NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Tidak Butuh Suami

Nara kembali ke rumah tepat pada waktunya, tetapi walau begitu tidak menghentikan omelan ibunya karena ia yang lagi-lagi tidak melakukan tawar-menawar kepada penjual, sehingga uang yang ia bawa tidak tersisa. Pas dengan belanjaannya.

"Kamu ini kebiasaan, coba saja Ibu yang belanja. Pasti harganya akan lebih murah dan masih ada kembalian," katanya ibunya sesaat ia baru saja sampai dan ibu membongkar belanjaannya.

"Ya mau bagaimana lagi? Nara ndak biasa tawar-menawar, Bu. Kebiasaan belanja di super market, mana bisa tawar-menawar," balas Nara supaya ibunya memaklumi.

Empat tahun kuliah dan ditambah lagi empat tahun bekerja di kota besar, Nara sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki ke pasar. Bukan hanya karena jaraknya yang jauh dari tempat tinggalnya, tetapi juga karena ia yang sibuk untuk kuliah dan bekerja. Dan baru dua bulan lalu kembali pulang ke kampung halaman.

"Makanya, kamu itu harus belajar. Apalagi nanti kalau sudah punya keluarga, harus pandai mengatur keuangan dan sebagainya. Jika tidak begitu pandai menyisikan uang, ya ... siap-siap saja kamu tidak bisa membeli apa yang kamu mau." Ibunya menatap dalam anaknya itu.

Nara mengedikkan bahu. "Kalau memang ada yang Nara penget, ya ... tetap Nara beli pake uang sendiri lah, Bu. Tetapi ketimbang begitu, lebih baik Nara cari suami kaya saja kan?"

Ibunya mencebikkan bibir. "Kan siapa tahu kalau kamu cinta mati sampai rela jadi perintis sama suamimu, rela saja jadi budak cinta sampai makan hati."

Jleb!!!

Ucapan ibunya tepat mengenai ulu hati Nara. Walaupun tidak termasuk begitu, tetapi tetap saja mengingatkan dirinya akan kebodohannya di masa lalu. Hal yang membuatnya pulang untuk menenangkan diri dan tidak ingin mengenal lelaki manapun untuk saat ini. Ia takut dikecewakan lagi, takut lelaki itu sama saja dengan pria itu, dan takut jika dia tidak bisa menerimanya apa adanya. Banyak hal yang menjadi kekhawatirannya dan itu semua ia kubur seorang diri.

"lagi pula, kaya dan banyak uang itu bukan segalanya. Akan ada tantangan di setiap jalan hidup ini, semuanya sudah sesuai porsinya. Ibu hanya berharap, kamu menemukan jodoh yang baik, santu, sopan, dan mengerti kamu. Tidak peduli mau dia kaya, miskin, perintis, asalkan kamu ada jodohnya biar cepat kasih Ibu cucu!" lanjut ibunya lagi, pandai sekali bersilat lidah. Yang selalu menjurus pada masalah jodoh dan sekarang malah cucu?!

Nara menepuk dahinya. "Jodoh saja belum ada ... Ibu sudah ngomongin pengen punya cucu."

"Lah, memangnya kenapa? Ada yang salah?! Ibu hanya mau kamu dapat pasangan hidup, umur Ibu sudah semakin tua, penget lihat kamu punya keluarga sendiri dan bahagian sebelum—"

"Stttttt!" potong Nara cepat, menyimpan jari telunjuknya di bibir sang ibu. Gadis itu menggeleng pelan, tidak membiarkan ibunya melanjutkan perkataan yang tidak-tidak. "Jangan pernah Ibu ngucapin perkataan seperti itu, Nara tidak suka." Nara memeluk ibunya erat, menyandarkan kepalanya pada bahu wanita yang telah membesarkannya seorang diri sejak ia berumur 10 tahun. Jujur saja, ia belum siap kehilangan satu-satunya orang tersayangnya setelah bapaknya meninggal. Bahkan, kepergian bapaknya masih meninggalkan luka di hatinya. Bukan ia tidak menerima kehendak Tuhan, tetapi rindu ini sungguh menyakitkan.

Nara mengusap air matanya yang menetes tanpa diminta. "Pokoknya Ibu harus jaga kesehatan, jaga pola makan, istirahat yang cukup. Biar nanti bisa lihat Nara menikah, punya keluarga kecil, dan Ibu bisa nimang cucu," ujarnya, mengecup pipi ibunya lalu pamit ke kamar mandi. Ia tidak ingin ibunya melihat matanya yang memerah.

