NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:7.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ningsihe98

anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.

dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya

lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 08

Anindira terbangun dari tidurnya, ia menatap sekeliling ruangan yang nampaknya tak asing baginya, bahkan aroma vanila yang menyeruak di sisi ruangan membuatnya merasa damai. Iya Anindira berada di kamarnya, kamar yang bercat abu seperti warna kesukaannya dan Dream Catcher yang bergantung di kamarnya sejak lama membuatnya rindu. Anindira mengucek matanya tanda ia binggung apakah ia sedang bermimpi atau berada di dunia nyata?

Anin menatap ke bias cahaya yang masuk lewat jendela kamarnya, sepertinya hari sudah hampir siang, ia terdiam sejenak tampaknya ia sudah bisa tertidur lebih nyaman mungkin, ia melihat kearah jam di meja berkarakter minion , waktu sudah jam 08:43 menit Anindira yang baru saja mengumpulkan nyawanya akhirnya bangkit dari kasurnya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

"Tadi gimana acara seratus harinya Alm, apa Papah sudah bilang ke pak Ustad Jejen?" tanya Mamah sambil mengupas kulit jeruk.

"Sudah, nanti sore beliau langsung datang ba'da Ashar," ucap Papah

Anin yang baru selesai mandi langsung turun ke bawah untuk menemui orangtuanya yang sedang berbincang di ruang makan, di rumahnya sudah banyak orang yang membantu bekerja memasak untuk memperingati seratus hari meninggalnya Kirana, memang tidak terasa sudah seratus hari Kirana meninggalkan Anin dan keluarganya, bahkan Anindira merasakan kerinduan pada Kirana, jika saja orangtuanya memberi izin ia akan menempati kamar Kirana, namun mereka tidak memberi izin karena kamar Kirana sudah menjadi tempat tidur Dimas dan Anak perempuan mereka yang sekarang berusia tiga bulan.

Ya semenjak Kirana meninggal, mereka memutuskan membawa anak Kirana tinggal bersama orangtua Kirana, Dimas juga menyetujuinya karena bagaimanapun anaknya bisa menjadi obat kerinduan untuk mertuanya, dan semejak itu pula Anindira memutuskan membantu merawat anak Kirana, Dimas hanya pulang menginap di rumah Anin hanya beberapa hari saja selebihnya ia akan pulang ke rumah orangtuanya karena merasa tidak enak berada di rumah Kirana apalagi ada Anindira yang tinggal menetap di sana.

Hubungan Anindira dan Dimas juga menjadi dekat walaupun hanya sebatas menyakan kabar anaknya yang bernama Afifa, terkadang orangtua Dimas juga sering berkunjung menengok cucu pertama mereka, walaupun tak jarang sering menangis karena Afifa lahir tanpa melihat Ibu kandungnya.

"Anak perawan baru bangun jam segini, gimana kamu tuh," ucap Mamah saat Anindira baru turun.

Anindira hanya nyengir dengan sindiran Mamahnya, kemudian ia mengambil air putih dan meneguknya, sudah menjadi kebiasaannya untuk meminum segelas air putih saat bangun tidur.

Hubungan Anindira dengan orangtuanya sebenarnya masih dingin, namun tidak sedingin dulu Anindira terkadang membantu Mamahnya memasak dan bergantian mengurus Afifa karena Anindira belum bisa mengurusnya.

"Assalamualaikum." ucap Dimas yang baru datang bersama orangtuanya dan Dina.

"Waalaikumsalam."

"Ini saya bawa buah-buahan sama bolu buat acara pengajian nanti," ucap Ibu Dimas.

"Terimakasih Mbak," ucap Mamah Anindira.

"Afifa masih tidur Mah?" tanya Dimas.

"Iya tadi masih di kamar, coba kamu cek aja sama Anin," ucap Mamah.

Anin dan Dimas pun pergi ke kamar Kirana yang sudah di rombak menjadi kamar anaknya, benar saja Afifa masih terlelap, Anindira merapihkan selimut Afifa yang sudah berantakan.

"Kamu mau ke makam Kirana?" tanya Dimas.

"Oya, tadi Mamah udah beli bunga," ucap Anindira sambil merapihkan mainan Afifa.

"Ya sudah kita pergi sekarang sebelum Afifa bangun," ajak Dimas.

Anindira mengangguk dan meninggalkan kamar Afifa, mereka berjalan ke dapur untuk mengambil bunga yang Mamah beli.

