hal lain sembari mengurus berbagai keperluan calon pengantin," terang Ajeng.
Ajeng mempersilahkan Hanum untuk duduk. Di sebuah ruangan terlihat seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahunan tengah sibuk dengan beberapa file di meja kerjanya. Wanita itu tersenyum ramah menyambut kedatangan Hanum.
"Bund kenalin, ini Hanum. Temanku yang kemarin aku ceritain ke bunda," ucap Ajeng.
"Hanum." menjabat tangan wanita di hadapannya.
"Lili, kamu bisa panggil saya Bunda Lili. Jadi kamu mau bekerja disini?" tanya wanita paruh baya yang masih terlihat ayu, itu.
"Iya, Bu." Hanum mengangguk.
"Panggil Bunda Lili saja biar akrab," sambung Lili ramah.
"Ya sudah, mulai besok kamu sudah bisa bekerja disini. Biar Ajeng dan teman-temannya yang nanti akan mengajarimu."
"Apa? Aku sama sekali tidak menyangka kalau interview nya akan semudah ini," ucap Hanum.
"Ya, saya sudah mendengar banyak hal tentang kamu dari Ajeng. Sekali lagi saya ucapkan selamat datang di butik ini, selamat bekerja ya, semoga kamu betah disini. Jangan sungkan dan anggap kami seperti keluarga karena kami bekerja sepenuh hati dan menganggap semua orang yang bekerja disini adalah keluarga." Lili terkekeh melihat Hanum yang masih termangu.
Hanum sama sekali tidak menyangka kalau atasannya itu sangat ramah dan juga menyenangkan.
Mereka beranjak pergi setelah sempat berbincang sesaat. Ajeng mengajak Hanum berkeliling melihat keadaan butik dan mulai memperkenalkan orang-orang yang ada disana. Tidak terlalu banyak orang, hanya ada lima gadis yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Yang lainnya sibuk di kantor yang berada di lantai atas.
Hanum sibuk menyalami mereka bergantian sambil memperkenalkan diri masing masing. Dia terlihat sumringah, merasa sangat senang karena atasan dan rekan kerjanya sungguh ramah. Pun sama seperti Hanum, mereka yang bekerja disana pun begitu antusias menyambut kedatangan rekan kerja barunya. Mereka terlihat akrab padahal baru pertama bertemu, benar yang dikatakan Bunda Lili kalau suasana kerja disini sungguh nyaman dengan sistem kerja sama dan rasa kekeluargaan yang solid.
Ajeng menunjukkan meja kerja Hanum yang berada di depan butik tepat di samping display yang penuh dengan baju pengantin. Mereka berdua duduk sambil menikmati minuman dingin yang sudah tersaji di atas meja.
"Aku harap kamu senang dan betah ya kerja disini." Ajeng memulai percakapannya.
"Ya Jeng. Terimakasih ya, sepertinya aku bakalan betah kerja disini, orang-orangnya ramah semua," balas Hanum.
"Itu juga yang bikin aku betah kerja disini Num, semua orang baik. Bunda Lili tidak hanya menganggap pekerja disini sebagai karyawannya tapi dia menganggap kami seperti anaknya."
"Ya, aku bisa melihat itu saat berbicara dengannya tadi."
"Ya sudah, habis ini kamu pulang saja dulu, kamu bisa mulai bekerja besok."
"OK." Hanum membentuk bulatan dengan ibu jari yang menyambung dengan jari telunjuk nya.
"Oh ya, tadi kamu sudah bertukar nomor telepon kan sama mereka?" tanya Ajeng sambil menoleh, menunjuk temannya dengan dagunya.
Hanum mengangguk, mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya Hanum meninggalkan gedung tersebut. Ajeng mengantarkan hanya sampai lobby kemudian mereka berpisah.
Ajeng melanjutkan pekerjaannya sementaraHanum memutuskan untuk langsung pulang.
.
