TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Valerie POV
Mataku mengerjab pelan, mencoba duduk dan langsung merasakan pusing dan mual yang luar biasa. Kutatap jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi dan sialnya aku sudah terlambat bekerja. Shit!
Aku bangkit ke dalam kamar mandi, bergegas mandi dan mengeluarkan seluruh sesuatu yang mengganjal di dalam perutku. Setelah selesai, aku melangkah ke meja makan dan di sana sudah ada Kakek dan Nenek yang terdiam dengan wajah datar.
Mati aku! Mereka pasti akan marah besar. Aku melangkah mendekat dengan kepala menunduk, duduk dengan begitu pelan dan jantungku yang berdegup kencang.
"Maafin Vale, Vale benar-benar menyesal." Ucapku langsung dengan wajah menunduk, tak berani menatap Kakek-Nenekku.
"Makan! Itu sup penghilang pengar." Ucap Kakek dingin. Aku mengangkat kepalaku ragu-ragu dan akhirnya memakan sarapanku dalam diam.
Sampai akhirnya, aku sudah selesai sarapan dalam suasana diam dan dingin. Masih terdiam menunggu segala respon yang akan diberikan oleh Kakek dan Nenek.
"Kenapa ke sana semalam?" Tanya Kakek tegas.
"Vale diajak temen kantor." Jawabku. Ya, aku tidak akan mengatakan kalau orang itu adalah Melanie. Bisa-bisa jika Melanie main ke sini, Kakek dan Nenek akan langsung mengusirnya.
"Kau sudah berjanji kepada Nenek dan Kakek untuk tidak meminum alkohol dan pergi ke tempat seperti itu Vale." Ucap Nenek lembut.
"Iya, Vale salah. Maafin Vale." Ucapku sedih dengan kepala menunduk.
"Kali ini Kakek dan Nenek maafin. Berangkat kerja sana, udah terlambat!" Tambah Nenekku lagi. Aku tersenyum bahagia karena akhirnya mendapatkan maaf mereka, lalu mencium pipi mereka berdua dengan gembira.
"Vale berangkat ya, bye." Aku berangkat dengan senyum lebar. Aku tau aku sudah telat, tetapi aku harus tetap datang ke kantor dan bekerja bagaimanapun alasannya.
Setelah menghabiskan 20 menit di jalan, akhirnya aku sampai ke Perusahaan. Aku melangkah cepat menuju ruanganku, sampai sebelum aku melangkah masuk, langkahku terhenti dengan suara seseorang yang memanggilku.
"Ms. Vasylchenko." Aku menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang wanita di sana dengan kepala menunduk.
"Ya."
"Anda dipanggil oleh Ketua." Jawabnya. Astaga, pasti aku akan diomeli oleh nenek lampir itu.
"Aku akan ke sana." Ucapku. Dia melenggang pergi. Dengan langkah malas, aku segera menuju ruangan atasanku.
Aku mengetuk pintu ruang atasanku dengan malas.
"Masuk!" Setelah mendengar perintah dari dalam, aku memasuki ruangan tersebut dengan pelan.
Aku menatap seorang wanita yang sudah sangat aku kenal. Dia Lucy, wanita berkepala empat dan memiliki bibir yang cerewet.
"Permisi Mam."
"Kau terlambat?" Tanyanya dingin. Aku mengangguk "Iya Mam." Jawabku pelan.
"Hari ini kau lembur sebagai hukumannya." Ucap Lucy yang berhasil membuatku ternganga. Ya, sebagian orang mungkin menyukai lembur karena gajinya akan bertambah. Namun, aku adalah orang yang sangat membenci lembur dan nenek lampir ini selalu memanfaatkan kebencianku tersebut dengan bentuk hukuman atas segala kesalahanku.