***

Nara mengguyur kepalanya, sungguh ia butuh mendinginkan kepalanya yang terasa buntu. Di satu sisi ia masih perlu waktu untuk menenangkan hatinya yang masih sakit akibat luka dari kisah cintanya yang kandas. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan keinginan ibunya. Semakin memikirkannya, membuat kepala gadis itu semakin kacau saja.

Nara menyudahi acara mandinya, menggosok gigi lalu mencuci muka. Ia pun keluar dari sana mengenakan handuk yang kemudian menuju kamarnya untuk berpakaian.

Wangi masakan tercium ke seluruh penjuru ruangan, termasuk kamar gadis itu. Ibunya di dapur telah menyelesaikan beberapa menu masakan.

"Ummm, wangi banget, bikin laper." Nara bergabung di dapur dan segera membantu ibunya memindahkan masakannya ke wadah yang seharusnya.

"Hm, kamu makan dulu. Baru kita sama-sama angkut masakannya ke warung," sahut ibunya, tangannya sibuk mengaduk adonan perkedel jagung.

Nara mengambil piring dan menyedot nasi serta memasukan beberapa lauk pauk yang telah masak.

"Ibu aja duluan, itu biar Nara yang lanjut." Nara mengambil alih pekerjaan ibunya, menyuruhnya untuk duduk dan memakan nasi yang sebelumnya sudah ia sendok dan menyimpannya di atas meja dengan segelas air minum.

Ibunya tersenyum, "Makasih, Nak," ia mengusap lengan anak semata wayangnya itu, lalu kemudian duduk di kursi dan menyantap sarapannya.

Setelah semuanya masak dan Nara telah menghabiskan sarapannya. Ibu dan anak itu mengangkut masakan mereka ke warung makan. Warung yang menjadi sumber penghasilan utama mereka selain dari kos-kosan yang dibangun Nara dua tahun lalu dengan hasil gaji yang ia sisihkan. Kos dua lantai dengan masing-masing lantai terdapat lima pintu.

"Lama sekali hari ini, Bu Ratna. Perut saya sudah keroncongan ini." Seorang penghuni kos keluar diikuti beberapa orang di belakangnya, mereka semua para pekerja pabrik yang merantau.

"Iya, Pak Mamat. Kebetulan hari ini baru belanja, stok bahannya habis," jawab ibunya Nara.

"Ohhh, begitu toh. Tapi kalau besok bisa lebih cepat kan, Bu. Besok kita semua sudah harus masuk kerja lagi, hari ini syukur memang libur."

"Iya, Bu. Ibu pasti ndak tega kan biarin kami kerja dengan perut keroncongan, soalnya saya itu ndak bisa makan nasi di warung lain. Lidah saya itu sudah terbiasa dengan masakan Ibu yang enak!" sahut seorang pemuda lajang, menimpali.

"Hallah, bilang saja kantong mu itu yang kere Dani! Warung makan lain mana mau kasih kau hutang, hanya Bu Ratna saja yang mau kasih," seloroh temannya, memukul bahu Dani yang kini tengah tersenyum canggung.

"Haduh ... Bang, tidak usah diperjelas juga." Senyum pemuda itu malu. "Saya hutang lagi ya, Teh Nara. Tanggal muda nanti saya bayar lunas, uang hasil kerja bulan ini sudah saya kirim semua untuk biaya adik yang sekolah." Dani menggosok tengkuknya yang tak gatal.

"Oh siap, aman. Asal dibayar saja." Nara ikut berkelakar, mencatat hutang pria muda itu di buku kasir yang ada di atas meja.

"Siap, Teh."

Para pria itu kemudian duduk di satu meja, bersiap menyantap sarapan mereka yang sudah berada di hadapan.

"Akhirnya warungnya sudah dibuka juga, saya sudah dari tadi bolak-balik ini." Seorang wanita sepantaran ibunya Nara masuk warung makan dengan membawa kipas. Gemericik gelang emasnya tak terelakkan tak kala ia mengipasi wajahnya yang ditaburi bedak putih. Sangat kontras dengan leher serta tangannya yang kecokelatan. Ibarat siang dan malam. "Eh ... dengar-dengar dari Bu Nurlela, kamu tidak butuh suami ya, Nara?"

Pertanyaan itu membuat tangan Ratna yang sedang menyusun piring seketika terhenti. Tatapannya perlahan beralih kepada sang putri.

Beberapa pelanggan ikut menoleh.

Kini, semua mata tertuju kepada Nara.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!