Kekerasan yang dialami mawar dimasa kecil
membuat nya terperangkap dimasa lalu nya.
sehingga menjadikan diri nya seperti setangkai mawar yang tak bisa disentuh
penghinaan yang diterima Putra telah mengikis semua harga dirinya. Bahkan perceraian nya pun menyandarkan nya pada kenyataan pahit.
bisakah sebentuk ketulusan membalikan hidup mereka?
hanya cinta sejati yang bisa menyembuhkan luka. bersediakah mereka berjuang bersama untuk melepaskan diri dari kelam nya masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kevin N Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar 07
Bambang mengusap keningnya dengan expresi lega. Trauma Mawar tidak separah sepuluh tahun lalu. Gadis itu tidak kehilangan kesadaran nya, Mawar masih mengenal orang sekitar nya.
Yuyun mengancingkan kemeja putra yang diberikan putra menutup badan Mawar yang terlihat, kemudian membantu Mawar bangkit menuju mobil untuk kembali ke rumah utama.
Polisi datang tiga puluh menit kemudian, mereka mulai menyisir lokasi untuk mencari barang bukti. Bambang menolak untuk mempertemukan polisi dengan Mawar mengingat Mawar masih syok. Tapi Bambang dan Putra bersedia ikut ke kantor polisi untuk membuat laporan dan menuntut Roy. Tidak lupa Bambang menelpon pengacara keluarga.
Menjelang sore baru kedua nya sampe rumah dan melihat Mawar duduk di taman belakang bersama Yuyun. Dengan wajah lelah Putra mendekati Mawar.
"Aku sudah menghajar bajingan itu, apa dia melukaimu?" tanya Putra.
Terlihat expresi khwatir dari wajah Putra yang lelah. Rambut yang acak acakan dan kening berkerut menatap Mawar dari atas sampe bawah.
"Aku tidak apa-apa Putra," dengan suara serak dan mata sembab Mawar menjawab, dia begitu lama menagis.
"Mungkin kita harus menunda rencana pernikahan kalian, tidak mungkin mawar bisa melakukan nya." Yuyun menimpali.
Bambang sendiri terlihat sangat letih. Dia tak dapat berkata-kata lagi. Semua yang terjadi membuat nya sangat kesal.
"Aku tidak mau, tidak seorang pun yang bisa menghentikan pernikahan ku. Aku tidak akan mundur hanya karna kejadian siang tadi. A...aku hanya sedikit kaget saja tadi, itu saja," Mawar mengucapkan kalimat itu dengan ketegasan."
Justru karena kejadian itu menguatkan dia untuk segera menikah dengan Putra. Lagi pula Putra memenuhi janjinya, dia menunjukkan kesungguhan untuk menjaga nya.
"Kau yakin sayang? Kita hanya menunda nya seminggu saja, agar kau lebih tenang lagi." Yuyun tersenyum bijak
"Aku sungguh baik-baik saja. Pernikahan ku dengan Putra tidak perlu ditunda. Kita lakukan sesuai rencana." Mawar terus bersikeras dengan pendiriannya.
"Aku akan memastikan Mawar baik-baik saja, kurasa kita harus menghargai keputusan nya, karena Mawar sendiri lah yang paling tau kondisi tubuhnya bukan? Aku akan selalu ada untuk menjaga nya." kini Putra menjawab tidak kalah tegasnya.
"Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, aku berharap kau bisa memegang kata-katamu Putra." Akhirnya Bambang dan Yuyun mengalah.
°°°°
ESOK NYA
Pagi itu Mawar terlihat bersinar dengan kebaya putih yang dikena kan nya. Rambut digulung ke atas, memamerkan leher jenjangnya yang putih bersih. Bahkan Putra sempat menahan nafas melihat nya.
"Sungguh cantik, pantas saja begitu banyak pria yang terobsesi dengan nya." batin Putra.
Proses pernikahan berlangsung lancar tanpa hambatan, Putra terlihat gugup dan Yuyun menetes kan air mata bahagia. Kini mereka telah menyandang status baru, suami istri kontrak tentu saja. Dan hanya mereka yang tau.
°°°°
Malam telah larut semua tamu telah pulang ke rumah nya masing masing. Ternyata acara lebih lama dari yang direncanakan. Bambang dan Yuyun pun akan beristirahat.
Putra memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengan Mawar, ada sesuatu yang ingin Putra utarakan.
