NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:743
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan Berbahaya

Beberapa minggu telah berlalu sejak malam ketika Amara menemukan Leon di antara reruntuhan bangunan tua.

Luka di tubuh Leon mulai membaik. Jahitan di bagian perutnya masih terasa nyeri jika ia bergerak terlalu cepat, tetapi kondisinya jauh lebih stabil dibanding saat pertama kali tiba di pos kemanusiaan.

Pos itu sendiri tidak pernah benar-benar tenang. Setiap hari selalu ada warga baru yang datang. Anak-anak dengan tubuh kurus karena kekurangan makanan, perempuan yang kehilangan keluarganya, hingga pria-pria tua yang terluka akibat ledakan.

Fasilitas kesehatan sangat terbatas. Obat-obatan harus digunakan sehemat mungkin. Para relawan bahkan sering bergantian tidur karena jumlah pasien jauh lebih banyak daripada tenaga medis yang tersedia. Bahkan Amara pun hampir tidak pernah beristirahat.

Pagi hari ia membantu membersihkan luka para korban. Siang hari ia ikut membagikan makanan dan obat-obatan. Malamnya, ketika sebagian relawan mulai tertidur kelelahan, Amara masih memeriksa suhu tubuh beberapa pasien yang kondisinya belum stabil.

Leon beberapa kali memperhatikannya dari kejauhan. Perempuan itu selalu menjadi orang terakhir yang beristirahat dan orang pertama yang kembali bekerja keesokan paginya.

Suatu sore, Leon melihat seorang anak kecil menangis karena jatah makanan hari itu tidak cukup.

Tanpa berpikir panjang, Amara memberikan porsi makan miliknya.

"Kakak nanti makan apa?" tanya anak itu polos.

Amara tersenyum.

"Aku masih kenyang."

Leon tahu itu bohong. Sejak pagi, Amara belum sempat makan sedikit pun. Namun perempuan itu tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.

Leon menggeleng pelan.

"Perempuan aneh..."

Beberapa hari kemudian, situasi di negara itu mulai berangsur membaik.

Pasukan penjaga perdamaian berhasil menguasai beberapa wilayah penting. Jalur evakuasi mulai dibuka kembali. Bantuan internasional berdatangan.

Meski keadaan belum sepenuhnya aman, setidaknya warga sudah bisa bernapas sedikit lebih lega.

Hari itu, seorang dokter menghampiri Leon.

"Keadaan Anda sudah cukup baik."

Leon mengangguk.

"Artinya?"

"Anda sudah boleh pulang."

Leon terdiam beberapa saat.

Tatapannya justru mencari satu orang. Amara.

Ia sedang membantu memindahkan persediaan obat ke gudang kecil di belakang bangunan. Baju relawannya dipenuhi debu. Kedua tangannya penuh goresan kecil. Namun wajahnya tetap tenang.

Leon menghampirinya.

"Kau sibuk."

Amara menoleh lalu tersenyum singkat.

"Pasien tidak pernah menunggu."

Leon mengangguk kecil.

"Aku akan pulang besok."

Tangan Amara berhenti sejenak.

"Lukamu sudah membaik?"

"Sudah."

"Syukurlah."

Hanya itu. Tidak ada kalimat dramatis, apalagi meminta agar Leon tetap tinggal. Amara kembali menyusun kotak-kotak obat seolah pembicaraan mereka sudah selesai. Leon justru tersenyum tipis.

"Kau tidak penasaran siapa aku sebenarnya?"

Amara mengangkat bahu.

"Kalau memang ingin memberitahuku, kau pasti sudah melakukannya."

"Dan kalau tidak?"

"Itu hakmu."

Jawaban sederhana itu kembali membuat Leon kehilangan kata-kata. Selama hidupnya, semua orang selalu ingin mengetahui siapa dirinya. Perempuan ini justru tidak pernah bertanya.

Malam sebelum kepulangan Leon, hujan turun tipis. Sebagian relawan berkumpul di ruang makan sederhana. Amara duduk di sudut ruangan sambil menuliskan laporan jumlah korban yang berhasil dievakuasi. Leon mendekat lalu meletakkan secangkir kopi di depannya.

"Kau belum tidur?"

Amara tersenyum kecil.

"Laporan ini harus selesai malam ini."

Leon melihat tulisan tangan Amara. Rapi dan teratur. Setiap data ditulis dengan detail dan teliti.

"Tidak ada yang mengajarimu?"

"Apa?"

"Mengelola semua ini."

Amara menggeleng.

"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar."

Leon memperhatikan lagi. Ia baru menyadari sesuatu. Selama beberapa minggu berada di sana, Amara bukan hanya merawat pasien.

