Di dunia luar, Gabriel Alexius adalah ketua mafia paling ditakuti—dingin, kejam, dan tanpa ampun. Namun, takdir mempertemukannya dalam pernikahan rahasia dengan Aira, gadis biasa yang awalnya mengira suaminya hanyalah pria kaya yang polos dan sedikit konyol.
Di rumah, Gabriel berubah drastis menjadi suami yang manja dan bucin setengah mati, bahkan rela bertingkah konyol demi membuat istrinya tersenyum.
Semua kebohongan manis itu terbongkar saat Aira tak sengaja memergoki Gabriel dalam "mode monster" saat menghadapi musuhnya. Panik karena takut ditinggal, sang ketua mafia yang garang itu mendadak jadi panutannya yang paling penakut di hadapan sang istri.
“Aira, aku bisa menghancurkan kota ini, tapi jangan minta aku hidup tanpamu!”
Bagaimanakah kisah rumah tangga gadis biasa dengan pria paling berbahaya di dunia bawah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rey Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Proposal Liburan Dan Kacamata Renang Hiu
Kunjungan mendadak dari Sebastian Blackwood meninggalkan satu hadiah fantastis yang kini terpajang anggun di atas meja kerja Aira: sebuah sertifikat kepemilikan pulau pribadi bernilai ratusan miliar di perairan Mediterania.
Namun, alih-alih mempelajari dokumen legalitas, peta navigasi, atau nilai investasi pulau tersebut secara profesional layaknya penasihat eksekutif, Gabriel justru sibuk merentangkan peta besar pulau itu di atas sofa kulitnya. Pria tegap berotot yang ditakuti dunia bawah tanah itu kini berlutut polos di atas karpet, menunjuk-nunjuk gambar pantai dengan spidol merah berpendar sambil mengoceh antusias.
"Sayang! Coba lihat ke sini sebentar!" seru Gabriel dengan mata berbinar-binar bagaikan anak kecil yang baru saja mendapat hadiah mainan baru di hari ulang tahunnya. "Di sebelah barat pulau ini ada pantai pasir putih yang sangat luas. Nanti kalau kita sampai di sana, aku akan buatkan istana pasir raksasa yang ada benteng pertahanannya khusus buat kamu! Nanti aku tambah menara pengawasnya juga!"
Aira yang sedang duduk anggun di balik meja kerjanya meletakkan cangkir teh hangat pelan-pelan. Ia menatap suaminya dengan gelengan kepala gemas, tak habis pikir melihat perubahan drastis pria itu.
"Gabriel... kamu itu ketua jaringan Blackwood, bukan arsitek taman kanak-kanak," ledek Aira lembut sambil mengulas senyum manis yang membuat matanya menyempit.
"Biarkan saja! Di depan dunia luar aku boleh jadi Dark Lord yang bikin musuh gemetaran, tapi di depan istri tercintaku, aku ini kontraktor istana pasir pribadi!" jawab Gabriel tanpa rasa malu sedikit pun, memamerkan cengiran konyolnya yang lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat jelas.
Tepat saat Aira hendak membalas ucapan suaminya, pintu ruang kerja privat itu terbuka. Felix melangkah masuk sambil membawa dua buah koper berukuran sedang di kedua tangannya. Wajah sang tangan kanan tampak sangat datar dan pasrah—sebuah ekspresi bertahan hidup khas seorang bawahan yang sudah terlalu terbiasa menghadapi kelakuan ajaib bos mahabintangnya.
"Tuan," panggil Felix dengan nada suara sangat datar. "Barang-barang persiapan liburan yang Anda pesan secara rahasia melalui kurir khusus tadi pagi sudah tiba di lantai dasar."
Aira menyipitkan matanya heran, menatap dua koper di tangan Felix. "Barang persiapan? Kapan kamu sempat belanja, Gabriel? Kan dari tadi kamu bersamaku di ruangan ini?"
"Iya dong! Sebagai ketua mafia yang sigap dan bertanggung jawab, aku harus menyiapkan semua perlengkapan taktis demi keselamatan dan kenyamanan kita selama di pulau nanti!" jawab Gabriel penuh rasa bangga.
Pria itu melompat berdiri dari atas karpet dengan gerakan lincah, melangkah cepat menghampiri Felix, lalu merebut salah satu koper dan meletakkannya di atas meja. Dengan gaya dramatis bagaikan agen rahasia yang hendak membongkar senjata pemungkas, Gabriel membuka ritsleting koper tersebut.
