assalamu'alaikum...
haii..salam kenal, ini karya perdanaku.
Seorang perawat dengan wajah ayu khas gadis Jawa. Cantik dengan kepala tertutup jilbab.
Dia harus tinggal jauh dari keluarga, karena sebuah pekerjaan.
Siapa sangka di kota itu ia menemukan cintanya.
Cinta yang ia harapkan akan menetap untuk selamanya di hatinya.
Cinta yang bisa menutup kesedihan, akibat cinta-cinta terdahulu yang hanya singgah sementara.
Akankah harapannya tewujud, ataukah cinta itu sama dengan cinta-cinta nya yang dahulu.
Ikuti ceritanya.." Cinta Untuk Perawat Cantik ".
simak yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qidi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasehat Ibu
Selamat membaca 📖📚
Beberapa bulan berlalu...
Saat ini Raya berada di salah satu gerbong kereta, yang akan membawanya menuju kota kelahirannya.
Sebenarnya ia baru saja pulang dari shift malam. Dan hari ini dia libur. Besuk ia bertukar shift dengan temannya. Yang harusnya masuk pagi, jadi masuk siang.
Kesempatan ini ia manfaat kan untuk pulang. Selain melepas rindu dengan keluarga, ia juga ingin menghilangkan keresahan hati yang selama ini ia rasakan.
Mengantuk ?, tentu saja. Namun bayangan bertemu dengan keluarganya, membuat ia tetap semangat melakukan perjalanan ini. Ia pun tidur selama perjalanan.
Kini Raya sudah berada di rumahnya. Ia sampai beberapa jam yang lalu. Tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Alhasil dia naek ojek untuk sampai ke rumahnya. Sebab sudah pasti tidak ada yang menjemputnya.
Saat ini ia tengah membantu ibu di dapur, mempersiapkan untuk makan malam.
Disela-sela kesibukannya...
"Nduk...ada apa ?", tanya ibu membuka obrolan.
Ibu memperhatikan Raya yang dari tadi diam. Diam yang menyimpan sesuatu. Memang seorang ibu paling peka dengan keadaan sekitar. Terlebih yang berhubungan dengan anggota keluarganya.
"Eh..kenapa buk ?"
"Kok malah genti nanya "
"He..he.. "
"Kamu itu lho yang kenapa, ada apa ?",
"Sedang mikirin apa ?", sambung ibu lagi.
"Mmm...dia..minta Aya..nunggu lagi, buk ", jawab Raya ragu-ragu.
"Dia..? orang yang sama ?", tanya ibu memastikan.
Hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Raya.
"Nduk, sholat to istikhoroh. Berdoa, nyuwun petunjuk Allah. Mungkin kamu masih menyimpan harapan, tapi juga memiliki kekecewaan. Mulo, serahkan semua pada Yang Maha tau segalanya. Karna apa yang menurut kita baek, belum tentu baek menurut Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk di mata Allah. Bisa jadi, itu malah hal terbaik yang Allah berikan untuk kita.
Ingat, jodoh rejeki dan maut hanya Allah yang tau. Dan itu sudah diatur, bahkan sebelum kita lahir.
Sabar, kalo tiba waktunya, jodoh itu pasti datang kok nduk. Dan gak akan salah waktu. Jadi gak usah khawatir. Dipikir santai wae, tapi tetep berdoa yo "
Nasehat yang panjang lebar dari sang ibu tercinta.
Dengan bahasa ibu yang campur-campur, tapi justru itu yang membuat Raya slalu kangen dengan ibunya. Ia memang sangat dekat dengan ibunya, dan apapun slalu ia ceritakan pada beliau.
"Buk..kalo...ada.. yang datang nglamar Aya, apa bapak ibuk akan nerima ?", tanya Raya dengan ragu-ragu.
"Apapun keputusanmu nduk, bapak ibuk akan mendukungnya. InsyaAllah, semoga itu yang terbaik "
"Aamiin. Trimakasih ya buk ", seketika Raya menghentikan aktifitasnya dan mendekat untuk memeluk ibunda.
"Aku juga mau dipeluk !!", teriak Ayu, adik Raya, yang muncul dari pintu dan berlari menghampiri ibu dan kakaknya. Mereka bertiga saling berpelukan.
Malam ini begitu menyenangkan. menenangkan, dan menghangatkan perasaan Raya.
Beberapa bulan terakir, ia terus terganggu dengan pikiran-pikiran yang meresahkan. Dan membuat hati tidak tenang. Tapi setelah curhatnya pada sang ibu, hatinya menjadi tentram. Beban di kepala seakan hilang entah kemana. Seperti mendapat hujan setelah sekian lama kemarau.
Flash back on
"Ray, aku pamit ya. Nanti sore aku akan brangkat ", ucap dokter, sejenak ia menjeda kalimatnya.
"Apa kau tak bisa mengusahakan untuk menungguku ??"
"Saya tidak bisa berjanji dok. Dan selama ini walopun saya tidak berjanji, nyatanya saya juga masih sendiri ", jawab Raya yang secara tidak langsung mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Apa itu artinya kau menungguku ?"
"Jadi.. bisakah untuk menungguku..lagi ??", tanya dokter dengan penuh harap.
"Maaf dokter, dari dulu sampai sekarang jawaban saya masih sama. Saya tidak bisa berjanji, karna saya takut tidak bisa menepatinya. Dan maaf jika suatu saat dokter mendengar kabar yang tidak sesuai keinginan dokter ".
"Sudah ada yang meminta ke orang tuamu ?"
"Belom ".
Mendengar jawaban Raya, ada sedikit kelegaan di hati dokter. Ia menarik nafas panjang, sebelum mengutarakan keputusannya...
"Baiklah...jika sampai saya kembali lagi kesini dan belom ada seorang pun yang menghadap orangtuamu, maka saat itulah saya yang akan melamarmu, kamu jangan menerima pinangan orang lain. Ingat ya, SAMPAI SAYA KEMBALI LAGI ". Ucapan dokter Jo menjadi formal dan penuh penekanan di kalimat terakhirnya.
"InsyaAllah. Saya akan menerima jika memang seperti itu keadaannya ".
Senyum pun menghiasi bibir dokter Jo. Entah apa yang terjadi nanti. Paling tidak dokter pergi dengan semangat dan harapan baru.
Flash back end.
Sejak pertemuan terakhir, sebelum kepergian dokter Jo, entah mengapa Raya tidak tenang. Ada saja yang mengganggu pikirannya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menenangkan diri, pulang dan bertemu dengan keluarganya.
Sekian dulu yaa,,
maaf kalo masih berantakan dan critanya yang biasa aja, maklum author masih belajar,,
makasih para readers yang masih setia mengikuti novel ini,,
dan tetap dukung author ya dengan like koment dan vote yang banyak,,
trimakasih,,salam hangat Qidi 😍.