"Tidak akan ada lagi, aku bersumpah mulai detik ini tidak akan ada yang berani menyakitimu. Aku akan menjagamu semampuku, bahkan seumur hidupku," sambil menggenggam tangan Mawar yang kecil.
Mawar kaget saat Putra menyentuh nya, namun genggaman Putra yang lembut mengurungkan niatnya untuk menarik tangannya.
"Kau tidak perlu berkata seperti itu, aku sama sekali tidak mengharapkan kau melakukan hal-hal yang berlebihan diluar kesepakatan kita. Aku tidak ingin aku menjadi beban untukmu, jangan pernah masuk kedalam hidupku yang kacau ini," jawab Mawar dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi kau layak dilindungi Mawar, dan aku suamimu. Orang yang paling wajib melakukannya. Walaupun hubungan kita hanya sebuah ikatan bisnis. Aku sudah bersedia menikahimu maka aku akan melakukan kewajiban ku untuk menjagamu, kau tidak sendirian lagi. Mawar jangan takut lagi, aku di sini bersamamu dua puluh empat jam untuk mendengarkanmu. Percayalah padaku."
Tidak ada jawaban dari Mawar, selain anggukan kepala saja.
°°°°
Selesai mandi dan mengganti pakaian Mawar bersiap untuk tidur, tapi Mawar baru menyadari satu hal...... Dia lupa memikirkan kenyataan bahwa sepasang suami-istri biasanya tidur di kamar yang sama.
Mawar terdiam, sambil menunggu Putra selesai mandi. Kini Mawar merasa canggung karena harus membahas masalah tempat tidur. Mawar tau Putra pasti akan mengalah dan memilih tidur disofa, tapi sofa yang ada dikamar Mawar pasti tidak cukup untuk tubuh Putra yang besar.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka dan Putra melangkah pelan sambil berfikir dia mau kemana. Akhirnya dia memutuskan untuk berdiri di samping jendela. Putra paham hadirnya dia dikamar itu pasti membuat gadis itu takut.
"Maafkan aku, sebelumnya ini tidak terfikir olehku. Sejujurnya aku tidak enak padamu, karena melupakan hal sepenting ini. Besok aku akan membeli tempat tidur untukmu, malam ini kau tidurlah disofa itu walaupun aku tau pasti tidak muat."
"Tidak perlu, jika kau membeli tempat tidur baru pasti akan mengundang kecurigaan dan lagi sofa itu terlalu kecil. Aku tidur dibawah saja tidak apa-apa." jawab Putra sambil tersenyum.
Mawar mendesah panjang, dia sungguh menyesal menikah terlalu cepat sehingga tidak sempat memikirkan hal semacam itu. Dia tau ini tidak adil buat Putra, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Yah kurasa memang tidak ada tempat yang lebih baik lagi untukmu. Aku sungguh minta maaf kau harus mengalami hal ini karena keegoisanku."
"Tidak apa, tapi apakah kau masih mau berbaik hati lagi, untuk membagi bantalmu untukku? aku sangat lelah. Aku akan berbaring mungkin itu bisa membebaskan mu dari tekanan diriku yang berada dikamar ini, paling buruknya kau akan mendengar dengkuranku saja. Tapi kau tenang saja aku akan membuat itu semerdu mungkin." canda Putra .
Mawar tersenyum dan memberikan sebuah bantal untuk Putra yang langsung disambut dengan bahagia. Putra langsung merebahkan tubuhnya di atas karpet yang tebal itu.
"Kau perlu selimut?"
"Tidak perlu, karpet ini sudah cukup tebal. Ini karpet terbagus yang pernah aku sentuh. Aku bahkan perna tidur di tempat yang lebih buruk lagi."
Dengan suara pelan Putra mencoba menetralkan suasana.
"Mawar, kau mau mengobrol denganku? jika kau belum mengantuk." Ajak Putra
----Terimakasih ---
Selamat menikmati kisah Mawar dan Putra.
aku baca komentar kalian malah membuatku makin bersemangat loh. Aku tunggu like nya juga ya. Terimakasih selalu mendukung karya author amatiran ini hehe..
Jaga kesehatan selalu ya.
banyak-banyak minum air putih kurangi begadang nya 😁😅
°Jangan lupa
Rate lima bintang
like
favorit
dan jejak komentar
semoga kalian bisa saling memberi kebahagia dan kenyamanan..