Aira ikut bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat untuk melihat relies barang taktis apa yang disiapkan oleh suaminya. Namun begitu penutup koper dibuka lebar, mata bening Aira membelalak tak percaya. Mulutnya bahkan sampai sedikit terbuka karena terkejut.
Bukannya pelampung standar keselamatan laut, baju renang elegan edisi terbatas, atau sunblock mahal kelas atas, isi koper tersebut justru dipenuhi oleh:
Dua buah kacamata renang anak-anak berbentuk kepala hiu berwarna hijau stabilo yang sangat mencolok.
Pelampung lengan bergambar bebek karet warna kuning menyala.
Sebuah pistol air raksasa bertekanan tinggi berwarna merah muda dengan tangki penyimpanan bening di bagian belakangnya.
Aira menatap isi koper itu bergantian dengan wajah Gabriel yang tampak sangat puas dan bangga atas pencapaian belanjaannya.
"Gabriel..." suara Aira tertahan di tenggorokan, menahan gelombang tawa yang hampir meledak hebat. "Kamu benar-benar mau mengajakku honeymoon ke Mediterania atau mau mendaftarkan aku ikut lomba renang anak PAUD tingkat nasional?"
"Lho! Jangan salah, Sayang! Ini semua perlengkapan taktis bernilai tinggi!" potong Gabriel dengan raut wajah sangat serius—sebuah ekspresi tegas yang justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih konyol.
Dengan santai, Gabriel mengambil kacamata renang hiu hijau stabilo itu lalu memasangkannya langsung ke wajahnya sendiri. Karena ukuran kacamata itu diperuntukkan bagi anak-anak, tali karetnya menjepit pipi tegap Gabriel hingga agak tertarik ke atas.
"Lihat ini," lanjut Gabriel sambil menunjuk kacamata di wajahnya. "Kacamata hiu hijau ini berfungsi buat menakut-nakuti ikan-ikan jahat di laut biar tidak berani mendekati kamu. Nah, kalau pistol air merah muda ini..." Gabriel mengangkat pistol plastik itu lalu mengarahkannya tepat ke dada Aira, "...ini senjata utamaku buat nembak kamu kalau kamu menolak untuk aku cium!"
Pfft!
Felix yang berdiri dua langkah di belakang mereka refleks memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah dinding. Bahunya berguncang pelan, berjuang setengah mati menahan tawa agar tidak menyembur di depan bos besarnya.
Aira sudah tidak sanggup lagi menahan tawa. Tawa renyahnya pecah membelah keheningan ruang kerja eksekutif tersebut. Air mata kebahagiaan sampai menggenang tipis di sudut matanya. Aira melangkah mendekat, mengulurkan kedua tangannya untuk mencubit gemas kedua pipi Gabriel yang tercubit tali kacamata hiu konyol itu.
"Aduh, aduh... pelan-pelan, Sayang! Sakit tahu!" meringis Gabriel dengan suara yang mendadak berubah pusing dan manja secara berlebihan.
"Kamu ini ya... benar-benar ajaib!" omel Aira gemas sambil tertawa. "Bisa-bisanya dalam hitungan detik bikin orang senam jantung karena takut, tapi detik berikutnya bikin orang tertawa sampai perutnya mules begini!"
Aira melepaskan kacamata konyol itu dari wajah Gabriel. Namun, bukannya menyimpan benda itu, Gabriel justru merebutnya kembali dengan lembut, lalu dengan perlahan memasangkannya di atas kepala Aira seperti sebuah bando unik.
Gabriel mengikis jarak di antara mereka, menyatukan keningnya dengan kening Aira. Pria itu menatap manik mata istrinya dengan pendar kasih sayang dan ketulusan yang amat dalam—sebuah pendar yang seketika menghilangkan seluruh aura konyolnya.
"Tujuan utamaku cuma satu, Aira," bisik Gabriel sangat lembut dengan suara baritonnya yang dalam dan menenangkan. "Aku cuma mau melihat kamu tertawa bahagia setiap hari, tanpa perlu memikirkan bahaya, ancaman, atau beban apa pun. Di pulau itu nanti... tidak akan ada musuh, tidak akan ada darah. Cuma akan ada kita berdua dan kebahagiaan kita."
Dada Aira berdesir hangat luar biasa. Perpaduan antara sifat konyol yang menghibur dan perhatian tulus yang mendalam dalam diri Gabriel selalu berhasil meluluhkan hatinya tanpa sisa. Aira tersenyum manis, melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Gabriel, lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami yang berdetak teratur.
"Terima kasih ya, Ketua Mafia Konyolku," bisik Aira tulus sambil mengulas senyum paling bahagia di dalam pelukan suaminya.