"Aku bukan orang baik buat kamu."
Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.
Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.
Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.
Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.
Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Behind The Smile
"Di balik senyum, ada cerita yang tidak akan kau mengerti."
🔥🔥🔥
Jarak dari KTV ke Best FM tidak begitu jauh sebenarnya. Namun, karena Andara kelelahan dan ingin santai bersandar, dia memilih naik taksi online. Jalanan khas malam Minggu yang sibuk membuatnya habiskan tiga puluh menit sampai ke lokasi. Hari ini terasa menjadi hari yang sangat-sangat panjang untuk Andara. Kuliah, kerjakan tugas, jalan dengan Kin, tendang selangkangan Buana, bertemu sama Rossa sambil mengusili Nina, terus lanjut temani Rossa ke Obgyn yang berakhir dengan pembalasan sadis dari Rossa dan Natha. Ini sih kalau pepatah namanya air susu dibalas dengan air tajin.
Kesibukan yang padat tadi membuat Andara terlambat menyadari satu hal kalau hari ini Best FM ada gelaran acara Indiebest di halaman radio mereka. Padahal sebagai penyiar, dirinya selalu menyelipkan info itu kepada Besties sesering mungkin dan tadi di mobil Rossa, dia juga mendengar Natha mengingatkan para pendengar mereka agar jangan lupa datang ke Best FM malam ini. Tololnya, saat ini yang lupa adalah dirinya sendiri.
Setting ala-ala garage tidak susah dibikin tim Best EO. Mereka tinggal menambahkan perangkat sound system dan panggung kecil yang notabene dimiliki Best, lagi pula suasana sekitar sudah mendukung. Masalahnya bukan itu, masalahnya adalah Marionette-nya Buana itu salah satu band indie Best FM.
Andara ingin belagak gila dan masuk ke belakang ke arah studio tanpa kentara, tetapi mustahil. Saat dia turun dari taksi online saja, kehadirannya yang nyentrik menjadi perhatian beberapa mata yang diyakininya adalah Besties. Seolah mata yang baru melihatnya itu berkata 'penyiar nih penyiar'. Sambil berusaha santai, dia juga sempatkan diri membalas teguran ramah beberapa Besties yang mengenalinya. Namun, saat akan masuk ke belakang, MC malah menegur juga menyabotasenya sebentar untuk diajak bicara sekaligus dijaili.
"Et, santai amat ya, Mbak, kayak tukang sate di lokasi kejadian." Tirto, salah seorang penyiar prime time pagi menarik tangannya. Beberapa orang tertawa lepas, termasuk Tata yang menjadi rekan ngemsi Tirto saat ini. Mereka, dua penyiar prime time pagi ini biasa disebut Duo TiTa, Tirto—Tata. Di Best, ada dua pasang penyiar prime time yang terkenal, prime time pagi dan prime time malam. Kalau Andara maupun Natha adalah penyiar reguler saja yang siaran di luar jam laris tersebut.
"Besties, kenalin ini Andara. Yap, Andara Ratrie. Dia nih Creative Production Indiebest, otak dari segala ide band indie dan orang yang membuat Indiebest jadi sebesar ini. Tepuk kakinya mana?" ujar Tata melengkapi. Andara mau tak mau memamerkan senyum pura-pura baiknya.
"Kita tanya-tanya nggak bocahnya?"
"Tanya..." seru penonton ikut campur.
Sialan.
"Oke... Ra dari mana lo baru datang jam segini?" Tata dengan luwesnya bertanya, seakan sengaja membunuhnya di tempat. Sadar nggak sih cowok itu kalau di meja kanan ada Bang Boim sang owner, Bang Rodi yang Station Manager, Bang Anco si Music Director juga Mbak Inka yang Program Director? Pejabat Best lagi duduk di situ semua.
Buset!
Tikam orang kok pas banget dari depan, sih, Bang?
Andara langsung mengangkat tangan, meraih mik yang diberikan kru EO. "Sori, Bang. Tugas kuliah gue hari ini banyak banget."
"Boong! Pacaran pasti!" pekikkan datang dari pojok gelap di pekarangan yang memicu tawa dari yang lain.
Duo TiTa juga tertawa dengan jenis tawa yang membuat orang juga ikut tertawa. "Siape tuh yang ngemeng? Tunjukin mukenye, tunjukin! Halah, palingan juga Buana," seru Tirto si tambun. Cowok berblankon batik itu mirip sekali dengan ikon portal berita daring yang lagi hits.
