Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Tak Terduga
Setelah motor juvan sudah selesai di servic juvan berinisiatif untuk datang ke toko kue yena.
Motor Juvan melaju kencang membelah jalanan pagi itu. Hatinya berdebar tak karuan—campuran antara rindu yang memuncak dan tekad yang sudah bulat. Setelah mendengar kebenaran dari Vivien, ia tak bisa lagi diam saja. Ia harus menemui Yena, harus memeluknya, harus berjanji padanya bahwa ia tak akan membiarkan wanita itu berjuang sendirian lagi. Hari Minggu, toko kue biasanya tutup, tapi ia tahu betul kebiasaan Yena—wanita itu selalu datang ke toko di hari libur untuk sekadar membersihkan dan menata ulang barang-barang.
Tak butuh waktu lama hingga Juvan tiba di depan toko kue yang tak asing lagi itu. Pagar dan pintu kaca tertutup rapat, sepi, tak ada tanda-tanda pembukaan. Namun langkahnya terhenti mendadak saat melihat sebuah mobil hitam mengkilap terparkir di halaman depan—mobil yang tak pernah ia lihat sebelumnya, namun entah mengapa membuat firasat buruknya kembali menyergap.
Juvan mematikan mesin motornya, turun perlahan, dan melangkah mendekat menuju pintu kaca toko yang bening. Ia berniat mengetuk, namun tangannya terhenti di udara saat matanya menangkap bayangan dua sosok di dalam ruangan.
Jantungnya seketika berhenti berdetak.
Di sana, di tengah ruangan yang penuh aroma manis kue, berdiri Yena. Dan di hadapannya... ada seorang pria. Pria yang wajahnya terlihat samar dari luar, namun sosoknya yang tinggi dan tegap terlihat begitu mendominasi di samping Yena. Juvan tak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, tak tahu siapa dia sebenarnya—padahal itu adalah Arga.
Namun apa yang dilihatnya selanjutnya membuat dunia di bawah kakinya seketika runtuh.
Tangan pria itu menggenggam kedua tangan Yena dengan erat, lalu mengangkatnya perlahan hingga bibirnya menyentuh punggung tangan gadis itu—mengecupnya dengan lembut, penuh kepemilikan. Setelah itu, tangan pria itu bergerak naik, menyentuh pipi Yena, lalu turun perlahan mengelus puncak kepalanya dengan penuh kelembutan. Gerakan yang begitu intim, begitu akrab, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia.
Dan yang lebih menyakitkan—Yena tidak menolak. Ia berdiri diam di sana, membiarkan pria itu melakukan semua itu. Wajahnya tak terlihat jelas dari luar, namun ia tak menarik diri, tak mendorong, tak mundur sedikit pun.
Seketika, dada Juvan terasa seperti dihantam benda keras. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya membelalak tak percaya, dan rasa sakit yang luar biasa menyergap jantungnya hingga membuatnya nyaris tak bisa berdiri. "Sakit... rasanya sakit sekali..."
Langkah mundur satu langkah, lalu dua langkah. Pikirannya berputar kacau, dan perlahan-lahan satu pemahaman pahit merembes masuk ke dalam benaknya, menyakiti lebih dalam dari sebelumnya.
"Jadi... semua yang dikatakan kak Vivien tadi itu bohong? batinnya perih, matanya berkaca-kaca menahan air mata yang nyaris jatuh. Semua cerita tentang ancaman, paksaan, dan ketakutan... itu semua hanya alasan? Hanya kata-kata pemenang untuk menenangkan aku? Supaya aku tidak mengganggu kak yena lagi?"
Ia kembali menatap ke dalam melalui kaca bening itu—melihat pria itu masih memegang tangan Yena, melihat Yena yang berdiri begitu dekat dengan pria lain, membiarkan dirinya disentuh dan dibelai. Dan tiba-tiba semua momen yang pernah mereka lalui terasa hambar dan penuh kepalsuan di matanya. Pelukan di jalan, ciuman di pesta, perhatian kecil yang ia kira tulus... semuanya kini terasa seperti sandiwara.
Kau tidak menjauhiku karena melindungiku, Kak Yena... kau menjauhiku karena kau sudah punya seseorang yang kau cintai Dan aku... aku hanyalah pelarian sesaat, pelipur lara sementara"
Air mata tak sanggup lagi ditahan. Satu butir jatuh membasahi pipinya, terasa hangat namun membakar kulitnya. Hatinya hancur berkeping-keping, jauh lebih hancur dari sebelumnya. Rasa bersalah, rasa khawatir, rasa ingin melindungi—semuanya berubah menjadi rasa malu dan sakit yang mendalam. Ia merasa bodoh. Bodoh karena percaya pada kata-kata orang asing, bodoh karena berpikir ia pernah berarti sesuatu bagi wanita yang jauh lebih tua dan jauh lebih sempurna darinya.
"Kak yena, maafkan aku karna sudah lancang menyukaimu." batinnya merintih. Menatap bayangan yena untuk terakhir kalinya.
"Aku begitu bodoh, kak yena aku mulai menyukaimu, dan aku berharap kakak juga menyukaiku. Ternyata aku salah. Aku terlalu berharap.padahal jelas-jelas kakak tidak pernah menyukaiku. Dan hanya menganggap ku sebagai teman" gerutu juvan pada dirinya sendiri sambil meneteskan air mata.
Tanpa menunggu lebih lama, tanpa berniat masuk atau mengetuk pintu, Juvan berbalik perlahan. Kakinya terasa berat, seolah tertanam di tanah, namun ia memaksakan diri melangkah pergi. Ia kembali menaiki motornya, menatap pintu kaca itu sekali lagi—tempat di dalamnya, wanita yang ia cintai sedang bersama pria yang seharusnya menjadi masa depannya.
Motor pun melaju pergi, membawa serta hati yang hancur dan kepercayaan yang kini musnah sepenuhnya. Juvan tak tahu—di dalam toko itu, Yena sama sekali tidak bahagia. Tangan yang digenggam Arga ingin sekali ditarik kembali, namun ia tak berani. Di bawah ancaman dan tekanan, ia hanya bisa berdiri diam, menahan air matanya sendiri, tanpa tahu bahwa satu-satunya orang yang berjuang untuknya baru saja pergi dengan hati yang remuk reda.
Angin pagi yang menerpa wajah Juvan tak terasa dingin, karena hatinya jauh lebih beku dan hancur. Motor yang dikendarainya melaju sembarangan, tak tahu harus dibawa ke mana—ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat yang baru saja meremukkan seluruh dunianya. Air mata mengalir deras tanpa henti, kabur memandunya, sesekali ia menyeka kasar dengan punggung tangan, namun air mata itu terus saja menetes, membawa serta rasa sakit yang menyayat setiap inci dadanya.
"Bodoh... aku ini bodoh sekali..." batinnya berteriak penuh kepedihan, rahangnya gemetar menahan isak tangis yang nyaris meledak.
"Apa yang aku harapkan sebenarnya? Dia wanita hebat, cantik, baik hati... tentu saja dia akan memilih pria yang setara dengannya. Bukan anak SMA lugu sepertiku."
Setiap adegan yang baru saja dilihatnya lewat kaca toko kembali berputar di kepala bagai pisau tumpul yang mengiris berulang-ulang. Genggaman tangan itu, kecupan lembut itu, usapan di kepala Yena... semua terlihat begitu mesra, begitu serasi. Dan diamnya Yena—itu yang paling menyakitkan. Seolah Yena memang bahagia, seolah kehadirannya selama ini tak lebih dari sekadar selingan saat ia sedang terluka.
"Lalu apa arti semua momen itu? "batinnya merintih pilu. "Pelukan saat aku terluka, perhatian saat mengobati lukaku, tatapan hangatnya... semuanya palsu? Semuanya hanya sandiwara?
Ia merasa begitu dipermainkan, begitu hina. Cerita Vivien tentang ancaman dan tekanan itu kini terdengar seperti alasan yang indah belaka. Yena tak ingin menyakiti hatinya secara langsung, jadi ia menciptakan alasan agar ia pergi sendiri tanpa banyak tanya. Dan ia... ia percaya sepenuhnya, bahkan sempat berpikir ingin melindunginya. Betapa konyolnya dirinya.
Juvan akhirnya menepikan motornya di pinggir jalan yang sepi, di bawah pohon besar yang rindang. Ia mematikan mesin, lalu membiarkan tubuhnya terkulai lemas di atas jok motor. Ia menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya, dan saat itu pula tangisnya meledak—tersedu-sedu, tanpa bisa ditahan lagi. Rasa sakit yang begitu dalam, campuran antara kecewa, malu, dan cinta yang tak terbalaskan.
"Kenapa..." isaknya parau, bahunya terguncang hebat. "Kenapa membuatku merasa berharga... jika pada akhirnya hanya ingin menjatuhkanku begini? Kenapa Kak Yena..."
