Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Kademangan
"Tongkat rotan berinti hitam dan pisau baja? Wah, wah, barang bagus, Nak! Barang bagus sekali!"
Pedagang senjata itu menepuk-nepuk bahu Satrio sambil tersenyum lebar sampai gigi-giginya yang merah kena sirih kelihatan semua. Kiosnya kecil, terselip di antara penjual kendi dan penjual ayam, dan dindingnya penuh golok, tombak, dan keris yang berkarat di ujungnya.
Satrio berdiri di depan kios itu dengan tongkat rotan di tangan kiri dan pisau kecil di tangan kanan yang terbungkus lengan baju Gandung. Di belakangnya, Pasar Kademangan bergemuruh. Orang berdesakan ke segala arah, ayam berkotek di dalam keranjang, seorang pedagang tuak berteriak-teriak menawarkan dagangannya, dan bau ikan, bau rempah, dan bau kotoran kerbau bercampur jadi satu.
Seumur hidupnya, Satrio belum pernah melihat orang sebanyak ini di satu tempat.
"Berapa yang kau minta?" tanya pedagang itu, masih tersenyum.
Satrio teringat pesan Damar, "Dua karung beras."
"Dua karung beras!" Pedagang itu tertawa dan menepuk bahu Satrio lagi, "Kau pandai berdagang, Nak. Pandai sekali."
Ki Arya berpesan agar ia tidak percaya pada orang yang terlalu ramah. Satrio melirik senyum lebar pedagang itu, dan tengkuknya terasa tidak enak. Lalu ia teringat pesan Eyang di jalan tadi: tawar setengah harga, karena orang pasar selalu memasang harga dua kali lipat.
Satrio berdeham, "Satu karung saja."
Senyum pedagang itu membeku sebentar, lalu melebar lagi, jauh lebih lebar dari sebelumnya.
"Setuju!"
"Bocah!" suara Eyang meledak di kepala Satrio, "Itu untuk membeli! Kau sedang menjual!"
Satrio melongo.
Pedagang itu sudah merebut tongkat rotan dan pisau dari tangannya, lalu menghitung uang tembaga ke telapak tangan kiri Satrio, satu demi satu, sambil terus tersenyum. Setelah keping terakhir jatuh, ia berbalik dan menggantung tongkat rotan itu di dinding kiosnya, di tempat paling depan.
Satrio menghitung uang di telapak tangannya, lalu menghitungnya ulang dari keping pertama. Jumlahnya tetap sama.
"Pak, ini..."
"Harga sudah sepakat, Nak. Orang pasar harus memegang kata-katanya." Pedagang itu melambaikan tangan, "Silakan, silakan. Pembeli lain menunggu."
Tangan kanan Satrio di balik lengan baju mulai mengepal.
"Jangan mengepalkan tangan," desis Eyang, "Cahayanya merembes."
Satrio membuka kepalannya pelan-pelan. Ia berjalan meninggalkan kios itu sambil menggenggam uangnya erat-erat dengan tangan kiri.
Belum sepuluh langkah, suara pedagang itu terdengar lagi, jauh lebih keras dan lebih bersemangat. Satrio menoleh. Seorang lelaki bertubuh besar dengan golok di pinggang sedang menimbang tongkat rotan berinti hitam itu, lalu menghitung keping-keping perak ke telapak tangan si pedagang.
Satrio memalingkan wajah dan berjalan lebih cepat.
'Kenapa Eyang tidak bilang dari tadi?'
"Mana kutahu kau akan memakai pesan orang tua untuk menipu dirimu sendiri?"
Satrio mengikuti arus orang tanpa tahu ke mana arus itu mengalir. Di atas kepalanya, seorang lelaki berjubah hijau melayang melintasi pasar di atas sebilah keris yang panjangnya sedepa, lalu turun di depan sebuah kedai besar. Satrio mendongak dengan mulut terbuka sampai bahunya menabrak gerobak penjual kelapa.
"Lihat jalan!" bentak tukang gerobak itu.
Orang-orang pasar terus menawar dan memikul dagangan tanpa menoleh ke atas. Bagi mereka, Dayangkara yang terbang di atas pasar rupanya sama biasanya dengan burung gagak.
Satrio berbelok di depan penjual gerabah, lalu belok lagi di depan penjual tikar, dan tahu-tahu ia sudah berdiri di tengah lorong sempit yang dipenuhi tumpukan ikan asin setinggi lutut. Baunya menyengat sampai matanya berair. Ia berbalik, belok kiri, belok kanan, dan entah bagaimana sampai lagi di lorong ikan asin yang sama.
Pedagang ikan asin yang sama menatapnya dengan curiga.
"Kau mau beli atau mau mengitari daganganku sampai malam?"
"Jalan keluarnya di mana, Bu?"
Perempuan itu menunjuk dengan dagunya. Satrio mengikuti arah dagu itu dan keluar di sebuah halaman kecil di samping balai pasar. Di sana sudah ada barisan orang yang berjongkok rapi di bawah pohon beringin. Satrio ikut berjongkok di ujung barisan, mengira itu antrean untuk sesuatu.
Seorang lelaki berpakaian bagus lewat di depan barisan itu dan menjatuhkan satu keping tembaga ke setiap telapak tangan yang terulur. Saat sampai di depan Satrio, ia berhenti, memandangi baju kebesaran dan lengan Satrio yang dibalut, lalu menjatuhkan dua keping sekaligus.