Perempuan itu tanpa sadar sudah mengatur relawan, membagi logistik, menentukan prioritas pasien, bahkan menyusun jadwal kerja agar semua tetap berjalan meskipun tenaga sangat terbatas.

Ia memimpin. Dan yang lebih mengejutkan, semua orang mengikuti arahannya tanpa merasa diperintah.

Leon akhirnya berkata pelan,

"Kau tahu apa yang membuatmu berbahaya?"

Amara mengernyit.

"Aku?"

Leon mengangguk.

"Kau membuat orang mempercayaimu."

Amara tertawa kecil.

"Aku cuma relawan."

"Itulah yang membuatmu berbahaya."

Amara semakin bingung. Leon melanjutkan,

"Pemimpin sejati tidak memaksa orang mengikutinya."

"Lalu?"

"Mereka membuat orang lain ingin berjalan bersamanya."

Ruangan kembali hening. Amara tidak pernah memikirkan hal itu. Baginya, membantu orang adalah hal yang wajar. Tidak ada niat dan tujuan lain di sana.

Keesokan paginya, kendaraan yang akan membawa Leon menuju bandara telah menunggu. Beberapa anak kecil yang pernah dirawat Amara melambaikan tangan. Para relawan ikut mengantar sampai halaman depan.

Leon berdiri di depan Amara.

"Aku belum mengucapkan terima kasih."

Amara tersenyum.

"Kau sudah sembuh. Itu sudah cukup."

"Bukan hanya karena menyelamatkan nyawaku."

"Lalu?"

"Karena kau mengingatkanku bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan orang baik."

Amara menunduk pelan.

"Kita hanya melakukan bagian kita masing-masing."

Leon mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam dari dalam sakunya. Tidak ada logo mencolok. Hanya sebuah nama.

Leon Volkov.

Dan sebuah nomor pribadi.

Amara menerimanya tanpa banyak reaksi.

"Kalau suatu hari kau membutuhkan bantuan..."

Amara menggeleng.

"Aku tidak suka merepotkan orang."

Leon tersenyum.

"Lalu anggap saja aku yang sedang membutuhkan bantuanmu."

Amara tertawa kecil.

"Aku ini cuma careworker."

"Bukan."

Leon menatap matanya lurus.

"Kau hanya belum tahu siapa dirimu."

Amara terdiam.

"Aku sering bekerja di rumah orang kaya," katanya pelan. "Aku sering mendengar mereka membicarakan bisnis, investasi, hotel, dan perusahaan. Tapi dunia itu bukan duniaku."

Leon menggeleng perlahan.

"Itu yang salah."

"Apa maksudmu?"

"Bisnis bukan milik orang kaya."

Amara menatapnya bingung.

Leon melanjutkan,

"Bisnis adalah cara membangun sesuatu."

Ia berhenti sejenak.

"Kau menyelamatkan satu orang setiap hari."

Amara mengangguk.

"Aku ingin mengajarimu menyelamatkan ribuan orang sekaligus."

Amara menghela napas pelan.

"Aku tidak mengerti laporan keuangan."

"Itu bisa dipelajari."

"Aku tidak mengerti investasi."

"Itu juga bisa dipelajari."

"Aku bukan lulusan bisnis."

Leon tersenyum tipis.

"Bisnis bisa dipelajari."

Tatapannya tetap tenang.

"Integritas tidak."

Kalimat itu membuat Amara terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang melihat sesuatu dalam dirinya yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sendiri.

Suara mesin kendaraan mulai terdengar dan Leon segera melangkah masuk ke mobil.

Sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan,

"Kalau suatu hari kau berubah pikiran..."

Ia menunjuk kartu nama yang masih berada di tangan Amara.

"Hubungi aku."

Kendaraan perlahan meninggalkan pos kemanusiaan. Amara berdiri memandang mobil itu hingga menghilang di tikungan jalan. Ia tidak tahu apakah akan pernah menghubungi pria itu. Yang ia tahu, hidupnya akan kembali seperti semula.

Menjadi careworker dan housemaid. Melayani orang lain seperti biasanya.

Namun berbeda dengan pria yang ia selamatkan, jauh di dalam hati Leon Volkov, sejak hari itu telah tumbuh sebuah keyakinan. Ia tidak sedang mencari seorang karyawan.

Ia sedang menunggu seorang perempuan yang suatu hari nanti mampu berdiri sejajar dengannya, bukan karena nama besar Volkov, tetapi karena kemampuannya sendiri.

Dan tanpa mereka sadari, perpisahan hari itu bukanlah akhir. Melainkan awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah hidup mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!