Ia mengira dirinya kuat. Ia kira ia siap berjuang melawan apa pun demi wanita itu. Tapi ternyata, senyuman kebersamaan Yena dengan pria lain adalah pukulan paling telak yang mampu menghancurkannya hingga tak bersisa. Semua janji yang tersusun di hati, semua rencana untuk berdiri di samping Yena, kini lenyap ditelan rasa sakit yang mencekam.
Perlahan, air matanya mulai mengering, digantikan oleh kekosongan yang dingin. Matanya merah sembab menatap hamparan jalan kosong di depannya, tatapannya kosong tanpa jiwa. Harapannya yang tumbuh perlahan kini mati seketika, dikubur bersama sisa-sisa kepercayaannya.
"Maafkan aku... karena sudah lancang mencintaimu" batinnya lirih, penuh kepahitan.
" Mulai hari ini... aku akan mundur. Aku tak akan lagi mengganggu hidupmu. Semoga kau bahagia selamanya bersamanya... walau kebahagiaan itu membuatku hancur."
Juvan menghela napas panjang yang terasa menyakitkan, lalu menyalakan kembali mesin motornya. Kali ini ia melaju perlahan, tak ada lagi semangat, tak ada lagi tekad. Hanya ada sosok remaja yang hatinya baru saja patah berkeping-keping, berjalan pulang membawa luka yang mungkin takkan pernah sembuh.
Di dalam toko kue yang harum manisnya tak lagi mampu menenangkan hati, Yena tiba-tiba menegang. Seolah ada benang tak kasat mata yang menarik hatinya seketika, menciptakan rasa sesak yang tiba-tiba dan tak beralasan. Tubuhnya terasa dingin, jantungnya berdegup kencang tanpa sebab yang jelas—seolah ada seseorang yang sangat ia rindukan baru saja berdiri di dekatnya, lalu pergi.
Tanpa sadar, ia melepaskan sedikit genggaman tangan Arga yang tak pernah ia inginkan, lalu menoleh celingak-celinguk ke arah pintu kaca bening itu. Matanya menyapu halaman depan yang sepi, mencari sosok yang mungkin berdiri di sana—sosok yang selalu ia kenal dengan sepeda atau motornya, dengan senyum yang tulus dan mata yang hangat. Namun di luar sana kosong. Tak ada siapa-siapa. Hanya angin pagi yang berhembus pelan dan dedaunan yang bergoyang.
Yena menghela napas panjang yang terasa berat, lalu menunduk lemah.
"Hmm... sepertinya hanya perasaanku saja"batinnya pilu, rasa kecewa yang tak tahu dari mana datangnya menyusup ke dada.
"Mungkin aku terlalu banyak memikirkannya sampai-sampai halusinasi kehadirannya pun muncul... Juvan... di mana kau? Apakah kau baik-baik saja?"
"Kenapa, sayang? Kau sedang mencari siapa, hmm?"
Suara Arga terdengar tepat di samping telinganya, rendah dan penuh nada posesif yang membuat bulu kuduk Yena meremang. Tangan Arga kembali menangkup wajahnya, memutar wajah Yena agar kembali menatapnya, seolah tak suka perhatian wanita itu teralihkan walau sedetik pun. Matanya menatap tajam, menyelidiki setiap ekspresi di wajah Yena, berusaha mencari jejak kerinduan yang ia takutkan ada di sana.
Yena tersentak, seketika menarik diri dari lamunan. Ia memaksakan senyum tipis yang terasa pahit di bibirnya, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang baru saja melanda hatinya.
"Tidak... tidak mencari siapa-siapa," jawabnya pelan, suaranya terdengar lelah dan hampa.
Arga tersenyum tak sepenuhnya percaya, namun ia tak menekan lebih jauh. Sebaliknya, ia kembali menarik Yena ke dalam pelukannya, menempelkan dada Yena ke dadanya yang bidang, membuatnya tak bisa melihat ke luar lagi. Dagu Arga bertumpu di atas ubun-ubun kepala Yena, menatap lurus ke arah pintu kaca—seolah ia tahu sesuatu yang Yena tak tahu.
"Jangan terlalu banyak berkhayal, sayang," bisik Arga lembut namun menekan, jemarinya mengusap punggung Yena perlahan.
"Tak ada siapa-siapa di luar sana. Hanya ada kita berdua. Dan mulai sekarang... hanya aku yang boleh ada di dalam pikiranmu. Paham?"
Yena memejamkan matanya rapat-rapat, menahan rasa sakit yang menyayat ulu hatinya. Ia mengangguk pelan di dada Arga, namun hatinya berteriak memanggil nama lain—nama yang baru saja pergi dengan hati yang hancur, tanpa ia sempat tahu, tanpa ia sempat memanggilnya kembali.