NovelToon NovelToon
Ke Grep Dengan Preman Tengil

Ke Grep Dengan Preman Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melamar Dan Mendapat Pekerjaan

Devi Putri Maharani merasa sangat senang hari itu. Acara kelulusan sekolah berlangsung meriah di aula SMA Negeri tempatnya bersekolah. Meskipun nilainya tidak berhasil menempati peringkat satu, ia merasa lega dan bangga bisa meraih peringkat dua. Bagi Devi, itu sudah lebih dari cukup. Ayah dan ibunya tetap bangga padanya, dan itu yang paling berharga.

“Dev, selamat ya! Kamu ranking dua!” ucap beberapa teman sambil mendekatinya satu per satu.

“Terima kasih, teman-teman,” jawab Devi sambil tersenyum lebar, membalas setiap ucapan selamat dengan tulus.

Tak lama, Rani menghampirinya dengan langkah riang. Ia memeluk Devi erat-erat sambil melakukan cipika-cipiki ala Teletubbies yang selalu mereka lakukan sejak masih kecil.

“Eh, Dev! Selamat ya, ranking dua!” seru Rani

“Terima kasih, Ran,” balas Devi sambil tertawa.

“Ini acara sudah selesai. Kita pulang yuk,” ajak Rindu.

Mereka pun meninggalkan aula dengan langkah ringan. Sekolah mereka tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar setengah kilometer, sehingga mereka memilih berjalan kaki. Di sepanjang jalan, percakapan mengalir tanpa henti. Mereka membicarakan acara kelulusan, guru-guru yang mereka rindukan, hingga rencana besar yang sudah mereka sepakati sejak beberapa hari lalu: melamar kerja di pabrik desa sebelah.

“Eh, Ran … Besok jangan lupa kita mulai mendaftar kerja. Besok pagi ya, jam delapan. Aku tunggu di rumah,” ujar Devi mengingatkan.

“Oke, sip. Aku sampai di tempatmu nanti jam delapan on time,” jawab Rani mantap.

“Eh, ngomong-ngomong, besok jadi kan Kak Raka nemenin kita ke sana?” tanya Rani lagi.

“Jadi dong,” jawab Devi.

Rani menyeringai. “Jadi besok bawa motor sendiri-sendiri dong. Masa kita mau boncengan tiga, hehehe …”

Devi tertawa terbahak-bahak. “Ya iyalah kamu bawa motor sendiri. Yang ada kalau kita bonceng tiga, nanti aku jadi peyek dong, ha-ha-ha!”  

Maklum, tubuh Rani memang lebih subur, body bohay, kata orang-orang. Kalau mereka bertiga naik satu motor, Devi pasti akan terjepit di tengah.

“Ya sudah. Besok jangan lupa jam delapan, jangan molor ya,” pesan Devi.

Mereka tiba di depan rumah Devi. “Kamu nggak mampir dulu, Ran? Kebetulan aku sudah sampai di depan rumah,” tanya Devi.

“Enggak lah. Besok saja aku ke tempatmu,” jawab Rindu.

“Ya sudah. Aku duluan ya, Ran. Bye …”

“Bye …” sahut Rani sambil melambaikan tangan, lalu berjalan menuju rumahnya sendiri.

*****

Keesokan harinya, Devi bangun lebih pagi dari biasanya. Hari itu adalah hari penting. Ia membantu ibunya memasak, mencuci piring, dan membereskan rumah. Aroma nasi dan tumisan sudah memenuhi dapur ketika ibunya bertanya.

“Nduk, kamu jadi hari ini melamar kerja di pabrik itu? Kamu jadi ditemani kakakmu Raka?”

“Jadi, Bu. Rencananya hari ini saya sama Rani akan melamar kerja di pabrik itu,” jawab Devi.

“Rencananya nanti kamu berangkat jam berapa?” tanya ibu lagi. Lalu ia menoleh ke arah kamar Raka. “Oh ya, kakakmu Raka sudah bangun belum? Ini sudah hampir jam tujuh, lho!”