"Mah, kita mau ke makam kapan?" tanya Anin.

"Kalian berdua dulu aja, Mamah sama Papah nanti nyusul," jawab Mamah.

"Iya kalian duluan, kita jagain Afifa," ucap Ibu setuju.

Dimas dan Anindira pun memutuskan pergi berdua, Anin membawa bunga dan Air yang sudah di siapkan, tempat pemakaman Kirana berjarak tidak terlalu jauh dari rumah, hanya lima belas menit perjalanan mereka sampai.

"Neng Anin, kang Dimas," ucap bapak-bapak penjaga makam.

"Iya mang, kita mau doain Alm sekarang seratus harinya," ucap Anin.

"Iya silahkan, barusan habis mamang bersihin," ucapnya tersenyum

"Iya makasih pak," ucap Dimas.

"Eh mang, ini ada titipan dari Mamah," ucap Anindira memberikan bingkisan.

"Duh nuhun neng, salam ke Ibu sama Bapak ya," ucapnya kemudian pergi.

Dimas lebih dulu membacakan doa yang sudah ia talar, Anin ikut berdoa di samping Dimas, dan setelahnya mereka menabur bunga dan menyiram air, Anin sudah mengikhlaskan kepergian Kirana namun kenangan bersamanya tentu tidak bisa ia lupakan, apalagi janjinya pada Kirana untuk memintanya menikah dengan Dimas, ia belum memikirkan hal itu meskipun kedua orangtua mereka sudah menyuruh mereka untuk menikah namun Anindira belum memberi jawaban apapun termasuk Dimas yang masih mencintai Kirana.

"Teh, apakah Dimas bisa jadi suami yang baik untuk Anin? Apakah Dimas yang terbaik buat Anin? Apakah bisa Dimas menerima Anin dan mencintai Anin sedangkan dalam hatinya masih terselip nama teteh? Teteh Anin hanya ingin kebahagiaan" tanya Anin dalam hati sambil berurai air mata.

"Kirana, mengapa dunia tidak adil? Mengapa kamu harus meninggalkan kami? Apakah bisa aku menerima janjimu untuk menikah Anin? Aku mencintaimu Kirana, dan akan selalu begitu karena hanya kamu yang ada didalam doaku," ucap Dimas di dalam hati.

Anin menghapus air matanya, sungguh ia merasakan sesak di dadanya, ia selalu teringat pada janji yang ia ucapkan disaat terakhir Kirana membuka mata, namun ia juga tidak ingin menikah hanya karena perjanjian, Anin tahu Dimas mencintai Kirana dan ia tidak mungkin bisa mengantikan posisi Kirana di hati Dimas apalagi menjadi ibu bagi Afifa anak mereka, Anin tidak ingin menikah dengan orang yang tidak mencintainya .

*-*-*-*-*

Anin dan Dimas sudah sampai rumah, bada Ashar akan di adakan pengajian Anindira memilih untuk membantu memasak di dapur bersama Mamah dan Ibu Dimas, sedangkan Dimas ia memilih menemani anaknya bersama Dina adiknya.

"Mas jadi mau nikah sama teh Anin" tanya Dina tiba-tiba.

"Kenapa memang?" tanya Dimas.

"Adek sih setuju aja Mas nikah sama teh Anin lagipula teh Anin cantik ramah juga, tapi Adek cuman gak mau Mas nikah sama dia tapi mas gak bisa cintai teh Anin," ucap Dina.

"Mas juga gak tahu, Mas udah terlanjur janji sama Alm Kirana sebelumnya," ucap Dimas bimbang.

"Kalau kata Adek, Mas harus tepatin janji Mas, lagipula Mas gak kasihan gitu sama Afifa dia butuh sosok seorang Ibu, dan Mas juga gak mungkin kan terus sendirian ngurus semuanya? Mas juga butuh pendamping,".

"Mas belum bisa lupain Kirana, Mas belum siap buat memulai lagi," ucapnya.

Dina hanya menghela nafasnya, ia memang tak bisa menentukan hati Dimas, ia tahu Dimas begitu mencintai Kirana terlebih sekarang mereka sudah memiliki anak dan Dimas begitu menyanyangi Afifa.

"Dina gak bisa nentuin hidup Mas, tapi Mas harus ingat mungkin Mas sama alm mbak Kirana hanya berjodoh sesaat, mungkin jodoh Mas itu teh Anin ingat Tuhan punya rencana yang lebih baik yang tidak kita ketahui," ucapnya kemudian menimbang Afifa yang tampak masih terlelap di gendongannya.