Jam lima sore, seperti biasa Hanum sedang sibuk di dapur menyiapkan makanan untuk makan malam. Dia menyusun beberapa piring yang berisi makanan yang baru saja selesai di masak olehnya. Hanum pandai memasak karena sedari kecil mendiang ibunya sudah mengajarkannya memasak dan melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya.
Apalagi semenjak kematian kedua orang tuanya lalu tinggal di rumah tantenya. Keluarga tantenya memperlakukan dia tak ubahnya seperti seorang pembantu, memaksa Hanum untuk melakukan hampir semua pekerjaan rumah tangga meskipun ada beberapa asisten rumah tangga disana tapi Hanum merasa bersyukur, berkat ajaran ibunya dia bisa melewati hari-harinya dengan baik.
Terdengar kode pintu berbunyi dan kemudian pintu terbuka lebar. Sultan bergegas menuju ke dapur, pria itu kemudian membuka kulkas untuk mengambil botol air dingin.
Hanum baru saja selesai mandi dan begitu keluar kamar dia sudah terlihat rapi dan segar. Perlahan gadis itu menghampiri suaminya. Mencium punggung tangan suaminya sudah menjadi rutinitasnya ketika Sultan pulang dan jika hendak bepergian.
"Aku sudah siapkan semuanya, Mas. Air hangat di bathub, makan malamnya juga sudah siap." Hanum menunjuk meja dimana makanan tertata rapi di atasnya. "Jadi, mau makan dulu? atau mandi dulu?"
"Mandi saja dulu, aku sudah sangat gerah." Sultan menyahut,dia mengambil jas yang terlampir di bangku lalu menuju kamar.
Beberapa saat kemudian Sultan sudah duduk di kursi meja makan, dia terlihat sangat tampan mengenakan kaos oblong warna putih dan celana pendek berwarna krem. Rambutnya tertata rapi dengan sentuhan pomede ditambah aroma musk dari tubuhnya yang makin menambah kesan maskulin.
Dia bahkan lebih tampan dari Mas Sakti. Hanum menggelengkan kepalanya.
Apa yang ada dipikiran gadis itu, bisa-bisanya dia membandingkan kakak beradik yang jelas-jelas berbeda dari segi apapun. Hanum terus merutuki dirinya.
Hanum menyodorkan sepiring nasi beserta lauk di hadapan suaminya dan seperti biasa, mereka makan dalam diam.
.
Sultan kembali di sibukkan dengan pekerjaannya. Dia nampak serius meneliti satu per satu tumpukan kertas di meja kerjanya.
Hanum menarik kursi dan duduk di hadapan suaminya.
"Ehm." gadis itu berdehem. Dia nampak kikuk karena takut menganggu pekerjaan suaminya.
"Bicaralah! Aku akan mendengarkannya," ucap Sultan masih dengan file di tangannya.
"Itu, soal kemarin. Tadi pagi aku sudah kesana dan atasanku bilang aku sudah bisa bekerja mulai besok," beber Hanum.
"Lalu?"
"Aku akan berangkat pukul tujuh pagi, setelah kamu berangkat kerja dan menyelesaikan pekerjaanku dirumah," imbuh Hanum. "Aku bisa naik taksi atau ojek online kesana, aku janji sudah ada dirumah sebelum kamu pulang. Kalaupun aku lembur aku akan memberitahukannya terlebih dulu padamu."
"Ya sudah, tapi ingat janjimu dan juga syarat yang aku ajukan kemarin."
"Ya Mas,aku janji. Kamu sudah mengizinkan aku kerja saja aku sudah sangat bahagia. Aku akan memenuhi janjiku, kamu bisa percaya padaku."
Hanum membalas senyum suaminya yang menandakan suaminya sudah memberi lampu hijau untuk dia bekerja.
Malam makin larut dan mereka kini sudah terbuai di alam mimpi. Sultan menyusul istrinya naik ke atas tempat tidur setelah menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu.
.
Tbc ....❤️❤️❤️❤️
😄