Devi menepuk jidatnya. “Astaghfirullahal‘adzim … Aku hampir lupa! Untung Ibu mengingatkan. Kalau tidak, tahu sendiri … Kakak kalau tidak dibangun bisa bangun jam dua belas siang. Namanya kalau tidur, sudah seperti kerbau.”

Ibu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Devi segera berjalan ke kamar Raka dan mengetuk pintu dengan keras.

“Kak, bangun! Kak, ini sudah siang! Ayo, katanya mau nganterin aku ke pabrik untuk melamar kerja. Bangun, ini sudah siang! Bentar lagi kita berangkat. Ini sudah jam tujuh lebih. Bangun, Kak!”

Dari dalam terdengar suara serak. “Iya, sebentar … Kakak bangun …” Raka duduk di tepi kasur sambil mengucek mata, masih setengah sadar. “Kamu sudah siap? Sebentar, kakak mau mandi dulu.”

Ia lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Devi menghela napas lega.

Tepat sepuluh menit sebelum jam delapan, suara motor Rani terdengar di depan rumah. Rani datang dengan sepeda motornya yang sudah siap. Raka pun sudah selesai mandi dan memakai baju yang rapi. Mereka bertiga langsung berangkat. Rani naik motor sendiri, sementara Devi dibonceng Raka di motor kakaknya.

Perjalanan menuju pabrik di desa sebelah tidak terlalu jauh. Udara pagi masih sejuk, dan sawah-sawah di kiri-kanan jalan masih diliputi embun. Devi sesekali menoleh ke belakang, memastikan Rani tetap mengikuti. Di dalam hati, ia merasa campur aduk antara gugup dan berharap.

Sesampainya di gerbang pabrik, mereka langsung menemui pak satpam yang sedang berjaga. Raka turun dari motor dan mendekati satpam itu dengan sopan.

“Selamat pagi, Pak. Maaf, saya mengganggu. Saya ingin mendaftarkan adik-adik saya untuk bekerja di sini. Maaf, kalau boleh saya bertanya, di manakah letak tempat pendaftarannya, Pak?”

Pak satpam menatap mereka sebentar. “Maaf, kalau boleh tahu, Anda dari daerah mana? Sudah membawa surat-surat persyaratan pendaftaran belum?”

“Maaf, Pak. Kami dari kampung sebelah, Kampung Sangga Buana. Kebetulan kami semua sudah membawa persyaratannya lengkap. Kalau boleh tahu, kami harus menuju bagian apa ya? Terus, persyaratan-nya ini mau langsung dibawa atau bagaimana, Pak?” tanya Raka dengan sabar.

Pak satpam mengangguk. “Oh, dari Kampung Sangga Buana, to. Anda bisa langsung masuk saja. Anda bisa langsung mencari bagian HRD. Temui Bapak Mukhlis di bagian HRD. Bilang saja mau melamar pekerjaan, terus persyaratan-nya langsung saja dikasih ke Bapak Mukhlis.”

“Oh, gitu ya, Pak. Kalau begitu, terima kasih, Pak. Kami ucapkan terima kasih. Kami langsung saja masuk ya, Pak. Terima kasih atas informasinya,” ucap Raka sambil mengangguk hormat.

Mereka masuk ke area kantor perusahaan. Suasana di dalam terasa lebih formal. Karyawan-karyawan sibuk lalu-lalang. Raka bertanya kepada seorang karyawan yang kebetulan lewat.

“Maaf, bagian HRD mana ya?”

Karyawan itu menunjukkan ruangan di ujung koridor yang bertuliskan “HRD”. Mereka mengucapkan terima kasih, lalu berjalan menuju ruangan tersebut. Tepat di depan pintu, Raka mengetuk tiga kali.

“Tok … tok … tok … Permisi …”

“Masuk,” sahut suara dari dalam.