Dimas terdiam sejenak mencerna ucapan Adiknya, ia juga berpikir mungkin Tuhan mempunyai rencana yang lebih baik untuk dirinya, ia hanya belum siap untuk memulai semuanya dari awal, terlebih untuk menikah dengan adik iparnya ia hanya takut akan menyakiti Anidira pada akhirnya karena ia masih mencintai Kirana.

*-*-*-*-*

Acara pengajian sudah selesai, Anindira sibuk membersihkan ruangan yang menjadi tempat pengajian, hari ini Anindira begitu cantik dengan dress panjang dan kerudung yang ia kenakan sepadan dengan warna bajunya.

Dimas sedang berbincang dengan Bapak dan Papah Anin di ruang tamu membahas masalah bisnis dan hal-hal yang umum, Ibu dan Mamah Anin juga ikut bergabung dalam obrolan mereka, tak lama suara tangisan Afifa terdengar, Anin yang sedang berjalan ke arah dapur langsung menemui Afifa yang tampaknya terbangun karena mendengar suara keramaian, ia pun mengedong Afifa dan memberikan susu tabung dan membawanya keluar.

"Lho udah bangun cucu nenek," ucap Ibu Dimas saat Anin berjalan ke arah mereka.

"Kayaknya dia laper jadi kebangun," ucap Anin.

"Sini biar Ibu gendong," pinta Ibu Dimas.

"Iya Bu, sekalian Anin mau selesai kerjaan di belakang belum beres,"

"Eh kamu di sini aja Nin, ada yang mau Papah sampaikan dulu," larang Mamah

"Ada apa Pah?"  tanya Anin binggung melihat ke arah yang lain yang tampak tegang termasuk Dimas yang tertunduk.

"Kamu duduk dulu jangan berdiri begitu," ucap Papah.

"Kita bahas tentang pernikahan kalian." ucap Bapak Dimas.

Anin yang terkejut sontak menatap ke arah mereka yang tampaknya memang sudah memiliki rencana, Dimas tampaknya masih tenang dan tidak menatap Anin sepertinya ia sudah tahu.

"Papah tahu Kirana meminta kamu menikah dengan Dimas, karena sebelum dia meninggal dia juga menitip pesan pada Papah, kamu juga sudah berjanjikan akan menikah dengan Dimas?" tanya Papah.

Anin hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan papah, memang ia yang meminta pembahasan tentang turun ranjang dilakukan saat mengenang seratus hari Kirana, karena Anin masih dirundung duka dan juga Dimas yang baru saja kehilangan istrinya tidak mungkin langsung membahas tentang pernikahan keduanya.

"Pah, kasih Anin waktu untuk memikirkannya, Anin sama Mas Dimas juga butuh waktu untuk saling mengenal," ucap Anin.

"Kenapa harus ada pengenalan, kalian kan sudah saling kenal, lagipula kalian bisa saling mengenal lebih setelah menikah," ucap Papah.

"Sudah tidak apa Jajang, Anin butuh waktu untuk memikirkannya lagi pula mereka belum saling kenal dekat satu sama lain, biarkan mereka menjalin hubungan dulu saling mengenal satu sama lain," ucap Bapak Dimas.

"Maafkan Putri saya, nanti saya bicara lagi dengan dia," ucap Papah tak enak.

"Sudah tidak apa-apa jangan terburu-buru, kalau begitu kita pamit dulu," ucap Bapak Dimas.

Ibu Dimas memberikan Afifa pada Anindira setelah ia terlelap, mereka pamit pulang karena hari sudah malam, Dimas juga ikut pulang setelah berpamitan, terlihat jelas dari wajah Dimas bahwa ia tampaknya tidak menyetujui rencana ini, ia bahkan tak menatap Anindira sama sekali, dan Anindira memahaminya Dimas masih mencintai Kirana.

"Anin Papah ingin bicara," ucap Papah setelah Anindira menidurkan Afifa.

"Ada apalagi Pah?" tanya Anin.

"Kamu ini bagaimana, Papah kan sudah bilang kamu harus setuju menikah dengan Dimas bukankah kalian sudah berjanji pada Kirana?" ucap papah dengan nada tinggi.