"Shh.." Aku meringis sedih dengan kebodohanku yang bisa-bisanya menerima ajakan Melanie, padahal hari ini aku harus bekerja. Percuma juga aku mendebat nenek lampir ini, dia tidak akan merubah hukumanku karena dia terlihat sangat menikmati ketika aku lembur.
"Pergilah!" Aku melangkah ke luar dengan malas, lalu melangkah ke ruanganku.
"Ms. Vasylchenko."
"Apa lagi sekarang ya Tuhan?" Gerutuku kesal dengan wajah mengkerut dan menoleh ke sumber suara.
"Anda dipanggil oleh CEO."
"Ya Tuhan, dia lagi. Mengapa dia selalu menggangguku? Tak ada hari tenang semenjak dia datang." Gerutuku kesal dengan wajah frustasi. Tak peduli jika wanita di depanku ini akan mendengar makian yang kulontarkan kepada CEO perusahaan ini.
Dengan langkah berat, aku melangkah menuju ruangan pria gila itu. Melewati Brenda yang ingin angkat bicara dengan gaya masa bodoh, lalu mendorong kasar pintu dan masuk ke dalam tanpa mengetok.
BRAK!
"APA LAGI SEKARANG?" Tanyaku berteriak kesal, lalu terdiam saat melihat Sean yang ternyata tidak sendirian di ruangannya. Mataku membola lebar menatap tiga orang pria yang sekarang menatap ke arahku.
Ada dua orang pria asing di sofa yang kini menatapku lekat. Aku menatap ke arah Sean yang kini tersenyum miring seakan mengejekku. Aku mendengus merutuki kebodohanku. Aku mempermalukan diriku sendiri di depan Sean dan dua koleganya.
"Hishh..." Dengan cepat aku langsung berlari menuju ruangan di sebelah kananku dengan jantung berdegup kencang. Wajahku memerah malu dan tak berani menunjukkan wajahku lagi di depan mereka.
Aku tertegun melihat sekitar ruangan yang aku masuki, ternyata adalah sebuah kamar pribadi. Ada ranjang, beberapa lemari, televisi, dan kamar mandi. Kenapa aku malah masuk ke sini? Kenapa aku tidak keluar saja tadi? Bodohnya kau Valerie.
Jantungku masih berdegup kencang dan berulang kali merutuk sambil memukuli kepalaku kesal. Aku duduk di atas ranjang dan mencoba menetralkan seluruh tubuhku yang bergejolak malu.
Author POV
Sean menatap gadisnya yang berlari masuk ke ruangan pribadi miliknya dengan wajah memerah malu. Sean masih tersenyum lucu sambil menatap pintu yang sudah tertutup tersebut
"Gadis kecil yang imut." Ucap salah seorang pria bernama Ben.
"Wajahnya terlihat marah saat masuk, kau melakukan apa padanya Sean?" Yanya Gilbert sambil menatap Sean heran.
Sean menatap kedua sahabatnya dengan raut sama. Senyumnya masih tak bisa luntur mengingat berbagai ekspresi Vale yang menggemaskan.
"Dia cantik." Ucap Ben lagi dan kini Sean menatap ke arahnya dengan wajah marah.
"A—Apa? Di—Dia kan memang cantik." Ucap Ben gugup karena mendapat tatapan tajam dari Sean.
"Ya, dan dia milikku. Kalian jangan coba-coba mendekatinya!" Ucap Sean marah.
"Siapa juga yang berani mengusik milikmu?" tambah Gilbert dingin. Gilbertlah yang bisa bersikap santai saat Sean marah dan kesal.
"Kalian pergilah! Aku akan menemuinya." Ucap Sean langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ruangan pribadinya tanpa mempedulikan kedua sahabatnya itu.
Valerie POV
Cklek.
Kutatap ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Sean yang masuk dengan wajah dinginnya. Dengan kesal aku melangkah ke depannya dan memukul dada bidangnya geram.
"Kau membuatku malu." Kesalku sambil menatapnya dengan wajah yang hampir menangis.