Mereka membuka pintu dan masuk. Di dalam ruangan, seorang pria paruh baya duduk di belakang meja. Di depan mejanya tertera nama “Bapak Mukhlis”.

“Maaf, ada yang bisa kami bantu?” tanya Pak Mukhlis dengan nada formal namun ramah.

Raka maju selangkah. “Oh, iya, Pak. Maaf sebelumnya. Kami ke sini untuk melamar pekerjaan. Saya mendengar informasi kalau di sini membuka lowongan pekerjaan di bagian produksi. Kebetulan adik-adik saya ini baru saja lulus sekolah dan ingin mencoba bekerja. Kalau boleh, kami mau mendaftar di sini. Ini berkas lamarannya, Pak.”

Ia menyodorkan map berisi berkas lamaran. Pak Mukhlis menerima map itu, membuka isinya, dan membaca sambil mengangguk-angguk.

“Oh, iya, benar. Kami sedang membuka lowongan pekerjaan. Kebetulan kami sudah menerima banyak pendaftar, dan bagian produksi sudah penuh,” ujar Pak Mukhlis.

Raka tidak menyerah. “Maaf, Pak. Apa tidak bisa dipertimbangkan khusus untuk adik-adik saya ini? Kasihan mereka sedang membutuhkan pekerjaan, Pak. Soalnya sudah lulus dan tidak sekolah lagi.”

Pak Mukhlis menatap mereka sebentar, lalu tersenyum tipis. “Oh, begitu … Kalau kalian mau, ini ada di bagian gudang. Kami sedang membutuhkan orang di bagian gudang. Kalau kalian mau?”

Raka menoleh ke Devi dan Rani, memberi isyarat dengan mata. Devi dan Rani saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk bersamaan.

“Mau … mau, Pak. Kami mau,” jawab mereka hampir bersamaan.

“Oh, ya sudah. Besok kalian bisa langsung bekerja. Jam kerja di sini mulai jam delapan pagi sampai jam lima sore,” jelas Pak Mukhlis.

“Iya, Pak,” jawab Devi dan Rani serempak.

“Selamat. Anda diterima bekerja di sini,” ujar Pak Mukhlis sambil tersenyum.

“Oh, terima kasih, Pak. Kalau begitu, kami permisi, Pak. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Assalamualaikum …”

Mereka menyalami Pak Mukhlis dengan hormat, lalu keluar dari ruangan HRD. Begitu berada di luar, Devi dan Rani saling memandang, lalu tersenyum lega. Meskipun bukan di bagian produksi seperti yang mereka harapkan, setidaknya mereka sudah diterima. Pekerjaan di gudang tetap pekerjaan. Yang penting halal, dan bisa menjadi langkah awal untuk menabung.

Di perjalanan pulang, Raka sesekali menoleh ke belakang. “Syukur, ya. Besok sudah bisa mulai kerja. Jangan malas-malas, jangan sering bolos. Kerja itu tanggung jawab.”

Devi mengangguk. “Iya, Kak. Terima kasih sudah nganterin kami.”

Rani yang mengendarai motor di belakang juga berseru, “Iya, Kak Raka. Terima kasih banyak!”

Devi memandang ke depan, ke jalan desa yang semakin akrab di matanya. Besok, hidupnya akan berubah. Ia bukan lagi sekadar lulusan SMA yang menganggur di rumah. Ia akan menjadi pekerja. Meski langkahnya masih kecil, setidaknya ia sudah mulai berjalan. Dan itu, bagi Devi Putri Maharani, sudah lebih dari cukup untuk membuat hari itu terasa sangat berarti.

1
tinie
anak kota kenapa selalu dikenal anak nakal,,
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
MayAyunda: tato identik nakal kak ..terutama kalau di desa 😄😄🙏
total 1 replies
tinie
wah tua juga baru lulus SMA 21 THN
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
MayAyunda: mf kak 😄🙏
total 1 replies
tinie
miris banget
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan

milih nikah aja
MayAyunda: masih kolot kak 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!