"Iya Pah Anin ingat, tapi kan masih ada waktu juga, Anin juga butuh waktu untuk mengenal Mas Dimas secara lebih apalagi Mas Dimas masih mencintai teh Kirana pasti ini berat buat dia," ucap Anin.

"Kamu hanya tinggal menikah Anin tidak perlu harus berkenalan lagipula kalian sudah saling kenal, memang Dimas mencintai Kirana tapi lama-lama ia juga bisa luluh."

"Pah, gak semudah itu melupakan orang yang kita cintai, Anin juga butuh waktu, Anin gak mau menikah sama orang yang memang gak bisa mencintai Anin" jawab Anin.

"Cinta itu belakangan, apa kamu gak kasihan sama Afifa? Apa kamu lupa sama janji kamu? Lagipula umur kamu sudah pas Papah juga gak mau terbebani karena kamu belum menikah," ucap Papah.

Anin yang mendengar ucapan Papahnya merasa tersayat hatinya, apakah selama ini ia membebani orangtuanya hingga papahnya berbicara begitu padanya? Anin merasakan sesak kembali di hatinya, apakah Papahnya tidak pernah bisa mengerti dirinya? Apakah ia pikir kebahagiaan Anin hanya bergantung pada apa yang ia pilihkan? Anin tidak tahu apakah selama ini juga Kirana merasakan hal yang sama seperti dirinya, padahal selama ini papahnya tidak pernah peduli dengan hidupnya namun bicara pernikahan papahnya yang menentukan untuknya?

"Pah bukan begitu, Anin mau menikah dengan Mas Dimas, tapi tidak secepat itu, Anin butuh pendekatan dengan dia,"

"Sudahlah kamu memang anak tidak tahu diri, kamu tidak berubah Anin, kamu keras kepala, Papah juga tidak bisa percaya kamu, kamu berbeda jauh dengan Kirana yang selalu menurut dengan orangtua," ucap Papah yang langsung pergi meninggalkan Anindira yang sudah menangis mendengar ucapan Papahnya yang begitu menusuk sanubarinya.

"Mamah tidak bisa percaya Anin, kamu dilahirkan oleh Mamah ke dunia ini apakah untuk melawan perkataan orangtua? Apa kamu tidak berpikir bagaimana kita merawat kamu? Apakah tidak ada pengerobananmu sama sekali untuk keluarga ini? Kirana terlalu menyayangi kamu sekarang dia menyesal karena melihat kamu yang keras kepala," ucap Mamah yang langsung ikut pergi setelah memarahi Anin.

Anin menangis, ia benar-benar sendirian sekarang, ia sudah terbiasa dengan omelan dan perkataan dari orangtuanya, hanya saja ia rindu Kirana, biasanya jika ia dimarahi Kirana akan selalu datang dan membelanya namun sekarang tidak ada lagi yang membela dan menenangkannya, Anindira binggung bagaimana ia menyetujui permintaan kedua orangtuanya disaat ia tahu Dimas begitu mencintai kakak kandungnya itu.

1
Dewi Fuzi
tau darimana aklak nya bagus kan baru sebentar bertemu nya
Calluella Rista Ramall
Sudah baca berulang" tapi tetep nangis juga 😭
Haru Kagami
iya bner ponakannya dimas. ya ampun ini novel pertama kayanya yg aq Prnh baca awal" tau NT. dh lama bgt ternyata.
Haru Kagami
iya bner dh pernh baca cm dh lama bgt aq makanya lupa" inget
Haru Kagami
kaya udh prnh baca cerita ini tpi lupa krn udh di thaun kpn gtu bacanya. ini novel di bikin kapan sh thor
Tiwi
sedih😭
Tihar
keren ceritanya sat-set Nga pake lama
Yuli Silvy
bgus ceritanya Thor ga' terlalu bertele-tele
Yuli Silvy
udah tau mau pergi kok malah d tinggal sndri Anin, kesihan kn Anin😥
Yuli Silvy
🤭🤭🤭
Yuli Silvy
sedih 😭
Yuli Silvy
bgus tu Anin
Yuli Silvy
kesihan bget anin
Yuli Silvy
klo jodoh ga' kn kmn
Yuli Silvy
baru gabung
Defi
🌹
nurul nazmi
bagus
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya thor 👍👍👍
🥀Luka tak Berdarah🥀
D sini anin yg pling tersakiti n banyak berkorban🥺🥺🥺
Nur Janah
gagal maning gagal maning 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!