Dari balik gelap yang terkena remang lampu, Andara memang tidak melihat Buana. Namun dia melihat ada Indra dan Choky, dua orang personil Marionette yang lain. Tidak perlu pakai sinar infrared juga Andara paham kalau mantan sialannya itu juga ada di sana. Sorak-sorai godaan mengisi pekarangan depan Best FM. Sepertinya Duo TiTa ini sengaja mengajaknya ngobrol karena band yang akan tampil masih memasang alat-alat.
"Buan, orang kalau udah jadi mantan memang lebih memukau, ya?" goda Tirto membuat ciye-ciye lebar di udara.
Band-band indie Best FM yang sering nongkrong di sana pasti tahu kalau Andara itu pacarnya Buana. Namun, tampaknya mereka juga mengetahui kalau hubungan mereka sudah berakhir. Entah Buana yang sudah memberi tahu atau karena ...
"Baru jadian, coy. Baru jadian." Tata mengangkat ponsel di udara, dengan menampilkan profil Instagram Andara. Foto berdua dengan Kin yang diunggahnya tadi siang bersama logo hati itu terpampang nyata.
Suara ciye-ciye semakin lepas kendali, apalagi di pojokan tempat Marionette berada. Jika Andara tidak salah dengar, ia bahkan mendengar umpatan.
"Siapa yang berani ciye-ciye tadi? Mau hilang lo?" Tata tergelak ketika Andara berusaha memiting tangannya yang menunjuk-nujuk arah rumah Kin.
Tanpa perlu Andara jelaskan, nama keluarga Dhananjaya cukup dikenal masyarakat. Meskipun bisa jadi tidak begitu mengenal personalnya, cukup dengan nama belakang Dhananjaya, orang pasti tahu keluarga besar itu. Termasuk tahu yang mana rumahnya. Setahu Andara, kakeknya Kin adalah salah satu warga negara asing yang mendukung juga berkontribusi dalam upaya kemerdekaan Republik Indonesia. Sosok tersebut juga dekat dengan pemerintahan Presiden Soekarno. Di zamannya Orde Lama, orang-orang dihormati dari kedudukan di politik. Demokrasi adalah napas baru di Indonesia dan keberadaan kaum aristokat juga cendekia saat itu sangat dihormati. Maka sampai saat ini, masyarakat masih memandang nama-nama keluarga besar itu.
"Udah, ah. Gue mau siaran. Sukses ya acaranya." Andara melambai ke Tata dan Tirto juga pengunjung, menaiki tangga lantai dua terburu-buru.
Selamat! Andara melepas boots-nya asal dan telentang di ruang tengah studio yang seluruhnya berambal. Ruang tengah itu penghubung antara studio satu, studio dua, ruang produksi, ruang Program Director juga ruang Station Manager. Andara mengatur napasnya sambil membaca pesan suara dari Natha dan Rossa. Pesan-pesan menjijikkan yang ternyata berisi rekaman penggalan lirik lagu yang telah mereka nyanyikan. Sudah sejauh ini pun dia masih disindir oleh dua serigala itu. Gesreknya totalitas banget mereka.
Perlu waktu sepuluh menit bagi Andara untuk mengembalikan mood-nya. Siaran dengan mood jeblok adalah ide buruk, happy voice nggak akan pernah bisa keluar dari muka tertekuk.
Lima menit sebelum on air, Andara masuk ke studio satu, studio dua hanya dipakai jika ada tamu. Bietha, sang penyiar sedang closing lalu memutarkan lagu terakhir. Mereka sempat berbicara sebentar saat peralihan, kemudian mata Andara fokus ke monitor yang ada. Headphone dipakai sambil dia membuka playlist yang sudah disiapkan Music Director lantas memilih satu lagu sebagai lagu pembuka.
"101 Best FM, The Best Hits Radio Station. Halo, Besties! Gimana kabar kamu hari ini? Ada yang lagi ngerasa capek? Sama!" Andara tertawa, mengingat hal yang dilaluinya hari ini. "Rasanya hari ini tuh panjang banget kayak berbab-bab cerita di novel, tapi capek tentu nggak memudarkan niat gue buat temenin kalian. Kita bakal seneng-seneng bareng, guys. So, stay tune with me, Andara Ratrie, 'till midnight."
Ia menaikkan volume musik kembali, dan mematikan mikrofon. Komposisi lagu di Best FM adalah persentase 80:20, 80 persen untuk lagu-lagu baru juga happening dan 20 persen lagu lawas, 80 persen lagu Barat dan 20 persen lagu Indonesia. Jari Andara cekatan memainkan mixer, meracik dan menggabungkan satu lagu dengan lagu lainnya sehingga enak didengar. Di sela lagu dia sempatkan membaca beberapa mention di Twitter Best FM, juga menilik adlibs yang harus dibacanya. Salah satunya adalah pengumuman untuk mengajak Besties datang ke Indiebest yang sedang berjalan di pelataran radio.
"From Hottest Track This Week, Speechless from Naomi Scott. Layar lebar lagi diguncang sama film-film remake Disney ya, salah satunya adalah Aladdin. Kabarnya film ini berhasil ngebawa banyak banget penonton dan di film ini juga ada beberapa lagu baru. Kita pasti tahu dong kalau The Whole New World memang soundtrack khas Aladdin. Tapi selain itu, ada another soundtrack yang nggak kalah bagus, termasuk miliknya Naomi Scott.
Meski lagu ini slow tapi kerasa banget vibes Disney-nya, ya. Pesan dari lagu yang dibawain Naomi ini kuat banget, mengisahkan tentang seorang yang terus bertahan didera segala macam tantangan. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menangis juga tidak bungkam kepada orang-orang yang meremehkan. Setuju gue setuju. Buat kamu yang saat ini sedang merasa sedih, terpuruk, sakit hati atau menghadapi hal-hal di luar kemampuan kamu, hei, jangan menyerah! Kamu pasti bisa ngebuktiin kalau kamu itu kuat."
Andara berdengkus setelah lagu berikutnya dia putarkan. Lagu Speechless ini seperti mengingatkannya kalau dia juga berada dalam posisi seperti itu. Beberapa pesan masuk ke ponselnya, selain pesan dua serigala, ada pesan dari Kin juga.
Kin Dhananjaya: Siaran apa curhat, Beb?
Andara tergelak mengetahui Kin sedang mendengar siarannya. Sedikit banyak Kin tahu kisahnya dengan Buana, garis besarnya Andara diputuskan sih Kin sudah mengerti.
Andara Ratrie: Jangan nyulut amarah warga, deh.
Kin Dhananjaya: Hahaha. Putarin Mr. Brightside, dong.
Andara Ratrie: Lagu lawas itu. YouTube atau Spotify aja bisa kalik.
Kin Dhananjaya: Kalau bisa request ke penyiar kenapa gue mesti buka aplikasi lain?
Pesan Kin tidak dibalasnya, tetapi Andara langsung mencari lagu itu di bank musik, menyelipkan jingle penanda lagu lama akan diputar dan mengabulkan permintaan Kin. Dia juga ikut menyanyikan reff lagu tersebut. Lagu yang mengisahkan kecemburuan seorang cowok saat melihat orang yang disukainya bersama orang lain, persis sama seperti yang dialaminya saat melihat Buana dengan Nina.
"Taken from Reload collection, Mr. Brightside - The Killers. This song special for Kin. Hello, Baby! Kalau kamu juga seperti Kin, yang suka sama koleksi lagu-lagu lama, kamu bisa dengar Reload. Reload bakal putarin lagu-lagu lama yang kamu request selama dua jam penuh. Catat waktunya, ya. Reload setiap Senin dari jam sepuluh sampai jam dua belas malam. Hanya di Best FM, The Best Hits Radio Station."
Rupanya Kin masih juga mendengarnya siaran. Cowok itu menelepon kala Andara menaikkan lagu kembali.
"Makasih, ya, Beb," ujar Kin manis.
"Kok dengar radio. Lo di jalan?"
"Iya, mau pulang. Tadi kumpul sama teman-teman SMA. Karena request gue udah diputarin, lo mau gue antar pulang nggak nanti?"
Kepala Andara lalu terpikir sesuatu. Antara mencari teman untuk membantunya menghalau dua serigala sekaligus menjaga gengsinya di depan anak-anak indie band Best yang masih di bawah sana. Lagi pula, diantar Kin jelas lebih terjamin daripada dia naik taksi online menyusul Rossa dan Natha, yang katanya sudah open table di Splash, kelab langganan.
"Gue mau ke Splash, Natha sama Ocha nunggu gue di situ. Niat banget kayaknya mereka merayakan putusnya gue. Antarin gue ke sana, bisa?"
Tanpa sadar Andara menggigit bibir mendengar Kin tertawa. "Boleh. Ngantar aja nih kayak supir Grab? Nggak diundang gabung?"
Kali ini Andara yang tertawa. "Gabung juga boleh kalau lo mau. Gimana?"
Begitu telepon selesai dengan Kin mengiakan ajakan Andara. Seketika Andara ingin joget kemenangan di studio. Gila, ya. Beruntung banget dia dapat momen tepat seperti ini. Ibarat Sutradara, dia saat ini menjelma menjadi Riri Riza yang lagi senyam-senyum menontoni artisnya berlakon sesuai skrip.
Andara tidak peduli saat acara Indiebest terdengar masih berjalan ramai dari bawah seusai dia siaran. Dipakainya boots hitam kesayangannya sambil menyembunyikan geli. Kin sudah jemput belum, ya? Dia malas duduk lama di bawah. Beramah-tamah sama anak-anak yang bakal ngecengin dia? Sori, sori saja.
Andara Ratrie: Udah di mana, Bro?
Kin Dhananjaya: Udah di Best dari tadi.
Sedikit terperangah, Andara langsung mengantongi ponsel dan meraih tasnya. Dia menuruni anak-anak tangga sambil mencari-cari keberadaan Kin. Di panggung masih ada penampilan dari The Tahan Banting, salah satu band indie yang keseluruhan personilnya masih SMA. Andara mengangkat tangan sambil tersenyum sedikit guna menegur Adit, sang vokalis. Kenapa banyak sekali nama Adit di dunia ini coba? Nama vokalis ini mengingatkan Andara kepada mantannya di Bandung. Dan Aditya yang ini nggak kalah tampan dengan Aditya sang mantan. Untung anak SMA, kalau tidak, sudah dipepet Andara.
Sosok Kin tertangkap di matanya karena cowok itu melambaikan tangan dari sudut belakang panggung. Cowok sipit itu sedang berbicara luwes dengan Tirto, seperti saling mengenal. Andara menghampiri mereka sambil mengembangkan senyum.
"Jadi, lo jadian sama si Caur ini?" Tirto menunjuk Andara, pertanyaan itu hanya dijawab oleh senyuman Kin.
Kin menepuk pelan bahu Tirto seakan pamit akan pulang. "Duluan ya, Bang. Antar majikan dulu."
Tirto mempersilakan dengan menitip pesan. "Hati-hati lo. Jangan macam-macam, lo liat cincinnya itu, bisa buat nyolok mata orang."
Tatapan Kin refleks menuju jari Andara. Di sana memang ada sebuah cincin kucing yang sudut kedua telinganya cukup tajam. "Dari Docmart-nya aja gue tahu kalau mesti hati-hati, Bang."
Baik Kin maupun Tirto tertawa, membicarakan boots hitam kesayangannya yang tingginya setengah betis. Mereka berdua seolah bisa mereka-reka kepribadian cewek dari jenis sepatu yang dipakai dan boots Andara mencerminkan dirinya yang keras kepala juga tidak mau dikekang.
"Buru." Andara menarik lengan Kin agar secepatnya meninggalkan pekarangan Best FM. Diam-diam, Andara memperhatikan penampilan Kin. Memang sih mata Kin itu sipit yang kalau ketawa tinggal segaris, tetapi Andara baru sadar kalau Kin itu tahu memakai pakaian yang cocok ke tubuhnya. Saat ini, cowok itu memakai atasan seperti sweater tetapi rajutannya lebih halus, celana denim biasa, sepatu hitam sewarna dengan atasannya ditambah satu jam tangan bertali kulit berwarna hitam juga. Ujung bajunya ditarik sesiku. Rambutnya biasa saja, nggak diapa-apain sudah lurus dan jatuh.
Malam ini, kolaborasi kulit putih dan gaya santai tapi modisnya Kin bikin cowok itu terlihat ganteng paripurna kayak Oppa-Oppa Korea di film yang suka ditonton Natha. Aduh, Andara sih nggak tahu siapa nama Oppa itu, ya. Yang jelas kece aja, dan sepertinya bukan Andara saja kok yang mengakui kekecean Kin. Nyatanya saat cowok itu jalan di sampingnya, beberapa mata mengikuti mereka.
"Uhuk. Rival dateng. Uhuk." Beberapa celetukan menyindir mulai berisik dan seperti sengaja digaungkan.
"Punya pacar baru kenal-kenalin, dong," seru yang lain jelas sekali terarah ke Andara dan Kin.
Masih dengan cuek, Andara berjalan menuju parkiran. Sindir-sindiran yang seperti itu sih dia sudah kebal, dua serigala sudah menatarnya menjadi mati rasa. Sindiran mah lewat! Diliriknya Kin sedikit, cowok itu juga terlihat tidak terganggu.
"Sombong banget yang udah punya pacar baru," ujar sesosok cowok yang sudah berdiri di depan Andara dan Kin. Cowok itu memindai Kin dari atas ke bawah dan menjulurkan tangan, ajak Kin berkenalan. "Kenalin, Buana."
What the ...
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)