"Kasihan," katanya, "Masih muda sudah cacat."
Nenek tua di sebelah Satrio menyikutnya, "Baru pertama kali, ya, Nak? Besok datang lebih pagi. Yang dermawan lewat sebelum matahari tinggi."
Satrio menatap dua keping tembaga di telapak tangannya, lalu orang-orang di sebelahnya, yang bajunya lebih compang-camping daripada bajunya, dan yang sebagian besar tidak punya alas kaki. Wajahnya merah sampai ke telinga.
Ia bangkit dan mengejar lelaki itu untuk mengembalikan uangnya, tapi lelaki itu sudah hilang di keramaian. Satrio meletakkan dua keping itu di telapak tangan nenek tua di ujung barisan, yang langsung menyelipkannya ke balik kemben tanpa berkata apa-apa.
"Kata temanmu, baju itu membuatmu kelihatan gemuk dan makmur," kata Eyang. Suaranya tertahan-tahan menahan tawa.
'Eyang diam saja.'
Di lorong kain, ia berhenti di depan tumpukan kain lurik yang warnanya cerah. Ia teringat bajunya yang semuanya sudah hangus. Tangannya terulur, menyentuh sehelai kain hijau tua, dan meraba teksturnya dengan ujung jari yang masih terbalut kain kotor.
"Heh! Heh!" Pedagang kain itu memukul tangannya dengan penggaris bambu, "Tangan kotor jangan pegang-pegang! Kain itu belum laku, nanti bau obat!"
"Maaf, Bu, aku cuma mau..."
"Pergi, pergi! Pengemis tidak boleh di lorong kain!"
Satrio pergi.
Matahari sudah condong saat ia duduk di undakan sebuah toko yang tutup. Ia mengeluarkan daftar dari Sekar dan membacanya lagi. Teratai Getih ada di baris paling atas dan digarisbawahi dua kali. Sejak siang ia sudah bertanya ke empat penjual ramuan. Yang pertama tertawa, yang kedua menggeleng, yang ketiga bilang bunga itu baru akan datang dari utara dua bulan lagi, dan yang keempat menyebut harga yang membuat Satrio ingin ikut berjongkok di barisan pengemis tadi.
"Kalau tidak sanggup teratai," kata penjual keempat itu sebelum Satrio pergi, "Cari Daun Sukmajati di toko paling ujung, dekat sumur pasar. Direbus dengan benar, daun itu bisa menahan cakra yang bocor sampai musim berganti. Tapi daun itu juga cepat habis. Pergilah sebelum sore."
'Eyang, Daun Sukmajati itu benar bisa menolong Guru?'
Kristal di telapak tangannya dingin dan gelap. Sejak lorong kain tadi, suara Eyang tidak terdengar lagi, dan Satrio tahu artinya. Tertawa sekeras itu menghabiskan sisa tenaga Eyang hari ini.
Bau gorengan tempe dari kedai di seberang jalan sampai ke undakan tempatnya duduk. Perut Satrio berbunyi panjang. Sejak berangkat pagi tadi ia baru makan sepotong singkong rebus bekal dari Sekar. Ia menekan perutnya dengan tangan kiri dan memalingkan wajah dari kedai itu.
Satrio menghitung uangnya lagi. Ia membaca baris-baris berikutnya di daftar Sekar. Beras. Garam. Minyak pelita. Benang. Jarum. Kunyit, sebanyak-banyaknya.
Uang di telapak tangannya hanya cukup untuk satu baris. Atau untuk seikat Daun Sukmajati.
Tulisan Sekar kecil-kecil dan rapat, seperti orang yang takut kehabisan daun lontar. Di baris paling bawah, dengan tulisan yang lebih miring, ada tambahan: "Jangan beli yang mahal-mahal untuk dirimu sendiri." Satrio membaca baris itu dua kali, lalu melipat daftar itu lagi dan menyelipkannya ke balik sabuk.
"Guru dulu," gumamnya.
Toko paling ujung itu sempit dan gelap, berbau tanah basah dan daun kering. Seorang lelaki tua duduk di balik meja sambil mengunyah sirih. Di belakangnya ada rak bambu berisi puluhan ikatan daun dan akar, tapi hampir semuanya sudah kosong.
"Daun Sukmajati, Pak?"
Lelaki tua itu menunjuk sebuah keranjang di ujung meja tanpa berhenti mengunyah. Di dalam keranjang itu tinggal satu ikat daun berwarna hijau keperakan, diikat dengan tali serat.
"Berapa, Pak?"
Lelaki tua itu meludahkan sepah sirihnya ke tempurung di bawah meja, lalu menyebut harganya. Satrio menghitung uang di telapak tangannya sekali lagi. Cukup, tapi sesudah itu tidak akan tersisa sekeping pun, bahkan untuk segenggam garam.
"Kuambil," katanya, lalu mengulurkan tangan kirinya.
Tepat saat jari-jarinya menyentuh tali pengikat itu, tangan lain mendarat di ikatan yang sama. Tangan itu ramping dan bersih, dengan gelang perak tipis di pergelangannya. Ujung selendang biru jatuh menutupi punggung tangan itu.
"Ini milikku," kata sebuah suara perempuan.
Satrio menoleh. Seorang gadis berselendang biru berdiri di sebelahnya, menggenggam ujung lain ikatan daun itu, dan tidak melepaskannya.