Rasanya aku ingin menenggelamkan mukaku di pasir sekarang. Tanpa terduga, Sean menarikku ke dalam pelukannya dan memelukku erat.
"Kau! Kenapa kau memanggilku?" Tanyaku kesal di dalam kukungannya. Memberontak ingin dilepaskan, namun kekuatanku tetap tak akan sebanding dengannya.
"Aku merindukanmu." Ucapnya lembut berbisik di telingaku. Nafasnya yang panas membuatku terdiam dengan tubuh merinding. Kurasakan bagaimana Sean menggigit cuping telingaku dan menghembuskan nafasnya ke dalam. Tubuhku meremang dan tanpa sadar tanganku mencengkram jasnya.
"Sensitif huh?" Tanyanya pelan dengan suara seraknya yang seksi.
"Jangan!" Aku mengerang saat Sean mencium daun telinga bagian bawah dan menariknya lembut dengan bibirnya. Berulang kali dia melakukannya dan aku hanya bisa menggigit bibir untuk menahan eranganku.
"Kau membuatku marah semalam." Ucapnya dan keningku mengkerut bingung.
Kepalaku terputar mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Sekelebat kejadian itu masuk ke dalam ingatanku. Aku mulai mabuk, seorang pria yang mengelus pahaku, lalu aku melangkah menuju dance floor, hingga beberapa orang berbaju hitam dan seorang pria yang menghampiriku. Dia.... SEAN. Aku mencoba mengingat kembali, hingga saat Sean menggendongku ke dalam mobilnya dan aku tak ingat apapun lagi setelah itu.
"Kau?" tanyaku tak percaya.
"Meminum alkohol tidak bagus untuk wanita, bisa menganggu sistem reproduksi." Ucapnya sok bijak. Kutatap wajahnya sinis sambil mencebik bibir kesal dengan tubuhku yang masih berada dipelukannya.
"Kau mengantarku ke rumah?" Tanyaku sambil menatapnya lekat. Aku sudah malas memberontak untuk melepaskan diri dari kukungannya.
"Menurutmu?" Tanyanya balas menatapku.
"Setelahnya?" Tanyaku lagi menatapnya menyelidik.
"Aku langsung pulang setelah mengantarmu ke kamar. Mana mungkin Kakek, Nenek dan Bibimu bisa mengangkat tubuhmu ke kamar." Jawabnya santai dengan wajah datar. Ya benar juga, Kakek benar-benar overprotektif tentangku. Tetapi kenapa Kakek dan Nenek tidak bertanya bahkan membahas tentang Sean tadi pagi?
Dulu saat ke Bar pertama kali, aku diantar pulang oleh seorang teman priaku. Keesokan paginya Kakek dan Nenek langsung menyerbuku dengan berbagai pertanyaan, apa saja yang kulakukan? Siapa pria tersebut? Siapa namanya? Bahkan bertanya ada hubungan apa diantara kami? Tetapi anehnya, Kakek dan Nenek bersikap biasa saja tentang Sean. Ada apa sebenarnya?
"Yasudah lepaskan aku! Banyak pekerjaan yang harus kulakukan." Ucapku kembali mendorong tubuh Sean menjauh.
"Kau sudah masuk ke dalam kamar pribadiku, kita harus menyelesaikan semuanya." Ucap Sean menatapku dengan wajah menyeramkannya lagi. Aku tersentak saat dia mendorongku ke atas ranjang, lalu menindih tubuhku.
Bersambung....
maaf lama up cerita ini, mohon ditunggu ya. 😊😘
aku baca komentar kalian yang coba nebak dan ada yang mulai mendekati gituloh. 🤫
ayo coba ditebak lagi, udah sampe chapter 6 loh, udah mulai kebongkar nggak teka-tekinya. kenapa sean langsung ngembat vale diawal pertemuan?
jangan lupa like, share, dan comment dan tambahkan sebagai favorit kalian. ❤️
bye... 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih