Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
POV: Amelia
Sudah tiga malam aku tidak tidur layak, terbelah antara kamar nenekku dan istirahat yang dipaksakan dr. Bella, ketika akhirnya aku runtuh.
Terjadi di musala rumah sakit, dini hari. Aku ke sana hanya untuk mencari tempat sunyi, tanpa alat yang berbunyi, tanpa orang. Aku duduk di sudut ruangan kecil itu dan mulai menangis seperti belum pernah sejak malam kembang api. Isak jelek, orang yang menahan terlalu lama, orang yang memikul nenek yang sakit dan kandungan yang berisiko.
Fariz masuk tanpa suara. Aku tak tahu bagaimana dia menemukanku di sana. Belakangan aku tahu dia mengetahui hampir segalanya, sepanjang waktu. Dia tak bertanya ada apa, tak mencoba memperbaiki apa pun, tak berkata "semua akan baik-baik saja". Dia duduk di lantai di samping tempatku bersandar, menyandarkan kepala ke dinding, dan mulai berzikir pelan, butir-butir tasbih berputar di jemarinya.
"Kamu tidak perlu tinggal," kataku, di antara isak.
"Aku tahu." Dia terus berzikir, tak menatapku, memberiku ruang menangis tanpa penonton. "Tapi aku tinggal."
"Kenapa?"
"Karena tak seorang pun boleh menangis sendirian dini hari di musala rumah sakit. Bukan kamu, bukan siapa pun."
Aku menangis selama yang kubutuhkan, dan dia tinggal sepanjang waktu itu, di lantai, tanpa mendesak, tanpa menyentuh, hanya hadir, sauh yang diam. Ketika tangisku habis, aku kelelahan, jenis lelah yang berpindah dari tubuh ke jiwa dan sampai di tempat yang tidak dijangkau tidur.
"Aku tak sanggup lagi menopang diri," kataku.
"Kalau begitu jangan." Dia berdiri, mengulurkan tangan. "Ayo. Kamu harus tidur di ranjang yang sebenarnya, makan sesuatu yang hangat. Nenekmu akan butuh kamu besok, dan kamu tidak boleh tumbang."
Dia mengantarku pulang. Dan lagi dia merawat dengan caranya, yang kebalikan persis dari yang kukenal. Dia membuatkan teh, dan teh itu beraroma yang benar, seperti buatan nenekku. Mengambilkan selimut. Meninggalkan makanan di meja dan tak mengawasi apakah aku makan, tak menghitung suapan, tak menagih.
Dia duduk di kursi ruang tamu, jauh, hanya supaya aku tak sendirian, dan memberiku hening, yang kuperlukan. Arga mengisi hening dengan kamera. Fariz mengisinya dengan kehadiran.
Sebelum tidur, aku keluar ke balkon mencari udara. Langit Jakarta mulai terang, kelabu yang berubah merah jambu sebelum biru. Dia datang, bersandar di pagar pada jarak yang sopan, dan kami berdua menyaksikan kota terbangun.
"Fariz." Aku harus bertanya, tak tahan lagi tidak bertanya. "Kenapa kamu melakukan semua ini untukku? Karierku, pengacara, rumah sakit nenekku, sekarang ini. Tak ada yang berbuat begini cuma-cuma. Aku pernah hidup dengan seorang lelaki yang melakukan hal-hal untukku dan menagih seluruh hidupku sebagai gantinya, menagih dengan bunga."
Lama dia menjawab. Butir tasbih berputar pelan di jemarinya.
"Aku bukan Arga," katanya.
"Bukan itu yang kutanyakan."
"Aku tahu." Dia menoleh padaku, dan cahaya fajar jatuh di wajahnya, dan untuk pertama kalinya dia tampak lebih muda, hampir bocah yang tak kuingat. "Aku melakukannya karena itu kamu, Lia. Selalu kamu. Sejak sebelum kamu tahu aku ada."
"Selalu" itu mengacaukanku seluruhnya. Ada cerita di sana yang tak kukenal, bagian diriku yang hidup di kepalanya.
"Maksudmu sejak sebelum? Kita bertemu di rapat itu, beberapa bulan lalu."
"Bukan." Dia berhenti, seperti orang yang tiba di tepi dan memutuskan, di detik terakhir, belum melompat. "Kita bertemu jauh sebelumnya. Kamu masih gadis kecil. Aku masih bocah. Ada malam hujan." Dia memejamkan mata sedetik. "Suatu hari akan kuceritakan semuanya. Bukan hari ini. Hari ini kamu perlu tenang, bukan satu cerita lagi untuk dipikul di bahu yang sudah memikul terlalu banyak."
Jarak antara kami lenyap tanpa kusadari. Dia cukup dekat sampai kulihat matanya berkaca-kaca, dia yang tak pernah kulihat hampir menangis, dia yang tampak terbuat dari marmer. Tangannya naik pelan dan menyingkirkan sehelai rambut dari wajahku, sentuhan ringan, bertanya izin tanpa bertanya, dan aku tak menjauh. Aku menginginkannya. Menginginkannya dengan kekuatan yang membuatku takut, karena sudah begitu lama aku tak menginginkan apa pun selain bertahan hidup, sampai lupa bahwa tubuh pun meminta hal-hal baik.
Dia mencondongkan diri. Aku mencondongkan diri. Dan saat bibir kami nyaris bersentuhan, aku teringat sangkar. Makan malam kembang api. Bagaimana cinta, yang terakhir kali, menelan kebebasanku, kariernya, hampir nyawaku.
Aku mundur. Sedikit saja. Cukup.
"Maaf," bisikku. "Aku tak bisa. Belum. Terlalu cepat, aku baru keluar dari... aku masih takut, Fariz. Bukan padamu. Pada diriku, pada percaya lagi."
"Tidak apa-apa." Dia tak mendesak, bahkan sedetik. Dia mundur juga, dan tersenyum tipis, tanpa luka, tanpa menagih. "Aku sudah menunggu bertahun-tahun, Lia. Aku bisa menunggu sedikit lagi. Selama yang kamu butuhkan. Aku tidak akan ke mana-mana."
Dan justru karena dia tidak mendesak, aku nyaris berubah pikiran saat itu juga. Karena Arga tak akan pernah mundur. Arga akan mengartikan "tidak"-ku sebagai "bujuk aku". Fariz mendengar "tidak" dan menghormatinya, dan dalam hormatnya ada lebih banyak cinta daripada tiga tahun kepemilikan.
Ponselku yang memecah momen itu. Bergetar sekali, dua kali, tanpa henti, di meja ruang tamu. Aku mengambilnya, jantung masih tak beraturan karena nyaris ciuman itu.
Layarnya penuh notifikasi. Dari produksi. Dari media sosial. Dari nomor-nomor tak dikenal. Dan di puncaknya, sebuah judul, dengan foto yang diambil Rena, aku nyaris pingsan di ruang rias.
"Eksklusif: aktris Amelia Pramesti sembunyikan kehamilan dari miliarder Wiratama. Anak siapa?"
Rahasiaku, satu-satunya perisai yang kupunya untuk melindungi anak-anakku, baru saja jadi berita nasional.
Kutatap Fariz, ponsel gemetar di tanganku, fajar masuk lewat balkon, dan damai dua menit lalu sudah tidak ada lagi. Bu Ratna memenuhi janji yang dibisikkannya di telingaku. Dan perang memperebutkan anak-anakku, yang selama ini kuhindari, baru saja dimulai sungguh-sungguh.